Sang Pangeran

Sang Pangeran
71. Bendera berkibar


__ADS_3

Dia seperti Kia. Aku tidak salah lihat dia Kia” 


Saat Kia tertegun melihat panggung besar di depan matanya, seorang laki- laki terdiam tertegun mendapati Kia. Laki-laki itu memakai masker karena tidak ingin menjadi serbuan para penonton.


Tidak ingin membuat keributan laki- laki itu menyeret Kia agar menjauh dari kerumunan. Setelah tidak di tengah jalan, dan berada di tempat sepi laki- laki itu membuka maskernya. 


“Kau!” pekik Kia tidak menyangka dan berusaha melepaskan tangan laki- laki itu. 


“Lo benar Kia kan? Wah hahaha gue nggak nyangka bisa ketemu lo di sini!” ucap laki- laki itu menelisik penampilan Kia dari atas sampai bawah. 


Kia langsung merah padam dan merasa jijik dipegang laki- laki itu. Mata Kia membulat sempurna seakan ingin mengeluarkan luapan emosi yang menggunung dan berkarat di dalam dirinya. 


“Maaf anda siapa ya? Jangan halangi jalan saya! Minggir” ucap Kia berani ingin menegaskan kalau dirinya tidak ingin berurusan dengan orang itu lagi. 


“Sungguh kau tidak mengenalku? Bukankah kau dulu begitu mencintaiku? Hah!” bisik laki-laki itu memagari Kia agar menempel ke tembok.


“Jangan GR kamu Je! Tidak sekalipun aku mencintaimu, jijik aku melihatmu! Pergi dari hadapanku! Minggir!” usir Kia berusaha pergi dan menghindar dari Jeje. 


Tapi Jeje menarik tangan Kia, menahanya. Dan berbisik ke telinga Kia.


“Kenapa selalu jual mahal padaku? Heh? Kenapa tidak pernah bilang padaku, katakan berapa tarifmu, selama ini aku mencarimu, aku merindukanmu, temani aku malam ini” bisik Jeje kurang ajar dan membuat Kia semakin marah. 


Lalu Kia mengangkat kakinya dan menendang bagian penting dari tubuh Jeje dengan sekuat tenaga. Benar-benar tidak berubah dan tidak tau malu.


Setelah memacari Kia, menjadikan bahan taruhan, menipu dan memfitnah Kia. Jeje masih berani berulah di depan Kia. Bahkan rekaman Kia yang membuatnya Kia dikeluarkan di kampus dianggap Jeje sebuah pemberitahuan kalau Kia bisa dia mainkan.


“Auh” Jeje spontan memegangi benda kesayanganya. 


“Dasar tidak tahu malu! Dengar baik- baik ya. Aku bukan perempuan seperti itu. Aku juga tidak sudi mengenalmu. Kamu hanya mimpi burukku!” ucap Kia tajam. Lalu Kia segera pergi dan mencari tempat duduk.


Mendengar penuturan Kia, Jeje hanya menyeringai dan semakin penasaran tentang kehidupan Kia selama 7 tahun ini.


Jeje yang seorang play boy, dan merasa tertolak oleh Kia masih terus mengingatnya. Karena Kia satu-satunya perempuan yang menolak tidur denganya. Tapi tau-tau Kia hamil. Jeje menjadi tertantang siapa Kia sebenarnya.


“Huft.. hhh” Kia menghela nafasnya pelan setelah mendapatkan tempat duduk di depan panggung. 


Panitia dari Bintang Kecil menyediakan tempat duduk khusus untuk para orang tua. Kia mendapatkan tempat duduk di depan sebagai penonton Vvip.


"Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia masih mengenaliku? Ya Tuhan apa ini?" batin Kia dengan nafas terengah-engah merutuki pertemuanya lagi dengan Jeje.


Baru tadi siang Cyntia menyebut namanya. Kenapa malam ini dipertemukan beneran sama Jeje. Tidak pernah Kia kira dan sangka. Kia benar- benar ingin melupakan masalalunya kenapa justru satu persatu keluar. 


Karena Kia datang seorang diri Kia hanya diam menuduk menunggu acara di mulai. Sesekali Kia menoleh sekeliling berharap datang sesosok yang dia kenal. 


"Apa Aslan akan datang? Aku harus mengucapkan terima kasih padanya" batin Kia.

__ADS_1


“Ah tapi tidak mungkin sepertinya, Aslan mustahil tiba- tiba datang ke tempat ini. Saat audisi saja tidak datang, saat pertama kali dikumpulkan dia datang untuk sambutan acara. Apalagi acara ramai seperti ini. Kalaupun datang ke mana dia akan duduk, apa dia akan mendekatiku sebagai ayah Ipang? Atau ayah Alena?” sambil menuduk dan harap- harap cemas, Kia terus memikirkan Aslan. 


Kia tidak tahu Aslan bukan hanya tidak masuk ke kantor hari itu dan datang ke acara anaknya malam ini. Tapi Aslan meninggalkan negara itu untuk beberapa saat.


Detik demi detik berlalu, ruangan mulai penuh. Barisan kursi depan mulai penuh dengan orang tua peserta bintang kecil.


Di belakang mereka  pendukung peserta bintang kecil berkelompok membawa poster- poster untuk menyemangati jagoan mereka. Hanya Ipang yang tidak mempunyai pendukung di ruangan itu.


Dan tinggal menunggu beberapa waktu acara dimulai. Saat penonton lain bersorak sorai dan bercanda ria. Kia diam sendirian. Hanya tinggal samping kanan kiri Kia kursi yang masih kosong. Ya Kia tau, itu tempat Paul dan Manda. 


Lampu layar dinyalakan beberapa pekerja seni di stasiun TV milik keluarga Nareswara mulai terlihat sibuk dan bersiap-siap. Lalu musik pembuka dinyalakan.


Dari arah dalam , bukan pintu luar seperti Kia. Manda terlihat datang dengan seorang perempuan entah siapa Kia belum kenal. Rupanya orang- orang seperti Manda punya jalur masuk sendiri agar tidak berinteraksi dengan penonton lain. 


“Hai Kak, apa kabar?” sapa Manda menyapa Kia dengan sebutan kakak. Manda duduk di samping Kia sebelah kanan.


“Hai..alhamdulillah baik” jawab Kia ramah.


“Dafa banyak bercerita tentang Pangeran dan Kak Kia” tutur Manda lagi masih selalu menyebut Kia kakak. Kia sendiri merasa tidak nyaman padahal sepertinya usia Manda lebih tua.


“Benarkah?” tanya Kia canggung.


“Maaf bukan aku ingin ikut campur, tapi jangan berfikir untuk kabur lagi ya Kak” tutur Manda ternyata tau banyak tentang Kia dan membuat Kia malu.


“Hoh?” Kia hanya tersentak mendengar penuturan Manda kemudian hanya nyengir salah tingkah. Kia malu bahkan Manda tau Kia sempat membawa kabur Ipang. Ternyata Daffa anak kecil itu. Lemes! “Ah, he...” 


“Ah iya” jawab Kia lagi mukanya semakin menciut seperti mau menghilang. "Masalah? Selesaikan dengan baik? Apa Manda tahu urusanya dengan Aslan. Dari mana Manda tahu? Ah Aslan?" batin Kia lagi.


“Kalau kak Paul macam- macam, biarkan saja jangan didengarkan, Kak Aslan bahkan merelakan semua agar bisa terbebas dari ular betina sepertinya” tutur Manda lagi.


Meski tidak tahu permasalahan tepatnya tapi Manda sudah dengar dari suaminya kalau Aslan dan Paul akan bercerai.


“Huh” Kia hanya terbengong semakin tidak mengerti kenapa Manda sok akrab dan mengobrol banyak dan bahkan membahas Paul. 


“Ssst orangnya datang” bisik Manda lagi, menyenggol kaki Kia. 


Kia benar- benar tidak menduga keluarga Aslan bersikap begitu baik padanya. Dan justru mengatai kakak Iparnya ular betina. Entah kenapa Kia merasakan kehangatan dan rasa bahagia dari sikap Manda.


“Berarti benar Aslan akan menceraikan Paul, ya Tuhan kenapa aku jadi berdebar- debar begini, ini bukan karena aku kan? Mereka emang punya masalah kan? Sebenarnya istri macam apa Paul itu?” batin Kia kemudian menatap Manda yang tersenyum hangat pada Kia.


Lalu mereka saling diam karena suara musik terdengar keras.


Dari arah yang sama dengan tempat datangnya Manda tadi, keluarlah perempuan cantik bak bidadari yang berjalan anggun. Lalu perempuan itu mengambil tempat duduk di samping kiri Kia.


Jika pada saat dia berjalan di muka umum perempuan itu menampilkan wajah manisnya, karena beberapa penonton mengangkat ponsel dan mengambil gambar Paul. Begitu duduk di samping Kia, Paul langsung mengeratkan rahangnya. Menampakan muka bak iblis dari neraka.

__ADS_1


“Siapa yang mengijinkanmu duduk di sini?” ucap Paul setengah berbisik mencurahkan kebencian ke Kia.


Kie melirik ke Manda, Manda tampak mengobrol dengan asistenya sehingga tidak mendengar Paul. Mau tidak mau Kia harus meladeni Paul sendirinuntuk yang ketiga kalinya. 


“Apa salahnya aku duduk di sini?” jawab Kia lagi. 


Mereka berdua saling melempar kata tanpa memandang satu sama lain tapi dengan tatapan ke depan. Saat bicara mereka mencondongkan kepalanya agar hanya mereka yang mendengarnya.


“Dasar sampah! Tempatmu bukan di sini!” umpat Paul.


“Woah, kamu mengataiku sampah?” jawab Kia geram, kali ini Kia tidak berfikir kekasaran Paul wajar karena cemburu.


Karena selain Kia mulai ada rasa dengan Aslan, Kia juga merasa sama sekali tidak pernah melakukan hal yang sengaja dia lakukan untuk merebut Aslan. Jadi Kia mulai sadar kalau Paul memang perempuan buruk.


“Ya kamu sampah memalukan, bajumu saja kaum tutupi, tapi kamu bangkai bau sampah! Munafik!” umpat Paul lagi, suaranya lirih tapi penuh dengan penekanan.


Tangan Kia gemetaran ingin menampar dan menjambak Paul saat itu juga. Tapi Kia tau dimana mereka berada.


Ada banyak orang dan kamera. Kia kemudian mengambil nafas dan melakukan balasan serangan melalui kata- kata. 


“Kamu pikir kamu perempuan apa? Kamu Ular betina!” balas Kia ikut-ikutan Manda.


Sebenarnya Kia tidak tahu menahu apa sebenarnya kesalahan Pau, Kia hanya tau dan yakin Paul memang bukan perempuan yang baik terbukti dia selalu berkata kasar. 


“Kurang ajar. Kamu sudah mengibarkan bendera perang terhadapku. Kamu pikir kamu bisa menang dariku?”


“Woah!” Kia semakin tersentak dan tersenyum tidak percaya.


Bisa- bisanya Paul mengatainya begitu. Padahal Kia sama sekali tidak ingin berurusan denganya. Suaminya lah yang selalu mengejar Kia, itu saja Kia tolak. 


“Aku tidak berminat bertarung denganmu!” 


“Bawa anak harammu, dari tempat ini malam ini juga!” 


“Kita lihat saja bagaimana nanti hasilnya, anakku bernama Pangeran bukan anak haram!” jawab Kia lagi. 


"Aku pastikan aku tidak akan melihat kalian lagi. Jangan harap kamu bisa merebut Aslan dariku"


"Hoh. Siapa yang merebut Aslan darimu. Kasian sekali istri sepertimu. Suamimu yang mengejarku" jawab Kia berani.


"Kau!" pekik Paul geram.


Dan saat Paul hendak menoleh ke Kia ingin memaki, salah satu kru kameramen TV menempatkan diri di depan mereka. Kia langsung diam tidak ingin ada orang mendengar mereka bertengkar.


Dan mc acara keluar. Acara pertunjukan musik penyisihan bintang kecil yang pertama dimulai. Mereka kemudian saling diam dengan menahan emosi masing-masing.

__ADS_1


Sementara Manda asik mengobrol dengan teman di sampingnya.


__ADS_2