Sang Pangeran

Sang Pangeran
36. Digunjing


__ADS_3

"Turunkan di sini Mas" tutur Kia sopan meminta menurunkan Ipang di teras, setelah sampai depan rumahnya.


"Oke, Ipang turun ya" ucap Radit pelan.


Dalam hati Radit sangat bahagia, penderitaanya berakhir. Karena menggendong Ipang sungguh membuat bahunya pegal.


"Ya Om" jawab Ipang puas setelah dia berhasil mengotori baju Radit dengan banyak lumpur.


Lalu Radit menurunkan Ipang pelan agar duduk di lantai teras rumah Kia. Radit menatap Kia, merasa dirinya berjasa. Berharap Kia berterima kasih dan menerima cintanya. Radit juga merasa mulai berhasil mendekati Ipang.


"Astaghfirullohal'adziim, Ipaang?" ucap Kia kaget dan menutup mulut melihat baju Radit. Kia tau ini ulah anaknya yang jahil.


"Empt" Ipang duduk santai menahan ketawa.


"Kenapa Dhek?" tanya Radit bingung.


Kia menutup mulutnya, menggigit bibirnya gemas sendiri ke kelakuan Ipang. Terlebih Kia tidak enak ke Radit.


"Maafin Ipang Mas, baju Mas Radit bagian belakanga.." ucap Kia ragu memberitahu.


"Kenapa bajuku Dhek?" tanya Radit berusaha menarik bajunya untuk dilihat.


"Kia bantu bersihkan ya!" ucap Kia.


"Ya"


Saat Kia hendak menolong Radit membersihkan bajunya, Ipang mulai berulah lagi.


"Ibu sakiit" keluh Ipang merintih sambil menangis.


Kia kemudian menoleh ke Ipang dan menghentikan niatnya membantu Radit.


"Iya Nak, bentar" jawab Kia mendekat ke Ipang.


"Mas Radit sebaiknya pulang dulu ya! Terima kasih sudah membantu" tutur Kia menambahkan, menyuruh Radit pulang.


"Ibuu sakiit" Kia terus merengek meminta perhatian.


Radit jadi bingung melihat Ipang menangis, padahal Radit masih ingin berlama-lama di rumah Kia.


"Iya Nak, sakit bagian mana?" tanya Kia peduli ke Ipang dan acuh terhadap Radit.


Ipang menangis dengan ekspresi kesakitan dan melirik ke Radit sesekali. Ipang kesal kenapa Radit tidak juga pergi.


"Ibu Ipang ingin ke kamar mandi, Ipang kebelet Bab" ucap Ipang tiba-tiba.


"Oke, ayo ibu antar ke kamar mandi" jawab Kia mengangguk lalu menoleh ke Radit lagi yang masih bermuka tembok berdiri.


"Maaf ya Mas, Mas Radit pulang aja. Saya mau urus Ipang" ucap Kia mengusir Radit secara halus untuk kedua kalinya. Lalu Kia membawa Ipang masuk dengan menggendong.


"Ya" jawab Radit singkat dan kecewa.


Kia sudah masuk dan menutup pintu rumahnya.


Radit mengaca dulu sebelum pergi, melihat baju belakangnya dari kaca. Matanya pun melotot melihat koko putih kesayanganya penuh dengan lumpur.


"Haiiisshh kenapa mendekati Kia, sesusah ini" gerutu Radit dalam hati lalu pergi.


Sesampainya di dalam rumah setelah Kia menutup pintu. Ipang menepis tangan Kia yang menggendongnya dan meminta turun.


"Ibu turunkan Ipang" ucap Ipang meminta diturunkan.


"Emang kakinya udah nggak sakit?" tanya Kia


"Turunkan Ipang Bu"pinta Ipang sambil melorot dari Gendongan. Kia pun menurut melepaskan Ipang dari gendonganya. Dan Ipang turun langsung berdiri tegak.


"Ipang, kamu? " panggil Kia heran Ipang bisa berjalan tegak.


"Ipang bisa jalan sendiri Bu" ucap Ipang lagi.


"Terus tadi? Apa?" tanya Kia dengan tatapan menghakimi Ipang hendak memarahi. Sepertinya Kia dibohongi Ipang lagi.


"Hehehe" jawab Ipang nyengir.

__ADS_1


"Kamu bohong sama ibu?"


"Nggak bohong Bu. Kaki Ipang beneran sakit. Tapi kan Ipang kan laki-laki, Ipang harus jaga ibu. Ipang nggak boleh sakit, Ipang harus kuat buat Ibu" tutur Ipang so sweet.


Mendengarkan perkataan Ipang, Kia yang mau marah menjadi trenyuh dan tidak jadi marah.


"Uuuh anak ibuk Sayang, makasih ya. Ya sudah, kalau mau ke kamar mandi cepatlah, setelah itu ibu bersihkan lukamu, kalau tidak dibersihkan nanti bisa infeksi, mengerti?"


"Ipang tidak ingin ke kamar mandi kok Bu!" jawab Ipang jujur.


"Heeh?" tanya Kia terbengong lagi, tadi bilangnya mau bab.


"Ayo bersihkan lukaku Bu!" ajak Ipang tegas tidak menjawab pertanyaan ibunya lagi.


"Tunggu dulu. Jadi Ipang bohong lagi?" tanya Kia menyelidik. Kia kalah poin banyak dari anaknya.


"Maaf Bu!"


"Ipaaang, jadi ibu kena prank?" panggil Kia tidak suka anaknya mulai pintar berbohong.


"Katanya berbohong untuk kebaikan sesekali itu boleh Bu?" jawab Ipang membela diri. Dengan senyum cerdiknya.


"Siapa yang ngajari kamu begitu, heh? Apapun alasanya kebiasaan berbohong itu nggak boleh, Nak. Ibu nggak suka!" jawab Kia menasehati.


"Ipang nggak suka Om Radit dekat-dekat ibu" ucap Ipang jujur.


"Iya ibu mengerti, ibu juga nggak deket-deket, tapi kenapa? Kenapa berbohong dan ngerjain Om Radit, itu nggak boleh Nak!"


"Abis Om Radit deket- deketin ibu, nanti ayah cemburu lho Bu" ucap Ipang lagi semakin membuat Kia terbengong.


"Hoooh? Cemburu? Hahaha. Kamu dengar kata-kata itu dari siapa Nak?" tanya Kia tidak percaya bahkan Ipang sudah bisa mempunyai kosakata cemburu dalam otaknya.


"Sudahlah Bu, Ibu mau bersihkan luka Ipang tidak? Kalau nggak mau biar Ipang bersihkan sendiri" ucap Ipang kesal dan ngambek karena ibunya terus menanyainya. Lalu sok-sokan mau bersihkan luka.


"Jawab dulu, kamu denger kata- kata cemburu dari siapa?" tanya Kia menelisik anak nya yang jahil.


"Ya sudahlah, ibu tanya terus Ipang mau bersihkan luka sendiri" jawab Ipang lagi tidak suka dicecar pertanyaan. Ipang kemudian menarik kotak P3K kia.


Ipang pun dengan gayanya bilang bisa.


"Bisa, abis ibu galak sama cerewet sama Ipang" ucap Ipang jujur mengutarakan isi hatinya.


"Ipaang!" panggil Kia lagi kesal, bahkan anaknya sekarang mengatainya cerewet.


"Ibu mau bantu bersihin luka Ipang nggak?" tanya Ipang mengalihkan lagi.


Di dalam kotak P3K ada kassa plaster, betadin cairan pembersih, salep dan kapas. Ipang terlihat bingung mana dulu yang harus dibuka dan dilakukan.


"Katanya bisa sendiri? Ya udah bersihkan sendiri!" ucap Kia balas mengerjai Ipang.


"Tuh kan ibu beneran udah nggak sayang sama Ipang" jawab Ipang memutar balikan kata, membuat ibunya mau menolongnya.


"Lhah kan tadi Ipang sendiri yang bilang, Ipang mau bersihin sendiri?"


"Ya kan karena ibu sangat cerewet. Ibu berhentilah memarahi Ipang, dan bersihkan luka Ipang, pokoknya Ipang nggak suka Om Radit"


"Hemmm, yaya, ibu mengerti!"


"Ayo Bu, obati Ipang"


"Kalai mau dibersihkan diobati, minta maaf dulu. Dan jangan katakan Ibu cerewet"


"Hehehe iya Bu, Ipang minta maaf, Ibu Ipang sangat cantik, Ibu juga baik sekali, Ipang sayang Ibu" jawab Ipang mengeluarkan jurusnya membuat Kia meleleh. Dasar anak Aslan dari kecil sudah pandai merayu.


"Huh, dasar anak ibu sekarang nakal! Sini kakinya" ucap Kia lalu berjongkok membersihkan luka lecet di kaki Ipang.


Lalu dengan telaten dan hati-hati Kia membersihkan luka di lutut Ipang. Pertama membersihkan dengan cairan pembersih. Membuang tanah dan kotoran yang nenempel kemudian antiseptik dan salep agar cepat kering. Karena luka lecet Kia biarkan terbuka.


"Sakiit Bu. perih" keluh Ipang saat Kia mengompres bagian yang lecet dengan kassa dan cairan pembersih.


"Katanya Ipang laki- laki dan mau kuat jagain ibu. Ditahan perihnya ya, tinggal ibu olesi salep kok" tutur Kia menasehati.


"Iya Bu"

__ADS_1


"Lagian kenapa kamu sampai jatuh sih? Kan ibu udah ajakin kamu pulang? Kamu nggak mau, malah lari-lari!"


"Berapa kali Ipang bilang Bu? Ipang tidak suka liat Om Radit dekat-dekat ibu, makanya Ipang lari"


"Hemm, anak ibu posesif sekali"


"Ibu hanya milik Ipang dan ayah"


"Heh?" Kia terhenti mengolesi salep dan menoleh ke Ipang.


"Ayah? Ayah siapa?"


"Ayah Aslan lah Bu"


"Ipaang, ibu kan sudah bilang, jangan sebut nama dia. Ibu milik Ipang dan Ipang punya ibu. Tidak ada yang lain"


"Tapi Ipang mau ada ayah dan itu ayah Aslan Ibu"


"Ipaang" gerutu Kia lagi memberi peringatan untuk tidak usah membahas Aslan.


"Hummm" Ipang menjawabnya dengan cemberut.


Kiapun tidak bisa berkata apa-apa kalau Ipang mulai bahas Aslan. Sekarang Ipang tidak bisa dibohongi lagi. Ipang sudah kenal dan tahu siapa ayahnya.


"Sudah ya, ibu mau bersih-bersih, ibu juga mau masak, bermainlah!" ucap Kia bangun menghindari Ipang merengek tentang Aslan lagi.


Kia kemudian ke dapur, merebus air, dan menanak nasi. Sementara Ipang duduk termenung, otaknya kembali bekerja memikirkan bagaimana ibunya mau bersama ayahnya.


Kia sendiri melakukan pekerjaanya dengan melamun. Kenapa Ipang bisa begitu dekat dan menyukai ayahnya padahal baru bertemu. Bagaimana caranya membuat Ipang melupakan ayahnya.


Setelah mencuci piring dan membersihkan rumah. Kia keluar membeli sayuran. Di ujung jalan ibu-ibu tampak berkerumun membeli sayuran pada tukang keliling.


"Lhoh, Bu Kia kok di rumah?" tanya tukang sayur.


"He...Iya Bu" jawab Kia tersenyum.


"Emang libur atau gimana?" tanya ibu yang lain.


Kia diam dan bingung mau jawab apa. Kenapa keberadaanya di rumah menjadi sesuatu yang dipertanyakan. Kan hal wajar Kia tinggal di rumahnya sendiri.


"Saya memang ingin pulang Bu" jawab Kia.


"Kirain mau menetap di Ibukota? Dulu Kia berasal dari sana kan?" tanya tetangga Kia lagi.


"Iya Bu" jawab Kia.


"Ipang sudah besar lho Bu Kia. Saya kira ke Ibukota mau mencari ayah Ipang" sindir tetangga Kia.


"Ibu Ini gimana. Bu Kia kan mau nyari ayah buat Ipang di sini, itu lho yang tiap hari ngapel"


"Perasaan saya kemarin nonton Ipang terpilih lho. Kan belum tampil, berarti Ipang nggak ikut pulang? Berarti Bu Kia pulang sendiri?" tanya ibu-ibu yang lain.


"Waah, sendirian, jadi banyak kesempatan ya buat berduaan? Jadi bebas ya nggak ada Ipang?"


"Udah sih Bu Kia, nikah aja!"


Kia menelan salivanya. Mendengar ibu-Ibu bertanya sendiri menjawab sendiri.


"Ibu saya beli kangkung satu, ayang setengah kilo berapa?" tanya Kia dengan wajah memerah ingin segera pergi.


"Dua puluh ribu Neng"


"Inu uangnya Bu. Makasih" ucap Kia pergi.


"Mari ibu? Saya pulang dulu" pamit Kia pergi.


"Ditanya baik-baik nggak jawab, asal pergi aja yaa"


"Iyaa. Ck dasar" cibir ibu-ibu.


Kia berjalan dengan cepat ke rumahnya, menahan sesak. Sampai rumah Kia duduk meletakan sayuran dan mengatur nafasnya.


"Ya Tuhan, kenapa nggak ada habisnya orang menggunjingku. Menikah atau tidak itu kan urusanku? Kenapa ibu-ibu itu repot sekali?"

__ADS_1


__ADS_2