
Angin semilir bergerak menyambut kedatangan Aslan dan rombongan ke resort pribadi milik Aslan yang berada di tepi pantai itu.
Deburan ombak yang lembut dengan pasangan sinar rembulan menambah keramahan pulau itu. Tak ada kebisingan selain nyanyian alam, susananya menjadi syahdu dan menenangkan.
Semua kemudian mendapatkan kunci kamar sendiri- sendiri. Mereka berpasangan. Umma bersama Kikan, Mok Mina dan Mbak Narti, Putri bersama Fatimah, Delvin dan Radit, Dhanu sekeluarga, sementara Rendra dan Cyntia satu- satunya orang yang mendapatkan jatah kamar sendiri sendiri.
Berbeda dengan Cyntia dan Rendra yang mempunyai jatah kamar sendiri, Alena dan Ipang, tidak mendapat jatah kamar. Meski kamar masih banyak tapi untuk rekanan Aslan yang lain, seperti penghulu, kyai dan tamu undangan lain.
Kia mau Ipang bersama dirinya dan suaminya, tapi Aslan yang egois ingin Ipang bersama Rendra. Alena sendiri sejak dari rumah memilih menempel pada Mbok Mina.
“Kemari, Nak. Kasian Om Delvin mau istirahat, jangan minta gendong terus!” tutur Kia menjulurkan tangan meminta Ipang berhenti bermanja pada Delvin. Kia merasa tidak nyaman ke mantan atasanya itu.
“Tidak capek kok, Bu Kia!” jawab Delvin sekarang jadi hormat ke Kia.
“Ish apaan sih kamu, jangan panggil Bu, aku lebih muda dari kamu!” jawab Kia mendesis merasa aneh jika kawanya itu jadi menghormatinya.
“Tapi kan kamu sekarang bosku!” jawab Delvin melirik ke Aslan yang tampak berbincang bersama Rendra dan pengurus resort.
“Bosmu itu suamiku, bukan aku! Sini sayang!” jawab Kia tetap meminta Ipang turun.
Delvin pun menuruti mau Kia menurunkan Ipang.
Delvin lalu berpamitan bergegas ke kamarnya bersama Radit.
“Kamu udah besar, Nak! Jangan suka minta gendong orang, minta gendong sama Ayah aja!” tutur Kia menasehati.
“Kenapa Bu?” tanya Ipang.
“Karena kamu sekarang udah berat, kasian!” jawab Kia.
“Bukan, bukan itu, kenapa kalau sama Om- om yang lain nggak boleh, kalau sama Ayah Ipang boleh minta gendong?” tanya Pangeran cerdas.
Kia pun jadi terjebak dengan pernyataanya sendiri. Maksud Kia kan, Pangeran lahir karena ulah Aslan, jadi biar Aslan menanggung semua tanggung jawabnya, tidak merepotkan orang lain, tapi kan Kia harus menyusun kata yang tepat untuk Ipang.
“Karena, ayah adalah ayahmu!” jawab Kia mentok.
“Berarti ibu kasian ke orang lain tidak kasian ke ayah?” jawab Pangeran malah berfikir salah.
“Bukan, bukan begitu Nak!” jawab Kia lagi sambil menuntun Pangeran berjalan ke kamarnya.
“Terus apa dong?” tanya Pangeran lagi.
“Karena kamu nggak boleh ngrepotin orang lain!” jawab Kia.
“Berarti ngrepotin ayang boleh?”
“Kalau sama ayah bukan ngrepotin! Tapi itu tanggung jawab Ayah sayang, buat rawat kamu, karena kamu anaknya!” jawab Kia memberitahu.
Ipang pun mengangguk mengerti.
“Lagi bahas apa sih? Kok sebut-sebut ayah?” tanya Aslan sudah berjalan di belakang Kia.
Urusan Aslan dan karyawan resortnya sudah selesai, Aslan pun segera menghampiri Kia dan Pangeran.
“Tah Ayah datang, minta gendong, Ayah ya!” bisik Kia menyuruh Pangeran menempel ke Aslan.
__ADS_1
“Abang, capek Yang!” bisik Aslan melotot merasa keberatan.
“Astaga! Abang! Dia anakmu!” bisik Kia melirik Ipang yang menguping berdiri di bawah mereka.
Aslan mengalah dan menggendong Ipang. Pangeran pun dengan senang hati bermanja dengan ayahnya.
Meski saat bersama Kia, Ipang bersikap dewasa dan kasian ke ibunya. Ipang akan memilih jalan kaki sendiri, tapi saat bersama Aslan, sesuai kata Ibunya, Ipang tidak kasian dan mau digendong. Aslan kan tinggi dan besar. Hehe.
Mereka pun masuk ke kamar terbesar di resort itu. Kamar yang langsung menghadap ke laut dan dindingnya dinding kaca besar. Balkon di kamar Aslan juga terdapat kolam air yang dari dalam terhubung keluar, sangat nyaman untuk berendam dan honey moonth.
(Hehehe Visual view kamar Aslan)
Kia pun masuk, menata pakaianya dan segera membawa Pangeran ke kamar mandi, membantu membersihkan tubuh Pangeran. Kia berfikir yang utama adalah mengurus anaknya dulu.
“Ipang bisa mandi sendiri kan? Biar ibu siapkan baju ya!” tutur Kia lembut meninggalkan Ipang.
“Ya Bu!” jawab Ipang patuh, Kia kemudian keluar.
Aslan tampak duduk cemberut memandangi lautan. Setelah Kia keluar kamar mandi hendak mengambil pakaian Pangeran, Aslan mendekat ke Kia dan memeluknya dari belakang sehingga menghentikan Kia aktivitas Kia.
“Urusin Pangeran terus kapan urusin Abang? Heh? Pangeran biar tidur bareng Rendra ya!” bisik Aslan ke Kia.
Kia pun langsung memutar tubuhnya dan menatap jengkel ke Aslan.
“Bang, Pangeran itu anak kita, kenapa harus sama Rendra sih?” tanya Kia sewot.
“Tapi ini hari pernikahan kita!” jawab Aslan manja ingin diperlakan seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
Belum Kia melanjutkan marahnya Ipang keluar dari kamar mandi.
“Ibu, Ayah!” panggil Ipang dengan handuk kebesaranya.
Aslan dan Kia kemudian menoleh. Aslan pun ingin segera meminta Pangeran tidur di kmar Rendra.
“Hai Nak!” jawab Aslan dan Kia berbarengan.
“Udah selesai mandinya Nak?” tanya Kia cepat mendahului Aslan.
“Udah Bu, Bu Ipang mau tanya,” ucap Ipang
“Ya!” jawab Kia dan Aslan bersamaan.
“Kak Alena kan kakaknya Ipang, dia anak ayah dan Ibu juga kan? Kenapa Kak Alena tidak ikut tidur bersama kita di kamaar ini Yah? Bu?” ceplos Pangeran memikirkan Alena.
Kia dan Aslan saling tatap dan mengusap tengkuknya. Aslan semaki dibuat kesal dan kelu, niat Aslan kan mau membuat Pangeran selama di pulau D, mandiri dulu bersama orang lain, Aslan ingin berduaan bersama Kia. Malah ini mau ditambah satu anak lagi.
Sementara Kia mengangguk, terharu ke Ipang, meski Ipang anak laki- laki tapi hatinya sebaik itu memikirkan orang lain. Kia kemudian tersenyum mendekat ke Pangeran dan membantu mengeringkan rambutnya.
“Iya ya? Untuk membentuk bounding Alena, Aslan, dan Ipang kita harus sering bersama. Kalau Alena terus bersama Mbok Mina, Alena akan tetap menjadi orang lain di keluarga ini?” batin Kia baru menyadarinya.
“Oke... nanti Ibu, ke kamar Mbok Mina, ibu ajak, Kak Alena tidur di sini bersama kita ya!” jawab Kia mengangguk.
Aslan tidak bisa berkutik dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Padahal kan Aslan sudah menyiapkan kamar khusus yang viewnya paling bagus di rumah itu, membayangkan banyam hal indah bersama Kia, hanya berdua.
__ADS_1
“Harus sewa baby sister secepatnya ini mah!” batin Aslan jahat. Aslan kemudian keluar kamar, menahan gondoknya.
“Ayah mau kemana?” tanya Pangeran melihat ayahnya mau keluar.
“Ayah mau ke Om Rendra dulu, Nak! Pangeran mau ikut?” tanya Aslan ramah menyembunyikan kesalnya.
“Nggak! Pangeran mau sama ibu di sini!” jawab Pangeran.
“Oke!” jawab Aslan keluar.
****
Di balkon...
Rendra yang sendirian dan sepanjang di bus memendam banyak pemikiran gila akhirnya datang menghampiri Umma, Kikan dan Cyntia.
Kikan yang anak baru remaja begitu melihat tempat indah dan instagramable tidak menyiakan kesempatan. Dia langsung mengajak Cyntia berselvi- selvi ria. Bahkan dengan beraninya Kikan meminta Cyntia yang memfotokan.
Cyntia yang memang tidak punya saudara dan baik hatinya mencoba memahami jiwa Kikan dan mengikutinya.
Rendra jadi semakin iri dibuatnya.
“Malam Umma!” sapa Rendra mendekat ke Umma yang duduk di bangku balkon dengan segelas susu hangat dan camilan.
“Kamu Le... sini duduk!” jawab Umma menyuruh Rendra duduk.
“Kikan lagi ngapain sih?” tanya Rendra sewot.
Umma kemudian tersenyum.
“Kenapa memangnya? Seperti yang kamu lihat, dia sangat bahagia di sini bertemu dengan idolanya! Umma ikut senang melihat Kikan seceria ini!” jawab Umma tenang.
Mendengar kata Idola Rendra langsung berdehem.
“Ehm... idola Umma?” tanya Rendra.
“Iya, kamu kok ndak bilang- bilang kalau kenal sama Nak Cytia, Umma juga suka nonton lho sinetronya Nak Cyntia. Umma juga seneng bisa ketemu dia di sini, dia sangat cantik dan ramah!” jawab Umma.
“Ehm.... ehmmm....!” Rendra kemudia berdehem lebih keras. “Umma ngefans ke dia?” tanya Rendra.
“Iya... kenapa? Dia baik, sopan, cantik lagi, nggak semua kan artis ramah ke orang desa kayak Umma, Umma lihat dia juga suppel dan nggak neko- neko!” jawab Umma lagi.
“Dia nggak sebaik yang Umma lihat, Kikan jangan dekat- dekat dengan dia, dia itu sangat galak dan juga!” jawab Rendra tidak terima kenapa malah semua orang jadi suka ke Cyntia.
“Siapa yang galak? Kakak?” tanya Kikan nyerobot nimbrung.
Umma dan Rendra menoleh, Kikan dan Cyntia sudah berdiri di samping mereka. Rendra dan Cyntia kemudian saling tatap dan membuang pandangan. Rendra gelagapan jangan sampai ketahuan kalau dia abis berusaha ngejelekin Cyntia.
Umma jadi tersenyum melirik ke Rendra.
“Kok diam siapa yang galak?” tanya Kikan comel.
“Yang galak burung gagak!” jawab Rendra ngasal tidak berani menatap Cyntia.
“Sini duduk, kemari Nak Cyntia duduk!” jawab Umma mencairkan suasana.
__ADS_1
Mengajak Cyntia duduk, meja di balkon resort itu ada 4 bangku sehingga pas untuk mereka berkumpul dan bercengkerama.