
Di atas meja kayu bulat yang warna plisturnya mulai memudar, Kia meletakan sebotol infus water lemon dicampur daunt mint, dan madu. Meneguknya membuat Kia merasa segar, apalagi setelah dirinya merasa lelah kurang tidur.
Suara musik tetangga menemani Kia pagi itu. Tanaman hias dengan berbagai bentuk, berjajar rapi, menjadi teman setia Kia.
Tanaman itu seakan siap mendengar keluh kesah Kia. Menjadi sahabat tenang untuk Kia berfikir tentang masa depanya. Tanaman memang selalu menawarkan kedamaian.
"Aslan, Aslan, Aslan"
Nama itu memenuhi hati dan pikiran Kia.
Semalaman Kia susah tidur memikirkan nama pria itu. Pria yang sekarang menjadi bosnya. Pria yang dulu jadi pahlawanya, tapi dia juga yang menghancurkan impianya.
Pria beristri itu datang lagi. Setelah Kia kembali menata hidup, pria itu lagi yang mengacak-acak susunan rencana Kia.
Setelah kejadian penamparnya kemarin. Kia pergi tanpa kata. Tapi setelah itu, ada kejadian yang lebih besar yang membuatnya mati gaya.
Kia terus memegangi bibirnya. Memejamkan matanya menghapus semuanya. Tapi tetap saja, rasanya begitu nyata. Kejadian itu terus mengejarnya.
Saat Kia hendak pergi, Aslan berhasil meraih tangan Kia. Menariknya kasar, sehingga tubuh Kia mendekat pada tubuh kekar itu.
Dan tanpa ijin, tanpa permisi, dengan tindakan sedikit kasar Aslan mendaratkan bibir tegasnya ke bibir Kia. Ya, mereka berciuman dengan kemauan sepihak.
Kia sudah berusaha memberontak, menjauhkan diri dari Aslan. Tapi tenaga Aslan begitu kuat. Satu tangan mencengkeram tengkuk Kia, satu tangan lagi menahan tubuh Kia agar tidak menjauhinya.
Meski itu bukan pertama kalinya, tetap saja Kia masih sangat gemetaran. Kia hanya merasakan itu dua kali dalam hidupnya. 7 tahun lalu, dan di waktu kemarin, masih dengan orang yang sama, Aslan. Pria beristri yang tidak bisa ditebak itu.
Kia hanya bisa pasrah, merasakan semburan panas yang membuat hati Kia berantakan porak poranda.
Benci, butuh, sedih dan marah. Rasa itu mereka berdua tumpahkan menjadi satu, dalam pagutan bibir yang seharusnya tidak dilakukan.
"Ini hukumanmu berani menamparku" bisik Aslan melepaskan cengkeremanya saat menyadari Kia kehabisan nafas.
Kia hanya diam dengan nafas gelagapan. Kia marah. Seharusnya Kia yang berhak marah, tapi lucunya, setelah melakukanya, Aslan lebih menampakan wajah marahnya dan meninggalkan Kia lebih dulu.
"Hukuman? Menampar?" ciuman dan bibir Kia yang begitu mahal dan dia jaga, mengambilnya, dianggap sebuah hukuman oleh pria beristri itu.
"Dasarrr" gumam Kia tidak terima.
"Aaahh kenapa aku tidak bisa melupakanya" Kia merutuki dirinya sendiri mengingat kejadian kemarin.
__ADS_1
"Sadar Kia sadar. Itu dosa, dia sudah punya istri, dia bukan laki-laki baik" ujar Kia lagi membetulkan otak Kia yang justru ingin memperjelas ingatan rasa kemarin, padahal inginya melupakan.
"Menikahlah denganku, kita jadi orang tua bersama untuk Ipang"
Kata-kata itu semakin membuat Kia berkecamuk. Bagaimana bisa Aslan mengajaknya menikah di saat dia mempunyai istri.
Ah andai saja Aslan masih sendiri Kia tidak akan sefustasi sekarang. Dia pasti akan meenyetujuinya, apalagi jika itu demi Ipang. Tapi lihatlah sekarang, jika Kia menikah, apakah itu baik atau hanya akan menyakiti Ipang.
Menjadi istri kedua, berbagi suami, itu bukan hal yang diinginkan perempuan manapun. Kia ingin menjadi satu-satunya di hati suaminya. Siapapun suaminya nanti, bukan sebagai yang kedua.
Lalu Kia bangun dan menuju kamarnya. Dibukanya lemarinya, di bawah tumpukan bajunya, di sudut ruang lemari itu. Brankar kecil dan manis terkunci, Kia mengambilnya dan membukanya.
"Aku harus akhiri ini. Aku akan mengembalikanya. Apapun yang terjadi. Aku harus pergi"
Batin Kia memegang kotak kecil dan isinya itu.
****
Karantina.
Pagi itu jadwal para peserta bintang kecil mengikuti kelas olahraga dipandu oleh pelatih profesional. Mereka diajak peregangan dengan senam, game kelompok dan setelah itu mandi, sarapan dan mengikuti kelas vokal.
Karena kelas olahraga Ipang dan Daffa sangat antusias mengikuti. Ipang seperti menemukan dunia dan kebahagiaanya, bersekolah, mempunyai banyak teman, dannberbagi dengan Daffa.
"Kita minum yuk!" ajak Daffa ke Ipang.
"Ayuuk!" jawab Ipang lalu mereka berdua menuju ke loker tempat mereka mengambil minuman.
Dan di loker Ipang dan Daffa tampak segerombolan teman mereka. Berdiri dengan tatapan sinis memegangi tas Ipang yang dia keluarkan dari loker.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Daffa.
"Kau tidak lihat kami sedang apa?" tanya Alena berani sambil mengambil air minun Ipang.
"Itu punyaku berikan.. Aku haus!" jawab Ipang santai.
"Ini punyamu? Hahaha" Alena tertawa keras mengejek Ipang lalu air Ipang ditumpahkan.
Meski perempuan Alena lebih tua dari Ipang dan Daffa. Dia cukup berani memusuhi dua anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Kenapa kau membuang minumku?" tanya Ipang tidak terima.
"Karena aku benci kamu!"
"Kenapa kau membenciku?" tanya Ipang
"Karena kau sudah bermain dengan Dadyku?" Jawab Alena.
"Alena. Sudah kukatakan kan? Ipang itu saudara kita ?" ujar Daffa memberitahu sepupunya itu.
"Bukan! Kau jangan bodoh Daffa. Apa kau tidak tahu, anak itu ada kalau ayah dan ibu menikah dan tinggal bersama. Bagaimana anak ini bisa jadi anak Daddy. Ibu anak ini tidak menikah dan tinggal bersama Dady" jawab Alena panjang sesuai dengan pengetahuan anak pada usianya.
"Iya yah? Tapi uncle bilang, kita saudara?" jawab Daffa mengeluarkan keyakinanyam
"Benarkah Dady bilang begitu?" tanya Alena tidak terima.
"Iya" jawab Daffa mengangguk.
"Tapi kan mereka tidak pernah tinggal bersama dan menikah, kenapa bisa dia anaknya. Anak Daddy hanya aku" jawab Alena lagi.
"Bagaimana kalau aku dan ibu akan tinggal bersama ayah. Apa kau akan mengakuiku sebagai saudaramu?" tanya Ipang ke Alena.
"Itu tidak mungkin" jawab Alena
"Tapi ayah bilang begitu" jawab Ipang.
Mendengar perkataan Ipang Alena marah lagi, menjatuhkan tas Ipang dan menginjaknya. Daffa dan teman lainya memadanginya heran.
Alena semua masih belum mengerti dan menerima. Kenapa tiba-tiba Daddynya harus bilang Ipang anaknya. Darimana Alena punya adik dan saudara.
Ipang sendiri bingung, apa salahnya jika Ipang mempunyai ayah. Ipang melihat banyak teman-temanya bersaudara, menjadi kakak adek dari satu ayah, mereka baik-baik saja. Ipang ingin itu tanpa Ipang tahu tentang hati orang dewasa dan pernikahan.
Setelah melampiaskanya, Alena menangis. Dia yang marah sendiri kesal sendiri dia sendiri juga yang menangis. Lalu Alena pergi meninggalkan Ipang dan Daffa, sementara Daffa dan Ipang hanya diam.
"Perempuan memang merepotkan" ujar Daffa berbaik hati mengambil tas Ipang.
"Hmm apa aku harus memanggil Alena kakak? Dia tidak seperti seorang Kakak" ucap Ipang lagi.
"Sudahlah, biarkan saja. Kamu minumlah ini kita berbagi, tawar Daffa memberikan botol minumnya.
__ADS_1
"Terima kasih" jawab Ipang tersenyum.
Lalu mereka melanjutkan kegiatanya. Ke. bali ke kamar, mandi, sarapan, dan mengikuti kelas sesuai jadwal.