
Pov Aslan
Setelah mendapatkan perintah Aslan. Rendra mengambil surat gugatan cerai dan mengantarkan pada pengadilan agama. Kini Aslan sendirian di ruanganya.
Sekuat apapun ekspresi Aslan di depan Rendra, tetap keputusanya mengoyak hatinya. Bukan karena kehilangan Paulina si cantik dan seksi itu. Tapi Aslan tau pasti akan ada banyak hal yang akan dia hadapi.
Butuh kekuatan besar untuk Aslan menghadapi rombakan besar dalam hidupnya yang selama ini tertata, meski dalam kepura- puraan.
Aslan duduk termenung, ditatapnya satu persatu benda di ruanganya itu. Bangkrut membiarkan Paul pergi mengambil sahamnya atau Aslan mengundurkan diri dan biarkan Paul yang memipin perusahaan itu. Sebentar lagi Aslan akan meninggalkan ruangan yang menjadi rumah keduanya selama bertahun-tahun.
Dua – duanya pilihan sulit. Tapi itu sudah pasti akan dia hadapi. Aslan menutup mukanya dengan kedua tanganya, lalu mengusapnya dengan kasar. Meski gengsi untuk mengakui, Aslan sedih, Aslan hancur, Aslan butuh minuman keras atau sesuatu sebagai tempatnya bersandar.
“Harapan gue ada pada Satya, semoga lo bisa pertahanin Sat” lirih Aslan dalam pedihnya.
Nareswara Grup adalah perusahaan milik keluarga. Meski Aslan yang pimpin tapi ada banyak orang yang memiliki bagian di dalamnya. Termasuk Satya, ayahnya dan sebentar lagi, Paulina.
Aslan kemudian ingat Ipang tadi pagi yang mengajaknya sholat subuh. Aslan benar- benar merasakan dunia yang berbeda. Selama 7 tahun mempertahankan dan memperjuangkan harta Aslan tidak pernah merasa sehangat dan sedamai pagi tadi.
Niat Aslan untuk membeli minuman keras pergi. Ada rasa malu yang terbersit di hatinya. Apa kata Ipang jika tau ayahnya meneguk minuman keras.
Kemudian saat mendengar adzan dzuhur. Aslan jadi ingin sholat lagi, Aslan ingat anaknya. Aslan ingin merasakan perasaan yang damai lagi.
Meski tidak ada yang mengerti bagaimana perasaan Aslan saat ini, tapi yakin Tuhan mengerti, Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Aslan kemudian berjalan ke masjid di kantornya itu dengan niat yang tulus. Mencoba menguatkan hatinya, meyakinkan perceraian adalah hal terbaik untu saat ini. Paulina bukan istri yang tepat untuknya.
Dan mengikhlaskan harta adalah yang paling tepat. Aslan ingin dapatkan hidup yang tenang dan bahagia, tidak dihantui tentang bayangan kerugian dan ketergantungan terhadap usahanya.
Aslan kemudian berbaur dengan karyawanya yang taat, menunaikan sholat jamaah bersama. Bahkan karena mereka menghormati Aslan, mereka meminta Aslan menjadi imam, yang tanpa sengaja, Aslan juga menjadi imam Kia.
Tapi keduanya tidak saling menyadari. Antara shaf pria dan wanita dibatasi dinding penyekat dari kayu. Karena sholat dzuhur bacaannya juga lirih, Kia tidak mengenali suara Aslan.
Bahkan dalam sujudnya masing-masing mereka memintakan hal yang sama. Kebagiaan untuk anaknya. Meminta jala terbaik untuk mereka.
Aslan duduk lama berdo’a dan bersua dengan Tuhanya. Melafalkan doa' doa dan dzikir mengakui keagungan dan kemurahan Tuhanya.
Aslan juga menyadari semua kesalahanya. Bahkan meneteskan air mata. Rasanya sesak saat Aslan menyesali semua perbuatan dan kebodohanya.
Selama ini hidupnya berorientasi pasa harta. Di hadapan Tuhanya, Aslan tahu seberapapun banyak uangnya tidak akan berarti apa- apa. Semua hanya titipan dan sementara.
“Ya Alloh ya Tuhanku, maafkan hamba sudah terlalu banyak meninggalkanmu. Maafkan hamba yang sudah terlalu banyak mengambil jalan salah. Bimbing kami, bimbing kami menjalani hidup yang berarti, selamatkan hidupku, Ya Tuhan”
__ADS_1
"Maafkan aku selama ini menelantarkan anakku, beri kesempatan untuk aku menebus kesalahanku dan menjadi ayah yang baik untuknya"
"Jaga anakku, bahagiakan dia, bimbing dia agar tidak menjadi sepertiku"
Aslan berdo’a dengan tulus, kemudian Aslan teringat Kia. Aslan menyadari langkah yang dia ambil selama ini terlalu gegabah dan ceroboh, bahkan mungkin menyakiti Kia.
Menyadari sebentar lagi Aslan bukan lagi menjadi orang yang berkuasa, Aslan memutuskan untuk melepaskan Kia juga.
Meski sakit dan terasa berat, Aslan merasa tak berdaya dan percaya diri jika mendekati Kia lagi. Kini Aslan merasa sangat payah jika membayangka tiba-tiba dirinya yang selama ini selalu dipatuhi dan dihormati sekejapa akan menjadi bukan apa-apa.
Fokus Aslan setelah ini adalah menata hidup agara bertahan, keluar dan lepas dari Nareswara grup yang selama ini melekat di hidupnya.
Aslan juga menebus kesalahanya. Menjadi ayah yang baik untuk Ipang, tanpa memaksa dan mengusik hidup Kia seperti permintaanya.
Mungkin mencintai dalam diam lebih aman dan membuat suasana tekendali. Apalagi jika Aslan memaksakan Kia dalam waktu dekat setelah perceraianya, Kia pasti akan diserang awak media dan jadi sasaran bullian.
“Aku harus temui Satya” batin Aslan setelah merasa selesai bersua dengan Tuhanya.
Lalu Aslan keluar dari masjid, mengambil sepatunya dan memakainya. Saat Aslan hendak berdiri, Aslan mendengar suara di belakangnya.
Tak, Auuh.
“Ternyata dia dari tadi di sini juga?” batin Aslan merasa gemas melihat Kia.
Kia tampak membalikan badan darinya berjalan ke arah dalam, padahal Aslan tahu kalau dia juga dari dalam. Aslan bisa menebak kalau Kia mau menghindarinya.
Kia terlihat salah tingkah dengan pipi memerah, sangat menarik dan menyenangkan melihatnya buat Aslan. Kalau saja di dunia tidak ada norma- norma kehidupan, rasanya Aslan ingin mendekat, memeluk Kia dan mencubitnya gemas.
Tapi Aslan ingat dirinya sekarang, Aslan sebentar lagi bukan siapa- siapa. Hanya lelaki bodoh yang banyak melakukan kesalahan dan gagal. Aslan merasa rendah menghadapi Kia. Aslan kemudian berlalu.
****
“Apa dia marah ya? Karena semalam aku pergi tanpa pamit? Kenapa dia berubah secepat itu? Aaaiih kenapa aku jadi memikirkanya sih” batin Kia di depan komputer sambil jarinya mengetuk-ngetuk mouse asal.
Di depan Kia sudah terpampang bahan editan yang banyak. Kia belum fokus dan masih memikirkan Aslan.
“Eh Lo nggak makan Ki?” tanya Delvin membuyarkan lamunan Kia.
Teman- teman Kia dan dirinya yang pergi lebih dulu belum kembali, Kia yang terakhir di ruangan juga masih duduk setia di depan komputernya. Itu berarti Kia belum makan.
“He... aku masih kenyang” jawab Kia.
__ADS_1
“Nggak baik tau, ninggalin waktu makan, makan geh sono” tegur Delvin lagi perhatian sebagai kawan, Delvin memang sebaik itu, bersyukur Putri memilikinya.
“Iya” jawab Kia nyengir saja.
“Selain males ke kantin,gue lagi ngirit Delvin, gue ke Ibukota nggak bawa uang, ada uang pinjaman cukup buat naik taksi. Ini juga nanti bingung mau tetep numpang ke rumah Cyntia pa nggak?” batin Kia menyembunyikan alasan sebenarnya.
Lalu mereka kembali bekerja. Kata- demi kata di depan Kia itu dieditnya dengan baik. Bukan meneliti Kia malah larut dalam karya orang itu, jiwa menulisnya kemudian datang lagi. Kia bahkan senyum- senyum sendiri.
“Eh, Ki, karya lo bentar lagi mau release tuh dramanya” tutur Delvin di sela- sela bekerja. Meski sebenarnya Kia sudah tau, Kia tersenyum, menghargai Delvin.
“Ah iya, syukurlah aku senengdengernya”
“Kalau boleh tau, buku lo dilirik dijadikan serial drama begitu, dapet berapa juta nih?” goda Delvin iseng.
“He...cukup lah buat tabungan pendidikan anak gue” jawab Kia lagi.
“Hebat ya lo, single parent pekerja keras. Moga rejeki lo lancar ya Ki. Eh tapi lo emang nggak pengen nikah? Ayah Ipang kemana sih?” tanya Delvin keceplosan membuat Kia terdiam.
“Ehm” Kia berdehem memucat.
Apa respon teman- temanya kalau sampai terbongkar laki- laki yang seharusnya jadi suami Kia adalah bos mereka saat ini.
“Sory...” ucap Delvin minta maaf, melihat ekspresi Kia berubah tidak enak.
“Itu pertanyaan wajar yang dilontarkan semua orang kok, gue udah biasa ditanya gitu” jawab Kia bijak.
Kia juga ingin menjaga perasaan Delvin agar tdak merasa bersalah.
“Maksud gue, Lo kan masih muda Ki, lo cantik, lo hebat, pasti banyak lah yang mau sama Lo, gue berharap lo nemuin kebahagian Ki, lo pantes nikah” tutur Delvin perhatian ke Kia. Karena di karya yang Kia tulis tokoh utamanya juga menikah.
“He... iya makasih. Doain ya! Untuk saat ini gue bersyukur dan bahagia dengan kehidupanku kok. Pangeran segalanya buat aku”
“Syukurlah kalau begitu, apa kisah "Bohong" yang lo tulis itu pengalaman dari kehidupan nyata Lo? Emang ayah Ipang meninggal ya?” tanya Delvin kepo menocokan isi novel Kia dan kehidupan Kia.
“Huss ngarang kamu, nggak lah, itu kisah fiktif, amit- amit deh punya kisah begitu” jawab Kia mengasihani nasib tokoh dicerita fiksinya.
“Ya kirain sama, Ipang kan juga single parents, lo kan juga janda” ucap Delvin lagi asal nyeplos, menyamakan Kia dan tokoh di novel. Tanpa sengaja Delvin menyematkan kata janda untuk Kia.
Kia langsung menelan ludahnya tersinggunh tapi tidak marah. Kia kan bukan janda, tapi Kia juga bukan perawan. Kia hanya single parent.
“Udah sih, nanti kerjaan kita nggak selesai- selesai, cerita yang gue tulis itu fiksi kok” jawab Kia menyudahi obrolannya dan melanjutkan pekerjaanya.
__ADS_1