Sang Pangeran

Sang Pangeran
126. Makam


__ADS_3

“Apa maumu sebenarnya?” tanya Aslan pada prempuan cantik yang 7 tahun ini berstatus sebagai istri di hadapan hukum negaranya. 


Aslan dan Paul kini berada di sebuah restoran dekat dengan pengadilan. Mereka berdua sebenarnya sama- sama didampingi pengacara. Tapi Aslan meminta berbicara empat mata. 


“Mauku gimana Aslan? Apa maksudmu? Aku sudah menyetujui perceraian kita!” ucap Paul tiba- tiba melunak dan merubah perangainya. 


Aslan kemudian mengeluarkan hasil print chat Tuan Agung dan orang tua Paul. 


“Apa ini?” ucap Aslan melempar kertas itu ke Paul. 


Paul mengambilnya membacanya sekilas dan menatap Aslan. 


“Apa salahku?” tanya Paul merasa tidak berbuat apa-apa ke orang tuanya.


“Apa? Kamu masih bertanya apa salahmu? Came on Paul, sadarlah, kamu bukan anak kecil seperti Alena! Apa sebenarnya yang kamu inginkan hah?” ucap Aslan mengira Paul dalang di balik chat orang tua Paul.


“Aslan. Aku sungguh tidak ada hubunganya dengan ini semua!” ucap Paul lagi.


“Bulsyit!” jawab Aslan kesal. 


“Terserah apa katamu!” jawab Paul lagi. 


"Tolong, kasihan Papa sudah tua. Apa kau tidak bisa melihat itu! Apa kau ingin menjadi pembunuh Papa? Hubungan kita sudah selesai apa yang ingin kau harapkan lagi?" tanya Aslan lagi dengan nada gemas.


"Gue jelasin sekali Lagi. Gue nggak tahu apapun!"


“Haish, bisa gila aku! Kamu menginginkan nama baikmu tetap aman aku berikan itu! Kamu bahkan bisa hidup dengan sangat baik dengan Alena setelah ini dengan uangku. Kamu tau pasti tidak ada cinta di antara kita berdua. Kita sudah bercerai sejak lama. Apalagi yang kamu inginkan kenapa kamu masih menyeret orang tuamu?” tutur Aslan lagi dengan nada penuh penekanan.


“Aku tidak pernah menyeret kedua orang tuaku dalam masalah kita!” 


“Sudahlah, aku bukan penggemarmu yang percaya pada aktingmu! Apapun yang kamu lakukan dan apapun usahamu. Kita sudah bercerai! Aku tidak mau berurusan denganmu lagi. Termasuk keluargaku! Apapun yang kamu lakukan terhadap ayahku. Itu tidak ada hubunganya denganku lagi. Mengerti!” ucap Aslan lagi menegaskan.


“Hoh ya Tuhan, sungguh aku tidak menyuruh orang tua ku datang ke sini! Aku tidak sedang berakting!” 


“Terserah, aku hanya ingatkan ke kamu! Sekali kamu berulah, semua kartumu ada padaku! Aku bisa hancurkan kamu kapanpun juga! Jadi jangan macam-macam denganku!” ucap Aslan mengakhiri pertemuan mereka. 


Paul hanya diam mendengarkan ancaman Aslan. Paul hanya tersenyum masam. Saat ini karena kehamilan yang membuat fisiknya lemah Paul sedang mentok ide.


“Sebelum kamu menghancurkanku, aku akan menghancurkanmu lebih dulu!”


Batin Paul dalam diamnya melihat Aslan pergi. Paul kemudian mengambil kertas itu dan membacanya lagi dengan seksama. 


“Lusa aku tiba untuk menengok putri dan cucuku, bagaimana kabarmu Agung?” 


“Baik! Aku menunggu kedatanganmu!” 


“Kamu masih ingat permintaanku bukan? Jaga putri dan cucuku dengan baik. Jika sampai putri dan cucuku menangis karena putramu, kamu tau kan apa akibatnya? Semua bukti malam itu masih kusimpan rapat. 


"Mari kita nikmati masa tua kita dengan indah. Kamu tidak mau keluargamu menangis darah karenamu bukan?"


"Tolong pastikan itu"


Paul sebenarnya juga kaget membaca pesan orang tuanya ke mantan mertuanya itu. Paul sendiri tidak pernah bertukar kabar dengan orang tuanya. Paul juga tidak cerita tentang rumah tangganya.

__ADS_1


Orang tua Paul tiba- tiba memberi kabar ingin berkunjung, itu di luar perkitaan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah Aslan dan ayahnya, Paul juga penasaran.


Selama ini Paul mengikuti ayahnya karena memang Paul tertarik pada Aslan, Aslan begitu perkasa. Aslan juga rupawan dan berkarisma. Aslan juga begitu penyayang.Walau hanya sekali dan terakhir, Paul pun pernah merasakan dasyatnya Aslan di atas ranjang.


Paul jatuh cinta dengan Aslan tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Aslan juga melindungi citranya, dari kesalahan yang dia buat akibat gaya hidup hedon-nya dan pergaulannya yang bebas. Paul sama sekali tidak tau ada masalah apa Tuan Agung dan ayahnya.


“Apapun yang terjadi antara papi dan Tuan Agung sepertinya ini menguntungkanku! Heh... aku tidak akan membiarkan kalian bahagia sebelum aku bahagia!” batin Paul sambil meremas kertas itu. 


Paul menandatangani semua persetujuan perceraian karena memang pembelaan Paul dan Mama Wina tidak berhasil. Aslan mantap bercerai, pengadilan pun tak bisa memaksa. Tapi sebenarnya Paul sangat tidak terima.


Aslan mengira, Paul mengadu pada orang tuanya dan menghasut orang tuanya agar menggertak Tuan Agung.


Aslan menemui Paul berniat memberi peringatan, hubunganya sudah selesai, semua perjanjian sudah berakhir toh Aslan sudah memenuhi janjinya dengan memberikan perusahaannya pada Paul. 


Aslan ingin sudahi semua permasalahanya, mari hidup damai dengan dunianya sendiri. Aslan bahagia bersama cintanya meski Aslan harus merangkak lagi. Aslan juga berharap Paul bahagia dengan dunia Paul dan uang yang Paul terima. 


Sedikitpun Aslan tidak ingin menjelekan Paul, apalagi mengungkap aib Paul. Aslan ingin rahasia rumah tangganya terjaga di depan publik dan orang lain.


Aslan menjaga nama baik keluarga. Aslan ingin menjaga martabat Paul sebagai publik figur. Aslan juga ingin Kia hidup tenang dalam dekapan cintanya. Aslan juga memikirkan perasaan anak- anak mereka. 


Tapi sepertinya masalah mereka bukan terletak di situ. Tuan Agung masih menyembunyikan gunung es yang membuaat kapal Tuan Agung karam sendiri. Gunung es itulah yang membuat kapal Aslan harus berbalik arah, untung kapten kapal Aslan hebat, jadi Aslan masih selamat. 


Sayangnya teka teki Aslan tentang ayahnya masih salah. 


****


“Kebetulan bulan depan tahun ajaran baru Nyonya, anda bisa melengkapi persyaratan sesuai dengan yang tertera di kertas ini.” Ucap petugas sekolah bertaraf internasional yang Kia datangi. 


“Untuk kurikulum dan semua program di sekolah kami, anda bisa membaca ini!” ucap petugas lagi memberikan brosur setelah sebelumnya menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi tentang program di sekolah itu. 


“Saya bawa brosur ini dulu untuk saya rundingkan dengan suami saya. Terima kasih atas informasinya!” jawab Kia ramah. 


“Sama- sama, terima kasih atas kunjunganya!” 


“Kalau begitu saya pamit undur diri, selamat pagi!” 


“Selamat pagi!” 


Kia kemudian beranjak dari ruang informasi. 


“Ipaang!” panggil Kia ke Ipang yang tampak asik berjalan- jalan diajak Daffa melihat sekolahnya. 


“Iya Bu!” jawab Ipang. 


“Kemari Nak!” ajak Kia menggerakan tanganya menyuruh Ipang mendekat. 


Ipang dan Daffa berlari ke Kia. 


“Daffa!” lirih Kia. 


“Iya Bu!” jawab Daffa sudah mulai terbiasa ikut memanggil Kia ibu. 


“Daffa masuk ke kelas ya, sekolah yang rajin dan anak baik, Daffa nanti dijepumput Mommy, jangan pulang sebelum Mommy Daffa jemput, oke?” 

__ADS_1


“Oke, Bu. Mommy juga udah bilang ke Daffa kok!” 


“Siip, Ipang sekarang ikut Ibu ya. Ipang kan harus menyelesaikan Bintang kecil dulu!” 


“Iya Bu!” jawab Ipang. 


“Dah Ipang, semoga kamu jadi juaranya ya!” ucap Daffa. 


“Iya! Aku besok akan sekolah di sini juga!” jawab Ipang. 


Mereka berdua kemudian berpisah, Daffa bergabung dengan teman- temanya. Sementara Ipang ikut ibunya ke tempat mentornya. 


Kini Kia menjadi ibu muda yang mandiri dan keren. Tanpa diantar suami, Kia mengendarai mobil kecil pemberian suaminya. Kia mengantar Ipang menuju rumah Tuan Alvin. 


“Sayang, baik- baik di rumah Tuan Alvin ya!” tutur Kia menasehati anaknya. 


“Iya Bu!” 


“Mereka memperlakukanmu dengan baik kan?” 


“Mereka baik ke Ipang Bu, mbak Yuli pengasuh Ipang juga baik. Ipang hanya tidak suka pada Om Jeje, dia selalu menanyai ibu ke Ipang. Apa Jeje itu kenal ibu?” 


“Ehm!” Kia menghela nafasnya, rasanya Kia berat sekali membiarkan Ipang berlatih di rumah Tuan Alfin itu. Tapi tahap bintang kecil tinggal sebentar lagi. 


“Katakan pada Om Jeje kalau mau tau tentang ibu, suruh dia bertanya pada ibu dan ayah. Katakan Ipang hanya ingin belajar di rumah itu. Oke?” 


“Ya Bu!” 


“Bagus Nak! Ipang sekarang sudah punya ayah. Jadi anak yang hebat ya!” 


“Iya Bu!” 


“Ibu sayang Ipang!” 


“Oh ya Bu, rumah adik Rafli itu dimana sih Bu?” 


“Kenapa memangnya, Sayang?” 


“Ipang sayang Bu sama adik Rafli, Ipang jadi berasa punya adik!” ucap Ipang polos. 


Kia kemudian tersenyum dan mengusap kepala Ipang. 


“Kapan- kapan kita main ke rumah adik Rafli ya. Ibu juga ingin antar kamu jenguk Kakek dan Nenek kamu!”


“Kakek Agung dan nenek sihir?” tanya Ipang polos, Kia tersenyum mendengar kata Ipang. 


“Bukan, Sayang, tapi ibu dan ayahnya ibu, kakek neneknya adik Rafli juga!” 


“Oh gitu, iya bu Ipang mau!” 


“Besok ya, kita ajak Ayah juga!” 


“Horee... Ipang mau ketemu kakek nenek!” ucap Ipang bahagia, tidak tahu kalau ibunya mau ajak Ipang ke kuburan. 

__ADS_1


__ADS_2