
Pesawat yang dinaiki Aslan mendarat. Di negeri sakura, pria tampan dan matang yang statusnya tidak jelas itu langsung dijemput oleh mobil mewah suruhan sahabatnya. Meski pergi dengan alasan berlibur, rupanya Aslan tidak benar- benar berlibur.
Di negeri sakura itu ternyata Aslan bertemu dengan sahabtnya dari berbagai negara. Kesemuanya adalah pengusaha besar di dunia yang menguasai dunia komik, novel, publisher dan perusahaan aplikasi online besar.
Sebagai pemimpin Nareswara Group, Aslan dikenal sebagai pemimpin yang handal. Mereka tau perusahaan Aslan perushaan terbesar di negaranya.
Meski begitu, Aslan merendah dan mengatakan hendak belajar pada sahabatnya. Aslan hendak mendirikan perusahaan baru dengan teknologi terkini. Aslan ingin besar dengan membawa namanya sendiri tanpa embel- embel orang tuanya.
“Are you sure?” tanya teman Aslan kaget saat mendengar Aslan sudah melepaskan Nareswara.
“Yes, I am sure!” jawab Aslan mantap dan percaya diri.
Beberapa teman Aslan menepuk bahu Aslan memberinya semangat. Seorang yang sukses memang harus berani mengambil resiko dan melewati jalan yang di luar zona nyaman.
Semakin tinggi resiko yang diambil semakin tinggi pula harapan sukses yang diraih.
Tapi beberapa teman lagi menyayangkan, meski Nareswara milik keluarga, tapi Aslan melebarkan sayapnya. Itu jerih payah Aslan kenapa dilepaskan. Yang dulu hanya stasiun televisi saja, kini sampai merambah ke publisher, penerbit dan percetakan.
Karena hari pertama mereka berkumpul dan menghabiskan waktu bersenang- senang.
Bahkan mereka menyediakan minum- minuman beralkohol kelas atas. Yang tentunya hanya orang yang sangat kaya yang bisa membelinya.
Teman Aslan juga menyediakan beberapa Geisha untuk melayani dan menemani mereka minum. Tentu saja Geisha yang sangat cantik dan dipesan khusus. Pelayananya pun plus plus.
“You can spend the night wit her, i will pay for you” bisik sahabat Aslan menunjuk Gesiha tercantik yang disewa oleh teman Aslan.
Sahabat Aslan sengaja ingin menghidangkan kekayaan alam dari negaranya yang bisa dinikmati Aslan malam itu.
Mereka menganggap itu semua normal dan sajian biasa mengingat mereka laki-laki normal dan berbagai keyakinan. Bakhan teman Aslan ada yang tak beragama.
“Ok, thanks a lot Man!” jawab Aslan teresenyum mengangguk saja menghormati temanya.
Aslan kemudian menikmati tarian tradisnional negeri sakura itu. Aslan mencoba memakai naluri kelelakianya, memandangi keindahan ciptaan Tuhan di depanya, menikmati kecantikan perempuan dari negeri seberang itu. Tapi seketika pikiran Aslan lari ketempat lain.
“Ishh, dasar! Hooh, whoah” kata- kata itu terngiang di telinga Aslan.
Bahkan wajah yang muncul di benak Aslan justru perempuan berjilbab yang mengkerucutkan bibir merahnya, mengerutkan dahi dan menarik kedalam kelopak matanya. Sangat imut, tidak ada yang lebih imut dari sosok itu. Perempuan yang selalu jual mahal tapi salah tingkah jika dia dekati.
“Hhh” Aslan menghela nafasnya pelan berusaha mengusir bayangan Kia.
Salah satu Geisha di situ mendekati Aslan. Aslan tersenyum menyambutnya. Sesaat bayangan Kia pergi.
__ADS_1
Geisha itu menuangkan minuman untuk Aslan dari teko yang sangat imut, antik dan unik, ke dalam cangkir kecil khas negara itu. Aslan kemudian menerima.
Saat Aslan hendak meminumnya, indra penciuman Aslan langsung menangkap betapa wangi dan menyengat aroma minuman itu. Tentu saja menguhah selera Aslan untuk meneguk minuman yang katanya bisa membuat orang merasakan surga dunia.
Tapi belum Aslan menenggaknya, bayangan Ipang sang anak kesayanganya yang tampan dan cerdas itu datang. Sesosok miniatur dirinya yang sudah dipadu dengan wajah Kia. Anak itu tiba- tiba mendatangi Aslan di situ, duduk dan minta pangku.
“No, Ayah! Jangan diminum, ibu tidak suka minuman itu, kata ibu itu haram, haram itu dibenci Alloh”
Aslan mengerjapkan matanya, bayangan Ipang pergi. Tapi rasanya seperti nyata. Ipang seperti di depanya. Tapi sekarang yang ada di depanya teman- temanya dan suara musik.
Aslan kemudian meletakan minuman itu, tidak jadi menenggaknya dan kembali bercengkerama. Aslan memilih mengambil beberapa sajian makanan yang halal.
Lalu Aslan mengobrol dan membahas berbagai peluang usaha, saham dan pasar dunia yang menjanjikan. Beberapa teman Aslan bersedia memberikan investasi ke Aslan. Beberapa lagi siap membantu Aslan bahkan mempersilahkan Aslan mampir ke mansion mereka.
Tidak menyia- nyiakan kesempatan Aslan mengiyakan dan membuat jadwal perjalanan untuk berkunjung ke masing- masing mansion dan perusahaan sahabatnya.
Karena malam ini malam pertama, Aslan menginap di salah satu teman yang mempunyai villa di pinggir pantai. Bangunanya merupakan bangunan khas negara itu, di pinggir tebing yang hijau.
Pasirnya begitu putih dan lembut, dan airnya sangat jernih dan tenang, ikan- ikan dan terumbu karang terlihat jelas karena saking jernihnya. Sangat nyaman dijadikan tempat bulan madu.
“Enjoy your day, i still have work, i will be here later” tutur sahabat Aslan memberikan kunci villa ke Aslan.
“Finish your work, I’m happy here”
“No thanks” jawab Aslan tersenyum.
Teman Aslan berpamitan dan menawarkan Aslan perempuan penghibur yang cantik tapi Aslan menolak. Kemudian teman Aslan hanya meninggalkan pelayan untuk memenuhi semua hal yang dibutuhkan Aslan.
Selepas teman Aslan pergi, aslan melepas pakaian resminya. Kini Aslan hanya menggunakan celana kolor dan kaos yang sangat nyaman.
Di teras balkon yang menghadap ke pantai Aslan membaringkan tubuhnya di bangku panjang. Di depanya terbentang keindahan alam yang mempesona.
“Menikahlah denganku Kia. Aku akan mengajakmu keliling dunia. Akan kujadikan kamu ratuku” batin Aslan tersenyum sendiri.
Aslan melirik ke bangku yang terjejer di sampingnya. Mata Aslan kembali berhalusinasi.
Dengan rambut panjang mengombak di ujungnya dan tergerai indah, Kia duduk di depanya melebarkan senyum memberikan minuman.
“Hah” Aslan menggelengkan kepalanya kesal. Kenapa semuanya hanya semu.
Kenapa wajah Kia selalu menempel di pandangan Aslan, siapapun yang Aslan lihat selalu muncul wajah Kia.
__ADS_1
Waktu di kota Y, saat Aslan masuk tanpa permisi ke rumah ibu anaknya itu, Aslan memang sempat mencuri pandang melihat rambut Kia lagi.
“Gue harus kaya. Gue nggak boleh miskin dan hancur, gue nggak mau Kia dan Ipang menderita!” batin Aslan lagi mengeratkan rahangnya mengingat rencana hidupnya.
Aslan harus hidup bebas dan berdiri dengan kaki sendiri agar bisa membahagiakan bidadarinya.
Aslan kemudian mengambil ponselnya. Diam- diam Aslan mengambil beberapa foto Kia dengan bantuan Rendra dan kamera tersembunyinya
Aslan kemudian melihat foto- foto itu. Ditatapnya lekat-lekat. Kia memang pemandangan yang selalu menyenangkan saat dipandang.
Tanpa terasa dengan memegangi foto Kia, dengan kualitas udara yang full oksigen karena pepohonan di sekitar villa, Aslan tertidur.
Langit pun menjadi gelap. Aslan terbangun, membersihkan badanya, menunaikan sholat dan menyantap makanan yang disediakan pelayan.
Aslan memeriksa ponselnya. Malam ini adalah malam penampilan putranya. Aslan memenuhi janjinya menyalakan live streaming siaran langsung dari stasiun televisi milik keluarganya itu. Tidak lupa pula Aslan mengontek Rendra memastikan Kia baik- baik saja.
Semua yang terjadi pun atas pantauan Aslan. Aslan juga menyuruh Rendra dan beberapa anak buah yang lain mengawasi Kia dari kejauahan.
“Sh***! Siapa nyamuk nakal itu berani menyentuh wanitaku!” umpat Aslan geram di ruangan berlantai kayu mahal itu.
Aslan mengumpat dan mengepalkan tangan. Suhu udara yang dingin tidak Aslan rasakan, dada Aslan begitu panas. Aslan meradang dan ingin segera terbang ke negaranya.
“Beri pelajaran ke nyamuk itu! Habisi dia!” ketik Aslan memberi perintah ke anak buahnya setelah melihat foto yang anak buah Aslan kirim.
“Siap Bos!” jawab anak buah Aslan.
Aslan menutup ponselnya, kemudian Aslan memikirkan ulang agendanya. Melihat seorang pemuda tampan dan tersohor mendekati Kia membuat Aslan kelabakan.
Aslan menjauhi Kia untuk memberi ruang, memantaskan diri dan berharap Kia melunak, bukan mengikhlaskan Kia bersama orang lain. Tujuan hidup Aslan sekarang adalah Kia dan Ipang. Seincipun tidak rela jika ada orang hendak mendekati Kia.
“Gue nggak boleh lama- lama pergi. Tidak bisa dibiarkan dia sendirian, bagaimana caranya maksa dia buat mau nikah” Aslan memijat pelipisnya, semakin tidak sabar menjauhi Kia. Berpura-pura dingin terhadap Kia sangat menyiksanya.
Aslan merasa terancam jika terlalu lama memberikan Kia kelonggaran. Aslan harus susun ulang rencananya.
Aslan saja menahan semua gelora dan hasratnya yang membara agar tidak menyentuh Kia setiap mereka bersama, ya meski pernah kelepasan menciumnya karena Kia menampar Aslan.
Dan kini di tanganya ada foto seseorang berusaha membekap Kia. Aslan benar- benar tidak terima.
“Gue harus secepatnya selesaikan urusan di sini, gue harus segera balik” batin Aslan lagi.
****
__ADS_1
makasih ya udah mau baca nupel aku.
kelemahanku emang alure nggak cepet. Tapi author berusaha belajar. semoga tetep layak dibaca yaa