
”Lihat apa, Sayang?” tanya Aslan penasaran dengan mata genitnya. Aslan malah menanggapi perkataan Kia berpikir traveling ke surga.
Sementara Kia yang sudah bermain teka- teki mendebarkan dengan buku diary usang yang dia temukan menatap getir suaminya. Kia tidak tahu, Aslan sudah pernah melihat foto itu sebelumnya atau Kia yang pertama. Lalu apa respon Aslan.
“Yang penting dilihat dulu!” ucap Kia tersenyum, Kia khawatir Aslan akan bersedih. Kia menarik tangan suaminya tanpa ragu masuk ke kamar.
Mereka masuk ke kamar. Aslan mengekori Kia dengan semangat, seperti anak kecil yang keinginanya mau dipenuhi. Aslan tidak berfikir buruk atau aneh- aneh.
Kia pun langsung berjalan ke meja rias di ujung kamarnya itu. Buku diary itu masih di tempatnya, dan langsung Kia ambil.
“Duduk sini Bang!” ajak Kia duduk di ranjang.
“Apa itu, Yang?”
“Abang udah pernah liat ini sebelumnya?” tanya Kia menunjukan buku itu.
Aslan menggelengkan kepalanya, muka bahagianya, kini memudar menjadi muka tegang dan penasaran.
“Belum, apa sih?” jawab Aslan.
Kia menghela nafasnya dalam dan menatap suaminya penuh perhatian. Jika tebakan Kia benar, buku itu akan menjadi kunci rahasia besar hidup sumianya.
“Semoga kamu kuat menerima kenyataan ini Abangku, Sayang!” batin Kia dalam hati.
“Abang harus liat ini dengan baik! Nih. Ini buku ibu mertua! Ibunya Abang, ibu Andini!” ucap Kia menyerahkan buku itu.
Aslan menatap Kia mulai curiga, kemudian menatap buku itu ragu. Mendengar nama ibunya disebut, ada debaran tak biasa datang menghampiri.
Sebuah buku selalu meninggalkan goresan pesan dan berita. Aslan tau itu. Aslan menelan ludahnya mengambil jeda, bersiap menerima sebuah pesan yang Aslan tidak bisa menebak ibunda tercintanya. Ibu yang sangat ia rindu belaian sayang dan tutur lembutnya.
“Lihatlah Bang!” ucap Kia lembut.
Perlahan, jari jemari Aslan membuka lembar demi lembar dari buku itu. Bola mata Aslan mulai berputar ke kanan dan ke kiri mengeja dan mengikuti setiap torehan kata perjalanan ibundanya.
Aslan menelan ludahnya, ekspresi mukanya mulai meredup tatkala sampai pada gambar yang sama dengan yang Kia lihat. Lama Aslan memperhatikan foto itu, persis seperti yang Kia lakukan. Aslan menutup gambar itu, matanya nanar. Aslan terlihat sulit menelan ludahya, kemudian menoleh ke Kia.
“Kamu temukan ini dimana, Sayang?” tanya Aslan lirih.
Kia tidak menjawab, Kia mendekat ke suaminya dan merapat. Kia meraih tangan Aslan. Dia genggam tangan suaminya lembut dan erat.
“Ini baru foto Bang, masih ada banyak pertanyaan yang harus dijawab!” tutur Kia pelan menenangkan suaminya yang mulai gelisah.
Aslan menelan ludahnya dan mengatur nafasnya.
“Abang harus dengar jawaban dari foto ini.” gumam Aslan terdengar parau.
“Umma!” gumam Aslan menjawab pertanyaanya sendiri. Aslan langsung bangun.
Kia tau suaminya sedang dalam keadaan labil. Kia menarik tangan suaminya menghentikan langkah Aslan.
“Umma kan lagi ngaji, Bang! Sabar dulu yah!” tutur Kia lembut.
Di hadapan Kia, perempuan bodoh, yang dia bayar seharga 15 juta untuk satu malam. Untuk pertama kalinya, seorang Aslan Nareswara menitikkan air mata. Meski belum mendapatkan keterangan pasti, Aslan begitu terkejut dan sulit menerima kenyataan.
Jika ibunya menikah dengan laki- laki yang bukan Tuan Agung kurang dari 10 bulan dari hari lahir Aslan, itu berarti ayah Aslan bukan Tuan Agung. Aslan tidak pernah membayangkan hal itu.
Aslan seperti disambar petir mengetahui kalau dirinya bukan anak Tuan Agung. Orang yang selama ini Aslan patuhi, orang yang demi dirinya Aslan mengalah dan melakukan banyak hal dengan segenap hati, ternyata bukan ayahnya.
Kia bangun, dengan kedua tangan dan hatinya yang lapang, direngkuhnya tubuh besar lelaki yang sudah jadi suaminya itu.
Kia memberikan pelukan yang hangat bagi Aslan. Dielusnya lembut punggung Aslan. Kia mencurahkan kasih sayangnya melalui gerakan tanganya itu. Kia memberitahu Aslan bahwa sekarang ada Kia di hidupnya, sebagai tempat mengadu dan pulang.
Aslan pun menumpahkan kesedihanya di bahu Kia. Lama Aslan menangis dalam pelukan Kia. Ternyata Aslan sama seperti Ipang, tidak tahu siapa ayahnya, dan rasanya begitu sakit.
“Itu baru foto, Bang. Kita temukan jawabanya bersama ya!” tutur Kia lembut setelah merasa Aslan sudah cukup mencurahkan sedihnya.
Kia melepaskan pelukan Aslan.
“Umma ngajinya biasanya sampai jam berapa?” tanya Kia.
“Abang nggak tahu!”
“Kia tanya Kikan dulu ya!” ucap Kia.
“Kamu temukan buku ini dimana?” tutur Aslan mengulang pertanyaan sama, yang belum dijawab Kia.
“Di laci situ Bang!” ucap Kia menunjuk laci meja rias Bu Andini.
Aslan langsung berjalan ketempat yang Kia tunjuk, membuka isi laci dan mencari barang lain yang bisa membantu Aslan. Sayangnya di laci itu hanya tinggal debu kotor tebal karena sudah bertahun- tahun tidak dibuka.
Aslan menghela nafasya kecewa. Aslan kemudian duduk di bangku meja rias itu.
__ADS_1
“Kia temui Kikan ya!” ucap Kia lirih. Mengusap kedua bahu suaminya.
“Iya!” jawab Aslan mengangguk menatap ke Kia.
Kia berjalan keluar kamar meninggalkan Aslan, menemui Kikan. Kikan terlihat berbaring di sofa depan.
“Kikan.” Panggil Kia lembut.
“Eh Kak Kia! Ada apa Kak?” tanya Kikan.
“Umma ada?” tanya Kia.
“Kan Umma lagi ngaji Kak, tuh di masjid seberang!” jawab Kikan menunjuk ke luar rumah di seberang jalan memang ada masjid.
“Pulang jam berapa?” tanya Kia.
“Biasanya jam 9 udah selesai.” jawab Kikan.
“Kalau Umma udah pulang kasih tau ya. Ketok pintu kamar kita!” tutur Kia.
“Iya Kak!” jawab Kikan mengangguk.
“Lagi apa nih?” tanya Kia mengembangkan senyum ramah bosa basi.
“Baca buku Kak!”
“Oh. Dilanjut ya. Kakak masuk dulu!” pamit Kia ramah.
“Ya Kak!” jawab Kikan.
Sebelum kembali ke kamar Kia ke dapur dulu. Kia membuatkan minuman manis dan hangat untuk suaminya. Kia berfikir secangkir teh hangat di malam yang dingin bisa membantu meredakan hati Aslan yang sedih.
Setelah tersaji minuman teh khas daerah ibu Aslan itu, Kia membawanya ke kamar.
“Abang ngeteh dulu yuk!” tawar Kia dengan senyum manisnya.
Kia meletakan nampan berisi teko teh, gula dan dua cangkir di meja dekat jendela.
“Makasih, Sayang!” jawab Aslan, lalu bangun dari ranjang dan duduk di dekat Kia.
Kia menuangkan air dari teko itu untuk Aslan. Aslan pun mengambil dan meminumnya pelan.
“Umma pulang sekitar pukul sembilan. Bang!” tutur Kia.
“Kok gitu? Masih banyak kemungkinan Abang, jangan putus asa dulu. Kita tanya Umma yah!”
“Kenyataan papa bukan papa kandung Abang lebih baik Sayang.” Ucap Aslan lagi.
“Abang sadar kan?” tanya Kia heran, perasaan tadi Aslan menangis.
“Dari dulu orang selalu membandingkan Abang dan Satya. Wajah kami jauh berbeda, padahal kami lahir dari rahim yang sama! Perlakuan papa ke Abang dan ke Satya juga berbeda! Itu semua sudah cukup jadi penjelasan untuk Abang.” tutur Aslan lirih menceritakan kisah pilunya yang dia alami selama ini.
Kia kemudian mendekat dan mengelus bahu Aslan lagi.
“Abang tetap ingin tahu siapa ayah Abang kan? Kita tetap harus tanya sama Umma, Bang!” ucap Kia.
“Iya. Tapi malam ini Abang mau tidur aja! Abang lelah, Sayang! Ngobrolnya besok lagi ya!” tutur Aslan terlihat sangat malas.
Kia mencoba mengerti perubahan emosi suaminya.
“Sebelum tidur, sholat isya dulu ya!” tutur Kia memperingatkan Aslan.
“Nanti aja!” ucap Aslan jujur, Aslan merasa malas untuk sholat.
“Abang... nanti semakin dingin lho! Sholat dulu ya! Kalau udah, kan udah!” tutur Kia tetap mengingatkan suaminya.
Sebagai pendamping Kia harus membawa suaminya ke jalan yang benar.
“Ya!” jawab Aslan patuh ke Kia.
Aslan kemudian mengambil wudzu dan menunaikan sholatnya. Seusai sholat, tanpa banyak kata atau iseng seperti biasanya Aslan langsung naik ke ranjang dan menarik selimutnya.
Kia bisa melihat kegalauan hati suaminya.
“Jahat!” batin Kia merutuki Tuan Agung.
Ternyata selama ini Aslan dijadikan boneka dan budak pencari uang. Aslan bahkan dijadikan tameng menutupi aib Paul. Aslan tidak dibiarkan menikmati hidup sesuai maunya.
Kia menyusul Aslan masuk ke dalam selimutnya. Memeluk Aslan dari belakang dengan erat, tanpa gengsi dan ragu. Kali ini Kia benar- benar merasakan kehangatan yang tulus, merasa menjadi seorang istri yang siap berjuang dan berbagi bersama suaminya.
Belum Kia terlelap, suara pintu diketuk. Sepertinya Umma sudah pulang. Meski Aslan merasa tidak perlu lagi bertanya pada Umma, karena Kia terlanjur berpesan pada Kikan, Kia keluar.
__ADS_1
“Iya!” jawab Kia membuka pintu.
“Umma udah pulang Kak!” tutur Kikan memberitahu.
“Makasih ya! Kakak akan segera keluar!” jawab Kia kembali masuk dan mengambil buku itu.
Kia keluar kamar menemui Umma tanpa suaminya. Masih menggunakan mukena, Umma duduk menunggu di bangku kayu dengan ukiran klasik di ruang tengah.
“Umma sudah pulang?” tanya Kia lembut.
“Katanya mau ngobrol, ada apa Nak?” tanya Umma lembut.
“Tapi ini udah malam. Kalau Umma mau istirahat, Kia tanyanya besok saja!” tutur Kia merasa tidak enak karena ternyata sudah lewat jam 9.
“Umma tadi siang udah tidur, jadi sekarang belum ngantuk! Katakan Nak! Mau tanya apa?” tutur Bu Arini lembut.
Kia membuka buku diary Bu Andini di bagian foto pernikahan dan foto pengiring pengantin laki- laki. Lalu Kia memperlihatkannya pada Bu Arini.
“Kia mau tanya ini Umma!” ucap Kia pelan.
Bu Arini menegakan duduknya. Ekspresi wajahnya sedikit menegang memegang buku Bu Andini.
“Kamu dapat buku ini darimana?” tanya Umma kaget.
“Maaf, Umma. Kia menemukan di laci meja Ibu Mertua!” jawab Kia menunduk.
Bu Arini kemudian mengambil kacamatanya, membuka lembar demi lembar buku kakaknya itu. Setelah merasa cukup, Bu Arini menutup bukunya dan meletakanya. Bu Arini kemudian menatap Kia dalam.
“Apa Agung menyetujui pernikahan kalian?” tanya Bu Arini.
Kia menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Umma, Papa mertua sekarang dirawat di rumah sakit. Satu hari sebelum kami akad, kami berkunjung ke rumah besarnya, tapi Papa mertua mengusir kami. Di hari kami melangsungkan akad, papa mertua masuk rumah sakit!” tutur Kia bercerita.
“Lalu menurutmu, apa kata foto ini?” tanya Bu Arini tidak bercerita dan justru menanyai Kia.
“Bang Aslan bukan anak kandung Papa Mertua? Apa itu benar?” tanya Kia memberikan kesimpulan dengan mantap.
“Ya. Itu benar!” jawab Bu Arini menganggukan kepala.
Kia menelan ludahnya merasa miris.
“Umma tau sejak awal?” tanya Kia ingin menyalahkan Bu Arini.
“Umma tahu, sejak Kak Andini pertama kali ketahuan hamil, saat itu usia Aslan masih 5 minggu, tepat 1 bulan setelah pernikahan mereka. Kak Andini masih menjadi istri Mas Surya!” tutur Bu Arini sendu.
“Kenapa Umma merahasiakan ini? Kenapa selama ini Umma diam saja? Jadi Tuan Agung tahu Bang Aslan bukan anaknya? Kenapa ibu mertua dan Tuan Agung bisa menikah saat ibu mertua mengandung Bang Aslan, ini tidak adil untuk Bang Aslan, Umma!” ucap Kia menggebu melontarkan banyak pertanyaan, sampai mata Kia nanar hampir meneteskan air mata.
Kia menjadi istri Aslan yang menyayanginya sepenuh hati. Kia ikut merasakan sakit yang Aslan rasakan. Bu Arini diam tidak menjawab satu pun dari pertanyaan Kia.
“Umma tahu kan apa yang Tuan Agung lakukan pada Bang Aslan? Kenapa Umma tega membiarkan rahasia ini terkubur sampai berpuluh- puluh tahun lamanya, Umma? Bang Aslan, anak Bang Aslan perlu tahu siapa kakek mereka Umma!” tutur masih dengan mata berkaca- kaca.
Bu Arini tetap diam. Mulutnya masih mengatup belum mau membuka. Sudut mata Bu Arini yang mulai keriput terlihat basah tergenang air, Bu Arini meneteskan air mata mengikuti Kia.
“Siapa kakek Pangeran sebenarnya, Umma!” tanya Kia masih ingin menyerbu Bu Arini.
“Maafkan Umma!” ucap Umma lirih akhirnya membuka suara. Umma menundukan wajahnya dan mengelap air matanya.
“Apa kakek Pangeran masih hidup?” tanya Kia lagi.
“Stop Kia!” seru Aslan dari belakang.
Bu Arini tidak jadi menjawab, terpotong Aslan. Kia dan Bu Arini menoleh ke Aslan dan mereka saling diam.
Aslan terbangun dari tidurnya, menyadari Kia tidak ada di sampingnya, Aslan keluar mencari Kia.
“Abang kan sudah bilang, Sayang! Besok pagi aja ngobrolnya? Jadi gini kan? Kamu kebawa emosi!” ucap Aslan santai ikut duduk di samping Kia.
“Ehm!” Kia dan Bu Arini yang sama- sama menangis mengelap air matanya.
“Haish, kenapa perempuan suka sekali menangis, sih! ” ucap Aslan sok- sokan mengejek Kia dan Bu Arini. Padahal Aslan tadi juga menangis. Aslan tidak ingin dirinya jadi bahan kesedihan orag yang dia sayang.
“Umma, Kia istriku sayang. Kalian jangan menangis. Aslan justru bahagia mengetahui hal ini, itu berarti kita nggak durhaka ke Papah, Sayang. Besok kita bisa selenggarakan pesta yang meriah buat nikahan kita. Papa kan ayahnya Satya, biar Satya yang urus. Udah yuk! Tidur lagi!” ucap Aslan enteng, rupanya kegilaan Aslan sudah pulih.
“Abang!” pekik Kia, tadi saja Aslan sedih, bisa- bisanya sekarang sesantai itu.
“Sungguh itu yang kamu rasakan Nak?” tanya Bu Arini.
“Iya Umma. Umma tidurlah, Aslan juga mau tidur, ayo Yang! Kita tidur!” jawab Aslan santai.
“Apa kalian tidak ingin tahu siapa ayah kalian?” tanya Umma.
__ADS_1
“Besok lagi aja Umma!”