
Kia segera mundur dan menjauh. Menyaksikan dua orang laki- laki berkelahi di depannya. Kia mengedarkan pandangan ke sekitar mau minta pertolongan.
“Tolong” teriak Kia meminta bantuan agar perkelahian segera berhenti dan ada yang menengahi.
Mendengar Kia berteriak, dan tentu saja itu bisa megancam karir dan kehidupan Jeje. Jeje kemudian mengambil ancang- ancang kabur dari Rendra.
“Woy.. jangan lari ba*gs*t!” teriak Rendra mau mengejar dan belum puas memukul lelaki berkelakuan menyebalkan.
Tapi kemudian Rendra ingat, tugasnya hanya memastikan wanitanya Tuan sekaligus saudara dan sahabatnya selamat dan pulang dengan tenang. Rendra kemudian menoleh ke Kia dan menghampirinya.
“Terima kasih sudah menolongku!” ucap Kia.
“Ini sudah tugas saya Nyonya! Saya harus memastikan Nyonya aman” jawab Rendra.
“Hoh?” jawab Kia terkejut, “Tugas?”
“Mari ikut saya, saya akan mengantar Nyonya pulang!” ucap Rendra lagi mengajak Kia menuju ke mobilnya.
“Ehm. Ya!” Kia hanya mengangguk dan nurut saja, karena waktu itu memang sudah malam, dan Kia trauma ketemu Jeje lagi.
“Silahkan Nyonya!”tutur Rendra hormat membukakan pintu mobil tengah ke Kia.
Kia menurut masuk ke mobil mewah yang baru pertama Kia naiki. Kia sendiri menjadi salah tingkah, dia diperlakukan istimewa sebagai Nyonya, padahal dia bukan siapa, siapa.
“Ini pasti Aslan kan di belakangnya?” batin Kia sambil duduk, ada bahagia,tapi Kia juga ragu, apa dia pantas menikmati semua perlakuan itu. Lalu apa salah jika Kia ingin menerima semua itu.
“Sudah siap Nyonya? Pakai sabuk pengamanya!” ucap Rendra.
“Ah iya!” jawab Kia.
Lalu Rendra melajukan mobilnya dengan kencang. Selama di perjalanan mereka saling diam. Rendra memang tidak terbiasa mengobrol dengan perempuan meski dia punya pacar, apalagi perempuan yang diincar bosnya.
Sementara Kia sebenarnya menyimpn banyak tanya. Tapi melihat Rendra tampak sangat serius, Kia memilih diam. Karena malam dan ngebut tidak lama mereka sampai di rumah baru Kia, lebih tepatnya rumah Aslan yang dicitakan menjadi tempat menua bersama Kia.
“Lain kali jangan pergi malam- malam sendirian Nyonya!” ucap Rendra saat mematikan mesin mobil di depan rumah Kia.
“Lalu dengan siapa aku harus pergi?” jawab Kia polos.
“Ehm!” Rendra berdehem. Meski dari kejauhan karena tirai jendela di buka, di dalam rumah Rendra bisa melihat Cyntia dengan pakaian seksinya sedang mondar mandir membaca naskah dan memperagakan peran, sangat lucu.
Sebenarnya Rendra juga kaget Cyntia tinggal di rumah Kia. Tapi di tahu masalah Cyntia, mungkin itu lebih baik untuk keselamatan Cyntia tinggal di rumah Kia.
“Teman Anda sepertinya tidak sibuk Nyonya. Jika hendak bepergian malam, hubungi saya, Nyonya!” tutur Rendra lagi.
“Kenapa begitu?” tanya Kia.
“Karena itu tugas saya!”
__ADS_1
“Tugas bagaimana?”
“Iya, itu bagian dari tugas saya”
“Siapa yang menyuruhmu? Kenapa begitu?” tanya Kia ingin mendengar Aslan yang memintanya.
“Tentu saja Tuan Aslan” jawab Rendra.
“Ehm!” Kia berdehem wajahnya memerah karena bahagia.
“Kenapa dia menyuruhmu?” tanya Kia lagi.
“Kenapa anda tidak tanyakan langsung pada beliau Nyonya!” jawab Rendra.
“Bagaimana aku bis bertanya, aku tidak melihatnya” jawab Kia lirih.
“Jangan terlalu naif dan terlalu berburuk sangka pada Tuan kami Nyonya” jawab Rendra tersenyum memberikan kartu nama ke Kia.
“Hoh?” ucap Kia terbengong. Dirinya dikatai naif dan berburuk sangka. Lalu Kia menerima kartu nama Asla dan di belakangnya sudah Rendra bubuhi nomer teleepon pribadi.
Rendra turun membukakan pintu mobil Kia. Lalu mempersilahkan Kia turun.
“Selamat malam dan selamat beristirahat Nyonya!”tutur Rendra sopan.
“Iya terima kasih!” jawab Kia mengangguk kaku.
Rendra menutup mobilnya kemudian berlalu pergi. Dengan memegangi kartu nama Aslan, Kia menatap mobil Rendra pergi sampai tak terlihat.
Lalu Kia masuk ke rumahnya. Cyntiapun sudah menodong Kia dengan banyak pertanyaan terlihat dari sorot matanya. Apalagi Cyntia juga melihat Jeje.
“Kenapa Lo melotot gitu?” ucap Kiaa kasar ke Cyntia. Tapi Kia tetap berjalan menuju ke kamar.
“Lo ketemu Jeje? Dia gimana ketemu lo? Lo pulang dianter siapa?” tanya Cyntia mengejar Kia dan membuntutinya.
“Gue mau bersih- besrih dulu, gue capek! Besok ya gue ceritainya!” jawab Kia mengacukan Cyntia.
Kiaa masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya kemudian bersiap dengan pakaian tidur. Sementara Cyntia yang sudah hafal Kia tidak akan bicara jika muutnya tidak baik tidak akan berbicara lebih memilih sabar menunggu.
Malam itu Cyntia lebih memilih tidur di depan tv, menyaksikan putaran film kesukaanya. Sementara Kia di dalam kamarnya. Kia terus menatap kartu nama Aslan di atas nakas.
“Dia pergi? Pergi kemana? Bahkan dia menyuruh sekertarisnya mengawasiku? Tapi kenapa dia jadi berubah. Sebenarnya apa mau dia?”
“Dia memberiku rumah, dia baik padaku, dia juga sungguh akan menceraikan Paul, apa benar dia mencintaiku?”
“Ya Tuhan, apa iya aku sebaiknya terima saja dia?”
Kia kemudian mengambil kartu nama di atas nakas itu. Lalu Kia memasukan nomor Aslan di dalam ponselnya.
__ADS_1
“Tapi dia tidak menanyaiku tentang menikah lagi. Aku sudah menolaknya. Ya, keputusanku benar kan? Aku memang harus menolaknya. Kita bisa menjadi orang tua yang baik tanpa menikah. Ah kenapa aku menyesal ya? Haish perasaan macam apa ini?”
Kia membatin sendiri lalu menelungkupkan wajahnya ke bantal. Bisa- bisanya tiba- tiba Kia berfikir mau menikah dengan Aslan.
“Kita berteman dan berdamai Kia. Ayo besarkan Ipang bersama-sama” batin Kia lagi.
Lalu Kia bangun, meski ragu- ragu, akhirnya Kia mengetik pesan untuk Aslan lewat ponselnya. Bahkan Kia menghbungi Aslan lebih dulu. Meskipun Kia mengetiknya berkali- kali dan dihapus diketik dihapus.
“Selamat malam, ini saya ibunya Ipang”
“Terima kasih”
Akhirnya Kia mengklik kirim ke Aslan. Dan secepat kilat laporan pesannya terkirim. Kia seperti abg yang baru pertama kali menghubungi ketua osis idolanya.
Melihat pesanya terkirim Kia malu sendiri. Melempar ponselnya dengan hati dheg- dhegan, harap- harap cemas akan dibalas apa.
Kia tidur tengkurap dengan kaki dihentak- hentakan. Melepaskan dheg-dheganya sendiri. Rasanya Kia benar- benar seperti muda lagi.
Di tempat yang jauh di sana laki- laki dewasa yang baru saja mematikan telepon mendengar laporan dari anak buahnya langsung menyunggingkan senyum.
Dia tidak kalah alaynya, mendapat pesan dari Kia untuk pertama kalinya seperti mendapat bintang jatuh. Sampai Aslan spontan bilang “Yeah” dan melempar ponselnya ke kasur karena tidak percaya.
Padahal isinya pesanya juga sangat singkat dan entah apa maksudnya.
Untung sahabatnya itu tidak jadi menemani Aslan. Jadi tingkah Aslan tidak ada yang melihat. Dengan dada yang dipenuhi bunga- bunga, Aslan membalas pesan Kia.
“Apa kau sudah pulang?”
Lalu Kia membalasnya.
“Sudah, terima kasih sudah menolongku dan menyediakan rumah untuk kami”
“Tinggalah dengan nyaman, apa kau bahagia?”
“Aku bersyukur”
“Bagaimana penampilan anak kita malam ini?”
“Apa kau tidak melihatnya? Ayah macam kau?”
“Tentu saja aku melihatnya, aku ada urusan tidak bisa kesana. Meski melihat tapi berbeda saat bertemu langsung, ceritakan padaku!”
“Tenang saja. Meski bukan yang terbaik, Dia selalu tampil baik seperti sebelumnya”
“Ya, dia memang anakku, dia sepertiku, dia hanya belum memaksimalkan kemampuanya”
“Hhh. Dia bukan hanya anakmu, aku yang melahirkanya, dia sepertiku!”
__ADS_1
Tanpa mereka sadari kecanggungan Kia hilang mereka lanjut chattingan sampai malam. Mereka menikmati chattinganya itu.
Padahal hanya saling berdebat dengan berbagai emot, dan Kia mulai menikmatinya. Bahkan meski jauh entah kenapa mereka merasa akrab dan dekat. Bahkan keduanya sama-sama senyum-senyum sendiri.