
Setelah suara motor menghilang, Kia menutup pintu rumahnya. Membawa cangkir dan tatakanya itu, kemudian dia rapihkan dan bersihkan.
Setelah semua rapih, Kia membersihkan dirinya sendiri. Melepaskan baju yang membawa keringat Ibukota, berganti dengan pakaian daster rumah yang memberinya ketenangan tiada banding.
Kia berjalan masuk ke kamarnya, menata ke lemari kembali, kain-kain yang sempat ia kemas dalam koper.
Meski baru beberapa hari kasurnya mulai berdebu. Lalu Kia membersihkan dan memberinya seprai lagi. Menatanya kembali menjadi tempat indah untuk menyusun lembaran baru.
Sebenarnya sudah sejak lama Kia menyadari perasaan Radit ke dirinya. Itulah sebabnya Kia keluar dari yayasan, berusaha menabung dengan gigih dan membeli rumah sendiri.
Radit, meski tak setampan Aslan, dia mempunyai wajah yang manis. Radit juga sangat ramah dan penyayang, itulah sebabnya dia diajukan menjadi kepala desa. Dia juga pekerja keras.
Tapi entah kenapa, hati Kia tertutup untuk Radit. Bayangan Jeje dan Aslan selalu datang ke hati Kia. Meninggalkan trauma yang mendalam. Seperti mengukir kunci yang sulit di uraikan.
Apalagi sekarang, Setelah Kia bertemu kembali dengan Aslan. Ditambah parah lagi, Aslan berhasil mencuri ciumanya.
Entah perasaan apa, intinya nama Aslan selalu datang ke pikiran Kia, memenuhi relung hatinya. Meski sebatas, kesal, gugup, entahlah mungkin itu bahan dasar dari cinta.
Lebih di atas semua iti, Kia sadar diri. Kia tau diri. Kia tidak mau terluka untuk kesekian kalinya. Apalagi merendahkan harga dirinya.
Kia terduduk memegang bibirnya lagi. Hanya dengan mengingatnya Kia menjadi panas dingin. Sesuatu darinya sudah dicuri, dan tidak bisa kembali lagi.
"Ah sial. No no no. Lupakan masalalu Kia. Jangan jadi pelakor. Tempat tinggalmu di sini. Kemon semangat, susun lagi rencana hidupmu!" batin Kia dalam hati.
"Huuuf hah" Kia mengatur nafasnya.
Kia merenung lagi. Kalau dipikir-pikir, Kia memang butuh pelindung dalam hidupnya. Kalau ingin tidak lagi dilecehkan Aslan, Kia harus punya rumah tangga.
Kia tidak mau mengharapkan pria beristri menjadi suaminya. Kia tidak mau dipermainkan dengan tindakan Aslan yang semaunya.
"Kalau gue nikah, Singa Gila itu pasti tidak akan berani mengusikku. Ipang akan jadi miliku seterusnya, mempunyai keluarga yang lengkap"
"Ya Tuhan, apa iya aku harus terima Mas Radit. Tapi aku tidak ada perasaan apapun terhadapnya"
Kia bermonolog sendiri, menatap tembok kamar yang membisu. Mulai goyah dengan pendirianya.
"Ibu, apa tamunya sudah pergi?" tanya Ipang tau- tau sudah ada di samping Kia.
Kia yang sedang melamun sedikit kaget, tapi berhasil dia samarkan dengan senyumanya.
"Dia Om Radit, Sayang" .
"Ya, Ipang tau Bu, itu Om Radit"
"Apa yang kamu lakukan ke kopi ibu? Heh?" tanya Kia tau kalau ada campur tangan Ipang.
Sebelum mencuci piring Kia sempat menji*at sisa kopi yang dia buat. Rasanya pedas gila melebihi sambel judes yang dia makan di kedai-kedai kekinian.
Siapa lagi di rumah itu yang memberinya bubuk cabai kalau bukan Ipang. Penghuninya kan hanya ada Ipang dan Kia.
"Ibu tau? Tai darimana?" tanya Ipang tertangkap basah.
"Ck. Siapa yang ngajarin anak ibu bersikap tidak baik seperti ini? Emang ibu pernah ajarin kaya gini?" tanya Kie memperingati Ipang.
Ipang diam menunduk. Ipang tau itu tindakan tidak terpuji.
"Liat ke Ibu Ipang, jawab pertanyaan ibu!"
"Iya Ipang minta maaf Bu! Ipang yang masukin bubuk cabai itu" jawab Ipang jujur
"Kenapa kamu melakukanya?"
"Ipang tidak suka Om Radit"
"Hmmm, meski kamu tidak menyukainya, tapi tindakanmu salah Nak. Ibu nggak suka anak ibu jadi nakal begini"
"Iya Bu, Ipang minta maaf"
"Minta maafnya nggak ke ibu Sayang, minta maaflah pada Om Radit, oke? Besok pagi kita ke yayasan, minta maaf ya!"
"Tidak mau?"
"Lhoh kok nggak mau. Kenapa?"
"Pokoknya tidak mau!"
"Ipang anak ibu sayang, dengarkan ibu"
"Nggak mau titik, Ipang nggak mau ketemu Om Radit lagi" jawab Ipang lalu berlari ke kamarnya.
"Ipang" ucap Kia lirih melihat Ipang berlari.
"Kenapa sejak bertemu Singa Gila itu Ipang jadi susah diatur sih? Apa karena mereka anak dan ayah? Apa aku salah memisahkan mereka?"
"Aku tidak ingin menjadi pelakor dan penghancur rumah tangga orang ya Alloh, bagaimana caranya agar Ipang mengerti?"
****
Sebagai anak kecil yang belum genap 6 tahun. Ipang bebas berekspresi marah. Ipang masuk ke kamarnya dan mengunci pintu seperti biasanya.
Naluri dan ikatan batin anak dan ayah tidak bisa dibohongi atau dipaksa. Ipang mau, ayah biologisnya yang jadi suami ibunya.
Ipang mengambil ponselnya. Memasukan nomor Daffa sesuai ingatanya. Ipang kemudian menelpon saudaranya itu.
"Hai Ipang, how are you?" sapa Daffa ke Ipang.
"Aku tidak baik?" ucap Ipang mengeluh.
"Why?"
"Aku kangen ayahku, aku ingin bicara dengan ayahku"
"Where are you now?"
"Aku di rumah"
"Rumah?"
"Aku sudah tiba di kota Y"
"Wah, jauh sekali, nanti aku sampaikan pada Uncle"
"Apa ayahku mencariku?"
__ADS_1
"Iya, kemarin Uncle menelpon aku mendengar dari petugas. Dia mencarimu"
"Apa kau sudah bertemu denganya dan memberitahunya?
"Belum, Uncle belum kesini"
"Kalau begitu, beri aku nomer ayah ku yaa"
"Oke siaap"
"Dah Daffa, aku tunggu, biar aku sendiri saja yang memberitahu"
"Oke, Daah"
Ipang dan Daffa melakukan telepon seluler seperti orang dewasa. Bertukar informasi, dan saling berbagi.
Ipang bersembunyi di balik bantal agar tidak terdengar oleh Kia. Bahkan Ipang juga menghapus jejak komunikasinya agar Kia tidak tahu.
Daffa memberika nomer Aslan. Tidak ada yang bisa mencegahnya Ipang menghubungi Aslan. Ipang melakukan voice note.
"Ayah ini Pangeran"
Voice note Ipang terkirim. Dan didengarkan saat itu juga. Sang Ayah pun langsung melakukan panggilan video. Kini mereka berdua saling tatap, saling melepas kerinduan.
Tidak peduli entah apa dan dengan siapa Aslan di sana. Mendapat nomer dan voice note dari anaknya seperti mendapatkan hadiah.
"Hello ma Boy, where are you?" tanya Aslan melihat kamar Ipang yang di atasnya ada hiasan gambar kartun.
"Hallo Ayah, Ipang ada di rumah, apa Ayah mencariku?"
"Tentu ma Boy, ayah merindukanmu, kenapa anak ayah pergi tidak pamit?"
"Jemput ibu dan Ipang Ayah, Ipang tidak suka Om Radit"
"Om Radit? Siapa dia?" tanya Aslan mengeratkan rahang, dan membulatkan matanya sehingga kawan yang ada di dekatnya ikut terbengong.
"Ya. Dia bilang pada ibu mau jadi ayah Ipang. Ipang tidak mau punya ayah Om Radit"
"Dia bilang begitu?"
"Iya, tapi Ipang tidak mau"
"Good job Boy. Ayahmu is me, ayah Aslan, tidak ada yang lain, tidak boleh ada yang lain. Oke?" ucap Aslan posesif meracuni Ipang.
"Oke Yah"
"Jadi kita harus bekerja sama dengan baik ya?"
"Ya Ayah!"
"Dengarkan Ayah!"
"Ya"
"Ayah ingin buat sedikit pelajaran buat ibumu biar tidak membawamu pergi lagi, jangan takut jika ada polisi datang, mengerti?"
"Kenapa ada polisi?"
"Tidak apa-apa, mereka kawan ayah. Mereka tidak akan menyakitimu, Anak Ayah tinggal diam dan tenang, tunggu Ayah di sana!"
"Jaga ibumu buat ayah ya!"
"Iya, apa ayah tau? Ipang sudah campurkan bubuk cabe ke kopi Om Radit tadi" cerita Ipang dengan bangga.
"Good job. Itu baru jagoan Ayah. Hahaha" jawab Aslan puas.
"Ayah, ibu memanggilku. Udah dulu ya. Ayah no telp Ipang, biar Ipang yang telp Ayah"
"Oke"
Ipang menutup telponya mendengar pintu kamarnya diketok. Dengan akalnya, Ipang menghapus semua nomer dan percakapanya. Kemudian Ipang menyembunyikan ponselnya.
"Sayang, buka pintunya" panggil Kia dari luar.
Ipang masih jual mahal tidak membuka pintu dan pura-pura tidur.
"Ipang, Pangeranya ibu, buka pintunya Sayang"
"Nggak mau!" jawab Ipang ngambek sebagai akal agar Kia tidak memaksanya minta maaf.
"Ibu mau bicara, buka pintunya ya!"
"Nggak mau!"
"Oke ibu nggak akan marah lagi, buka pintunya ya"
"Ibuk nggak sayang sama Ipang lagi, Ipang nggak mau ketemu Om Radit" jawab mode protes dari dalam.
"Iya, ibu mengerti, tapi buka pintunya ya!"
Akhirnya Ipang membuka pintunya.
"Hemmm" Kia berdehem melihat putranya menekuk wajahnya.
"Sewaktu di tukang soto, apa itu juga sengaja?" tanya Kia lagi.
"Ibu mau memarahiku lagi? Ya sudah Ipang tidur saja!"
"Bukan Nak, kamu belum mandi kan? Sini buka pakaianmu, mandi dulu ya, nanti ibu buatkan makanan. Kamu tadi belum makan kan?"
"Ipang nggak mau makan? Ipang mau ayah"
"Ipaang"
"Dia ayah Alena Nak"
"Tapi ayah bilang dia ayahku juga Bu"
Kia diam, mulutnya tercekat dan kehabisan kata-kata entah apa jawaban yang tepat untuk anaknya ini.
"Mengertilah Ibu Nak. Kita tidak bisa bersama Ayah, selama ini kita bisa kan hidup tanpa dia? Ibu akan selalu ada untuk kamu"
"Ipang tidak mau punya ayah selain Ayah Aslan"
__ADS_1
"Memang siapa yang mau jadi ayahmu? Tidak ada Nak?"
"Kemarin Om radit bilang begitu?"
"Baiklah ibu mengerti kenapa kamu marah. Kalau Ipang suka, ibu tidak akan terima dia jadi ayahmu. Yang penting sekarang mandi dulu ya! Abis itu ibu buatkan makanan, kamu makan, oke!"
"Ibu janji?"
"Iya" jawab Kia tersenyum.
Ipang kemudian mengikuti perintah ibunya.
"Sepertinya menikah dengan Mas Radit bukan jalan yang tepat untukku, aku tidak mau menyakiti Ipang"
****
Di Kantor Nareswara
Rendra dengan setia menemani Aslan. Ikut mendengarkan dan berdiskusi tentang permasalahanya.
Saat Aslan video call. Rendra dan pengacaranya hanya menjadi pendengar setia. Biarkan saja Aslan tertawa sendiri.
Mereka keluar dari kantor dan memilih bertemu di sebuah kafe. Rendra memesan ruang khusus agar Aslan bisa mengobrol dengan tenang bersama pengacaranya.
Setelah Aslan selesai video call, mereka kembali berdiskusi.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pengacara Aslan.
"Aku ingin anak biologisku menjadi milikku dan hak asuh jatuh ke tanganku"
"Anak biologis?"
"Saya punya anak di luar pernikahanku, aku ingin dia jadi pewarisku dan tinggal bersamaku"
"Mohon maaf Tuan. Anak di luar pernikahan, apalagi jika ada akta kelahiranya dia memiliki hukum perdata hanya dengan ibunya. Anda akan kesulitan jika menginginkan hak asuhnya" jawab Pengacara.
Lalu pengacara membuka catatan undang-undang tentang hak asuh anak. Menunjukanya pada Aslan, dan menerangkan kesimpulan yang dia punya.
"Tapi kan saya ayah kandungnya, apa tidak ada cara lain?"
"Ada Tuan, mengacu pada undang-undang perlindungan anak, anak berhak mendapatkan kasih sayang, pengasuhan dan komunikasi dari kedua orang tuanya demi tumbuh kembangnya. Tapi dalam hal ini, Tuan Aslan juga harus bisa membuktikan secara ke ilmuwan kalau anak ini memang anak kandung Tuan Aslan"
Pengaca kembali menerangkan dengan undang-undang yang berbeda. a
"Maksudnya tes DNA?"
"Iya!"
"Lakukan jika itu dibutuhkan! Dia anakku tidak diragukan lagi"
"Tapi tetap meski ada bukti itu, jika ibu kandung tidak terbukti bersalah dan mampu merawatnya dengan baik, hak asuh tetap pada ibunya, hak asuh akan berpindah jika ibu terbukti tidak mampu merawatnya"
"Jadi maksudnya saya tetap tidak bisa menjadi ayahnya"
"Bisa Tuan, tapi melalui proses Tuan"
"Saya mau proses simple dan cepat. Apa solusi terbaiknya?"
"Menikahlah dengan ibunya Tuan, anda bisa merawanya bersama" pengacara Aslan sedikit membercandai setelah tadi mendengar percakapan Aslan dan Ipang.
"Ck, saya tau itu, tapi aku juga ingin punya kekuatan mengambil anaknya agar dia mau menikah denganku"
"Sebaiknya menikah dulu Tuan"
"Kalau tidak mau?"
"Hehe, ya terpaksa kita akan berjuang di pengadilan, tapi tidak bisa menjanjikan, mengingat selama ini anda tidak pernah merawat dan bertanggung jawab terhadapnya"
"Oke, intinya saya harus nikah. Ya sudah pergilah. Sudah cukup" jawab Aslan mengusir pengacaranya.
"Baik Tuan, terima kasih" pamit pengacara pergi meninggalkan Aslan dan Rendra.
Kini tinggal Aslan dan Rendra yang duduk dengan tatapan frustasi.
"Tau gini gue nggak usah panggil dia" keluh Aslan kesal dengan jawaban pengacara.
"Saya setuju dengan usul Pak Awan Tuan. Menikahlah dengan Nyonya Kiara"
"Ya gue tau, gue juga mau nikahin dia. Tapi gimana caranya, dia saja kabur dariku?" jawab Aslan kesal ke Rendra.
"Apa mungkin Nyonya Kiara sudah punya pacar sendiri?"
"Haissh berani kau mengatakan itu! Cari mati kamu!" jawab Aslan panas, lalu ingat kata Ipang.
"Radit? Kurang ajar, siapa dia?" gumam Aslan menggerutu.
"Apa Tuan? Saya tidak jelas mendengarnya?" tanya Rendra mendengar Aslan bicara sendiri.
"Apa kamu sudah membuat gugatan untuk dia karena pelanggaran perjanjian kontrak itu?"
"Belum Tuan?" .
"Kenapa belum?"
"Kalau boleh saya kasih saran, apa Nyonga Kia tidak akan semakin takut dan membenci Tuan? Jika anda melaporkanya?"
"Kau tidak kenal dia. Dia akan melawanku, kalau tidak ditekan begitu, dia saja sudah dua kali menamparku" curhat Aslan kesal.
"Empt" Rendra tertawa mendengarnya, seorang Aslan ternyata dua kali ditampar perempuan, sungguh berani Nyonya Kiara Arsila itu.
"Kau menertawaiku?" .
"Tidak Tuan"
"Ajukan gugatanya, siapkan pesawat, besok pagi kita susul mereka!" .
"Susul?" tanya Rendra bingung, katanya suruh laporin polisi sekarang balik menyusul.
"Ck. Kau bodoh ya? Kenapa baru kusadari sekertarisku terlalu bodoh" ejek Aslan kesal Rendra tidak mengerti maksudnya.
"Maaf Tuan" .
"Kia tidak mungkin berani melawan polisi, dia tidak akan ada pilihan lain selain ikut denganku lagi. Polisi hanya untuk menggertak dia, paham sekarang?"
__ADS_1
"Iya Tuan"
"Ya sudah siapkan semuanya"