
Cyntia berjalan ke pintu dan Kia mengambil hijabnya. Dengan sedikit berdecak dan menebak siapa yang datang pagi-pagi, Cyntia membuka pintu.
“Selamat pagi Nyonya!” sapa seorang laki- laki berkemeja rapih.
“Pagi” jawab Cyntia mengangguk dan meneliti tamu sahabatnya itu.
Orang itu berseragam rapih ada logo nama shorum yang Cyntia kenal. Lalu Cyntia melihat ke halaman, terparkir satu unit mobil brio warna kuning masih segelan. Dan di jalan terdapat truk pembawa mobil. Cyntia kemudian bisa menebak.
“Benar dengan Nyonya Kiara Arsyila?” tanya laki- laki itu.
“Saya Cyntia, teman Nyonya Kiara, silahkan masuk, biar saya panggilkan Nyonya Kiaranya” tutur Cyntia mempersilahkan tamunya dengan sopan.
“Terima kasih” jawab Pria itu lalu mereka masuk.
“Silahkan duduk!” tutur Cyntia masuk ke dalam.
Sesaat laki- laki itu mengira Cyntialah simpanan Aslan. Karena Cyntia tampak berbaju seksi, dengan kaos dan celana pendek, rambut panjang dicepol dan kulit putih bersih dibiarkan terlihat.
Orang shorum langganan Aslan tau siapa Aslan. Mereka juga tahu Aslan mempunyai istri. Mereka juga sering kedatangan pelanggaan om-om genit yang menghadiahi gadunnya mobil. Mereka mengira Aslan begitu juga.
Belum saat mereka melihat kuku- kuku jari tangan Cyntia, terlihat mengkilat dan berwarna warni. Belum kalung mutiara, giwang manis dan gelang cantik yang berkilau.
Cyntia setara dengan Paul, sangat memungkinkan dan tercermin kalau Cyntia perempuan yang dimanjakan bos besar seperti Aslan.
Tapi tiba- tiba keluar perempuan berdaster lusuh dan berjilbab terusan warna hitam, terlihat sangat biasa, malah seperti penjual di pasar. Kulit putih mulusnya tak tampak apalagi perhiasanya. Semua terbalut kain lusuh bercorak warna gelap.
Tapi jika diperhatikan, mukanya sangat manis dan imut, bibir yang berwarna alami dan hidung mancung tanpa oplas membuat orang tak jemu memandangnya, belum alis tebalnya yang memancarkan ketegasan.
Laki- laki itu kemudian mengubah perkiraan awalnya. Dia menyimpulkan, teduh dan tenang, Tuan Aslan laki- laki yang hebat bisa memiliki dua perempuan cantik berbeda sisi.
Perempuan di depanya tidak layak dijadikan simpanan, tapi lebih menjadi perempuan tempat berpulang. Sorot mata Kia membuat mata lelaki ingin bersandar. Penuh kedamaian dan ketulusan.
“Anda mencari saya?” tanya Kia membuyarkan tatapan petugas shorum.
“Benar dengan Nyonya Kiara Arsyila?”
“Iya, saya sendiri, anda siapa ya? Ada perlu apa?” tanya Kia sopan.
“Kami dari shorum mobil car white, sesuai dengan perintah Tuan Aslan kami mengantar mobil pesanan beliau ke rumah ini” tutur pria itu kemudian mengeluarkan surat- surat kepemilikan mobil.
“Woah? Aslan? Mobil?” tanya Kia kaget.
“Hooh, apa maksud dia melakukan ini?” gumam Kia lirih.
“Ini kunci dan surat- surat kepemilikanya Nyonya! Semua sudah diurus Tuan Aslan dan sekertarisnya” tutur Pria itu memberikan BPKB dan lainya.
“Maaf saya tidak bisa menerimanya, dalam rangka apa saya diberi mobil?” ucap Kia menolak dengan tegas dan memundurkan berkas-berkas kendaraan, mengembalikan pada petugas.
Penolakan Kia membuat laki- laki itu heran. Laki- laki itu mengira Kia akan bahagia menerima hadiah kejutan mobil seperti layaknya perempuan lain.
Tapi ternyata tidak. Kia sama sekali tidak menunjukan ekspresi menyukai pemberian barang, seperti perempuan matre pada umumnya.
“Mohon maaf Nyonya, tugas saya hanya mengantarkan ini kepada anda, terimalah! Dan mohon tanda tangan di sini. Selanjutnya boleh minta foto untuk tanda bukti?” ucap laki- laki itu. Menyodorkan kertas tanda terima dan ballpoint.
“Tapi saya nggak mau, silahkan dibawa lagi saja. Saya tidak bisa menerimanya. Saya nggak butuh semua ini! Toh saya juga tidak meminta atau membelinya” ucap Kia lagi menolak.
“Mohon maaf Nyonya, mengenai hal itu silahkan anda komunikasikan dengan Tuan Aslan! Tugas kami hanya mengantar, mohon kerja samanya” jawab tamu Kia.
“Hooh, laki- laki gila itu, ck, dasarr, apa coba maksudnya? Apa dia mau menjebakku? Atau membuatku berhutang, tidak bisa dipercaya” gumam Kia lirih mengatai Aslan dan masih bisa didengar orang lain.
Laki- laki itu kemudian mengambil kesimpulan. Kia perempuan baik- baik, bukan simpanan atau semacamnya.
Tapi Tuan Aslan yang memang menyukainya. Tanpa persetujuan Kia, laki- laki itu memfoto Kia dan barang- barangnya.
“Permisi Nyonya, mohon kerjasamanya untuk tanda tangan di sini!” tutur petugas shorum meminta tanda tangan Kia sekali lagi. Menyodorkan ballpaloint dan menunjuk kolom tandan tangan penerimaan.
Akhirnya Kia pun membubuhkan tanda tangan. Setelah itu, petugas shorum berpamitan. Kia kembali ke duduknya.
Kia diam memandangi barang yang ada di depanya. Surat- surat sih masih atas nama Aslan.
“Gue harus telpon dia” batin Kia melepas jilbab terusanya sambil berjalan masuk.
__ADS_1
Kia melepas daster kebesaranya dan kembali memakai baju pendek seperti sebelumnya. Kia pun kembali menjelma menjadi perempuan cantik, muda dan seksi.
“Ciee yang dapet hadiah mobil dari calon laki” goda Cyntia mendekat.
“Berisik Lo!” jawab Kia meraih hp nya dan kembali, lebih dulu menghubungi pria dewasa yang sedang mengejarnya nan jauh di sana.
****
Di tepi kolam yang menghadap ke lautan biru dan asri. Pria matang yang berparas tampan itu tampak duduk menikmati sajian sarapan pagi.
Pria itu tampak gelisah dengan ekspresi tengilnya memandangi benda kotak kecil dan mengkilap, yang dia letakan di dekat makananya.
“Haiissh, kenapa nggak telpon - telpon sih? Dia akan senang atau marah ya? Ayolah Kia, sadarlah aku mencintaimu” gumam Aslan gemes sendiri karena ponselnya sunyi, sesunyi malam- malamya.
Belum Aslan selesai membatin, layar ponselnya menyala. Dada Aslan mengembang sempurna. Aslan langsung meraih ponselnya bersemangat.
Rasanya seperti saat kita sedang di kamar mandi sendirian lampu mati, dan setelah menunggu berlama- lama lampu menyala. Bahagia sekali.
“Ehm, halo, selamat pagi, Ibunya Ipang” sapa Aslan berbosa basi.
“Tuan Aslan yang terhormat apa maksud anda?” tanya Kia jutek langsung menyerang Aslan. Entah kenapa mendengar suara Aslan Kia sangat bernafsu marah-marah.
“Pelankan suaranya, Ibunya Ipang, ingat kesepakatan semalam, panggil saya Ayahnya Ipang” jawab Aslan sambil tersenyum bahagia.
Semalam dalam perdebatanya Aslan berhasil membuat beberapa kesepakatan dan aturan. Aslan tidak mau dipanggil Tuan Aslan.
“Ehm.. ehm, iya, a- a- ayahnya Ipang” jawab Kia merasa canggung memanggil Aslan dengan panggilan ayah.
“Nah, gitu dong, gimana- gimana ada apa?” jawab Aslan sambil tersenyum senang.
“Apa maksud kamu mengirim mobil? Hah? Apa kau ingin aku berhutang? Aku tidak mau berhutang padamu, dan ingat aku tidak mau jadi istri kedua, jangan harap. Aku bukan pelakor yang morotin uang suami orang. Kau tau tindakanmu bisa membuat orang salah paham” tanya Kia marah- marah. Bahkan belum Aslan menjawab, Kia kembali bicara.
"Aku baik padamu, setuju dengan perdamaian kita, demi Ipang. Jangan kau pikir aku macam- macam. Tolong jangan berlebihan!" omel Kia lagi dengan nada kesal.
“Kebiasaan ya!” jawab Aslan enteng dan dengan nada sayang, layaknya sikap seorang yang lebih dewasa sedang menatap Kia yang polos.
“Hah?” Kia terbengong gemas, omongan Kia yang marah panjang kali lebar kali tinggi dijawab sesantai itu.
“Iya kamu tuh kebiasaan” jawab Aslan lagi sangat tenang.
“Kebiasaan ke GR-an” jawab Aslan malah mengatai Kia.
“Aku?” tanya Kia gusar dan tidak terima.
“Iya”
“Aku ke Gr_an?” tanya Kia lagi gemas.
“Iya. Ke GR an mu terlalu tinggi, kau tau itu” ucap Aslan lagi.
“Hooh, kau mengataiku?” tanya Kia semakin tidak terima.
“Ck. Ibunya Ipang yang cantik, dengarkan baik- baik ya. Aku tidak membuatmu berhutang atau menjadikanmu pelakor, itu masih atas namaku kok. Ingat baik-baik!" terang Aslan tegas.
"Ehm" Kia masih stay mendengarkan.
"Lagian aku bukan laki- laki milik orang. Aku punya hak hidupku sendiri, aku juga tidak bisa direbut dari siapapun!" lanjut Aslan.
"Mobil itu bukan buat kamu. Anggap itu inventaris karena kamu sudah menjadi ibu dari anakku? Gunakan mobil itu agar anakku tidak kesusahan saat bepergiaan. Jangan buat Ipang minder karena hanya ibunya yang datang ke tempatnya di karantina dengan naik kendaraan umum. Jangan buat anakku sedih karena ibunya setiap hari berdesakan di dalam bus. Jadi aku melalakukan ini untuk anaku. Kau dengar?” tutur Aslan berbicara tenang dan dewasa.
Kiapun mendengarkanya dengan baik. Kia gelagapan dan merasa tertohok. Sebagai orang kaya alasan Aslan tepat sih. Aslan ingin membahagiakan Ipang, anak kandungnya.
“Ehm...ya” jawab Kia akhirnya.
“Satu lagi, jangan kau ambil uang tabungan Ipang. Itu haknya dia” lanjut Aslan lagi ingin mengerjai Kia dengan nada membercandai.
“Haah, apa kau bilang, aku? Memakai tabungan Ipang? Enak aja nggak ya” jawab Kia tidak terima dan malu-malu.
Tapi waktu itu Ipang memang pernah keceplosan dengan polosnya cerita ke Aslan. Kalau Ipang mengumpulkan uang dari manggung dan youtube untuk beli rumah dan mobil tapi belum kumpul- kumpul.
“Yaya. Tapi Ipang pernah mengatakanya. Mulai sekarang, biarkan tabungan Ipang untuk masa depanya. Mengerti?" tutur Aslan lagi.
__ADS_1
"Ehm iya" jawab Kia menjadi tersudut dan mati kutu.
"Oke. Ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya Aslan tenang dan dewasa. Suara Aslan yang tenang membuat Kia tersihir.
“Ehm” Kia berdehem, tiba- tiba jantungnya berdegub kencang dan canggung. Lelaki di seberang sana itu selalu bisa membuatnya terdiam. Melakukan hal di luar dugaanya.
Kia pun jadi ingin bertanya benarkah Aslan dan Paul hendak bercerai? Dimana Aslan sekarang? Tapi entah kenapa bibir Kia seperti terkunci, susah sekali membukanya.
“Halo, ibunya Ipang? Ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya Aslan lagi mengetahui Kia terdiam padahal telpon masih nyambung.
“Terima kasih” ucap Kia lirih entah kenapa hanya kata itu yang keluar dari mulut Kia.
“Oke, sama-sama” jawab Aslan singkat.
Lalu Aslan diam menunggu Kia yang balas ngomong. Meski jauh- jauhan tapi Kia tetap dilanda canggung sendiri, tanganya bergerak- gerak bebas bingung mau ngomong apa lagi.
Apa mau dimatikan saja teleponya. Lalu mereka saling terdiam. Sehingga Cyntia di dekat Kia yang melihatnya merasa geli, keki dan gemas sendiri.
“Ehm” Cyntia lewat sambil berdehem.
“Udah dulu ya makasih” ucap Kia buru- buru mematikan ponselnya mau melarikan diri dari kecanggungan.
“Oke” jawab Aslan.
Lalu Kia menghela nafasnya, mukanya merah sendiri, sudah ke gr an marah-marah dan justru dijawab dengan pernyataan menohok. Kia menjadi sangat malu.
“Lets drive yuuk” goda Cyntia membuyarkan Kia yang terdiam malu.
“Hmmmm”
“Udah siiih, nggak usah gengsi!” goda Cyntia lagi. Kia menatap Cyntia kemudian menegak air minum menetralkan malunya. Lalu duduk dan bersiap berbicara.
“Dia baik banget ya? Dia bilang nggak pengen Ipang minder dan bersedih, kenapa dia terlihat so sweet ya?” ceplos Kia akhirnya mengakui kebaikan Aslan.
“Hhhh” Cyntia hanya garuk-garuk kepala dan tersenyum.
“Iya sih, aku sering lihat Ipang sedih dan terlalu menerima keadaan” gumam Kia lagi mengingat banyak hal menyedihkan yang Kia lalui bersama anaknya. Kia memang merasa lemah dan banyak berdosa ke Ipang.
“Ya terus kapan kamu bilang, ya mau jadi istrinya?” tanya Cyntia kembali mempengaruhi Kia.
“Ih apa sih? Dia suami orang Cyn! Hubungan kami akan terus seperti ini, kita cukup menjadi partner, sama- sama bahagiain Ipang” jawab Kia datar.
“Ipang bahagia kalau kalian nikah!” tutur Cyntia menasehati.
“Tapi gue nggak mau Cyn jadi orang ketiga atau merebut kebahagiaan orang?”
“Memang kamu tahu rumah tangga mereka bahagia? Menurutku nggak” jawab Cyntia lagi.
“Hemmm, apa gue tanya ya? Bener nggak mereka mau cerai? Apa alasanya?”
“Kalau benar dan alasanya benar, apa kau mau menikah denganya?”
“Ehm..” Kia diam tidak menjawab.
“Oke diammu berarti iya. Gue akan selidiki, kenapa Aslan nidurin lo tujuh tahun lalu itu?”
“Hoh?”
“Sebagai bayaran gue udah tinggal di sini” tutur Cyntia mengerlingkan matanya.
“Ishh, canda kali, gue nggak minta dibayar ini kan juga rumah Ipang” jawab Kia mengekerucutkan bibir.
“Iya, gue juga canda, gue pengen lo bahagia Ki, kasian anak lo tau” tutur Cyntia tulus. Cyntia memang ingin Kia bahagia, Cyntia bersedia membantunya.
“Aah kok lo so sweet sih?” tutur Kia merasa terharu, Cyntia memikirkan kebahagiaan Kia dan anaknya padahal hidup Cyntia lebih kacau.
“Iya dong!” jawab Cyntia masih stay dengan sifat ceria dan percaya dirinya.
Lalu mereka berpelukan.
“Lets drive yuk!” ajak Cyntia.
__ADS_1
“Ayuk, mandi dulu!”
“Oke!”