Sang Pangeran

Sang Pangeran
134. Satu Tempat


__ADS_3

"Kalau boleh tau? Emang mau ada apa sih nemuin Kia? Tolong jangan ganggu mereka!" ucap Cyntia berani.


Cyntia tidak takut sama sekali melihat wajah Paul merah padam menatap Cyntia. Bagi Cyntia Paul justru memprihatinkan dan menyedihkan.


Jika Cyntia, cerai tanpa anak apalagi hamil. Meski Cyntia barang punya Cyntia sudah tidak ori. Cyntia juga sudah merasakan kehebatan pedang tajam dari mantan suaminya. Cyntia kini merasa seperti gadis lagi, malah Cyntia jauh lebih cantik dan sekarang.


Berbeda dengan Paul. Paul memang bergelimang harta. Tapi kini dirinya hamil yang siapa ayahnya tidak tahu, padahal saat perempuan hamil hal yang dibutuhkan adalah perhatian dari aya. Anak pertamanya juga pasti akan bertanya siapa ayahnayahnya.


"Aku tidak berkepentingan denganmu. Aku butuh bertemu dengan pelakor itu!" jawab Paul tiba-tiba mengatai Kia pelakor.


Cyntia yang mendengarnya kemudian tertawa sinis.


"Maaf Nyonya Paulina yang terhormat. Apa maksud anda mengatai teman saya Pelakor? Bukankah dari awal kalian memang dari awal tidak saling mencintai?" ucap Paul lagi.


"Nggak usah sok tahu kamu ya. Aku sedang mengandung anaknya. Temanmu itu memang tidak punya hati!" ucap Paul agak keras.


Cyntia yang mengenal Aslan baru hanya berdasar cerita Kia terdiam. Sebenarnya keyakinan Cyntia 70 persen, Paul berbohong. Tapi kan Cyntia tidak punya bukti.


"Terserah anda lah Nyonya. Kalau begitu temui Kia setelah mereka bulan madu. Tapi saya ragu itu anak suami Kia? Maaf saya harus segera ke lokasi." jawab Cyntia lagi dengan berani meninggalkan Cyntia.


Saat Cyntia pergi, Paul justru tersenyum sendiri. Rupanya Paul menyiapkan rencana busuk, tanpa Cyntia tau. Di balik percakapan mereka, ternyata ada seseorang yang merekam.


Di sisi lain, tanpa Paul tau, Cyntia juga merencanakan sesuatu. Cyntia pun bertekad untuk memergoki Paul dan Nicholas dengan jelas.


"Gue harus, lindungi Kia. Jangan sampai pernikahan Kia gagal dan hancur. Kalau Kia sampai dengar Paul hamil anak Aslan Kia oasti akan mundur dan mengalah. Aku harus lastikan siapa ayah anak itu?" batin Cyntia menggenggam tanganya.


****


Rapat dan meeting dengan berapa pengusaha yang siap bekerja sama dengan Aslan selesai. Sebagai saudara dan abdi yang setia Rendra melakukan tugasnya dengan baik. Rendra mewakili Aslah membuat kesepakatan kerja sama dan mengawasi pekerjaan proyek mereka.


Rendra mengundurkan diri setelah semua selesai. Kini Rendra sudah berada di mobilnya. Rendra memang lebih suka mengendarai mobilnya sendiri.


"Ahhh!"


Rendra melonggarkan dasinya dan menghela nafasnya ketika sampai di mobil. Diliriknya jam tangan Rendra. Ternyata sudah jam 8 malam, ini melebihi waktu kerja seharusnya, tapi buat Aslan, Rendra rela melakukan semua itu.


Rendra mengambil ponselnya yang dari tadi dia abaikan, ternyata ada 5 panggilan tak terjawab dari Meta, si wanitanya. Rendra tersenyum, rupanya pacarnya itu sudah tidak marah lagi.


Rendra kemudian menyalakan earphone-nya dan menelponya.


"Halo Sayang, I am so sorry. Aku baru selesai meeting!" ucap Rendra.

__ADS_1


"Okay. Aku ada di kafe Star Light! Came on!" ucap Meta


"Oke"


Rendra yang sedang terkena serangan bucin akut langsung menuju ke kafe star light. Kafe itu kebetulan berada di dekat lokasi syuting Cyntia.


Setelah melewati kemacetan di beberapa titik lampu merah, Rendra sampai di tempat yang di tuju. Rendra langsung masuk ke ruangan privat yang sudah dipesan Meta.


Meta masih menganggap Rendra menjadi tangan kanan bos besar, jadi Meta selalu menginginkan pelayanan kelas atas, tentu saja nanti yang membayar Rendra.


"Hey honey!" sapa Meta menyambut Rendra dengan pelukan dan ciuman hangatnya.


Rendra pun langsung menerimanya dengan terbuka. Meta malam ini menggunakan dress terbuka dan lisptik tebal. Dia memang pandai menyenangkan mata Rendra sehingga Rendra menjadi bucin.


"Udah makan?" tanya Meta.


"Belum!"


"Meta pesankan makan ya!"


"Oke!" jawab Rendra mengangguk.


"Sayang." panggil Meta mesra.


"Hemmm" jawab Rendra berdehem, tapi dirinya fokus ke ponsel. Rendra sedang berkomunikasi dengan Aslan membahas pekerjaanya.


"Foto dulu yuk!" ucap Meta mengarahkan kamera depanya ke mereka.


Rendra hanya mendongakan kepala, tapi Meta sudah mengklik oke kamera depanya itu.


"Iih kok cemberut gini sih!" gerutu Meta kesal


"Foto lagi dong Yang, senyum dong!" ucap Meta.


Mereka kemudian foto lagi. Rendra sedikit mengikuti mau Meta tapi masih kaku.


"Sayang kamu susah banget sih diajak foto!" omel Meta.


"Apa sih, Yang? Aku capek. Udah sih taruh hapenya nggak usah foto-foto terus!" ucap Rendra memberi nasehat.


"Kamu aja pegang hape!" jawab Meta menjawab.

__ADS_1


"Aku bales pesan bentar kok!" jawab Rendra.


"Ya aku kan juga selebgram. Wajar dong aku megang hape. Aku tuh mau bagiin moment dinner kita di sini. Makanya kamu tuh senyum dan ganteng!" jawab Meta lagi.


"Ngapain sih begituan sih Yang. Ini tuh privacy kita!" jawab Rendra lagi.


Aslan saja yang jadi bos, selalu meminta Rendra agar menjaga privacy keluarganya. Rendra kemudian terpola seperti itu, tapi sayangnya pacar Rendra ini sedikit berbeda.


"Ya tapi kan ini pekerjaanku. Aku tuh artis instagram, aku tuh mau tunjukin ke followers aku dan teman-temanku. Aku tuh berkelas. Kalau pacar aku tuh ganteng mapan dan seorang yang punya jabatan tinggi di perusahaan Nareswara!" jawab Meta lagi.


"Astaga. Sayang. No! Stop it. Aku udah nggak di Nareswara lagi!" ucap Rendra kembali memberi peringatan ke Meta.


"Gue nggak peduli!" jawab Meta bersikeras.


"Meta!" ucap Rendra sedikit kasar. Pasangan itu malah mulai bertengkar.


Tapi saat suasana tegang, waitress datang menyajikan makanan sehingga suasanya kembali menghangat. Rendra menjaga sikap agar orang lain tidak mendengar kejelekan dirinya dan pacarnya itu.


Makanan tersaji, Rendra tau makanan yang dipesan pacarnya adalah makanan mahal semua, kalau ditotal semua menu yang Meta pesan total sekitar 5 jutaan. Rendra masih bisa menerima karena Rendra masih mampu membayarnya. Rendra kemudian mengambil pisau sendok dan garpunya bersiap makan.


"Wait, Sayang! Gue mau foto dulu!" ucap Meta lagi mencegah Rendra memakanya


Layaknya foodbloger Meta mengambil gambar semua isi meja dengan detail. Bahkan memakan waktu lumayan lama, sampai Rendra jengah sendiri.


"Ck. Ayolah Baby. Letakan ponselmu. Kita makan!" ucap Rendra lagi dengan ekspresi marahnya.


"Hemmm. Ya!" jawab Meta meletakan ponselnya karena gambar yang dia ambil sudah banyak dan memuaskan hatinya.


Mereka kemudian mulai menyantap makanan yang tersedia. Di luar privat room, ternyata Cyntia juga makan di situ seorang diri. Cyntia dan teman-temanya memang biasa makan di tempat mewah it, jika tidak ada endorsan makanan.


Malam ini Cyntia ingin menikmati waktu sendirinya, Cyntia juga berniat membuntuti Paul. Saat selesai syuting tadi, Cyntia sempat melihat Paul dan Nicholas berjalan ke arah sini.


"Kemana mereka ya?" batin Cyntia mengedarkan pandangan, mencari Paul dan Nicholas.


"Itu mereka!" ucap Cyntia tersenyum saat melihat dua sejoli yang menjalin hubungan terlarang itu berhajalan menuju privat room 1.


****


Paul yang hari ini Papi dan Maminya tiba merasa kelabakan. Paul bertekad, harus menemui Nicholas secepatnya. Mereka pun janjian di kafe yang sama tempat Rendra, Cyntia dan Meta makan.


Hanya saja mereka berada di ruangan yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2