
Aslan dan Kia hampir sampai di halte dimana Cyntia menunggu. Dengan tangan kekar dan tubuh tinggi tegapnya. Aslan melindungi tubuh Kia agar tidak bersentuhan dengan orang lain, saat melewati orang yang berdesakan.
Semua yang melihatnya bisa membaca, betapa Aslan sangat menyayangi Kia.
Saat berhenti, berdiri di depan pintu hendak turun, menunggu bus benar- benar berhenti. Kia menoleh ke atas belakangnya menatap wajah Aslan. Mereka saling tatap.
“Jalanan rame dan sesak, hati- hati!” tutur Aslan lembut dengan tatapan hangat dan senyum maskulinya.
“Ya!” jawab Kia salah tingkah.
Ternyata Aslan sangat perhatian dan terlihat dewasa saat bersikap lembut begitu.
Siapapun yang melihatnya pasti akan terpana. Aslan memang tampan, sorot matanya tajam dan dalam. Dan itu menurun ke Ipang.
Tidak terkecuali Kia, Kia juga merasa panas dingin ditatap Asalan. Hanya saja Kia tidak mengakuinya. Bahkan Kia mulai merasa nyaman di dekatnya.
Dheg
“Ya Tuhan kenapa jantungku selalu begini saat berdekatan dengan ayah Ipang” batin Kia mengalihkan pandangan.
Bus berhenti sempurna, kondektur membukakan pintu, lalu mereka berdua turun. Siang itu halte sangat ramai. Aslan menundukan pandangan tidak mau hal serupa saat berada di bus terjadi lagi.
“Dimana temanmu?” tanya Aslan melihat Kia berhenti berjalan dan berdiri celingukan.
“Biar kutelpon dulu ya!” jawab Kia santai.
Aslan mengangguk menuunggu Kia menelpon Cyntia.
“Kenapa gue jadi berkompromi denganya, dan buat apa dia ikut turun di sini, duh gawat, Cyntia bisa ketemu sama dia dong! Duh bakal salah paham nih!” batin Kia menyadari dirinya dan Aslan mulai berdamai sambil memegang ponsel.
Sambungan Kia tidak kunjung diangkat karena ternyata Cyntia dan Rendra sudah melihat mereka lebih dulu dan sedang berjalan ke arahnya.
****
“Empt” Rendra dan Cyntia langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum mengejek ke kedua orang itu.
“Kenapa juga nyuruh gua bawa ni kunci dan dompet, ujung- ujungnya mereka malah jalan berdua. Dasar! Bilangnya nggak mau ketemu, bulsyit emang lu Lan!” batin Rendra mengumpati Aslan.
“Huh... bilangnya kesel, sebel, amit- amit, dasar lu Ki! Udah jadi Ipang ge masih aja kalian sok- sokan, dasarr!” batin Cyntia juga.
Lalu mereka berdua menghampiri Kia.
“Selamat siang Tuan!” sapa Rendra memberinya hormat.
Kia langsung membulatkan matanya.
“Kalian?” ucap Kia terhenyak sambil menggigit bibirnya malu dan heran.
Kenapa Cyntia bisa bersama Rendra, dan sekarang Kia kejedoran barengan sama Aslan lagi.
“Ehm” Aslan berdehem.
”Gue laper, ayo cari tempat makan!” ajak Aslan merasa tidak nyaman berada di keramaian. Sebenarnya Aslan baru saja makan bersama Satya.
“Maaf saya nggak lapar, saya mau ada perlu! Silahkan makan sendiri” tolak Kia jual mahal dan mengerlingkan mata ke Cyntia mengajaknya pergi.
Cyntia yang sudah tau maksud dan niat Rendra tidak mau berkompromi dengan Kia.
__ADS_1
“Tapi gue laper Ki, ikut mereka ya! Kita mau ditraktir kan Tuan Aslan?” jawab Cyntia sambil nyengir.
“Tentu saja, ayo ikut kami, kalau dia tidak mau makan biar saja, tinggalkan dia!” jawab Aslan mulai bersikap nyebelin melirik ke Kia.
“Ssshh” Kia kemudian mendesis benci ke Cyntia, kenapa menempatkanya di situasi terpojok dan memalukan. Mau tetap menolak, Kia sendiri tidak tau arah mau kemana. Mau tiba- tiba ikut Kia tengsin sendiri.
“Udah yuk ikut aja!” ucap Cyntia, mengajak Kia.
Tapi Kia tetap diam dengan ekspresi Gengsinya.
"Kalau mau ikutlah kalau tidak ya sudah!" tutur Aslan lagi menegaskan.
Dan seperti sebelumnya, tidak mau menuruti kegengsian Kia, Rendra dan Aslan berjalan menyebrang jalan ke arah mobil. Mereka bersikap tidak memperdulikan Kia yang sangat naif dan kekanakan, tapi sebenarnya menggemaskan buat Aslan.
Melihat Aslan dan Rendra berlalu, meninggalkan mereka, Kia sedikit kecewa, kenapa mereka tidak merayu Kia.
Sementara Cyntia terpaku. Tidak tega ninggalin Kia, tapi Cyntia juga kesal ke Kia.
“Kenapa lo nungguin gue? Sana ikut makan bareng mereka!” tutur Kia ke Cyntia menyindir.
“Lo kenapa sih? Gengsian banget! Rendra tuh ke rumah gue nyari lo! Dan lo malah gini” tutur Cyntia dengan tatapan memarahi Kia.
"Gue nggak mau aja makan bareng sama dia” jawab Kia.
“Ih dasar lo ya, muna! Lo sendiri abis ngapain dua- duaan sama dia, bilangnya nggak mau ketemu, amit-amit. Lo suka kan sama dia?” ejek Cyntia lagi.
“Suka apaan? Dia ikutin gue! Udah yuk pulang yuk! Nyatanya mereka ninggalin kita kaan? Mereka emang nyebelin” ucap Kia merasa kecewa. Padahal dia sendiri yang menolak.
“Ya lo sih gengsian!” omel Cyntia lagi.
“Udah udah, yuk pulang yuk!”
“Ke rumah lo lah!” jawab Kia tidak tau malu.
“Sory ya! Nggak ada cerita dan kesepakatan gue mau nampung lo dan kasih lo tumpangan seterusnya di rumah gue!” tutur Cyntia kasar, sebenarnya karena Cyntia menyembunyikan masalah rumah tangganya.
“Ih kok lo gitu sih tega amat!” jawab Kia sambil manyun, tapi sebenarnya Kia juga sadar diri sih, masa iya Kia jadi orang ketiga di rumah Cyntia. Lalu Kiq mendadak stress dan berfikir keras. Kia harus cari kontrakan.
“Gue bantu lo semalam doang!” jawab Cyntia lagi.
“Terus kita kemana dong? Lo sendiri kenapa nyamperin gue bareng sekertaris singa gila itu?”
“Udah gue bilang dia cari Lo! Tapi lo malah gini. Aneh emang kalian! Ya udah yuk ke taman depan situ!” ajak Cyntia jalan meninggalkan halte.
Mobil Rendra benar- benar hilang dari pandangan mereka, padahal sebelumnya ada di seberang jalan di hadapan mereka.
Lalu mereka berdua pun berjalan tanpa arah, melewat bahu jalan. Mereka berdua saling melempar pandangan berlawanan. Memikirkan nasib dan hati-nya masing- masing.
“Thin...Thin”
Tiba- tiba suara klakson mengagetkan mereka. Cyntia dan Kia menoleh ke arah klakson. Cyntia tersenyum bahagia. Si penumpang mobil membuka jendela mobilnya. Sementara Kia terbengong tidak menyangka.
"Ternyata mereka masih di sini?" batin Kia, entah kenapq ada rasa bahagia di hati Kia.
“Naiklah, ikut kami, ada yang mau saya sampaikan Nyonya Kia!” tutur seseorang yang memegang setir di mobil itu.
Di sampingnya duduk seorang yang tanpa ekspresi.
__ADS_1
Ternyata Aslan dan Rendra pergi untuk putar balik. Karena arah perumahan yang disediakan Aslan untuk Kia di dekat mereka dan berlawanan arah.
“Ayo naik!” ajak Cyntia.
Rendra turun dan membukakan pintu mobil. Akhirnya mau tidak mau Kia dan Cyntia naik, lalu mereka berempat menuju ke tempat makan. Rendra memang belum makan, karena dia dari tadi belum beristirahat, demi melaksanakan tugas Aslan.
Mereka berempat kemudian memesan makanan. Mereka duduk berhadapan, Cyntia berhadapan dengan Rendra, Aslan dengan Kia. Suasanya sangat canggung.
Kia merasa sangat malu dan tengsin menyadari ke gengsianya yang terlalu tinggi. Sementara Aslan bersandiwara bersikap dingin lagi, Aslan sebenarnya menahan tawa melihat tingkah Kia.
Cyntia dan Rendra mereka berdua membatin kedua orang aneh di sampinya, orang udah punya anak, masih saja seperti anak kecil. Dasar! Sampai kapan mereka berdua akur dan menjadi orang tua utuh untuk Ipang.
Di tengah keheningan itu, tiba- tiba keluar suara aneh dari perut Kia. Saat jam makan siang tadi kan Kia memang tidak ke kantin. Lalu semua saling pandang. Dan Kia kembali dibuat pucat pasi menahan malu.
“Ehm!” Rendra berdehem menyindir darimana asal suara itu.
"Ren apa kamu dengar suara itu?" tanya Aslan sengaja ingin buat Kia malu.
"Dengar Tuan!" jawab Rendra.
“Ren kamu percaya nggak? Kalau lidah tidak bertulang?” ucap Aslan menyindir Kia lagi.
“Percaya Tuan!”
“Ya begitulah, orang itu suka mengingkari dirinya sendiri! Tapi kan tubuh tidak bisa berbohong” ucap Aslan.
Sementara Cyntia yang tau arahnya melirik Kia, seakan ikut mensyukuri dan membenarkan.
"Rasain lu, tuh akibat jadi orang gengsian!" batin Cyntia.
Merasa terpojok Kia angkat bicara. Mental Kia memang sekuat itu.
“Ehm. Maaf Tuan Rendra, sebenarnya apa yang hendak anda bicarakan pada saya? Waktu saya tidak banyak!” ucap Kia masih dengan kegengsianya yang tiada batas. Padahal Kia tidak punya kesibukan apapun.
“Makan dulu, nanti kita sampaikan, tidak sabaran banget sih! Jadi orang jangan jahat, terhadap tubuh sendiri” jawab Aslan dengan nada dingin menatap tajam ke Kia, seperti kakak memarahi adiknya.
“Ish” Kia hanya mendesis. Dan tidak bisa membantah. Kia sudah tertampar sendiri karena suara perutnya yang terlalu jujur.
Dan penyaji makanan datang membawa pesanan.
“Makanlah dengan tenang, tidak usah khawatir!” ucap Aslan lagi.
Kia menunduk tidak menjawab tapi ikut makan dan menuruti kata Aslan. Mereka kemudian menyantap hidangan yang ada di depannya.
Setelah makan, tanpa mengobrol dan berkata apapun Aslan bangun berniat membayar makanan.
Aslan menghindari berdebat dengan Kia. Sebab pasti Kia setelah ini akan banyak bertanya kenapa Aslan bisa memegang dompetnya.
Kini Tinggal Rendra. Lalu Rendra mengeluarkan amanahnya.
“Nyonya Kia. Sesuai kesepakatan kontrak kerja kita, Tuan Aslan memberikan fasilitas tempat tinggal, ini kunci dan alamatnya, tinggalah dengan nyaman dan ini dompet Nyonya Kia yang tertinggal” ucap Rendra menyerahkan barang Kia, alamat perumahan beserta kuncinya.
“Wooh” Kia terbengong, masih tidak percaya dompetnya yang dia simpan di rumah ada di depanya. Kia kemudian mengecek dompetnya dengan seksama.
Demi menyelamatkan diri dari pertanyaan Kia, Rendra bangun.
“Perumahan ini ada di belakang gang ini Nyonya, dan makan siang hari ini sudah dibayar. Terima kasih” pamit Rendra secepat mungkin sebelum Kia sempat mengomel.
__ADS_1
Rendra bergegas menyusul Aslan tanpa mberi kesempatan Kia bertanya dan menyanggah.