Sang Pangeran

Sang Pangeran
129. Rencana Aslan


__ADS_3

“Jadi Abang udah nggak ada urusan dan hubungan apapun dengan perempuan itu?” 


Nafas Kia yang sesak melonggar, selembar kertas yang buat banyak orang menjadi kertas kutukan atau bahkan kertas yang dibenci Tuhan. Buat Aslan dan Kia itu kertas pusaka yang sangat berharga.


Bertahun- tahun Aslan menginginkan kertas itu tercetak, tapi selalu bimbang Aslan tentukan karena kertas itu seharga perusahaanya dan nyawa ayahnya. 


Semenjak bertemu Ipang dan Kia, Aslan seperti menemukan dunianya. Ada harga yang setimpal dan sama berat dari perusahaan dan nyawa Tuan Agung. Kehidupa, cinta Ipang dan Ibunya ternyata lebih mahal dari apapun. 


Bukan Aslan tidak sayang pada Tuan Agung, tapi Aslan berfikir, Aslan bercerai atau tidak bercerai, nyatanya Tuan Agung memang sakit- sakitan, Aslan juga merasa perintah ayahnya tidak masuk akal. Nyawa juga ada di tangan Tuhan bukan berdasar perceraian Aslan. 


“Iya, Sayang, Abang tidak ada hubungan apapun dengan Paul lagi. Abang juga memenuhi perjanjian yang Papa Abang minta, Abang memenuhi janji Abang ke kamu dan ayah Abang juga!” tutur Aslan lagi. 


Kini Aslan merasa sangat ringan, seperti melepaskan segunung beban berat yang selama ini menempel di pundaknya. Otak dan kepala Aslan adalah hari indah bersama perempuan cantik di depanya ini.


“Kapan Abang daftar nikah ke KUA?” tanya Kia lagi tidak mau menunda. 


Kia juga mau Aslan menjadi miliknya seorang. Kia juga mau menjadi istri yang berharga, ada pengakuan hukum yang jelas, dan bermartabat. 


“Sekarang lah. Tapi kan kamu urus dulu ktp mu, kamu harus pindah domisili. Makanya Abang pulang, Abang mau aja kamu. Ayo kita urus berkas pernikahan kita secepatnya!” ucap Aslan lagi. 


Kia menggigit bibirnya kelu. Lelaki di depanya sungguh memperjuangkan Kia. Kia ingin berterima kasih dan memeluknya, tapi kemudian Kia tahan, Kia masih sangat sakit mengingat lebel perempuan murahan, simpanan dan bayaran di dirinya. Kiapun menahan diri untuk tidak terlalu agresif pada suaminya. Padahal Kia tidak perlu merasa seperti itu, yang penting kan bagaimana hukum Tuhan untuknya. 


“Makasih Bang!” ucap Kia akhirnya hanya memberikan ucapan terima kasih, bukan pelukan atau kecupan mesra. 


“Jelasin dulu, kenapa istri Abang menangis hah? Apa ada yang menyakitimu? Apa yang buat istri Abang sedih huh?” tanya Aslan lagi menatap wajah Kia yang mulai cerah lagi. 


Kia diam, Kia memang ingin cerita ke Aslan tentang Jeje, tapi darimana ceritanya. Hal terpenting untuk Kia sekarang adalah buku nikah, bukan yang lain. 


“Nanti Kia cerita, katanya Kia harus urus keperluan kita, Kia siap- siap dulu!”jawab Kia. 


“Pesawat ke kota Y masih satu jam lagi, ceritakan dulu!” ucap Aslan. 


“Kita ke kota Y?” 


“Kita kan harus urus surat keterangan dari kantor tempat tinggalmu sebelumnya Sayang, memang kamu nggak mau undang sahabat dan teman- temanmu juga kalau kita menikah nanti?” tanya Aslan tersenyum. 


“Maksud Abang?” 

__ADS_1


“Ya syarat nikah dan pindah domisili juga kan butuh berkas dari temat tinggalmu dulu.” Ucap Aslan menjelaskan. 


“Bukan yang itu, yang setelahnya!” 


“Di hari bahagia kita nanti, memang kamu nggak mau ada sahabat- sahabat kamu?” 


“Hari bahagia kita?” 


“Ya, Abang pingin kita nikah di Resort Abang, kita adain resepsi dan pesta kecil- kecilan. Ajak sanak saudaramu!” ucap Aslan lagi ternyata jauh di luar dugaan Kia. Aslan menyiapkan pesta indah. 


“Kita mau ada resepsi?” tanya Kia lagi. 


“Iya dong Sayang. Kamu perempuan berharga buat Abang, Abang mau kamu merasakan hari istimewa seindah mungkin. Ini pernikahan pertamamu kan?” tanya Aslan lagi. 


Kia benar- benar terharu dengan kebaikan Aslan. Kia tidak pernah menyangka, ayah Ipang yang menurut Kia dulu tidak mungkin digapai, gila galak dan menyebalkan ternyata memberinya cinta yang luar biasa dan berlimpah . 


“Abang kan sekarang udah bukan pimpinan Nareswara lagi? Abang mau adain resepsi uang darimana? Abang jangan boros, Kia Cuma mau Ipang bahagia punya ayah dan ibu Bang!” ucap Kia polos masih belum tahu, yang namanya real sultan banyak harta tersembunyi yang tidak bisa dibayangkan dan dihitung manusia normal seperti Kia. 


“Ck!” Aslan hanya berdecak merasa Kia lucu. 


“Nggak usah khawatir, akan ada banyak yang mikirin Abang, sahabat Abang kan juga banyak!” ucap Aslan lagi. 


“Apalagi?” 


“Apa kata orang kalau nanti ada yang tahu kita adain pesta padahal Abang baru bercerai, Kia juga takut apa kata orang kalau tau tentang Pangeran?” tutur Kia lagi, Kia sedang menstruasi jadi sangat sensitif dan berfikir terlalu jauh dengan perasaan. 


Aslan kemudian menghadap ke Kia, dipegangnya lembut kedua tangan Kia. Aslan menggenggam tangan Kia dengan penuh keyakinan, mengalirkan semangat dan kepercayaan diri pada Kia. 


“Sayang dengerin Abang!” 


“Ya Bang!” 


“Bahagia itu ada di sini! Ada di hidup kita, ada di hati kita, bukan apa kata orang? Memang siapa yang mengatai kamu? Siapa yang peduli dengan perceraianku dan Paul. Apa urusan mereka terhadap kita? Heh?” 


Aslan mencoba mengajari Kia untuk berfikir cerdas dan tidak baperan. Sebenarnya Kia juga cukup terlatih menghadapi ujian semacam itu, tapi sisi kewanitaanya tetap dominan, Kia masih dihantui dianggap pelakor oleh banyak orang. 


Kia diam tidak menjawab. 

__ADS_1


“Mulai sekarang, fokus ke kehidupan kita, bahagianya kita. Hidup kita bukan dari omongan orang. Kalau kamu mikirin omongan orang capek sayang. Mengerti?” ucap Aslan lagi. 


“Tapi Kia bukan pelakor kan Bang?” 


“Astaga! Abang bukan milik Paul, Paul punya laki sendiri Sayang. Justru Abang yang dihianati! Siapa yang berani ngatain kamu pelakor biar nanti abang yang jawab!” ucap Aslan lagi. 


“Ya udah Kia mandi dulu ya!” 


“Belum jawab pertanyaan Abang, kamu menangis kenapa?” 


“Kia ketemu orang yang buat Kia dulu terima job buat ketemu Abang!” tutur Kia akhirnya sambill menundukan kepala.


Kia malu ingat dulu pertemuan pertamanya dengan Aslan karena uang. 


Mendengar perkataan Kia, Aslan bukanya marah malah tersenyum lebar. 


“Oh ya? Ketemu dimana? Abang boleh ketemu nggak? Abang pengen banget ketemu sama orang itu!” tanya Aslan memberikan tanggapan berbeda di luar dugaan Kia. Kia pun langsung mengangkat wajahnya tersentak dengan ucapan Aslan. 


“Abang mau ketemu dia? Ngapain?” tanya Kia. 


“Mau ucapin terima kasih!” jawab Aslan santai. 


“What? Abang coba ulangi lagi!” 


“Ya, Abang mau ucapin terima kasih!” jawab Aslan lagi. 


“Bang, dia orang jahat yang udah buat Kia terjerumus harus relain harga diri Kia! Kok Abang mau ucapin terima kasih?” 


“Lhoh! Apa salahnya?” 


“Salah lah Bang, dia udah jaha ke Kia! Dia nyakitin Kia! Hancurin mimpi Kia!” 


“Tapi dia kan yang buat kamu datang ke abang, dia juga yang buat ada Ipang di antara kita!” 


“Kok Abang mikirnya gitu?” 


“Terus gimana? Kamu nyesel ketemu Abang?” tanya Aslan justru salah paham. 

__ADS_1


"Bukan tentang itu. Abang nggak tahu sih?" jawab Kia kesal. Bisa-bisa Aslan bilang begitu, tidak tahu kalau Jeje juga mengincar tubuh Kia.


__ADS_2