
Detak jarum arloji terus berputar, dan matahari mulai naik. Langit yang tadinya berwarna keemasan karena sinar sang surya masih belum sempurna, kini sudah mulai menampakan aura cerah nya.
Bahkan udara yang terasa dingin seakan membawa candu makhluknya agar tetap terlelap, kini mulai menghangat mengajak manusianya bergerak.
“Lo nggak ada agenda?” tanya Kia melipat kertas pembungkus nasi kuning yang baru dia lahap dengan nikmat.
Karena belum ada bahan makanan pagi itu Kia dan Cyntia sarapan jajan di penjual nasi kuning depan gang perumahan.
“Nggak. Masih lusa kita ngumpul lagi, ini kan week end, kita dikasih waktu baut baca naskah dan perdalam peran” ucap Cyntia.
“Oh, oke. Kantor gue tetep berangkat. Nyebelin yak?”
“Hemm demo dong! Hehe!” jawab Cyntia memprovokasi. Petingginya kan gebetan Kia.
“Bukanya syuting drama juga nggak pandang hari ya?” tanya Kia balik menyerang Cyntia.
“Tapi kan nggak teratur seterusnya begitu. Hanya sesuai proyek” jawab Cyntia mau pamer pekerjaan barunya.
“Yaya, yang mau jadi artis” jawab Kia manyun ke temanya.
“Iya dong!” jawab Cyntia melebarkan otot bibirnya kekanan dan kekiri sehingga terbentuk pemandangan indah dan sempurna.
“Iyuuh” cibir Kia kesal.
Lalu Kia bangun, membuang sampah, mencuci tanganya. Dan segera pergi.
Kia berdiri di depan cermin, mengaitkan peniti cantik, mengunci kain yang menutup kelapanya dengan anggun. Kia menatap cermin memastikan dirinya sudah rapih dan cantik untuk kesekian kalinya. Tetiba Kia tersenyum sendiri.
Kia mengakui dirinya memang imut dan manis. Entah kenapa, hari ini Kia ingin tampil maksimal sampai berkali- kali membetulkan jilbab pashminanya. Lalu bergonta- ganti warna lipstik.
Memakai warna merah ketebelan, lalu Kia hapus. Berganti warna pink kurang terlihat, akhirnya Kia memakai warna nude. Tapi kurang menyala. Begitu seterusnya sampai tiba- tiba tempat sampahnya penuh dengan kapas.
Pokoknya Kia mau terlihat sempurna. Bayangan di kepalanya adalah, Kia akan bertemu Aslan, entah di parkiran, di lift, di kantin atau mungkin mereka akan ketemu di mushola.
Yang pasti Kia ingin terlihat cantik di mata Aslan. Entah apa itu artinya, Kia mau menggoda Aslan atau Kia mulai tertarik. Yang pasti dorongan naluriah Kia, Kia tidak mau terlihat jelek dan dimaki Aslan.
“Hah..”
Akhirnya Kia memilih warna nude dipadu dengan warna merah di tengah. Lalu Kia mengoles tipid blush on pink di bawah matanya tipis. Kia juga memakai eyeliner. Padahal semua itu sangat jarang Kia pakai.
Setelah merasa pas, Kia menyemprotkan minyak wangi. Dan meraih tas nya.
“Lama banget dandanya, perasaan sebelum sarapan lo udah dandan. Sejak kapan lo hobi dandan?” cibir Cyntia bawel mengatai Kia.
“Ishh, cerewet banget sih Lo, serah gue lah” ejek Kia kesal ke Cyntia sambil membuang muka malunya menghindari tatapan Cyntia.
__ADS_1
“Lo dandan buat bapaknya anak lo ya?” ledek Cyntia lagi.
“Hisssh, apaan sih? Sory ya, nggak lepel gue dandan buat dia. Ya kan gue kerja kantoran, wajar dong. Gue emang harus cantik dan wangi, emang artis doang yang boleh cantik dan wangi?” jawab Kia mmbela diri.
“Hmm yaya!”
“Lo jaga rumah? Kalau mau pergi kunci pintu!”
“Ya...”
“Eh tapi ngomong- ngomong, lo beneran, nggak mau pulang ke rumah suami lo?” tanya Kia memastikan. Berharap Cyntia nenemui jalan terbaik untuk pernikahanya.
“Itu rumah gue. Udah ahh , bahas nanti udah sono lo pergi!” jawab Cyntia ketus. Buat Cyntia rumah tangganya sangat mengerikan dan tidak ingin mengingatnya.
“Oke, daah. Gue berangkat” pamit Kia.
“Daah, semoga ketemu ya! Hehe!” tutur Cyntia mengantar Kia sampai di depan pintu.
"Ketemu siapa?" tanya Kia menghentikan langkah dan memastikan ke Cyntia.
"Atasan lo. Bapaknya Ipang. Katanya mau demo minta libur?" ledek Cyntia iseng.
“Issh, udah ah Assalamu'alaikum” Kia hanya memendesis dan malu untuk menjawab.
Kia benar- benar merasa tersentuh dengan perlakuan Aslan. Meski tiba- tiba bersikap dingin dan menjauhi Kia, ternyata dia siapin rumah buat Kia. Alih-alihnya si buat Ipang tapi tetap yang menempati kan Kia.
Kia berhenti di halte bus. Jari jemarinya saling tertaut, jika biasanya menunggu bus datang Kia bisa menikmatinya dengan seninya sendiri, merasa memandang langit biru sudah menyenangkan.
Kini meski baru berapa detik rasanya lama. Kia ingin segera sampai di kantor tempatnya bekerja.
Sesekali, Kia menggigit bibir bawahnya, menatap ke ujung jalan sejauh matanya memandang, bus tujuanya belum datang.
Lalu Kia melirik jam tanganya. Dan setelah itu menunggu lagi. Rasanya waktu menunggu seperti memanjang berkali-kali lipat.
Saat bus yang ditunggu Kia datang. Kia seperti mendapat hadiah, sangat senang dan bersemangat. Kia duduk di barisan yang sama seperti kemarin. Kia menikmati perjalananya. Menatap jalan yang sama seperti yang Kia lewati kemarin.
Tiba- tiba Kia merasa debaran jantungnya membentuk irama. Irama nyanyian, senandung cinta yang hanya Kia, yang bisa mendengar dan menikmatinya. Terbayang lagi kehangatan tatapan Aslan saat duduk di sampingnya.
Tanpa Kia sadari, Kia menikmati kebersamaanya dengan Aslan kemarin. Bahkan tanpa Kia bisa sembunyikan Kia tersenyum sendiri mengingat Aslan harus berbohong dan berdiri berdesakan saat diserbu ibu- ibu. Menurut Kia saat itu, Aslan sangat lucu, dan Kia ingin menertawainya.
“Ya Tuhan. Ssshh, kenapa gue jadi mikirin dia terus sih?” gumam Kia menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
Sampai orang di samping Kia, menatap Kia heran. Apa Kia sedang sakit atau gimana? Cantik cantik senyum sendiri, geleng- geleng sendiri.
Kia kembali ke kesadaranya berusaha mengusir bayangan tentang Aslan. Menikmati perjalananya dengan tenang.
__ADS_1
Setelah beberapa puluh menit perjalanan dengan pemadangan metropolitan. Terpampang gedung gedung tinggi berbaris dan bersautan. Samar- samar logo Nareswara tampak seperti melambai menyuruh Kia bersiap turun.
Kia bangun dan bersiap turun. Entah kenapa, hanya baru saja mau turun dari bus, dada Kia seperti merasakan hawa panas. Panas yang membakar semangat seperti saat anak SMP tiba- tiba dipanggil kepala sekolah tapi tidak tahu untuk apa.
Kia turun dan melangkah cepat masuk ke area kantor Nareswara. Kemudian mata Kia berkeliling mencari mobil mengkilap yang biasa dia lihat.
“Tumben dia belum datang? Apa aku yang kepagian?” gumam Kia lagi.
“Ihh kenapa lagi aku kepikiran dia, ck ck, Kia Kia, please deh! Kerja, kerja jangan mikirin dia!” batin Kia lagi merutuki dirinya sendiri.
Kia melangkah maju menuju ke lift, di dalam karyawan sudah ramai dan berlalu lalang. Tandanya Kia tidak kepagian, malah hampir telat.
Kia berdiri di depan lift karyawan, saat menunggu pintu terbuka. Reflek matanya menoleh lift di sampingnya yang khusus untuk petinggi perusahaan.
Tiba-tiba pipi Kia memerah sendiri. Di penglihatan Kia seperti melihat dirinya saat bersama Aslan waktu itu, salah masuk lift kepedean, bahkan Kia menampar Aslan di depan lift.
“Thing” pintu lift terbuka. Kia segera masuk dan menujue ke lantai kerjanya.
Hari itu pun Kia melalu hari kerjanya dengan semangat. Kia ingin menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat. Berharap waktu dzuhur akan cepat tiba.
Kia ingin ke mushola lagi, entah kenapa Aslan terlihat seksi saat wajahnya basah dengan air wudzu, tanpa jas dan dasi, dengan lengan kemejanya digulung sampai siku.
Apalagi saat Aslan tampak diam. Dengan tampang diamnya itu membuat Kia semakin dag dig dug salah tingkah.
“Ke mushola itu sholat Kia, kenapa dia terus sih, oh my God” gerutu Kia lagi.
Dan waktu dzuhur tiba. Tidak peduli ajakan Delvin untuk makan, Kia bergegas ke mushola.
“Kalau gue ketemu dia? Gue bilag apa ya? Makasih atas rumahnya?”
“Ahh tidak, aku tidak boleh tampak bahagia”
“Atau iya gue setuju dan sepakat, kita berdamai dan bersahabat mengasuh Ipang degan baik?”
“Ahh kenapa kaku sekali? Aku harus bilang apa ya kalau ketemu?”
Sepanjang jalan Kia melangkah menuju tempat sholat, pikiran Kia dipenuhi Aslan. Bukan hanya sekarang, tapi semenjak bertemu lagi Aslan memang selalu datang ke otak Kia, seperti hantu yang tak tahu malu. Entah datang dengan hal yang membuat Kia malu, geram atau menyenangkan.
Sesampainya di mushola Kia celingak celinguk ke sekeliling. Lalu mencari sepatu mengkilap yang dia lihat tempo hari, Kia juga menajamkan penciumanya mencari aroma parfum yang menonjol. Tapi semua itu tidak dia dapat.
Sampai Kia selesai sholat dan berdoa, dan Kia harus kembali. Kia tidak menemui apa yang dia bayangkan dan apa yang ditemui di kemarin. Entah kenapa Kia merasa tiba- tiba sesak dan ada yang hilang. Kia jadi tidak bersemangat.
“Ini kan weekend, sebentar lagi jam pulang, mungkin dia sudah pulang, apa dia libur?” gumam Kia lagi.
“Nanti malam kan Ipang tampil, apa dia akan datang melihat Ipang? Mungkin iya, aku sampaikan terimakasih dan kesepakatan damai nanti malam saja kali. Tapi kalau itri dan awak media melihat dan mendengarnya, gimana?”
__ADS_1