Sang Pangeran

Sang Pangeran
200. Lain kali saja.


__ADS_3

Setelah melakukan pekerjaanya di kantor. Aslan langsung menemui beberapa kolega yang akan menyiapkan resepsi pernikahanya. Aslan mau memberikan kejutan terindah untuk istri dan anaknya.


"Saya mau ini privat, hanya orang- orang terdekatku yang datang tapi tidak sedikit. Dan hanya kameramen kepercayaan yang boleh mengabadikan moment kami!" ucap Aslan dengan tegas. Kali ini Aslan bergerak sendiri bersama Pak Tomo sopirnya, karena Rendra bertugas melakukan konferensi pers.


"Siap Tuan!"


"Sudah berapa persen penggarapanya?"


"75 persen? Tuan ini laporan progres pekerjaan tim kami!" tutur owner WO profesional.dan ternama kepercayaan Aslan.


Wo itu kemudian menunjukan beberpa foto dan video kegiatan timnya yang sekarang sedang mempersiapkan proses resepsi Aslan dan Kia.


"Oke... lusa harus sudah beres!" ucap Aslan lagi bak maharaja yang titahnya harus diiyakan.


"Siap Tuan!" jawab sang owner wo..Meski dalam.waktu singkat, karena kolega Aslan banyak, semua bisa dikerjakan dalam waktu dekat dan sempurna.


"Oke manager ku akan kirimkan uang pelunasanya sianh ini!" tutur Aslan lagi sangat bertanggung jawab. Meski acara belum terlaksana Aslan sudaj melunasi semua yang berhubungan dengan pestanya.


"Siap Tuan. Terima kasih!"


"Ya!" jawab Aslan


Lalu Aslan pergi lagi....


"Benar ini alamatnya Pak?" tanya Aslan setelah tadi pagi meminta anak buahnya mencari alamat seseorang dari kehidupan masalalu Aslan.


Dan dalam.waktu singkat pula,anak buah Aslan menemukan alamat itu. Ya itu alamat ayah kandung Alena.

__ADS_1


Pacar pertama Paulina semasa gadis sebelum menikah dengan Aslan dan sebelum bertemu dengan Nicholas. Doddy Permana, dia dulu sama seperti Jeje, menjadi penyanyi band dan mengisi acara di beberapa talk show. Hanya saja seiring berjalanya waktu dan persaingan dunja hiburan yang semakib ketat. Dia sudah sepi Job.


Setelah putus dengan Paulina, Doddy juga lost kontak dengan Paulina. Doddy menikahi artis figuran yang juga sudah jarang mendapatkan peran. Kini mereka buka usaha kue, dengan mengontrak satu ruko kecil di pinggiran ibukota.


Aslan mengetahui jejak Paulina dan Doddy dari beberapa mata- matanya. Bahkan bukti perbuatan Paulina Aslan memegangnya. Hal itu juga yang Aslan berikan pada pengadilan sebagai bukti perselingkuhan Paul dan masih banyak lagi.


Aslan bisa saja menyebarkan semua bukti dan video itu, tapi segalak-galaknya Aslan. Aslan masih seorang manusia dan putra dari Ibu Andini seorang perempuan yang taat dan baik hati.


Menyebarkan video itu juga melanggar hukum. Jadi Aslan dan Rendra memilih mengeluarkan pernyataan dengan terhormat, tersirat tapi cukup kuat menjado bukti. Rendra dan Aslan tidak menyatakan secara langsung Paul selingkuh, cukup memberikan keterangan dan bukti yang akurat serta masuk akal, masyarakat yang menilai sendiri.


Kini Aslan sudah sampai di depan ruko kue kecil. Di atasnya terdapat plang besar bernama Cita Bakery.


"Ini Tuan rukonya!" ucap Pak Tomo.


Aslan diam memperhatikan ruko itu. Ternyata rukonya kecil, sudah begitu tampak sangat sepi padahal di depan pintu terdapat tulisan open/buka.


"Inikah sebabnya Paulina menutup rapat pintu mulutnya dari tentang Alena dan ayah kandungnya?"


"Kenapa Doddy bisa sedrastis ini kehidupanya? Bukankah dia dulu penyanyi yang digilai banyak perempuan? Beginikah roda kepopularitasan dan panggung hiburan? Yang bisa menerbangkan seseorang setinggi langit, dan segitu mudahnya terhempas rendah ke bumi sampai tak dapat dilihat lagi?"


Aslan terdiam lama di dalamnya. Entah kenapa sesaat Aslan mengingat betapa manisnya Alena. Alena yang terbiasa hidup dengan kemewahan. Apa tega Aslan membiarkan Alena diserahkan pada ayahnya?


Aslan kemudian teringat dirinya dan Pangeran. Walau bagaimanapun keadaanya. Seorang ayah dan anak yang mempunyai hubungan darah berkah diketemukan. Apapun keputusanya nanti, yang penting Aslan menunaikan kewajibanya, memberikan kebenaran setelah dirinya berani berbohong.


Aslan juga harus memberikan dan membuktikan tanggung jawab pada istri tercintanya. Aslan ingin rumah tangganya dan Kia berjalan sebagai mana mestinya, membina rumah tangga dengan landasan cinya dan janji suci tanpa berhutang janji dan kesalahan masalalu.


"Bagaimana Tuan?" tanya Pak Tomo membuyarkan lamunan Aslan..

__ADS_1


Pak Tomo juga merasa pegal menunggu Aslan teriam tanpa kata lebih dari setengah jam.


"Tunggu saya Pak!" ucap Aslan mantap mau menemui Doddy.


Aslan membuka pintu mobilnya, menginjakan sepatu mahalnya dan berjalan memasuki toko kue yang ada tulisanya openya itu.


Tidak ada orang, atau pelayan. Aslan pun masuk tanpa permisi, rupanya itu ruang kedap suara. Setelah masuk, langkah Aslan terhenti. Aslan mendengar sepasang suami istri sedang bertengkar.


"Mau sampai kapan Mas kita seperti ini? Hah? Kita butuh makan? Anak kita Cici butuh susu butuh pamper. Rayan juga sebentar lagi sekolah, kalau kita ngandelin toko ini mau makan apa kita?"


"Sabar Sayang!"


" Sabar! Sabar! Sabar gimana? Utang kita udah banyak! Mas harus kerja titik!"


"Ya kerja dimana?"


"Ya terserah aky nggak mau tahu? Atau aku aja yang bekerja? Oke aku akan kembali ke kafe itu!"


"Tidak! Siapa yang akan urus anak kita?"


Aslan menelan ludahnya mendengar semua percakapan itu. Aslan kemudian membalikan badanya dan memilih keluar lagi menuju mobilnya.


"Pulang Pak!" ucap Aslan


"Tidak jadi menemui orangnya Pak?" tanya Paj Tomo.


"Aku kangen istriku Pak. Lain kali saja kesininya!" jawab Aslan asal..

__ADS_1


__ADS_2