
Di tempat lain.
Rendra meregangkan tanganya ke kanan dan ke kiri. Aslan benar- benar tidak berubah, sukanya memberi tugas banyak, maunya beres aja. Untung, Rendra sabar kalau ke Aslan.
Rendra melirik jam tangan mahalnya, niatnya sih mau melihat sekarang jam berapa? Eh. Otak Rendra geser, tiba- tiba yang datang ke ingatanya bayangan wajah cantik si janda yang mengatainya bodoh dan kepedean.
“Haish!” desis Rendra cepat menyadarkan otaknya, kenapa mengingat perempuan yang menggagalkan cumbuanya sih?
Rendra berusaha mengusir bayangan Cyntia, tapi bayangan Cyntia datang lagi. Ingatan Rendra saat Cyntia nekat menciumnya malah datang begitu nyata.
Rendra kemudian mengusap wajahnya kasar, melawan hati yang tak berlogika. Rendra menghadirkan nalar warasnya lagi. Pacar Rendra adalah Meta bukan Cyntia, Rendra tidak boleh mengingat- ingat Cyntia.
Rendra merasa sudah menjalin hubungan yang dalam dengan Meta. Rendra berniat membawa Meta ke hubungan yang serius menuju ke jenjang pernikahan. Mengarungi kehidupan bersama. Melihat Aslan yang berubah drastis dan terlihat bahagia, membuat Rendra juga ingin mengakhiri masa lajangnya.
“Gue harus minta maaf ke Meta, Oh Tuhan, kenapa pacarku kenapa ngambekan banget” batin Rendra mengacak- acak rambutnya lagi.
Karena sudah jam 19.00 lebih. Rendra terpaksa menutup laptopnya. Padahal sebenarnya belum selesai, tapi Aslan pasti mengerti. Aslan juga bukan penjajah yang mempekerjakan orang tidak mengenal waktu.
“Gue harus belikan tas yang dia mau sekarang juga!” batin Rendra menuju ke tempat khusus menjual barang mewah itu.
Pesan Rendra memang belum dibalas, tapi Rendra tahu jadwal Meta mengunjungi pesta temanya jam setengah sembilan malam.
“Gue masih punya waktu!” batin Rendra.
Setelah beberapa menit, Rendra sampai ke toko itu. Masih dengan jas mahal yang membalut tubuhnya dan membuatnya terlihat cool, matang dan tampan, Rendra masuk. Semua pelayan menyambut Rendra hangat.
“Boleh liat yang terbaru Kak!?” tanya Rendra.
“Silahkan ikut kami, Tuan!” jawab Pelayan.
Karena barang mewa, barangnya juga limitid edition. Beberapa harus indent dulu. Kebetulan saat itu ada 3 buah tas yang tersisa. Satu tas harga tiga ratus juta sesuai mau Meta, satu lima ratus juta, satunya lagi harga satu milyar.
Rendra berfikir ingin meminta maaf dan memberi kejutan, jadi Rendra memilih yang harga paling tinggi dan barang paling mahal. Rendra memilih tas yang harga satu Milyar. Tas cantik warna hitam dengan bentuk unik dan elegan. Tidak terlalu besar tapi tidak kecil.
“Yang ini Kak!” ucap Rendra mantap memilih.
“Baik, yang warna hitam ini ya Kak!”
“Ya!”
__ADS_1
“Biar kami packing, kami siapkan sertifikat keaslianya dan siapkan notanya, mohon ditunggu sebentar ya Tuan!” ucap Kakak Pelayan.
“Ya!” jawab Rendra mantap.
Setelah menunggu beberapa saat Rendra dipanggil lagi. Tas mewah itu sudah dibungkus sangat rapih dan elegan.
Packagingnya saja sangat bagus, terlihat kalau itu tas mahal. Rendra juga mendapatakan surat asli tas itu, lalu Rendra dipersilahkan membayar. Tidak nyicil atau hutang, Rendra langsung transfer cash, lunas. Tanpa ragu Rendra membelanjakan 1 M tabunganya berniat untuk Meta.
Rendra sempat melihat story instgram Meta 2 jam lalu masih endorse makanan di apartemenya. Rendra yakin Meta masih di apartemen, karena tempat parti teman Meta di salah satu hotel dekat apartemen Meta.
Dengan semangat melebihi semangat juang 45 Rendra berjalan ke mobil. Menyalakan mesin mobilnya, saat hendak keluar Rendra ingat ponselnya.
“Ketinggalan di dalam sepertinya?” batin Rendra lalu keluar lagi.
*****
“Diorder ya!” Meta mengakhiri endorse nya.
“Udah kan?” tanya Will yang membantu Meta membuat video endorsan.
Will adalah seorang fotografer handal, dia juga mempunyai bar besar di luar negeri. Itu sebabnya dia sangat kaya, kenal dengan banyak artis dan mudah berganti pasangan, terutama model.
“Udah, gue tagih janji lo!” ucap Meta.
“Oke, ayuk, lets go!” jawab Will menyanggupi dengan ringan.
“Gue dandan dulu!” jawab Meta.
Meta kemudian masuk ke kamarnya memakai gaun pesta. Meta memilih dress merah dengan dada sedikit terbuka. Warna bibirnya juga merah menyala.
“Kok cantik banget sih?” tanya Will memeluk Meta.
“Gue mau dateng ke acaranya Steve!” jawab Meta.
“Gue juga diundang, kalau begitu bareng aja!” tawar Will
“No!” sanggah Meta tegas.
“Why?”
__ADS_1
“Gue nggak mau orang lain tahu kita ada hubungan, cowok gue udah kembali bucin ke gue, gue nggak mau nglepas dia. Dia mau kesini gue tolak, alasan gue, gue udah cabut ke acara Steve!” jawab Meta.
Will pun mengangguk setuju.
“Oke!” jawab Will.
Will lebih suka menjadi selingkuhan ketimbang diakui sebagai pacar, sebab Will hanya ingin bersenang- senang. Will tidak mau berkomitmen apalagi terikat.
“Pakai mobil sendiri- sendiri!” ucap Meta.
“Nggak usahlah! Pakai mobilmu aja nggak apa- apa, aku yang ngalah nanti, aku naik taksi ke sini buat ambil mobilku kamu langsung ke acara. Kita ke toko bareng aja ya!” tutur Will.
“Oke!” jawab Meta mereka pun segera menuju ke toko tas yang sama dengan yang Rendra tuju.
Ribet sebenarnya si Meta dan Will. Tadi siang mereka hampir membeli tas itu, tapi Meta ditelpon pihak produsen yang endorse ke Meta. Barang sudah sampai sejak satu minggu lalu, harusnya Meta sudah up di instagramnya, tapi Meta lupa.
Padahal uang sudah ditransfer dan harusnya sudah di up 2 hari lalu. Tidak mau bermasalah atau citranya jelek, Meta meminta Will pulang dulu dan memenuhi kewajibanya. Melalukan iklan produk meski telat.
Meta jadi baru sempat belanja tas sekarang. Meta juga sekalian mau pamer kalau tasnya benar- benar ori dan masih kinclong. Meta berfikir namanya di hadapan selebgram yang lain tidak boleh kalah.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit mereka sampai. Saking senangnya keinginanya mau tercapai, tidak ingat kekesalanya pada Will, kini Meta jadi lengket pada Wil. Meta juga tidak canggung menggandheng Will mesra layaknya pacar.
Will pun menyambutnya dengan hangat dan intim. Mereka memasuki toko itu tanpa malu bermesraan. Meta langsung memilih tas yang sesuai keinginan dan yang diarahkan pelayan mana yang kualitasnya bagus.
“Pilihlah yang kamu suka, Baby!” bisik Will sambil mengelus pinggang dan bokong Meta yang menawan. Mereka terus menempel seperti pasangan.
Di saat yang sama, Rendra yang tadi ponselnya tertinggal berjalan tergesa mencari ponselnya. Rendra memeriksa di setiap tempat yang dia singgahi.
“Maaf Kak liat hp tertinggal di sini nggak ya?” tanya Rendra membuat semua menoleh.
Dheg
Meta dan Will yang berpelukan mesra ikut menoleh. Tepat di hadapanya, dan dengan mata telanjangnya, Rendra menyaksikan Meta bermesraan dengan Will.
“Rendra!” pekik Meta langsung pucat.
Rendra tidak bisa berkata- kata. Mulut Rendra tercekat, mukanya langsung merah padam. Saat belum melihat wajahnya, samar- samar Rendran juga sudah melihat mereka berjalan bermesraan. Sekarang pun tatapan Rendra tertuju ada tangan Will yang masih memegang pinggang Meta dengan nyaman.
Mereka bertiga kemudian saling tatap, suasananya tegang. Rendra mengeratkan rahangnya sambil menelam ludahnya.
__ADS_1
“Oh, apa ini ponsel anda, Tuan?” tanya pelayan menyela, memberikan ponsel Rendra yang memang tertinggal saat Rendra duduk menunggu.
Rendra tidak menghiraukan kata pelayan. Rendra dikuasai rasa sakit, kecewa marah cemburu yang bercampur menjadi satu. Rasa amarah tak terkendali. Tangan Rendra mengepal, dan Rendra langsung memberikan bogeman itu ke Will.