
1 minggu kemudian.
“Bete banget gue!” gerutu Cyntia lagi sambil berjalan ke Shelaa.
“Apalagi sih, Cyn... ngomel mulu kerjaanya!” jawab Shela.
Sudah seminggu ini Cyntia sangat moodian apa- apa serba salah dan Shela selalu jadi sasaran.
“Gue udah mahal- mahal beli obat diet, tapi kenapa berat badanku malah naik ya? Aku juga rasa payudaraku lebih besar dan kencang! Nggak nyaman banget!” keluh Cyntia lagi.
“Hoh? Kamu diet?” tanya Shela.
“Iya, makanya aku makan buah- buahan terus! Aku juga udah olahraga, tapi kenapa aku malah naik BB nya. Aneh kan? Udah gitu mensku nggak lancar lagi!” keluh Cyntia sangat gusar.
“Nggak lancar gimana?”
“Dua bulan ini aku nggak mens, bulan kemarin aku flek satu hari doang, abis itu udahan, kan aku bete. Ck, gue harus dapetin peran itu, casting seminggu lagi. Ih, berat badanku kenapa nggak turun sih?” Cyntia terus meracau dan membaringkan tubuhnya di kasur tempat istirahatnya di lokasi syutingg.
“Tunggu... tunggu... Lo dua bulan nggak mens?” tanya Shela kemudian sambil berfikirdan menelisik.
“Flek satu hari doang!” jawab Cyntia mengelak.
“Jangan- jangan lo hamil Cyn!” pekik Shela.
“Bug!” Cyntia langsung melempar bantal ke muka Shella.
“Aih.. bar- bar banget sih ni artis satu!” gerutu Shella
“Mulut tu mulut kalau ngomong dijaga!”
“Lah... gue perhatiin lo itu emang suka aneh! Pagi- pagi makan rujak. Coba deh lo priksa!”
“Shelaa, gue udah menjanda hampir setengah tahun. Gimana gue hamill hah?” jawab Cyntia balik bertanya.
“Lo emang janda lama, tapi lo tidur sama Rendra kan malam itu?” celetuk Shela langsung dibekap Cyntia.
“Sssstt jangan keras- keras songong!” lerai Cyntia takut ada yang dengar. Shela langsung menepis
Tangan Cyntia dan kembali mendelik.
“Lo kan malam itu tidur sama dia? Coba deh lo periksa! Siapa tahu lo hamil!” ucap Shella memberitahu lagi.
Cyntia pun mendadak gelalagapan. 3 bulan lagi akan ada proyek kolaborasi dengan artis luar negeri. Cyntia sangat ingin memenangkan proyek itu jadi pemeran utama. Tema filmya adalah aksi dan banyak gerakan fisiknya.
Itu adalah cita- cita Cyntia. Sampai Cyntia menolak beberapa tawaran sinteron demi fokus ke proyek itu
Sementara saat penggarapan film Cyntia sedang berlangsung tahap finishing, lainya tinggal kontrak- kontrak iklan. Itu semua sudah Cyntia atur sedemikian rupa sehingga.
“Nggak, nggak mungkin gue hamil, gue nikah bertahun- tahun dan gue nggak hamil, Shel...!” jawab Cyntia mendadak panik.
“Mantan laki lo kali yang mandul?”
“Kita udah chek up, gue yang kurang, sel telur gue bermasalah!” jawab Cyntia lagi.
“Bermasalah bukan berarti nggak sembuh kan? Lo waktu nikah stress kali, siapa tahu lo jodohnya ma Rendra, mending lo periksa deh!” ucap Shelaa lagi.
__ADS_1
Cyntia hanya menelan ludahnya gelagapan, tiba- tiba dadanya jadi panas dan takut sendiri jika benar itu terjadi.
1minggu yang lalu Rendra memang mengajak Cyntia makan malam katanya mau minta maaf tapi Cyntia tolak. Cyntia merasa sangat kesal kalau melihat Rendra.
"Oke gue akan periksa!"jawab Cyntia mengangguk
****
“Kita jadi kan Bang?” tanya Kia mengemas peralatan kantornya.
“Apa Alena sudah diberitahu?” jawab Aslan balik bertanya.
“Kan kita udah jelasin ke Alena tentang semuanya semalam Bang...” jawab Kia.
Sebelum Aslan menyelesaikan urusan hak asuh Alena Aslan sudah bertemu dengan ayah kandung Alena dan meminta ijin agar selamanya Alena menjadi anaknya. Ayah Alena yang di dampingi istrinya yang sedang hamil sangat setuju dan berterima kasih.
Aslan dan Kia pun berjanji, setelah hak asuh jatuh ke tangan mereka. Mereka akan mempertemukan Alena dan ayah kandungnya. Aslan dan Kia, di depan Alena dan Pangeran pun menjelaskan semuanya.
Alena dan Pangeran meski dengan pemahaman yang sederhana mengerti. Aslan berjanji hari ini akan mengajak Alena bertemu dengan ayahnya itu.
“Duh... Rendra daritadi dihubungi susah, Yang. Hari ini ada meeting!” jawab Aslan kesal memegang ponselnya. Jika Aslan menemui Ayah Alena itu berarti harus ada yang menggantikan dirinya bertemu klien.
“Coba, telpon Kikan, Kikan kan masih di sana!” jawab Kia memberitahu.
Belum Aslan jadi memencet tombol panggilan, bel pintu rumah mereka terdengar. Mbok Mina dan pembantu baru Kia rupanya sedang beberes, sehingga Kia yang membukakan pintu.
“Umur panjang Tante...!” ucap Kia begitu melihat tamu yang datang adalah Kikan. Selama di rumah ada Alena dan Ipang, Kia memanggil Kikan tante.
“Pagi, Kak!” sapa Kikan cemberut dan menunduk membawa koper pakaianya.
Kia pun menelisik.
“Kok Kak Kia tanya gitu? Kikan nggak boleh kesini ya Kak?” tanya Kikan cemberut.
“Boleh, boleh!” jawab Kia.
“Kok Kikan nggak disuruh masuk?” tanya Kikan lagi. Kia jadi tertawa.
“Oh ya ya , maap, maap, yuk masuk yuk!” jawab Kia lalu mereka masuk, tapi Kia masih penasaran.
“Eh tapi jawab dulu, kok kamu bawa koper? Kamu udah nggak mau tinggal di apartemen Bang Rendra? Kamu gagal masuk universitas? Atau gimana? atau Bang Rendra jahatin kamu?” tanya Kia curiga.
“Bukan semuanya!” jawab Kikan kemudian duduk dan meletakan kopernya asal.
“Terus?”
“Kikan pusing hidup bareng Bang Rendra!” jawab Kikan kemudian dengan ekspresi betenya.
“Lah pusing gimana?”
“Umma mana?”
“Umma lagi mandi sepertinya!”
“Kak Rendra kayak orang gila Kak, udah seminggu ini di kamar terus, bilangnya bete bete gitu. Dia ngeluh sakit tapi disuruh periksa nggak mau, Kikan harus cari makan sendiri, bersih- bersih sendiri. Nggak jelas banget pokoknya”
__ADS_1
“Oh ya?” jawab Kia tidak mengira.
"Iya Kikan bingung. Harus Umma deh yang kasih tau Bang Rendra!"jawab Kikan lagi.
"Lah kalau Rendra sakit kenapa malah kamu kesini?" tanya Kia.
"Bodo. Orang dia sakit dia dibuat sendiri. Dia di kamar terus Kak!"
Aslan yang mendengar celotehan Kikan kemudian keluar.
“Lah kamu di sini?” tanya Aslan. “Baru aku mau telpon kamu!” ucap Aslan ikut nimbrung.
“Kikan nggak mau tinggal di apartemen Bang Rendra lagi!” jawab Kikan kemudian.
“Kenapa?”tanya Aslan.
Kikan kemudian menceritakan keadaan Rendra yang kacau. Rendra sakit tapi uring- uringan nggak jelas, sudah beberapa hari ini memang Rendra tidak ke kantor dan membuat Aslan kelimpungan.
"Apa Abanh marahin Rendra?" tanya Kia.
"Nggak ada. Yang Ada Rendra yang suka ceramahin Abang!" jawab Aslan.
“Apa dia patah hati?” celetuk Kia.
“ Nah Iya betul!” jawab Kikan nyeplos.
“Dengan siapa? Meta? Bukanya putusnya udah lama?” jawab Aslan bertanya.
“Bukan!” jawab Kikan malas,
“Terus sama siapa?”
“Kak Cyntia!”
“Woah!” Aslan dan Kia pun kaget mendengar Rendra patah hati karena Cyntia.
“Serius kamu?” tanya Kia antusias.
“Ehm...!” Kikan jadi ingat janjinya dengan Cyntia untuk keep silent tentang rahasia Rendra, tapi meski disuruh merahasiakan tentang satu hal. Kikan tetap ingin menceritakan hal lainya.
“Serius!” jawab Kikan.
“Wuaah, jadi mereka suka- sukaan, kenapa nggak bilang sih?” gumam Kia kemudian.
“Kemarin Kikan mergokin Kak Rendra lagi ngeliatin filmnya Kak Cyntia gitu, Kikan cecer. Kikan suruhlah ke Kak Rendra buat ucapin. Sorenya Kak Rendra katanya ajakin Kak Cyntia ketemuan, tapi ditolak sama Kak Cyntia, abis itu Bang Rendra kaya orang gila!” jawab Kikan kemudian.
“Waaah.... harus turun tangan ini Bang! Sejak kapan mereka suka- sukaan?” jawab Kia.
"Tau!"
“Ck... cemen banget sih Rendra, ditolak begitu doang, patah hati! Nggak kerja lagi!” gumam Aslan kemudian merasa kesal.
“Kak Rendra sakit, juga Kak. Dia muntah- muntah terus, Kikan suruh berobat nggak mau! Kerjaannya tidur terus. Kikan juga baru liat orang patah hati begitu. Padahal dia belum nembak Kak Cyntia lhoh!” cerocos Kikan lagi sangat kesal dengan Rendra.
“Oh ya? Waah parah ya.. ya udah sih Bang... jengukin sana!” ucap Kia ke Aslan.
__ADS_1
“Kurang kerjaan banget gue jengukin pemalas kek dia!” jawab Aslan mencibir.
“Kan abang butuh Rendra kan? Kia temani deh!” jawab Kia.