Sang Pangeran

Sang Pangeran
29. Putra


__ADS_3

Kantor Nareswara Grup


"Lihatlah, gue kira dia dicut, dia berani datang lagi"


"Ck. Niat kerja nggak sih? Enak banget kerja bolong-bolong telat terus lagi"


"Denger-denger kemarin dia dihukum sama Si Bos"


"Ya panteslah, sayang cuma dihukum kalau gue jadi bosnya gue cutlah kontraknya"


Beberapa karyawan rekan kerja Kia menggunjing Kia saat Kia datang ke kantor Nareswara. Kia mendengarnya dengan sangat jelas. Tanganya langsung mengepal.


Tidak tahu saja mereka siapa Kia. Mereka pikir Kia ingin bekerja terus, bahkan hari ini kedatanganya ke kantor adalah untuk berpamitan.


Ingin rasanya Kia, berhenti berbalik arah ke penggunjing itu. Menjambaknya dan mengatakan dengan tegas kalau Kia akan pergi.


Ah tapi percuma saja, biar nanti mereka tau sendiri, hal itu hanya akan membuat emosinya terbuang sia-sia. Mereka tidak penting.


Lalu Kia berlalu menuju ke ruang Bu Rosa. Atasan yang merekrut dan menawarkan pekerjaan ke dia. Dan Bu Rosa juga yang memberikan surat kontrak itu.


Dengan mantap. Kia akan menemui Bu Rosa. Mengajukan surat pengunduran dirinya.


"Permisi" sapa Kia ke ruangan Bu Rosa.


"Ya silahkan masuk" jawab staff Bu Rosa.


"Apa Bu Rosanya ada?" tanya Kia.


"Bu Rosa sedang ada meeting, dia akan kembali nanti setelah jam makan siang" jawab staff Bu Rosa.


Kia mengangguk kecewa.


"Oh gt, Apa saya bisa nitip surat ini untuk nya?" tanya Kia menyodorkan sebuah map berisi surat pengunduran diri.


"Letakan saja di mejanya"


"Baik. Terima kasih" jawab Kia meletakan surat resignya. Lalu Kia segera pamit keluar.


Berjalan menyusuri lorong, ditatapnya sekeliling. Kantor ini, adalah tempat impianya saat masih kuliah. Setelah kesempatan yang Kia impikan datang, harus Kia lepaskan. Siapa yang sangka, Kia berurusan dengan pemilik kantor ini.


Kia memejamkan matanya, harus ikhlas. Fokus menulis dan berdagang saja. Atau Kia mencari perusahaan lain. Pokoknya hari ini hari terakhirnya kerja. Toh ternyata teman kerjanya jutek-jutek.


Kia kemudian berjalan ke lift, masuk berniat menemui Aslan. Menyelesaikan urusanya. Setelah semua yang berurusan dengan pekerjaan selesai. Kia akan membawa Ipang keluar dari karantina. Apapun caranya.


"Temui nggak yah? Temui nggak yah? Ah bagaimana ini? Kenapa aku gugup hanya karena akan menemuinya?"


Kia berputar-putar sendiri di dalam lift. Ragu-ragu untuk bertemu lagi. Kia takut pria itu berhasil membuatnya kaku, tidak berdaya dan memperlakukan sesukanya.

__ADS_1


Tapi kalau Kia tidak tegas mengakhiri, itu bahaya menurutnya. Kia tidak mau berurusan lebih jauh dengan laki-laki itu. Apalagi jika semakin banyak orang tahu. Kia harus menghilang.


Lift terbuka, Kia sampai di lantai 30, lantai teratas yang hanya berisi ruangan pemilik kantor dan stafnya. Dan berbagai fasilitas di luar kepentingan kerja.


"Bagaimana kalau tidak ada orang? kalau dia menciumku lagi bagaimana?" batin Kia bayangan Aslan kemarin kembali datang.


Kia berfikir ulang. Kemudian Kia tidak jadi keluar lift. Pintu lift kembali menutup, Kia mengikuti kemana lift terbuka dan mengantar pengguna lain.


Karyawan yang sudah silih berganti menjadi berdecak bingung, kenapa Kia selalu berdiri dipojok lift, entah kemana tujuan Kia sebenarnya.


"Tidak tidak, itu tidak akan terjadi lagi" Kia masih sibuk dengan pemikiran dan ketakutanya yang tidak jelas itu.


Setelah lelah Kia berdiri di dalam lift, dan tidak ada pengguna lain, Kia mantap kembali memencet tombol angka lantai teratas. Lantai yang sempat dia datangi tadi.


"Huft, akhiri kisah ini Kia, sebelum istrinya tau, sebelum singa itu semakin gila. Sebelum semua menjadi rumit" batin Kia membulatkan tekad.


Kia kemudian melangkahkah kakinya keluar dari lift. Digenggamnya erat tasnya. Kia harus menyerahkan kotak itu.


Kia mengetok pintu ruangan Aslan pelan-pelan. Tidak ada jawaban, lalu Kia datang ke ruangan sekertaris. Saat Kia berjalan Kia melihat Rendra. Tapi anehnya tidak ada Aslan, padahal biasanya mereka seperti lem dan perangko.


"Tuan Rendra tunggu!" panggil Kia


Rendra kemudian berhenti dan membungkukan badan memberi hormat ke Kia. Kia sendiri menjadi salah tingkah.


"Kenapa Rendra sekarang jadi menghormatiku, dan bersikap formal begini? Padahal kan sebelumnya galak dan sombong"


"Selamat Pagi Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rendra sopan.


"Apa Tuan Aslan ada di tempat?" tanya Kia ragu-ragu.


"Anda mencarinya?" tanya Rendra.


"Iya, dimana saya bisa menemuinya?" tanya Kia.


"Bukankah seharusnya anda lebih tau?" tanya Rendra.


Rendra bermaksud, bukankah kalau dilihat dari pertemuan kemarin Aslan dan Kia terlihat dekat. Rendra mengira atasanya dan perempuan ini sungguh sudah berbaikan seperti yang dia lihat kemarin. Menjadi orang tua dan keluarga harmonis.


"Saya lebih tau?" tanya Kia merasa ucapan Rendra ngawur.


"Iya. Kenapa tidak hubungi saja ponselnya? Anda seharusnya kan punya akses itu" jawab Rendra.


"Hubungi ponselnya?" tanya Kia tidak nyambung dengan perkiraan Rendra. Kia kan tidak punya nomer Aslan.


"Iya" jawab Rendra mengangguk.


"He, maaf saya tidak punya nomornya" jawab Kia jujur.

__ADS_1


"Bukankah kalian kemarin sudah berdamai daan?" tanya Rendra menggerakan tanganya memberikan simbol dekat dan bersatu.


"He... Apa maksud anda berdamai? Maaf maaf, sepertinya ada kesalahpahaman" jawab Kia.


"Pertemuan kemarin? Bukankah kalian?"


"Ah yaa kemarin? Kemarin, maaf itu tidak seperti yang anda lihat, tolong lupakan itu. Tidak ada perdamaian di antara kami. Hubungan kita tetap sama, kita hanya sama-sama bagian dari masalalu. Masalalu yang salah. Mengerti?" jawab Kia sekarang paham.


"Ehm. Ya" jawab Rendra mengangguk.


"Jadi gimana? Apa dia ada di ruanganya? Saya mengetuk pintunya tidak ada jawaban. Ada yang ingin saya sampaikan" tanya Kia lagi.


"Tuan Aslan tidak ada di ruanganya, dia tidak ke kantor pagi ini, mungkin siang nanti"


"Oh gitu? Apa saya bisa menitipkan sesuatu untuk diberikan ke dia?" tanya Kia hendak meminta tolong ke Rendra.


"Kenapa anda tidak memberikanya sendiri?"


"Kan tidak ada orangnya?"


"Kenapa tidak lusa? Atau nanti juga bisa" jawab Rendra.


"Tidak, saya titip ke ansa saja. Ini, tolong berikan padanya" jawah Kia ngotot. Lalu memeberikan amplop coklat ke Rendra.


Rendra hanya diam memandangi amplop itu dan menatap Kia sejenak penuh tanya.


"Terima kasih, permisi" jawab Kia berlalu dan pergi.


****


Di rumah sakit


Aslan berdiri bersedekap, tanpa orang tahu, air matanya menetes. Di depanya terbaring tubuh tua yang tak bisa dia ajak bicara.


Padahal beberapa hari lalu pria itu masih memarahinya, menanyakan Aslan, kapan Aslan bisa memberinya cucu seorang putra.


Meskipun sudah ada Daffa, tapi Satya bukanlah Aslan, dia tidak tertarik menjadi pengusaha. Satya bersikukuh menjadi sutradara.


Tuan Agung ingin Aslan mempunyai putra. Tapi sudah 7 tahun menikah Aslan bertahan dengan satu putri. Ayah Aslan ingin Aslan mempunyai satu putra lagi.


Mengijinkan Aslan tinggal di rumah sendiri berharap anak dan menantunya akur dan hamik lagi. Tapi jangankan hamil lagi. Aslan justru mengutarakan niatnya untuk bercerai.


Tuan Agung langsung syok, dan jantungnya kumat. Terpaksa kini Tuan Agung terbaring dengan bantuan alat.


Paul adalah wanita pilihan orang tua Aslan. Mereka ditunangkan sejak masih kecil. Tuan Agung mempunyai perjanjian dengan keluarga Paul. Itulah sebabnya Aslan tidak dengan mudah keluar dari pernikahan sandiwaranya.


"Ayah. Apa Aslan tidak boleh bahagia? Mencintai perempuan dengan hatiku. Menjadi ayah yang baik untuk anakku?"

__ADS_1


"Ayah ingin aku mempunyai putra. Aku sudah mempunyai seorang putra ayah, bangunlah" ucap Aslan ke depan ayahnya yang masih memejamkan mata.


"Ayah harus bertemu denganya! Secepatnya aku akan membawanya kepadamu, dia anak yang cerdas dan tampan"


__ADS_2