Sang Pangeran

Sang Pangeran
38 Polisi


__ADS_3

****


Yayasan Srikandi


Dengan wajah ditekuk kesal Radit berjalan cepat membawa sajadahnya. Sesampai di depan rumahnya Radit langsung membuka kemeja kotornya sambil mengumpat.


"Siall bocah itu. Kalau saja bukan karena ibunya cantik, males deh deket-deket" ucap Radit kini hanya tinggal memakai pakaian dalam sehingga dadanya terlihat.


Dari kejauhan, gadis manis dengan tubuh mungil memperhatikan Radit. Tatapanya penuh kekhawatiran dan cemburu. Gadis itu tau kalau Radit baru saja mengantar Kia ke rumahnya.


"Kapan kamu mengerti perasaanku Mas, kenapa kamu masih saja mengejar Kia?" batinnya dalam hati.


"Kenapa Kia balik lagi ke sini ya? Padahal kan Kia kemarin baru cerita dapet kerja. Kia terdengar sangat bahagia dengan pekerjaan barunya. Semua orang juga tahu Ipang berhasil masuk ke Bintang Kecil"


"Aku harus tanya ke Kia".


"Aku berharap kamu kalian kembali ke Ibukota Ki"


Gadis itu bermonolog dalam hati. Meski dia sahabat Kia, tapi buatnya Kia adalah ancamanya. Kia sainganya, meski tidak benci gadis itu bahagia jika Kia pergi.


***


"Baca doa dulu Nak" tutur Kia menasehati Ipang.


"Ya Bu" jawab Ipang.


Kini Kia dan Ipang sama-sama sudah mandi dan duduk manis di meja makan. Karena di dalam rumah, Kia tidak mengenakan jilbabnya. Rambutnya yang keriting gantung dibiarkan terurai, karena dia baru saja keramas.


Kia dan Ipang tidak terlihat seperti ibu dan anak. Tapi lebih mirip kakak dan adik. Kia terlihat segar dan cantik, apalagi sekarang badanya lebih berisi.


Lalu mereka berdua berdoa sebelum makan. Sebagai ujud syukur pada Tuhanya, masih diberi kesehatan, rejeki dan kenikmatan. Mereka juga memohon agar hidupnya diberkahi dan diampuni.


"Ayamnya enak Bu" ucap Ipang menggigit ayam goreng yang Kia bumbui dengan bumbu rempah.


"Alhamdulillah, makanya yang hati-hati jangan buru-buru"


"Iya Bu, Ipang suka sekali masakan Ibu. Masakan di karantina tidak enak" ucap Ipang jujur, tiba mengingat karantina.


"Ya sudah karena kamu tidak suka makanan di karantina. Nggak usah balik ke sana. Tinggalah di sini ya" ucap Kia penuh harapan ke Ipang. Agar Ipang melupakan ibukota.


Ipang yang tau hari ini akan dijemput ayahnya diam saja dan melanjutkan makanya. Maksud Ipang tetap kembali ke Ibukota, tinggal bersama dan setiap hari dimasakin ibunya.


Saat mereka makan, mereka mendengar pintu rumah di ketok. Mereka saling pandang, memperlambat kunyahan mulutnya dan meletakan sendoknya.


"Ibu belum pakai hijab, pakai jilbab dulu ya Bu, Ipang aja yang temui" tutur Ipang cerdas, Ipang tidak mau ibunya keluar dengan penampilan seksiny sekarang.


Kia mengangguk dan membiarkan anaknya keluar. Ipang kemudian berlari keluar membuka pintu. Lalu Kia masuk ke kamar mencari kardigan dan penutup kepalanya, kemudian menyusul Ipang.


Dengan berani Ipang membuka pintu rumahnya. Wajahnya menengadah ke atas, meneliti kedua pria dewasa di depanya.


Dua laki- laki itu tampak tersenyum ke Ipang. Tapi tetap saja buat Ipang lelaki itu tampak seram karena seragamnya. Di depan Ipang berdiri dua polisi dengan tubuh tegapnya.


"Benar ini dengan kediaman Ibu Kiara Arsyla Nak?" tanya polisi itu


"Iya benar" jawab Ipang mengangguk.


"Apa ibumu di rumah?" tanya Polisi.


"Ada" jawab Ipang berfikir.


"Tolong panggilkan ibumu" ucap Polisi.


Di saat Ipang menerima tamu berseragamnya itu. Beberapa tetangga Kia melihatnya mereka kemudian bergunjing.


"Eh liat liat, Si Kia di datengin polisi"


"Iya yah, kenapa ya?"


"Jangan-jangan dia berbuat kriminal lagi"


"Lagian Bu Rian kok dia mau sih dulu nampung Si Kia" .


"Cantik sih emang, tapi asal usulnya nggak jelas gitu"


"Iya, bapaknya Ipang siapa aja sampai sekarang nggak ada yang tau ya?"


"Untung Ipang lucu dan pintar"


"Tapi kalau anak haram katanya emang gitu pintar biasanya"


"Ehm" Fatimah yang hendak ke rumah Kia berdehem.


"Saya denger lho Bu" ucap Fatimah memergoki Ibu- ibu sedang menggunjing Kia.


"Ehm... Itu lho Fat, Kia didatengi polisi" tutur ibu ibu menunjuk ke rumah Kia.


Mata Fatimah kemudian tertuju ke rumah Kia. Di halamanya terparkir mobil polisi.


"Oh iya?" tanya Fatimah ikut kaget dan antusias.

__ADS_1


"Kia didatengi polisi ada apa?" batin Fatimah dalam hati. Lalu Fatimah segera beranjak menghampiri Kia.


****


Ipang mengangguk mendapat ucapan minta tolong dari tamunya.


"Bapak tunggu di sini ya" ucap Ipang pintar.


"Iya Nak"


Ipang kemudian berbalik masuk ke dalam rumah, memanggil ibunya yang sedang memakai jilbab dan baju panjang.


"Siapa Nak?" tanya Kia gugup karena Ipang terlihat murung dan berfikir dalam.


"Om Radit ya?" tanya Kia menebak dari ekspresi Ipang.


"Bukan" jawab Ipang menggelengkan kepala.


"Fatimah?"


"Bukan juga"


"Terus?" tanya Kia menelisik.


"Polisi Bu" jawab Ipang lirih.


"Hah polisi?" tanya Kia kaget dan tersentak.


Seketika nafasnya seperti terhenti. Dan kepalanya limbung, seumur hidup baru ini ada tamu polisi ke rumahnya. Kemudia otaknya dipenuhi tanda tanya sampai beterbangan kemana-mana.


Meski kerudungnya masih menceng dan rambutnya masih sedikit menyembul keluar Kia ingin segera memastikan. Ko bisa Polisi mencarinya.


Dengan langkah secepat kilat, Kia segera keluar menemuinya.


"Benaran polisi" batin Kia menelan salivanya.


Kia takut bingung, ada salah apa Kia? Mencuri tidak, mencopet tidak, menipu juga tidak. Ah Kia gemetaran menerka-nerka.


"Mohon maaf ada apa ya?" tanya Kia memberanikan diri.


Polisi kemudian menoleh ke Kia, sesaat mereka terpana. Meski jilbab Kia menceng, kecantikanya tetap terpancar, kulit sehat, kencang, mulus dan manis tergambar di wajah Kia. Tidak ada tampang kriminal sedikitpun. Apalagi bibirnya sangat imut, tidak pantas menggambarkan penjahat.


"Benar dengan ibu Kiara Arsyila?" Kedua polisi itu bertanya balik pada Kia, setelah mengerjapkan matanya agar tidak terlihat mengagumi kecantikan Kia.


"Iya benar saya Kiara Arsyila ada apa ya?" tanya Kia sedikit pucat.


"Saya?" tanya Kia kaget dan terbengong dan menerima surat panggilan.


"Iya. Silahkan datang ke kantor kami untuk kami mintai keterangan Nyonya"


"Hoh ini beneran untuk saya? Emang apa salah saya Pak?" tanya Kia lagi masih tidak mengerti.


Di saat yang bersamaan Radit dan Fatimah datang.


"Nanti kita jelaskan ke kantor Bu, mari ikut kami" ucap Polisi lagi.


"Hoh. hoh.. " Kia bernafas ngos-ngosan dan menepuk dadanya mencoba menyadarkan dirinya kalau yang dia alami sekarang itu nyata. Mimpi apa ini?


"Ada apa ini Dhek?" tanya Radit mendekat.


Kia tidak bisa menjawab. Lalu Radit menoleh ke polisi dengan tatapan benci. Dengan jiwa kepahlawanan sebagai jurus mengambil hati Kia, Radit memasang badan untuk membelanya.


"Ada apa ini Pak?" tanya Radit ke polisi.


"Nanti dijelaskan di kantor Pak"


"Tapi jelaskan dulu ada apa?" tanya Radit lagi.


"Maaf kami tidak bisa jelaskan di sini. Mari Bu Kia ikut kami" tutur Polisi lagi.


"Boleh nggak saya jalan sendiri? Saya akan datang kesana kok. Tapi saya harus bicara dengan anak saya dulu. Saya juga harus baca dulu isi surat ini" ucap Kia tidak mau berangkat bersama polisi.


Polisi yang sudah diberi pesan Rendra untuk tidak menyakiti Kia mengangguk membiarkan Kia berangkat sendiri.


"Baiklah Bu, kami mohon kerjasamanya. Kami tunggu di kantor polisi"


"Ya saya akan kooperatif kok" jawab Kia lagi.


Lalu Kia duduk membuka isi surat panggilanya.


"Ada apa Ki?" tanya Fatimah mendekat.


Kia mengeratkan rahangnya. Mulutnya tercekat tidak mampu bicara. Rasanya seperti terkunci bahkan syaraf-syarafnya seperti terhenti bekerja.


Matanya terus melotot mengeja kata- demi kata yang berbaris di dalam surat itu. Sampai mata Kia berhenti pada titik di pojok bawah surat itu.


Kia langsung meremas kertas itu dengan gigi saling mengunci geram. Sementata Radit dan Fatimah menatap ngeri melihat ekspresi Kia.


"Aaaaaakkh dasarrr Singa Gilaa" teriak Kia tiba-tiba.

__ADS_1


Ipang yang mengintip di balik jendela memperhatikan sambil berfikir. Seketika Kia menyebut kata Singa Gila, Ipang justru tersenyum. Ipang tahu itu sebutan untuk ayahnya.


"Ada apa Ki?" tanya Fatimah.


"Tolong kalian pergi dulu dari rumahku. Aku rasanya lagi pengen makan orang" ucap Kia dengan nafas memburu wajahnya merah padam dan tatapanya benar-benar mengerikan.


Radit dan Fatimah menelan salivanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kia di ibukota. Bukanya pulang membawa kabar membanggakan malah sebaliknya.


"Pergi kalian!" ucap Kia kasar.


"Aku temani kamu ke kantor polisi Dhek" ucap Radit


"Tidak perlu aku bisa sendiri" jawab Kia lalu masuk mengacuhkan Radit dan Fatimah.


Radit dan Fatimah saling pandang dengan tatapan bingung. Tapi mereka tidak menyerah, mereka masih tetap menunggu Kia.


"Ipang!" panggil Kia mencari anaknya.


"Iya Bu!" jawab Ipang di balik jendela.


"Sini dengarkan ibu" ucap Kia menarik lengan Ipang agar mendekat dan duduk di sofa ruang tamu.


"Ya Bu" Ipang dengan tenang duduk di depan ibunya.


"Liat kamu tadi siapa yang datang?" tanya Kia dengan wajah garangnya.


"Liat Bu, kan Ipang yang bukain pintunya"


"Kamu tau mereka siapa dan untuk apa?"


"Tidak Bu"


"Dengarkan ibu baik baik. Jangan pernah sebut-sebut nama ayah yang kamu banggakan itu. Dia bukan ayah kamu, ngerti?" tutur Kia marah-marah.


"Liat, liat surat yang ibu pegang. Laki - laki jahat ituu. Laki laki yang nggak berperasaan itu, yang sombong itu mau masukin ibu ke penjara!" ucap Kia geram dan lancar sekali mengatai Aslan dengan semua perktaan buruk tentang Aslan.


"Dia mau misahin ibu sama kamu Nak, apa kamu masih mau sebut dia ayah? Hah? Bahkan dia selama ini nggak peduli sama kita. Apa kamu mengerti sekarang?" lanjut Kia lagi penuh penekanan.


"Hiks hiks" mendengar ibunya marah - marah Ipang diam dan menangis.


"Hooh, Ipang maafkan Ibu" Kia menghela nafas kemudian memeluk Ipang dengan perasaan frustasi dan campur aduk.


Kia membelai ramput Ipang pelan.


"Tenang Nak, kita akan terus bersama, ibu tidak mau pisah dari kamu" tutur Ipang mengira Ipang takut ibunya dipenjara.


Padahal sebenarnya Ipang menangis bukan takut dengan polisi. Ipang hanya takut dengan bentakan Kia.


Ipang ingat pesan ayahnya kalau Ayahnya tidak akan menyakiti ibunya dan dirinya. Ayah hanya ingin ibu Kia patuh.


"Memang apa yang ibu lakukan, sampai ayah mau memasukan ibu ke penjara?" tanya Ipang melepaskan pelukanya dan mengusap air matanya.


"Ipang, jangan sebut dia ayah. Dia singa gila" ucap Kia mengingatkan. Mengajarkan anaknya untuk tidak sopan ke ayahnya.


"Iya, itu Bu. Apa yang ibu perbuat?" tanya Ipang lirih tidak mau menyebut ayahnya Singa gila.


Kia kemudian menelan salivanya dan salah tingkah mendengar pertanyaan Ipang. Kalau dipikir- pikir Kia memang salah sih. Di surat panggilan disebutkan kalau Kia melalukan pemutusan kontrak kerja sepihak.


Kia sendiri lupa, bukan lupa memang tidak membaca isi kontrak yang sangat banyak itu. Waktu itu Kia terlalu sombong dan uforia ketrima kerja padahal lulusan SMA.


Kia tidak tahu kalau niat Aslan awalnya ingin mengerjainya, karena Kia berani menyumpahi dan melawanya. Kia tidak tahu kalau aturan Aslan sangat merugikanya.


"Ibu tenang saja. Polisi tidak akan menangkap ibu kalau ibu tidak salah. Kata di film superhero begitu Bu" ucap Ipang bijak membuat Kia tersentak.


"Ehm, ehm" Kia berdehem tidak bisa menjelaskan ke Ipang.


Ipang benar kalau tidak salah harusnya tenang dan tidak khawatir. Tapi kenyataanya Kia emang salah.


"Apa yang ibu lakukan Bu?" tanya Ipang lagi.


"Ibu sendiri tidak tahu apa isi kontrak itu. Ibu dituntut membayar denda karena ibu keluar kerja sebelum masa kontrak Ibu selesai" jawab Kia lirih merasa malu ke anaknya.


"Ck. Berarti memang ibu salah" ucap Ipang berdecak


"Ipang!" bentak Kia tidak terima karena masih saja Ipang membela ayahnya.


"Kan ibu yang ngajarin Ipang untuk menepati janji" tutur Ipang lagi


"Ipang tapi ini keadaanya beda" jawab Kia membela diri.


"Tetap saja ibu salah" ucap Ipang lagi mengingatkan ibunya.


"Jadi Ipang belain laki-laki itu lagi? Sayang dia mau misahin kita Nak" tutur Kia mempengaruhi Ipang , letak kesalahan Aslan menurur Kia.


"Ayah tidak akan misahin kita Bu, ibu jangan keluar dari kerja, ayo kita kembali ke Ibukota Bu" tutur Ipang lagi berbalik menasehati ibunya.


Ibu anak rasa adek kakak itu beradu pendapat, mereka terhenti ketika kembali mendengar ketukan pintu rumahnya.


"Kali ini ibu yang buka" ucap Kia ke Ipang.

__ADS_1


__ADS_2