Sang Pangeran

Sang Pangeran
116. Tanggung.


__ADS_3

*Yang belum menikah atau sedang puasa, skip aja ya. Mohon maaf!!!


Aslan mengedikkan mata dan bahunya, mempertegas pernyataanya ke Kia, kalau apa yang dia katakan itu benar. Mereka harus bangga pada Cyntia.


Cyntia yang mendengarnya pun membenarkan, ya Cyntia juga bersyukur dengan pencapaianya, lebih dari itu Cynntia juga sangat paham maksud Aslan yang ingin berdua dengan istri barunya.


Kia menelan ludahnya dan mati kutu, mengharapkan benteng pertahanan dari Cyntia sepertinya percuma. Melihat gelagat Cyntia, Cyntia malah sengaja membuat Kia dekat dengan Aslan.


"Ya Kia bangga Bang, tapi kan Cyntia nggak harus pergi sekarang!" bantah Kia masih berusaha berjuang.


"Lhoh ya nggak boleh larang-larang orang dong Kia Sayang! Cyntia kan juga udah nggak sabar pengen liat apa yang berhasil dia beli dan dia miliki. Kaya kamu kalau beli barang, pasti penasaran dan ingin segera pakai kan?" tanya Aslan lagi.


"Iya, kaya kamu, pas udah berhasil nikahin temen gue pasti lo pengen cepet-cepet make dia kan?" batin Cynytia nyengir menghadapi pasangan baru yang beradu pendapat itu.


"Ya sudah, Kia, Tuan Aslan saya pamit ya. Hari ini Mbak Narti biar bantu-bantu Mbok Mina dulu. Besok pagi saya jemput. Makasih ya Ki!" ucap Cyntia kemudian buru-buru menarik kopernya.


"Ya!" jawab Aslan mengangguk bahagia, sementara Kia diam dengan wajah cemberutnya.


Kia dan Cyntia kemudian berpelukan sebagai salam perpisahan.


"Ingat dia sekarang suamimu!" bisik Cyntia saat memeluk Kia. Kia hanya diam.


Setelah berpelukan Cyntia menyeret kopernya keluar, masih dengan baju akadnya, Aslan dan Kia mengantar Cyntia sampai ke mobil.


Kia dan Cyntia kemudian saling melambaikan tangan. Cyntia memutar stir mobil nya dengan mantap dan pergi dari rumah Kia.


"Ehm," Kia berbalik dan tepat di depanya pria yang kini jadi suaminya menyunggingkan senyum dengan tatapan hangatnya.


"Ya Tuhan, kenapa aku jadi kaku begini? Apa yang akan aku lakukan jika hanya berdua denganya?" batin Kia menelan ludah dan meredam deguban jantung yang sangat cepat.


"Udah siang, kita belum sholat dzuhur. Ayo buruan aku bantu kamu lepasin riasanmu!" ucap Aslan membuyarkan lamunan Kia.


"Iya!" jawab Kia gugup.


Saat berjalan karena Kia gugup dan tidak terbiasa menggunakan heels, Kia kesleo.


"Aak," spontan Kia mengaduh pas satu kakinya kesleo.


Aslan berhenti dan menoleh ke Kia, tanpa disuruh, Aslan memasang badan dan menggerakan tanganya, dengan lengan kuat dan tubuh tegapnya, Aslan menggendong Kia ala bridal.


"Abang... " pekik Kia tidak siap dirinya langsung berada dalam gendongan suaminya. Pipi Kia semakin merah meskipun blash on dari tukang riasnya sudah rusak.


"Kalau mau digendong, nggak usah malu-malu bilang aja! Nggak usah pakai acara kesleo! Abang kuat kok kalau cuma gendong kamu!" ucap Aslan malah membercandai Kia.


"Siapa yang minta gendong? Nggak. Turuin Kia!" ucap Kia berusaha menghindar dan menepuk dada Aslan, tidak terima dianggap modus.


Aslan tidak mendengar kata Kia, malah menguatkan gendongan dan menendang pintu kamar lembut. Kini mereka berdua berada di kamar Kia, Aslan menurunkan Kia mendudukanya dengan hati-hati di ranjang Kia.


"Ehm...," untuk yang kesekian kalinya Kia berdehem salah tingkah.


Aslan kemudian melepaskan jasnya, melempar ke keranjang kotor di kamar Kia, melonggarkan dasi dan melepaskannya. Kia melihat seperti itu semakin tertegun dan dheg-dhegan.


"Apa dia sungguh akan menepati janjinya? Bagaimana kalau tidak? Please Tuhan, kali ini, maafkan aku yang berdosa, aku belum siap," batin Kia reflek memeluk tubuhnya sendiri dan melindungi buah melonya yang menonjol tegas.


"Pintunya dikunci aja ya!" ucap Aslan membuat Kia berfikir yang tidak-tidak.


"Hoh? Kunci pintu? Ngapain? Jangan!" seru Kia melarang.


"Kok jangan!"


"Biarin aja kebuka Bang, nggak usah dikunci? Emang kita mau apa?"


"Lah katanya mau ganti baju? Mau lepas-lepasin riasan. Kalau mas-mas tukang katering lewat, atau Kak Danu datang gimana? Abang kunci ya!" jawab Aslan beralasan dan memutar kunci kamar Kia.


"Oh iya ya?" jawab Kia.


Setelah mengunci pintu Aslan mendekat ke Kia. Aslan tiba-tiba jongkok di depan kaki Kia.


"Hoh! Abang mau apa?" pekik Kia lagi terkejut Aslan di bawanya.


"Dilepas sepatunya dong! Coba Abang lihat yang tadi kekilir!" tutur Aslan lembut.


"He... Kia nggak apa-apa Bang. Abang jangan begini?" jawab Kia menarik kakinya tidak nyaman diperlakukan seperti itu.


"Ck!" Aslan hanya berdecak, lalu meraih kaki Kia, melepaskan kedua sepatu Kia, tanpa ijin Aslan memegang telapan kaki Kia yang mulus dan putih, dengan gerakan yang lembut Aslan memeriksa kaki Kia.


"Aak," Kia kembali mengaduh saat Aslan menyentuh kaki Kia yang lebam.

__ADS_1


"Hemm ketemu!" gumam Aslan memeriksa.


"Hati-hati lain kali, jalanya Sayang! Perasaan udah sering liat pakai heels deh. Abang ambilkan es dulu ya buat kompres. Bisa bengkak kalau nggak diobatin," tutur Aslan lembut mengistirahatkan kaki Kia yang terkilir.


"Iya," jawab Kia lagi mengangguk.


Kia menjadi terharu, Aslan begitu perhatian terhadapnya. Kia malah mengira Aslan yang aneh-aneh.


Aslan kemudian keluar mengambil es batu untuk mengompres kaki Kia.


"Kia kompres sendiri aja, Bang! Makasih ya!" ucap Kia lembut.


"Bener bisa?"


"Iya. Lagian cuma sakit sedikit kok!" jawab Kia.


"Oke!" jawab Aslan mengangguk.


Tiba-tiba Aslan naik ke ranjang Kia, dan Kia kembali kaget.


"Abang mau apa?" tanya Kia dheg-dhegan.


"Kok mau apa? Abang bantu lepasin jarum-jarum di kepala kamu. Emang kamu bisa istirahat dengan kain dan logam sebanyak ini?" tanya Aslan sudah di belakang Kia.


"Oh iya, makasih ya Bang!" jawab Kia lagi membiarkan Aslan melepaskan riasan jilbabnya satu persatu.


Mereka berdua saling diam, Kia mengompres kakinya sendiri dengan es agar tidak radang dan bengkak, sementara Aslan melepaskan riasan Kia dengan telaten.


Setiap sentuhan tangan Aslan membuat Kia merinding, bahkan hembusan nafas Aslan membuat Kia merasa hangat.


"Tukang riasnya kok pergi sebelum acara sih Bang? Biasanya kan nungguin dan bantu beresin?" tanya Kia merasa tidak nyaman malah suaminya yang bantu rapihin.


"Abang yang suruh pergi kok, kan tugasnya udah selesai. Acara kita kan simple, benda yang melekat di kamu juga bukan barang sewa. Ini udah abang beli ngapain ditunggu!"


"Oh gitu?"


"Udah selesai kok. Gini doang masa harus orang lain?" ucap Aslan mengumpulkan jarum-jarum dan kini Kia sudah tidak memakai hijab. Tinggal ciput dalam.


"Sini abang lepasin sekalian!" tutu Aslan lagi melepas ciput Kia, lalu membuka tali rambut Kia dan membiarkanya terurai. Leher jenjang Kia kini tampak mempesona, Aslan kemudian menata rambut Kia dan membelainya.


"Cup" gerakan spontan, dengan lembut Aslan mendaratkan kecupan bibir di bahu Kia.


Mendengar Kia mende*ah, Aslan bukan melepaskan, Aslan malah melingkarkan tanganya ke perut Kia, dengan duduk bersila di atas ranjang, Aslan memeluk Kia dari belakang. Aslan juga mengenduskan kepala di leher Kia.


"Begini nyaman kan Sayang?" bisik Aslan ke telinga Kia yang membuat Kia merasaka getaran dan sensasi yang tidak bisa diungkapkan.


"Ehm..., iya" Kia terdiam membiarkan Aslan bersandar dan memeluknya, es di tanganya, dia letakan di baskom kecil di bangku yang disediakan Aslan. Beberapa saat Kia menikmati pelukan hangat dari suaminya.


"Maaf, abang terlambat menemukan kalian," bisik Aslan lagi.


"Berapa kali Abang mau minta maaf, lupakan yang udah berlalu Bang, yang penting kan sekarang kita udah bareng," jawab Kia lembut.


"I love you," bisik Aslan lagi.


"Makasih Bang!" jawab Kia lagi sambil tersenyum tanpa dilihat Aslan.


Kia kemudian memberi balasan mengelus kedua telapak tangan Aslan yang menumluk melingkar di perutnya dengan pelan.


Tidak menuntut jawaban balasan Kia, Aslan memajukan badanya dan mengeratkan pelukanya. Suara petir terdengar, samar-samar rintik hujan turun, membuat suasananya menjadi semakin syahdu. Kia menyambutnya dan menyandarkan tubuhnya pada tubuh Aslan.


Tangan Aslan kemudian bergerak ke atas. Kia jelas merasakanya.


"Abang.. " pekik Kia kegelian saat tangan Aslan meraih kedua benda menonjol miliknya.


Kia langsung gelagapan, dan mencoba menahan tangan suaminya. Rasa yang tadi hangat berubah menjadi panas.


Kia mencoba menghindar dan melonggarkan tangan Aslan. Kia menoleh ke wajah yang ada di belakangnya. Mata Aslan kini memerah, Aslan menatap Kia dengan tatapan tajam yang membuat jantung Kia berdetak tak beraturan.


"Kenapa? Sekarang kan ini punya Abang," tanya Aslan tidak terima tanganya dihentikan.


"Geli Bang. Jangan dulu ya!" jawab Kia terbata berusaha melepaskan tangan suaminya.


Aslan memang melepaskan tangan dari buah segar Kia, tapi tanganya berpindah menekan dagu Kia lembut dan mendaratkan bibirnya ke bibir Kia.


Kia tidak menolak dan membiarkan bibir itu kembali menyatu dengan bibirnya untuk yang ketiga kalinya.


Jika sebelumnya Kia merasa takut, marah, dan merasa kecurian. Kia kini merasakan kehangatan, bahkan membangunkan rasa yang Kia tidak mengerti apa artinya. Kia menyukainya, membiarkan rasa itu berkembang dan menginginkan lebih.

__ADS_1


Aslan memulai mengasah keahlianya yang sudah lama tidak dia pakai. Digigitnya lembut bibir bawah Kia sehingga sedikit terbuka.


Aslan memasukan lidahnya sehingga kedua lidah mereka terpagut, bertukar saliva yang basahnya menjadi bahan bakar nikmat yang tiada tara. Reflek tangan Kia berpindah pada leher Aslan.


Aslan bahagia, mereka meanjutkan peraduanya. Saling menye*ap, saling menghi*ap, saling membalas menerima dan memberikan rasa nik*at yang sama.


Tangan Aslan yang cerdas bergerak sendiri tanpa komando, ditariknya resleting kebaya Kia, Kia membiarkanya karena masih menikmati sesa*an bibir suaminya, sampai tanpa Kia sadari, meski tidak berhasil seluruhnya karena sempit, Aslan berhasil menurunkan kebayanya yang megeksplor dada mulus Kia dan menampakan sembulan daging menonjol Kia yang mengintip dengan indah.


Melihat dada yang selama ini selalu tertutup membuat ga**ah Aslan semakin membuncah. Aslan melepaskan bibir Kia, berganti menghujani leher dan dada Kia dengan kecupan lembut dan basah.


Sesekali dia sesap leher jenjang Kia, meninggalkan cap kepemilikan dan membuat Kia mengeluarkan suara merdu yang meluluhkan telinga Aslan.


"Dibuka ya!" pinta Aslan berhenti dari aktifitasnya dan berusaha menarik kebaya Kia agar terbuka sempurna. Kia diam pasrah dan membiarkan pakaian yang dipenuhi manik-manik cantik itu terlepas dari tubuhnya.


Kini tubuh bagian atas Kia terbuka sempurna. Aslan kemudian membaringkan Kia di bawahnya. Akal sehat dan ingatan Kia tentang perjanjianya hilang, bahkan rasa sakit pada Kakinya pergi, Kia diselimuti hawa panas yang tidak bisa dijelaskan.


Aslan melanjutkan kegiatanya. Membuka kancing kain pembungkus buah segar Kia. Dan kini terbuka sempurna, terpampang nyata di depan Aslan, dua buah ranum yang siap dimakan.


Aslan menelan ludahnya, dengan gerakan cepat Aslan memilinya pelan satu titik mungil di tengah buah segar yang putih itu.


"Abaang" de*ah Kia sambil menggelinjang menahan rasa yang tidak bisa diungkapkan.


"Iya sayang..., lagi yang keras. Panggil Abang lagi," jawab Aslan dengan mata merahnya.


Aslan kemudian menindih Kia. Aslan mulai menghi*ap dan melahap buah itu, sesekali mere*asnya dengan gemas.


Kia terus mengeluarkan suara-suara yang Aslan suka. Berkoordinasi baik dengan mulutnya, tangan Aslan turun ke bawah, menyusuri rok batik yang Kia pakai. Tangan Aslan mnyusup masuk mencari gua yang dulu pernah dia singgahi. Dicarinya pintu itu, sehingga membuat Kia semakin merasakan kenik*atan.


"Aah, Abaang," de*ah Kia lagi.


Ketemu, Aslan menemukan pintu itu. Dielusnya lembut dengan jari jemarinya, dirasakanya cairan lengket dari dalam gua itu, dan dijadikan Aslan pelicin untuk memasukinya. Aslan mulai memainkan jarinya di bawah.


"Masuk ya!" bisik Aslan meminta ijin membukanya setelah yakin gua Kia siap disinggahi. Kia tidak menjawab.


Aslan menjeda kegiatanya dengan beristirahat melepas ikat pinggangnya dan menanggalkan celananya satu persatu.


Dan di saat jeda waktu itu. Tepat setelah melihat belalai panjang Aslan yang menyembul keluar Kia, sadar akan perjanjianya.


"Stop Bang!" seru Kia bangun dari rebahanya dan langsung menarik selimutnya.


"Kenapa?" tanya Aslan emosi.


"Nggak, Ini salah!" ucap Kia gelagapan.


"Kamu istriku dan aku suamimu, tidak ada yang salah dengan kita!" jawab Aslan.


Kia kebingungan mencari alasan, dibilang tidak mau perjalanan mereka sudah sejauh itu. Jelas Kia menerima dan menyukainya. Kia kemudian menoleh ke jam dinding.


"Maaf Bang. Jangan sekarang please, jangan dilanjutin!"


"Tanggung, Sayang! Selesaikan dulu!"


"Nggak!"


"Kenapa? Abang tau kamu menyukainya, kita selesaikan ya!"


"Udah hampir jam 2, kita telat sholatnya. Udahan aja!" jawab Kia lagi habis alasanya jadi beralasan waktu.


"Nggak ada 10 menit, Abang selesaikan dengan cepat kok"


"Nggak. Jangan sekarang Bang!" ucap Kia lagi menarik selimutnya semakin erat.


Aslan sangat frustasi melihat Kia. Aslan pun tidak sabar berniat memaksa. Aslan menarik selimut Kia. Kia juga tidak kalah erat memegang selimutnya. Mereka tarik menarik selimut, di saat yang bersamaan, pintu kamar Kia di ketuk.


Aslan dan Kia saling pandang menoleh ke pintu. Suara ketukan pintunya semakin keras.


"Haishh, ****!" Aslan mendesis kesal melempar ujung selimut yang tadi dia tarik.


Kia bernafas lega.


"Siapa?" tanya Aslan.


"Ayah, buka pintunya!" terdengar panggilan Ipang.


Aslan dan Kia saling pandang dan melotot.


"Kok pulang cepet?" gumam keduanya.

__ADS_1


"Ya bentar Sayang" jawab Aslan menetralkan emosinya. Aslan buru-buru meraih celananya.


Kia pun segera beranjak dan berlari ke kamar mandi.


__ADS_2