
Di jam yang sama di tempat yang berbeda.
Jalan yang lebar, dengan aspal yang halus mulai mobil Aslan tinggakan. Sinar lampu jalanan kota yang tertata rapi berbaris menjulang tinggi sehingga kilaunya gemerlapan menghiasi jalanan kota di malam hari juga sudah tidak ada lagi.
Kini mobil itu membelah jalanan gelap, sinarnya hanya dari sinar lampu mobil mahal Aslan. Untung mobil Aslan mahal jadi nyalanya terang.
“Pak ini benar jalanya ke kampung sawah?” tanya Aslan.
“Benar, Tuan!” jawab sopir.
Aslan melihat sekeliling, gelap. Pantulan lampu rumah warga terlihat agak jauh dari tempatnya. Mereka berada di jalan tengah sawah. Mereka memasuki kawasan pedesaan.
Mungkin nilai tatakrama Aslan dulu selalu remidi, atau mungkin Aslan tidak diajari tatakrama. Tidak memandang waktu mereka nekat tetap bertamu ke rumah Pak Dul Sentot, mantan karyawan ibu Aslan.
Tidak lama jalan sempit dan gelap itu mulai memendek, sinar lampu yang tadi terlihat samar mulai terlihat jelas, mereka kembali menemui area pemukiman warga. Pengacara Aslan kembali melihat google mapnya.
“Ini sudah sampai di kampung sawah, Tuan!” tutur pengacara Aslan.
“Sebentar! Tepikan dulu mobilnya!” jawab Aslan.
“Baik Tuan!” jawab anak buah Aslan dan menepikan mobilnya di sebelah kiri jalan, depan sebuah toko kelontong yang sudah tutup.
Yang tahu rumahnya kan Kia, sementara Kia terlelap di tempat duduknya. Sebenarnya Aslan tidak tega membangunkanya, tapi daripada mereka nyasar.
Aslan menoleh ke Kia, ditatapnya lembut wajah manis yang selalu menyihir Aslan menjadi bahagia saat di dekatnya. Memandang Kia bagi Aslan tak ada jemunya, entah berapa lama rasa itu bersemayam yang pasti sekarang lagi sayang- sayangnya.
“Sayang...” panggil Aslan sambil memegang dan mengusap pipi Kia, membangunkan dengan caranya.
“Mmmm” Kia sedikit menggeliat.
“Sayang, bangun! Kita sudah di sampai di kampung sawah!” ucap Aslan membangunkan Kia lagi dengan sedikit cubitan di hidung Kia.
Kia menepis tangan Aslan sebagai reflek tubuhnya. Kia kemudian membuka mata sedikit kaget, sebagai penyesuaian kembalinya kesadaranya setelah berpuluh- puluh menit Kia tertidur.
“Benar ini kampung sawah? Kita sudah sampai, mana rumah Pak Dul Sentot?” tanya Aslan setelah Kia membuka matanyanya dan tersadar.
Kia kemudian melihat ke arah luar dan memeriksa ke sekeliling.
“Itu Bang, tokonya!” ucap Kia menunjuk toko reparasi komputer di sebrang jalan tempat mereka berhenti.
“Oke, sepertinya lampunya masih menyala, dan masih ada motor di depan!” ucap Aslan, melihat masih ada motor terparkir meski tokonya sudah tutup.
Mobil Aslan bergerak maju mendekati toko itu. Tanpa ragu mereka turun dan mengetok pintu toko itu.
“Permisi, selamat malam!” ucap Pengacara Aslan.
“Maaf kami sudah tutup!” jawab seorang perempuan dari dalam. Rombongan Aslan dikira pelanggan.
Telihat dari celah jendela, perempuan itu berdaster dengan perut membuncit, dia tampak sedang melabeli sebuah laptop. Rupanya si pemilik toko sedang lembur.
“Kami ingin bertanya Nyonya!” jawab Pengacara Aslan lagi.
Perempuan yang terlihat dari dinding kaca itu tampak berdiri, tapi bukan membukakan pintu melainkan masuk ke dalam.
Aslan dan pengacaranya sedikit kesal ingin marah. Mereka merasa diacuhkan. Kia kemudian meraih tangan Aslan, menggenggamnya dan memberikan kedipan mata.
“Kita tunggu, Abang!” bisik Kia lembut sembari memberikan senyum manisnya.
Kia menjadi pengendali emosi Aslan yang suka bertindak sesukanya. Melihat senyum Kia yang begitu mempesona, Aslan selalu tersihir, meleleh dan patuh.
Meski tidak terlihat jelas karena hanya terlihat sedikit dari celah jendela, Kia menyimpulkan perempuan itu sedang hamil besar. Dia masih muda, sepertinya menantu Pak Sentot. Pasti dia takut kedatangan tamu malam-malam.
“Mas, ada tamu, Adek takut nemuinya kayaknya laki-laki!” perempuan itu terdengar seperti menghampiri suaminya.
Benar kan, perempuan itu takut, dasar Aslan bertamu tidak tau sopan santun. Sudah berjuang begini, mereka harus mendapatkan apa yang mereka mau.
“Siapa malam- malam begini datang?” terdengar suara jawaban dari suami perempuan itu.
Aslan dan pengacaranya menghela nafasnya lega. Kia kemudian menggerakan bibir dan mengedipkan matanya lagi, sebagai isyarat. “Benar kan kata Kia, sabar dulu jangan cepat marah!”
"Nggak tau, sok Mas yang buka. Adek takut!" jawab perempuan itu, meski mereka berbicara tidak keras tapi Aslan dan Kia dengar samar-samar.
Suami istri pemilik toko itu kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya. Laki- laki itu dan Aslan kemudian saling berhadapan. Saat mereka bertatapan dengan rombongan Aslan, lelaki itu tampak tertegun.
“Kia?” pekik laki- laki itu saat pandanganya jatuh ke wajah Kia.
__ADS_1
“Mas Azam?” pekik Kia bahagia.
Rupanya laki-laki itu anak Pak Sentot, sahabat kecil Kia.
“Hei, benar ini Kia?” tanya Azam lagi melangkahkan kakinya maju.
Mereka berdua tampak akrab. Seperti dua insan yang saling merindukan karena lama tak bertemu. Ekspresi wajar jika Azam dan Kia ingin menyambut dengan pelukan atau salaman, tapi langsung dicegah.
"Ehm!" Aslan bedehem kencang menghalangi si pria itu maju. Pria itu menghentikan langkahnya. Kia menoleh tidak nyaman tapi tetap menyambut bahagia pria itu.
“Iya, Mas, ini Kia. Ya ampun, Mas Azam, berapa lama kita nggak ketemu ya? Mas Azam apa kabar?” jawab Kia terlihat bahagia, bahkan Kia melepaskan genggaman tangan Aslan.
Kia maju, berdiri tegak mengacuhkan Aslan dan pengacaranya, tapi tetap menjaga diri untuk tidak bersentuhan. Meski begitu, tetap saja, wajah Aslan langsung menegang. Bagi Aslan, Kia bersikap seperti keganjenan ke Azam.
“Lama banget ya. Sejak kapan kamu berhijab, kamu tambah cantik!" Ucap Azam memuji, semakin membuat Aslan menegang.
"Ah Mas Azam nih!" jawab Kia tersenyum tidak peduli ada sepasang mata yang sedang melototinya.
"Ayo masuk!” ajak Azam sama saja tidak peduli Aslan ataupun pengacaranya. Azam tampak biasa saja akrab dengan Kia baginya tidak ada salah dengan keakraban mereka.
Azam fokus ke Kia, masuk nyelonong saja, dan Kia mengikutinya. Kia masih belum sadar juga, ada macan bertanduk sedang berdiri siap menyantapnya.
Saat Kia maju berjalan ke dalam, Aslan langsung meraih tangan Kia. Aslan seperti enggan.
“Apa sih, Bang? Ayo masuk!” jawab Kia melepaskan tangan Aslan dengan ekspresi polosnya.
Kia kemudian masuk ke toko elektronik itu dan duduk di kursi antrian pelanggan toko. Mau tidak mau Aslan masuk. Tapi suasana hati Aslan sangat buruk.
Aslan ingin marah, tapi tidak mungkin meluapkan marahnya di situasi itu mengingat waktu sudah malam dan harus menemukan jawaban pertanyaan tentang masalalu orang tuanya. Aslan mengikuti Kia dengan tatapanya yang tak lepas dari tubuh Kia itu.
“Maaf ya, berantakan lagi banyak orderan, ayok duduk!” ucap Azam ke Kia.
“Ya Mas, lagi lembur ya?” jawab Kia merasa bersalah.
“Iya, alhamdulillah!” jawab Azam. “Dhek, kemarilah!” panggil Azam ke perempuan hamil itu.
“Istri Mas?” tanya Kia berbisik.
"Iya!" jawab Azam.
Azam dan Kia masih saja asik ngobrol tanpa peduli yang lain, karena Azam memanggil istrinya, Kia tidak mau kalah. Kia meraih tangan Aslan, yang kaku.
"Ehm!" Aslan masih diam dilanda cemburu.
Azam mengulurkan tanganya, tapi dicueki Aslan sehingga dilanda kecanggungan.
"Bang!" bisik Aslan mencubit suaminya. Akhirnya Aslan mau bersalaman.
Istri Azam keluar mereka kemudian saling bersalaman dan berkenalan. Di situlah es Aslan mulai mencair.
"Ngomong-ngomong ada apa ya Ki? Kok lama nggak kesini ngagetin aja, dateng malam-malam begini?" tanya Azam kemudian.
"Sory Bang ganggu, ceritanya panjang. Tapi Kia perlu ketemu Pak Dhe!" jawab Kia.
Azam kemudian menatap ke Aslan dan pengacaranya. Untung semua berpakaian casual, jadi Azam tidak terlalu curiga atau takut.
"Kalau jam segini udah tidur. Penting sekali kah?" ucap Azam menampakan muka tidak berkenan, sehingga membuat Aslan dan Kia sedikit kecewa.
"Huum! Kita harus menemuinya sekarang, maaf ya!" jawab Kia mengangguk dan memohon.
"Kalau boleh tahu emang ada apa sih? Kenapa nggak besok aja?" tanya Azam melirik ke suami Kia yang daritadi memasang muka dingin.
Kia kemudian menoleh ke Aslan. Lelaki yang kini menjadi suaminya adalah bos di tempat kedua orang tua Kia dan Azam kerja, tapi pasti Azam tidak percaya kalau Kia cerita.
"Ehm!" Aslan berdehem, tidak nyaman, tangan Aslan mulai mengepal tidak sabar ingin menonjok Azam, Aslan merasa Azam memperlama tujuan mereka.
"Ada yang harus aku tanyakan pada Pak Dhe!" jawab Kia menyerobot sambil menggenggam tangan Aslan.
"Terkait apa?" tanya Azam lagi.
Karena sudah tidak tahan, Aslan dan pengacaranya menyela.
"Kami!" ucap Aslan dan pengacaranya bersamaan. Lalu Aslan memilih diam.
"Perkenalkan saya Faris, pengacara Tuan Aslan Nareswara! Ada beberapa hal yang harus kita konfirmasikan ke Bapak Dul Sentot! Tolong pertemukan kami segera!" ucap pengacara Aslan formal
__ADS_1
"Tuan Aslan Nareswara? Yang benar saja? Dia nyuruh kalian nemuin bapak. Kamu kenal Ki dengan mereka? Kok malam-malam begini sih? Nggak ada waktu lain apa? Ganggu tau. Nggak sopan!" tanya Azam tidak tahu kalau orang yang dimaksud ada di hadapanya.
Azam, mencurahkan perasaanya merasa keberatan ada yang mengganggu istirahat bapaknya.
"Ehm!" Aslan berdehem lagi, sementara Kia nyengir saja.
Aslan terlihat sangat risih dan geram tapi tidak mau buka suara. Kia tidak mau membuat Azam malu dan mati kutu, meski Sang Pengacara tampak geram ingin buka mulut, Kia menahanya, Kia terus menahan Aslan agar meredam emosinya.
"Yang penting antar sekarang ya!" jawab Kia memaksa.
"Baiklah ayo kuantar!" jawab Azam akhirnya menurut.
Mereka kemudian masuk ke pemukiman desa, mobil mereka masih terparkir di situ karena jalanya jalan setapak, hanya bisa dinaiki motor.
Azam berjalan di depan bersama istrinya, di belakangnya Pengacara Aslan, paling belakang Kia menggandeng Aslan. Sepanjang Aslan tampak kesal, kenapa sesulit dan seribet itu perjalananya.
"Abang sebenarnya kenapa sih?" omel Kia kesal.
"Udah gelap jauh lagi!" gerutu Aslan.
"Nggak usah ngeluh, Bang. Udah syukur mas Azam mau bukain pintu buat kita! Tolong dong Abang sedikit ramah!" ucap Kia memeperingati.
"Kamu nggak usah keganjenan sama dia. Sampai rumah, Abang hukum kamu!" bisik Aslan mengeluarkan marahnya.
"Wooh! Kia ganjen? Hukuman?" pekik Kia tidak terima.
Aslan tidak menjawab, karena ternyata mereka sudah sampai. Di depan mereka tampak rumah sederhana tapi tampak Asri. Tidak sempit tapi tidak terlalu besar, sudah permanen, sudah berkeramik, tampak bersih. Rupanya Pak Sentot hidup dengan baik dan layak.
Azam membuka pintu rumahnya, dan mempersilahkan mereka masuk.
"Silahkan duduk, ditunggu sebentar. Buatkan minum ya dhek!" ucap Azam ke tamunya dan ke istrinya.
Azam kemudian membangunkan ayahnya, Tidak lama, seorang laki-laki beruban dan mengenakan sarung keluar. Tampangnya sangat nyleneh dan tenang.
"Malam Pak Dhe!" sapa Kia.
Pak Sentot kemudian menatap Kia tersenyum. Pak Sentot tidak menampakan muka marah sedikitpun. Padahal Kia sudah dheg-dhegan karena mereka bertamu di jam yang salah.
"Apa ini kamu cah Ayu. Siapa kedua laki-laki ini?" tanya Pak Sentot pandanganya langsung tertuju pada Aslan. Pak Sentot masih kenal Kia.
Kia kemudian meraih tangan Aslan dan menggandengnya mesra.
"Iya, Pak Dhe. Ini Kia, Pak Dhe sehat? Dia suamiku, Pak Dhe!" jawab Kia bangga mengenalkan pria yang sedang keluar tanduknya itu.
"Benarkah?" tanya Pak Sentot tersenyum lagi menatap Aslan lagi.
"Iya, Pak Dhe, Kia sekarang sudah menikah!" jawab Kia lagi.
Aslan menganggukan kepala ke Pak Sentot memberi hormat.
"Pak Dhe bahagian kalian tumbuh dengan baik. Takdir, waktu dan kebenaran memang tidak pernah ingkar janji!" ucap Pak Sentot bijak
Kia menatap Aslan penuh tanda tanya. Apa maksud Pak Sentot.
"Maksud Pak Dhe?" tanya Kia.
"Darimana kalian bisa saling mengenal?" tanya Pak Sentot aneh lagi.
"Kami?" tanya Kia lagi. "
Ngapain orang tua ini tanya bagaimana kita kenal segala!" batin Aslan memilih mengunci mulutnya.
Kia selalu aktif dalam hal berbicara. Sama seperti saat bertemu dengan Umma, Aslan memilih diam merekam dan memperhatikan, Kia yang aktif, gembira dan riang berbicara.
"Dia, Den Bagus Aslan kan?" tanya Pak Sentot di luar dugaan Aslan dan Kia. Pak Sentot mengenal Aslan rupanya.
"Uhuk!" Azam yang sedang menyeruput kopi di balik ruang tamu pun langsung tersedak.
"Darimana Pak Dhe tau?" tanya Kia.
"Apa kalian tidak ingat, Pak Dhe juga yang selalu membelikan eskrim untuk den Aslan. Dia juga sangat mirip dengan Tuan Surya. Persis! Pak Dhe sudah menunggu Den Aslan kemari" tutur Tuan Sentot santai, dan memberi hormat pada Aslan.
"He..." Kia nyengir, tebakan Pak Sentot benar, tapi Kia malu kalau harus bercerita bagaimana mereka menikah. Sementara Aslan masih diam.
"Ini hari yang bapak tunggu. Terima kasih karena kalian sudah datang. Pak Dhe akan terbebas dari tugas berat ini. Maaf kan Pak Dhe tidak punya banyak keberanian. Tapi Pak Dhe selalu percaya, waktu selalu jujur. Tunggu sebentar ya, akan pak Dhe ambil apa yang kalian cari!" tutur Pak Sentot panjang menjelaskan sesuatu.
__ADS_1
Aslan dan Kia saling tatap lagi. Mereka mengangguk. Pak Sentot seperti cenayang atau paranormal saja, seperti tau semua tentang Kia dan Aslan.
Sementara Azam mendadak malu dan kikuk setelah mendengar suami Kia adalah Tuan Aslan.