
“Krek”
Aslan menutup pintunya rapat setelah dirinya dan Kia masuk. Bahkan Aslan menguncinya dan kuncinya dia cabut.
“Kok dikunci sih Bang?” tanya Kia merasa suaminya aneh dan kurang kerjaan.
“Biar kamu nggak keluar- keluar kamar lagi!” jawab Aslan dengan mata sok peguasanya itu.
Kia yang tadi sempat berubah menjadi istri yang lembut, perhatian dan hangat, kini kembali menampakan muka manyun dan ketus.
“Ya nggak dikunci juga kali. Sini kuncinya, udah biarin ngegantung!” ucap Kia tegas. Ngapain juga kunci kamar disimpan.
“No! No! No!” jawab Aslan menyembunyikan kunci dalam genggamanya.
“Bang, nggak lucu ah. Masa Kia abang kunciin, kalau Kia haus gimana?” tanya Kia sambil berusaha merebut kuncinya.
“Kalau haus bangunin Abang, abang temenin!” jawab Aslan nakal.
“Bang. Seriusan deh, ini udah malem, nggak! Bercandanya nggak usah kelewatan!” tutur Kia gemas ke suaminya.
“Nah justru udah malem, ayo kita tidur, matikan lampunya. Nggak usah keluar- keluar apalagi ganggu Umma!” jawab Aslan beralasan.
“Oke, kita tidur! Tapi taro kunci di tempatnya, kalau Kia butuh sesuatu gimana? Kia nggak kabur kok! Aneh banget sih!” omel Kia lagi.
Aslan malah garuk- garuk kepala dan memasukan kunci itu ke dalam celananya. Dengan muka tanpa dosa, dia malah menampakan senyum tengilnya.
“Haiisssh!” desis Kia gemas dan bergidik ngeri sendiri.
Apa Kia salah ambil keputusan menikah dengan Aslan. Aslan sepertinya perlu dibawa ke dokter kejiwaan. Sesaat menangis terlihat sangat parau, tetiba diam, tetiba seenaknya sendiri dan sekarang berbuat sangat kurang kerjaan.
“Ambil kalau mau!” ucap Aslan nyengir dan menantang Kia untuk mengambil kunci di dalam celananya.
“Iiih!” Kia malah bergidik dan menggelengkan kepalanya lalu berdecak.
“Kenapa?” tanya Aslan tersinggung.
“Abang, mau Kia temenin ke psikiater kapan?” tanya Kia.
“Sembarangan kamu!”
“Lah ngapain juga, kunci dimasukin ke situ? Jijik tau Bang! Ih!” gerutu Kia mengatai Aslan.
“Kenapa jijik sih? Ini nanti jadi kesukaan kamu!” ucap Aslan lagi otaknya geser.
Kia benar- benar geli mendengarnya dan menutup telinganya.
“Abang gila! Masa kunci disimpan di situ, emang nggak nusuk dan ngeganjel. Gila gila gila!” ejek Kia puas.
“Iya emang, Abang gila karena kamu!” jawab Aslan.
Aslan tidak marah dikatai gila. malah medekat ke Kia dan menggendong Kia paksa untuk membawanya ke tempat tidur.
“Aaa, Abang turunin ih!” teriak Kia spontan karena tidak siap.
“Bruk!”
Aslan merebahkan Kia ke kasur dengan kasar.
“Kia bisa jalan sendiri!” omel Kia tidak suka diperlakukan begitu.
Aslan tidak menjawab, malah menarik selimut, lalu memeluk Kia dengan gemas dan erat.
“Abis kamu ngomong terus nggak tidur- tidur, udah pejamin mata, tidur!” bisik Aslan sambil mendekap Kia dan menciumi rambutnya.
Kia pun terdiam merasakan hangatnya dekapan suaminya.
“Ya tapi jangan kenceng- keceng begini sesak, Bang!” tutur Kia lembut memegang tangan Aslan yang melilit tubuhnya.
“Udaranya dingin banget, begini kan nyaman, Yang!” jawab Aslan pelan sambil memejamkan mata.
Udara di daerah itu memang sangat dingin, bahkan siang hari sering berkabut, apalagi malam.
“Itu kuncinya beneran nggak mau diambil?” tanya Kia."
“Kuncinya di saku kok, celana Abang kan ada sakunya!” jawab Aslan lagi pelan.
“Kia nggak keluar kok Bang, ambil ya kuncinya!” tutur Kia lagi.
Tapi Aslan tidak menjawab. Kia mendongakan kepala, Aslan sudah memejamkan matanya.
Kia menyerah dan ikut memejamkan mata, tapi otak Kia terjaga.
__ADS_1
“Apa iya, Bang Aslan sungguh bahagia mengetahui Tuan Agung bukan ayah kandungnya? Tapi tadi Bang Aslan terlihat sangat sedih dan kecewa!” batin Kia sambil mengelus tangan yang masih melilit tubuhnya itu.
“Bang Aslan selama ini sangat patuh pada Tuan Agung, bahkan bertahan menjadi suami Paul demi kesehatan Tuan Agung, itu berarti Bang Aslan sayang, sangat sayang malah pada papanya itu. Pas kemarin diajak Satya, Bang Aslan juga langsung ke rumah sakit. Abang sayang kan pada papa Abang?” batin Kia lagi dengan mata berkaca- kaca ikut menebak apa yang Aslan rasakan.
Lama- lama, hembusan nafas Aslan berubah menjadi dengkuran halus. Lilitan tangan aslan pun mulai melonggar. Kia mencoba menguraikan kedua tangan kekar itu agar tidak membelitnya. Lalu Kia memutar tubuhnya dan kini Kia berhadapan dengan Aslan sangat dekat.
Di pandangnya lelaki tampan yang ada di depanya itu lama- lama. Lalu Kia menyentuh dengan telapak tanganya lembut. Dibelainya pipi Aslan, hidung Aslan.
“Kia tahu, Abang sok hebat kan sembunyiin kecewa abang? Pasti sangat sakit mengetahui kenyataan Abang selama ini dibohongi?” batin Kia lagi, kini Kia meneteskan air matanya lagi merasa kasian ke Aslan.
“Mulai sekarang, Kia janji akan sayang sama Abang, Kia nggak akan biarin Abang sedih lagi!” batin Kia dalam hatinya, sambil mengelap air mata yang membasahi pipinya.
Lalu Kia memeluk Aslan dan menenggelamkan wajahnya di dada Aslan. Meski sempat terlelap, saat Kia menyentuh wajah Aslan, memeluk Aslan sedikit erat dan kemudian berada di posisi sekarang. Aslan terbangun dan terjaga.
Aslan tetap memejamkan matanya karena tidak ingin membuat Kia malu. Aslan juga mendengar Kia terisak. Aslan ingin memberi jeda agar Kia merasa nyaman dan menyusul tidur.
Setelah merasa Kia tertidur, Aslan membuka matanya. Aslan tersenyum melihat Kia benar- benar terlelap memeluknya. Dibelainya rambut Kia lembut dan diciumnya kepala Kia lama- lama.
“Apa yang Pangeran dan Kia rasakan saat belum mengenalku pasti lebih sakit dari yang aku rasakan sekarang! Maafkan aku, Sayang, karena aku terlalu lama membiarkan kalian kesepian!” batin Aslan menyadari.
Jika Aslan yang sudah dewasa saja merasa sedih saat tidak tahu siapa ayahnya. Bagaimana Ipang hidup selama ini tidak mempunyai ayah dan tidak tahu siapa ayahnya. Aslanpun bertekad tidak ingin menampakan kesedihanya pada siapapun, Aslan juga tidak ingin membuat orang lain sedih.
“Terima kasih karena kamu sudah setia, menjaga diri, menjaga anak kita dan tidak menikah dengan orang lain, Sayang!” batin Aslan lagi mengelus kepala Kia yang tertidur.
Tidak terbayangkan betapa menyesalnya Aslan kalau Kia menikah dengan orang lain.
Aslan membetulkan kepala Kia agar tidur di bantalnya dengan baik. Aslan kemudian bangun, setengah duduk dan menyandarkan setengah badanya di bantal yang dia berdirikan. Aslan mengambil ponsel pintarnya.
“Haish, kenapa nggak ada signal sih!” gerutu Aslan, karena nomor yang dia pakai di situ tidak tersambung.
Dengan gerakan sangat pelan dan hati- hati agar tidak membangunkan Kia, Aslan menyingkap selimutnya dan bangun. Aslan mengambil i_padnya dan menghidupkan jaringan internetnya. Aslan juga mengambil diary ibunya lagi.
Jika tadi Aslan hanya membuka- buka diary ibunya cepat dan sekilas. Kini Aslan membaca kata demi katanya dengan hikmat dan menghadirkan hati.
“Papa dan Ayahku berteman!” gumam Aslan mengambil kesimpulan.
Aslan juga mencari informasi nama ayahnya. Di situ ibunya menulis nama ayahnya Surya, sayangnya tidak ada nama panjang dan belakangnya.
“Surya! Surya!” Aslan menopang dagunya dengan telapak tangan yang dia kepalkan dan berfikir. Aslan seperti pernah membaca berkas perusahaan yang ada nama Suryanya.
“Kenapa Mama dan Papah bisa menikah dalam waktu dekat dari pernikahan Mama dan Ayah? Apa mama selingkuh? Dari tulisan ini, Mama terlihat sangat mencintai ayah. Apa ayah meninggal?” batin Aslan lagi.
Lalu Aslan mengambil I-pad nya dan berselancar di dunia maya mencari tahu asal usul perusahaan ayahnya itu. Hasil yang Aslan peroleh, Nareswara ada sejak kelahiran Aslan, sebelumnya perusahaan itu ada tapi bukan dengan nama Nareswara.
Tidak Aslan rasakan, ternyata membaca diary Bu Andini dan mengulik tentang perusahaan Nareswara menghabiskan banyak waktu. Aslan melihat jam dinding kalsik yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul 3 dini hari.
Aslan menutup diarynya dan mematikan i-padnya. Aslan merapikan seperti sedia kala dan kembali naik ke ranjang, memeluk istrinya dengan hangat.
*****
Subuh- subuh Umma Arini sudah terbangun.
“Ceklek- ceklek!”
Terdengar suara gembok klasik pintu rumah terbuka. Rupanya Bu Arini hendak pergi berjamaah subuh ke Mushola. Kia yang sensitif dan terbiasa bangun pagi terbangun.
Pemandangan pertama yang Kia lihat adalah wajah Aslan yang melongo. Kali ini Aslan benar- benar mendengkur keras, terlihat sangat lelap.
“Ish dasar! Ternyata dia ngorok!” cibir Kia.
Kia tidak tahu kalau Aslan baru tidur satu setengah jam yang lalu. Reflek Kia menyingkap selimutnya dan berjalan membuka pintu.
“Aih... kan pintunya dikunci!” gumam Kia mengingat semalam pintunya dikunci.
Kia berbalik dan membangunkan Aslan.
“Bang! Bang... bangun sholat subuh dulu!”
Aslan memang berhenti ngoroknnya, tapi tidak bangun dan tetap memjamkan mata.
“Bang, bangun!” ucap Kia lebih keras dan menggoyangkan tubuh Aslan.
“Mmmmpt!” karena udara dingin masih mencekam dan Aslan juga baru tidur Aslan tidak terpengaruh dengan usaha Kia.
“Bang ...! Bangun! Mana kuncinya!” ucap Kia lagi kali ini usahanya memencet hidung Aslan.
“Mmmhh!” Aslan malah menepis tangan Kiaa reflek da mendengus masih belum bangun.
“Ih dasar, kebo banget sih! Perasaan yang tidur dia duluan deh!” batin Kia cemberut.
Kia pun putus asa membangunkan suaminya. Meski ragu dan terpaksa, Kia menggerakan tanganya mencari Kunci di saku celana Aslan.
__ADS_1
“Kok nggak ada? Katanya di saku celana?” gumam Kia tangannya sudah masuk ke saku tapi belum menemukan kunci.
Kia pun melanjutkan pencarianya, tanganya menjelajah celana suaminya, dan tanpa sengaja menyentuh bagian tibuh sensitif Aslan. Bukan hanya adik kecilnya yang bangun Aslan juga ikut terbangun.
“Sayanga kamu ngapain?” tanya Aslan senang.
Kia langsung menarik tanganya.
“Kamu pengen? Emang udh bersih? Buka aja, Sayang kalau mau!” ucap Aslan malah pikiranya kotor.
“Hiih, apaan sih? Kuncinya dimana? Katanya di saku?” jawab Kia spontan dengan muka jeleknya.
“Oh kunci?”
“Iya mana? Kia mau ke dapur, Umma udah berangkat ke mushola tuh! Abang dibangungin Cuma ngeguling kanan ngeguling kiri! Sana bangun jamaah, udah puji- pujian tuh!” omel Kia kesal.
Aslan menggaruk rambutnya yang berantakan, sambil menguap.
“Abang masih ngantuk, Yang. Bentar lagi yak! Kirain mau nyenengin Abang!” jawab Aslan benar- benar minta ditabok.
Tanpa ragu, Kia pun langsung melempar guling ke Aslan dan menyeret selimutnya.
“Tidur duluan juga! Masih bilang ngantuk. Mana kuncinya! Bangun cepat. Malu sama Umma!” omel Kia berkacak pinggang dengan wajah garangnya.
“Galak banget sih! Sini selimutnya dingin!” jawab Aslan masih beralasan.
Kia tidak tinggak diam, justru mengambil selimut dan menggulungnya. Dan digunakan buat kasih tampolan ke Aslan.
“Bangun nggak!”
“Yaya bangun!” jawab Aslan akhirnya bangun. Aslan berjalan ke meja dan mengambil kuncinya.
“Hooh, kuncinya di situ?” ucap Kia bengong karena semalam Aslan meletakan kuncinya di atas meja.
Kia pun cemberut merasa dikerjai Aslan. Sementara Aslan berlenggang, mengambil sajadah dan sarungnya lalu menyusul Umma ke Masjid.
“Hish dasar!!” gerutu Kia gemas.
Kia kemudian di dapur, rupanya Kikan lebih dulu bangun dan terliat sedang mengambil beras untuk dimasak.
“Eh, Kak Kia!” sapa Kikan.
“Mau masak?” tanya Kia
“Iya, Kakak kalau mau buatin teh Kak Aslan airnya pake termos yang merah ya!” ucap Kikan memberitahu.
“Oh iya!” jawab Kia.
Rupanya meski terlihat manja dan masih muda Kikan dilatih Umma untuk menjadi gadis yang rajin dan cekatan. Di pagi subuh begini Kikan sudah merebus air dan siap menanak nasi.
“Mau masak apa nih? Kak Kia bantu ya!” ucap Kia menawarkan diri.
“Kak Kia buatin minuman buat Umma dan Bang, ups!” ucap Kikan spontan hampir menyebut Aslan, bang lagi. Kia mendengarnya pun menjadi tidak enak dan terjadi suasana canggung.
“Nggak apa- apa kok, kalau Kikan mau panggil Bang Aslan, Abang lagi!” ucap Kia tidak enak.
“Nggak Kak, itu kan panggilan kesayangan Kak Kia, Kikan belum terbiasa aja. Kita masaknya masih pakai tungku. Ada sih kompor tapi jarang digunakan, gasnya abis, Mbok Ati belum sempat beli. Kak Kia buatin minum buat Kak Aslan aja!” tutur Kikan memberitahu, Kikan mengira Kia perempuan kota yang tidak bisa masak pakai tungku.
“Kak Kia juga 7 tahun hidup di kabupaten Y, Kikan. Kak Kia bisa kok pakai tungku!”
“Oh iya?” tanya Kikan kaget. Ternyata selama ini Kikan dan Kia tinggal di satu daerah beda kabupaten. Kia mengangguk, Kikan pun terlihat sangat senang.
“Kita kan selain mau ziarah, mau urus perpindahan ktp Kak Kia!” jawab Kia memberitahu.
“Oh gitu, hihi senengnya bisa main tuh nanti Kikan, di sana deket sama tempat wisata danau x kan kak?”
“Iya, tapi pemandanganya bagusan sini kok. Kak Kia suka kebun teh!” jawab Kia.
Lalu Kikan menunjukan tempat penyimpanan makanan dan tempat masaknya. Setelah membuatkan teh hangat untuk Umma dan Aslan, Kikan dan Kia kompak membuat camilan tempe kemul.
“Rumah sebesar ini Umma nggak punya pembantu?” tanya Kia ke Kikan di sela- sela pekerjaanya.
“Punya, tapi bersih- bersih rumah aja, nggak nginep! Kalau untuk masak, Umma lebih suka masakan sendiri”
“Oh!”
Sepulang dari jamaah, Bu Arini tadarus Al Quran dan Aslan kembali membuka i_padnya mengecek email pekerjaanya. Kia pun menyajikan teh hangat dan camilanya itu ke Aslan.
“Tehnya Bang!” tawar Kia.
“Mandi, Sayang! kita ke makam sekarang ya!” tutur Aslan memberitahu Kia tanpa menatap.
__ADS_1
“Abang nggak jadi ngobrol dengan Umma, tanya tentang ayah Abang?” tanya Kia.
Aslan yang sudah mendapatkan informasi sedikit tentang Pak Surya justru ingin segera kembali ke Ibukota.