
Jika di kamaar Ipang diwarnai haru dan pilu, Kia yang mendidik anaknya untuk menghilangkan dendam. Berbeda di kamar yang lain. Suasananya penuh ambisi. Seorang ibu tampak mulai limbung dengan pertanyaan anaknya.
“Mom... Where did Daddy go?” tanya Alena dengan wajah cemberut.
Paul pun kelabakan mendengar pertanyaan Alena, Paul sendiri tidak tahu kemana Aslan pergi. Aslan tidak pernah menghubunginya. Yang ada Paul mendapatkan undangan sidang perceraian.
Paul bingung bagaimana menjelaskan ke Alena nanti. Momy dan Dadynya akan berpisah. Alena pasti kecewa. Dan kini Alena mulai menanyakanya.
“Ada Mommy di sini Baby, kenapa kamu menanyakan Dadymu? Apa kau tidak suka momy” jawab Paul mengalihkan.
“Why Mom? Kenapa Alena tidak boleh menanyakan Dady? Apa Dady sungguh akan meninggalkan Alena dan memilih anak udik itu?” tanya Alena lagi.
“No. Kamu akan tetap jadi anak Dady!” jawab Paul menanamkan bibit keyakinan yang salah.
“Alena kangen Dady Mom!” ucap Alena lagi.
Meski tidak dekat, dan sedikir cuek. Tapi Aslan tidak pernah kasar ke Alena. Jadi Alena tetap merasa Aslan sebagai ayah sungguhan yang dia rindukan.
“Iya Baby, secepatnya Dady akan menemuimu,” jawab Paul memberikan harapan dan menenangkan Alena.
“Mom, please, jangan bertengkar lagi dengan Daddy ya!” ucap Alena jujur mengungkapkan perasaanya sebagai anak.
Sebenarnya Alena sendiri menyadari dan memahami, kedua orang tua mereka tidak seperti orang tua yang lain. Alena juga sering merasa kesepian dan kurang kasih sayang. Itu sebabnya dia sangat benci Ipang. Alena sendiri merasa Ipang ancaman dan penghancur harapanya.
Pertengkaran laki- laki yang dia panggil Dady dan Momynya yang membuat Alena berjiwa keras dan kasar. Belum lagi Alena yang kurang kasih sayang, membuat dia juga menjadi anak yang tidak mengenal kasihan.
Alena menjadi ambisius karena tidak mempunyai tempat mengendalikan emos. Dia mudah marah dan semaunya sendiri. Alena juga melakukan hal- hal di luar kebiasaan anak kecil, demi mendapatkan kepuasan dan perhatian. Bahkan pemikiran Alena sering tercemari pemikiran orang dewasa karena tontonan yang tidak sesuai.
“Sudahlah tidak usah bahas Dadymu, sekarang bersiaplah, ingat kamu harus menang” jawab Paul tidak punya banyak kata untuk menjelaskan ke anaknya.
“Ya Mom!” jawab Alena.
“Ingat. Jangan sampai dikalahkan sama anak itu!” tutur Paul lagi semakin menanamkan ambisi di hati Alena.
“Iya Mom, apa Alena boleh tanya lagi?” ucap Alena lagi.
“Tidah usah banyak tanya ayo berkemas” jawab Paul menyembunyikan paniknya.
Meski Paul tampak berani dan sombong sebenarnya Paul kelabakan dan panik. Tidak bisa disembunyikan Paul juga tidak mau membuat anaknya sedih dan tidak punya ayah.
“Apa anak laki- laki itu sungguhan anak Dady, Mom?” tanya Alena polos ngotot tetap tanya ke Paul.
“Dia anak Dadymu atau bukan, tidak usah kamu pedulikan. Satu hal yag terpenting, semua orang tau kamu anak Dady, dan kamu harus tetap jadi anak Dady. Jangan mau kalah dengannya dan kamu harus singkirkan dia. Dan kamu harus berusaha mengambil hati Dady, mengerti?” tutur Paul meracuni anaknya lagi dengan pemikiran yang salah.
__ADS_1
“Iya Mom” jawab Alena menurut saja.
“Apa kamu pernah menghubungi Dady mu?”
“Pernah Mom”
“Apa Dady membalasnya?”
“Iya Mom, tapi Dady tidak katakan dimana, dan itu sudah beberapa minggu yang lalu”
“Kalau kamu tidak mau kehilangan Dadymu, dengarkan Momy, bersikap baiklah terhadap anak laki- laki itu di depan Dady, dan kamu juga harus dekati Dady, oke”
“Aku harus baik ke anak udik itu?” tanya Alena cemberut.
“Ya”
“Mom!” seru Alena merasa enggan baik ke Ipang.
“Itu satu- satunya jalan, kalau kamu mau dady tetap menemuimu. Selanjutnya nanti Mom kasih tau lagi, anak Momy pintar kan? Tau maksud momy”
“Hmmmm. Ya Mom” jawab Alena bersedekap dan menghela nafasnya kesal.
“Ayo berangkat. Kamu harus berlatih dengan giat dan kamu harus menang!”
Sama seperti Ipang, Alena harus pergi ke rumah mentornya. Mentor Alena adalah Alexa, penyanyi perempuan yang sudah go internasional. Diapun berteman dan kenal dengan Paul. Tentu saja Paul sangat senang, hanya saja Alexa dekat dengan istri Nicholas.
Setelah Alena berangkat, Paul pun menuju ke mobilnya. Paul berniat mendatangi rumah mertuanya, yang sebentar lagi akan berbeda status dan hubungan keluarga.
“Gue nggak akan biarkan mereka bahagia. Lihat saja, aku harus mencari cara buat hancurin mereka. Dasar perempuan sampah, beraninya kamu merebut boneka pajanganku. Aslan harus tetap dalam kendaliku, Alena harus tetap punya ayah. Begitu juga adiknya” batin Paul mengelus perutnya sambil memegang kemudi mobil. Wajahnya menampakan kelicikan.
****
Di dalam kendaraan privat sahabatnya Aslan menyandarkan kepalanya dengan nyaman. Kupingnya dia tutup dengan headset.
Kabin pesawatnya tampak lega, dingin, wangi dan bersih. Bahkan Aslan bebas menggerakan badanya mau tidur dengan posisi apa, karena di pesawat itu hanya ada dirinya, Marcel, asisten Marcel dan beberapa kru pesawat.
Marcel dan asistenya tampak sibuk membicarakan sesuatu terkait pekerjaan Marcel. Aslan yang hanya menumpang pun tidak mau mengganggu. Dia memilih tempat menjauhi Marcel dan asistenya.
Aslan memejamkan matanya, dan saat terpejam bayangan dunia yang akan dia datangi itu muncul. Dua bulan lebih dia meninggalkan kampung halamanya, tentunya beserta orang- orang yang selama ini menemainya. Dan yang lebih utama, dua orang yang baru saja datang tapi berhasil memenuhi dan mengobrak- abrik hatinya.
“Apa kabar Kia? Pasti dia akan lebih cantik dan berisi? Dia kan sekarang lebih terjamin dan nyaman” batin Aslan tersenyum sendiri.
Rasanya Aslan sudah tidak tahan melihat perempuan yang selalu memajukan bibirnya saat bersamanya. Jika Kia lebih gendut pasti akan lebih cubby dan imut. Kapan Aslan bisa menyentuh dan mencubit pipi itu. Pasti menyenangkan.
__ADS_1
Lalu di otaknya terbayang anak tampanya. Memeluknya, mendekapnya akan sangat membahagiakan. Aslan juga sudah menyiapkan hadiah untuk Ipang.
Aslan sempat membelikan jersey couple untuk anaknya, saat Aslan berkunjung ke negara sahabatnya dan menonton sepak bola team favorit dirinya dan anaknya. Karena kebetulan selera mereka sama, Ars*nal, anak bapak itu The Gunne*s.
Tidak menunggu lama, karena kendaraan yaang dia tumpangi begitu nyaman dan dingin, Aslan masuk ke dunia lain. Dimana dia temui dua orang yang akhir- akhir ini terus datang ke ingatanya.
Dan dalam dunia mimpinya itu Aslan menemui hari indahnya. Hingga tanpa sadar saat Marcel membangunkan Aslan, celana Aslan basah.
“Bangun, Bro” tutur Marcel membangunkan Aslan.
“Emmt, apa sih lo!” Aslan menggeliat. Lalu menatap kesal ke sahabatanya itu, karenanya Aslan harus melepaskan dunia indah dan impianya yang hangat dan hampir terasa nyata.
“Bangun udah sampai” ucap Marcel lagi.
“Sampai mana?” tanya Aslan kesal belum sadar sepenuhnya, rasanya tidak rela harus menerima kenyataan. Kini dia sendirian dan yang datang malah sahabatnya yang play boy itu.
“Ke negara lo lah! Gue baik kan? Gue anter lo nih, jalur penerbangan kan gue alihkan buat anter lo dulu” tutur Marcel memberitahu.
Mendengar penuturan Marcel, Aslan langsung membulatkan mata, menegakan posisi duduknya dan melihat keluar, di luar langit sudah menghitam, tapi tetap tampak cerah karena sorot lampu bandara.
Ya Aslan mengenal bangunan megah di sebrang sana itu. Bandara Internasional di negaranya yang dia tinggalkan dua bulan lalu. Aslan pun menarik kedua sudut bibirnya ke kanan dan ke kiri melebihi tiga senti. Memancarkan aura kebahagian yang sangat banyak ke sahabatnya itu.
Aslan langsung bangun. “S*it” umpat Aslan menyadari celana basah.
“Kenapa?” tanya Marcel tersinggung mendengar Aslan mengumpat.
Lalu secepat kilat Aslan mengubah ekspresinya, berdiri tegak dan menepuk bahu Marcel dengan bangga. Aslan bakal dimaki Marcel kalau Marcel tau apa yang Aslan alami.
“Thanks Bro, lo emang kakak gue” ucap Aslan.
“Bener?”
“Ya bener lah!”
“Nggak! Lo harus bayar” jawab Marcel iseng.
“Siap, lo mau apa?”
“Kalau gue berkunjung ke rumah lo, lo harus siapin sajian cantik buat gue” ucap Marcel tersenyum nakal.
“Beres” jawab Aslan maksud mau Marcel.
Lalu mereka berdua pun turun, Marcel mengantar Aslan sampai Rendra datang. Menghabiskan kopi dan rokok di salah satu kedai di bandara itu.
__ADS_1