Sang Pangeran

Sang Pangeran
135. So sad.


__ADS_3

Tidak menyiakan kesempatan, dengan kecerdasan dan liciknya, Cyntia menutup wajah dengan kertas menu. Cyntia juga mengarahkan kamera ponselnya ke arah Paul dan Nicho. Mengambil bukti kalau dua orang tidak waras itu bergandengan bersama.


“Fiks, gue yakin, anak itu bukan anak Tuan Aslan! Awas aja lo macem- macem sama temen gue, dasar perempuan sundel!” batin Cyntia kesal.


Lalu Cyntia menurunkan kertas menunya setelah Paul dan Nicholas lewat.


“Foto ini cukup nggak yah? Buat jadikan bukti mereka berselingkuh?” gumam Cyntia berfikir memandangi hasil fotonya.


“Ah tapi ini kan hanya sebatas jalan berdua belum kuat, bukti selingkuh harus lebih intim paling nggak percakapan” batin Cyntia. 


“Gue harus bisa denger percakapan mereka. Tapi gimana caranya?” batin Cyntia lagi melihat sekeliling mencari ide. 


****  


Di dalam ruangan Paul. 


“Why This room Baby? Why in here?” tanya Nicho dengan tatapan kesal ke Paul. Nicho merasa kafe star light bukan tempat yang tepat untuk mereka bertemu. 


“Ya abis kamu susah banget dihubungi!” jawab Paul merasa jengkel. 


“Ini bahaya, Baby. Gimana kalau teman kita lihat jalan bareng? Kita bisa ketahuan!” tanya Nicho lagi. 


“Ya terus kenapa? Kenapa kalau ada yang lihat? Gue capek Nicho harus bersembunyi! Gue sekarang sendiri, gue udah cerai dari Aslan! Gue butuh lo. Gue pengen lo ada buat gue!” jawab Paul lagi terbawa emosi. 


"Sayang gue selalu ada buat lo!"


"Bohong! Lo selalu milih keluarga lo. Kapan lo ceraiin istri lo?"


“Hei..., ayolah! Sadar Sayang, bukankah kamu bilang kamu masih punya satu rencana lagi buat hancurkan dia. Kita harus tahan diri dulu!” jawab Nicho berkilah.


“Aku nggak mau tahan diri lagi kalau kamu cuekin aku!” ucap Paul merajuk merasa beberapa hari ini Nicho menjauh dari Paul. 


“Hei... hei... cuekin gimana sih? Sayang?” tanya Nicho lagi dengan rayuan mautnya mengambil hati Paul.


“Gue dari kemarin sakit, gue butuh lo. Lo nggak dateng ke rumah! Taik tau nggak!” gerutu Paul lagi merasa kesal. 


“Haish... anakku ulang tahun Baby, aku tidak mungkin pergi darinya, bisa curiga istriku kalau aku pergi. Dia tahu jadwalku! Tolong mengertilah!” jawab Nicho lagi berusaha merayu lagi.


“Anak yang ada di perutku juga anakmu!” jawab Paul kemudian. 


“Ssstt jangan keras- keras!” ucap Nicho dengan wajah pengecutnya. 


“Kenapa memangnya? Aku mau kamu mulai sekarang harus prioritasin aku. Bukan hanya anak dan istrimu itu! Aku dan bayi ini juga butuh kamu!” ucap Paul lagi menuntut perhatian Nicho. 


Nicho diam dan menggaruk kepalanya. 


“Oke Baby. Aku janji, mulai sekarang aku akan prioritaskan kamu dan Baby kita. Tapi kamu masih ingat kan rencana kita?” tanya Nicho menanyakan rencana jahatnya.  

__ADS_1


Paul diam tidak lagi merajuk.


“Anakmu belum selesai ikut acara Bintang kecil bukan? Kamu tidak mau karirku hancur bukan? Kita tetap harus jaga hubungan kita ini, setelah kita berhasil buat mantan suamimu itu yang hancur! Baru kita go publik, oke?” ucap Nicho pelan ke Paul menghasut.


Nicho memang licik, sebenarnya niat Nicho mendekati Paul karena mengincar hartanya. Bahkan Nicho ingin bayi di kandungan Paul digugurkan dan Nicho sudah merencanakan hal itu. 


Tapi sebelum itu semua, dia mengelabuhi Paul agar Nicho tidak dikejar disuruh bertanggung jawab. Nicho menghasut Paul untuk membalas dendam menghancurkan Aslan dulu dan mengakukan anak itu anak Aslan.


Nicho mengajari Paul, agar nama dirinya dan Paul tetap baik, tidak dituduh selingkuh. Paul disuruh berbohong dan mengaku ke media kalau Kia lah yang orang ketiga di rumah tangganya.  Paul dan Nicho ingin orang lain membenci Kia dan Aslan.


“Bagaiamana? Kamu mengerti kan? Ingat perasaan Alena, Baby! Mengertilah kenapa aku jaga jarak dari kamu!” tutur Nicho lagi mengedikkan matanya. 


“Aku takut!” jawab Paul dengan ekspresi lemahnya.


“Apa yang kamu takutkan, Sayang? Sekarang kamu punya semua. Perusahaan dia jadi milikmu kan?” tanya Nicho lagi licik.


“Aslan bukan orang yang bisa kita remehkan! Dia bisa serang kita balik. Dia cukup tangguh untuk dijadikan lawan kita. Perceraian kami berjalan sesuai mau dia karena dia juga tahu tentang kita!” jawab Paul jujur. 


Sebenarnya alam hati kecil Paul, Paul mengakui kehebatan Aslan, bahkan Paul sempat dan masih menginginkan Aslan sungguh menjadi suaminya.


Paul juga sudah cukup menyadari kalau dirinya akan banyak kalah dari Aslan.7 tahun mengenal Aslan, Paul tau Aslan meski tidak seluruhnya. Kebodohan Aslan adalah dia terlalu sayang pada Ayahnya. Sekarang tidak lagi.


Tapi Nicho terus menghasut dan meyakinkan Paul. Aslan tidak sekuat itu. Paul juga cukup stress dan khawatir menghadapi orang tuanya. Apalagi saat Paul mendengar Aslan dan Kia sudah menikah. Paul semakin kehilangan akal sehatnya.


Paul saja belum mengatakan pada Alena kalau Daddy yang Alena idamkan sudah bukan Dady nya lagi. Paul sangat frustasi dan stress dengan permasalahanya.


Paul tidak bisa berfikir lagi ditambah fisiknya yang lemah karena kehamilanya. Semua yang Paul lakukan sekarang setiran dari Nicho. Saat ini hanya Nicho kiblat Paul.


Paul diam mendengarkan dengan tatapan bodohnya.


"Akui di media kalau itu anak Aslan. Dia yang meninggalkanmu! Semua jejakmu bersih. Jangan bodoh! Kalau sampai ada yang tahu itu anak kita. Bukan hanya karirku yang hancur, anakmu dirimu juga iya!” hasut Nicho lagi semakin meracuni Paul.


Rahasia yang selama ini Aslan tutup rapat tentang perceraianya, Nicho justru ingin membawanya keluar ke khalayak ramai.


Nicho tidak tahu jika Aslan tidak sendirian. Nicho tidak tau Aslan dikelilingi orang-orangan orang setia dan beruang.


Di otak Nicho, Nicho hanya ingin terus memanfaatkan Paul, menikmati tubuh indahnya dan membelikan apa yang Nicho mau. Tapi Nicho ingin namanya tetap baik keluarganya juga tetap utuh. 


“Bagaimana aku harus menjelaskan ke Alena?” ucap Paul lagi, terlihat sangat frustasi membayangkan anaknya akan sangat sedih.


Saat Nicho menyebut kata anak. Paul semakin menurut dan membenarkan kata Nicho. Paul tidak ingin membenci ibunya kalau Alena tahu ibunya yang salah. 


“Nah itu makanya. Jangan bodoh Sayang, dengan kamu umumkan hubungan kita! Yang ada anakmu akan membencimu. Bersikaplah kamu di sini adalah korban dari suamimu! Katakan dia meninggalkan kalian demi perempuan itu. Bereskan?” ucap Nicho lagi. 


“Iyah!” jawab Paul mengangguk. 


“Oke, so, jangan ulangi memintaku menemuimu di tempat umum begini!" tutur Nicho melihat sekeliling, selama ini mereka kan punya tempat khusus untuk bertemu.

__ADS_1


"Ya sory!" jawab Paul mengangguk sangat patuh pada pacar jahatnya itu.


"Pokoknya harus hati-hati. Ini bahaya buat kamu dan anak- anakmu! Begitu juga denganku! Oke?” rayu Nicho lagi. 


“Oke ..., tapi gue butuh Lo, Nicho. Dia anak lo! Lo nggak bisa dong cuekin aku gitu aja” ucap Paul lagi sambil mengelus perutnya.


“Ya, ya. I know about it. I love you so much Baby, mana mungkin aku akan biarkan kamu dan anakmu sendirian. But, kamu harus pikirkan kapan dan dimana kita harus ketemu, agar tetap aman. Kamu mengerti kan?” rayu Nicho lagi berkelit berusaha mencari pembelaan agar dia bisa lari saat dimintai tanggung jawab menemani Paul. 


“Terus menurut kamu dimana kamu akan menemuiku agar tetap aman?” tanya Paul lagi mengiba dan mencari solusi.


Di saat yang bersamaan, ponsel Nicho berdering. 


“Ssstt, tunggu sebentar, anakku telepon!” ucap Nicho menunjukan ponselnya kalau anaknya menelponya. 


Paul kemudian menggigit bibirnya menahan kekesalan, Paul sampai ingin menangis. Bahkan saat di depanya Paul harus mengalah dari anak dan istri Nicho. Sementara Nicho, menyalakan ponselnya dan menjawab panggilan dari anak dan istrinya.


"Hai Papi?" sapa Anak Nicho ceria.


"Hai Princesnya Papi. Kok tumben telpon?" jawab Nicho sangat ramah sebagai seorang ayah.


"Papi, Mami udah masak banyak buat Papi, Papi janji kan sama Tita untuk pulang cepat dan bacakan cerita!" tutur anak Nicho dengan lucu dan manjanya.


"Papi selesaiakan pekerjaan Papi dulu ya, Papi usahain pulang cepet. Daah Sayang, princesnya Papi." ucap Nicho mengakhiri teleponya.


Mendengar percakapan pacarnya begitu perhatian dengan keluarganya, sementara Paul tidak pernah mendapatkn kehangatan itu, hati Paul teriris. Paul tak kuasa menahan tangis sangat iri. Baik dari Aslan atau Nicho Paul tidak mendapatkan cinta.


"Ehm!" Nicho merasa bersalah melihat Paul menangis.


Nicho mendekat ke Paul, dengan tanganya Nicho mengelap air matanya lembut.


"I am sory Baby. Kenapa kamu menangis? Kamu tahu kan dari awal, mereka keluargaku?" ucap Nicho lembut.


Paul hanya menunduk menangis meratapi nasibnya.


"Please i am sory. Aku pulang dulu ya!" ucap Nicho lagi.


"Kapan kamu akan ke rumahku lagi? Aku butuh kamu?" tanya Paul lirih.


Nicho mengangguk dengan wajah palsunya.


"Besok aku kabari lagi ya!" bisik Nicho membelai lembut rambut Paul dan mencium kepalanya.


"Aku pulang dulu ya. I love you!" bisik Nicho.


****


"Oh my God. So sad!"

__ADS_1


Cyntia menghela nafasnya terbengong dalam posisi mengintip.


"Sangat menyedihkan! Nicho, he is so ****!"


__ADS_2