
"Ehm... "
Aslan merapikan celananya, Aslan hanya sempat memakai kaos dalam, karena kalau memakai kemejanya lagi akan memakan waktu yang lama. Masih dengan hawa panas yang dia tahan, demi buah hatinya, Aslan membuka pintu kamar Kia, dan benar saja anak semata wayangnya sudah berdiri dengan muka cemberut.
"Ayah, kenapa lama buka pintunya" tanya Ipang dengan tangan bersedekap mulai menampakan keberanianya.
Aslan yang seharusnya marah dan kesal pada anaknya, berbalik menjadi tertuduh. Ipang kan lebih dulu bersama Kia, dan lebih posesif terhadap ibunya di luar perkiraan Aslan.
Ipang sendiri belum terbiasa dengan kehadiran sesosok ayah dalam rumahnya, Ipang tidak mengerti bagaimana hubungan ayah dan ibu. Ipang juga belum tahu privasi orang tua.
Ipang biasa keluar masuk kamar ibunya sesukanya, bahkan lebih sering berbagi kamar, jadi kesal, karena baru pertama kali mau masuk ke kamar ibunya harus menunggu lama.
"Hai jagoan ayah. Katanya mau jalan-jalan kok udah balik aja?" jawab Aslan bertanya balik dengan mengusap tengkuknya berusaha meredam rasa pusing dan panas di dirinya dan mengalihkan pertanyaan Ipang. Bagaimana menjelaskan kalau sebenarnya Aslanlah yang sangat kesal karena diganggu.
"Ayah tidak jawab pertanyaan Ipang, huh. Lain kali jangan dikunci pintunya! Om Satya udah nunggu tuh!" ucap Ipang lagi.
"Maaf ayah kan tidak tahu anak ayah mau pulang, Ipang pulang sama siapa? Mana Daffa sama Om Satya?"
"Itu di depan!" tunjuk Ipang ke arah ruang tamu!
"Ipang nggak jadi jalan-jalan?" tanya Aslan lagi.
"Ayah tanya saja ke Om Satya. Makanya cepat ayah temui Om Satya!" perintah Ipang polos ke ayahnya.
"Ya, siap, ayah temui Om Satya!" jawab Aslan.
Aslan berjalan ke ruang tamu menghampiri adiknya. Adiknya tampak berdiri mondar mandir menunggu kedatanganya.
"Hai... kenapa kalian tampak panik begini?" tanya Aslan melihat Manda juga duduk menekuk wajahnya.
"Akhirnya keluar kamar juga. Maaf ganggu waktumu Kak!" ucap Satya mengerti bagaimana pengantin baru pada umumnya.
"Kak, titip Daffa di sini sama Kak Kia ya. Kak Aslan ikutlah dengan kami?" ucap Manda menimpali
"Hei.. hei... ada apa sih ini?" tanya Aslan tidak mengerti.
"Papa drop lagi. Kita harus ke rumah sakit sekarang! Papa masuk ICU" jawab Satya panik.
"Oh!" jawab Aslan tidak banyak berkomentar.
Wajah tegang Aslan melemas, menyiratkan kegetiran. Mendengar ayahnya sakit Aslan seperti mati rasa, tidak ada rasa khawatir lagi, malah seperti terkesan biasa saja.
"Daffa, tinggalah di sini sama mama Pangeran ya!" tutur Manda memberitahu Daffa.
"Iya Momy"
"Iya temani aku di sini!" jawab Pangeran menyambut Daffa.
Aslan justru tidak berkomentar, mau ikut adiknya atau mau apatis. Badan Aslan seperti terpaku, sangat berat melangkah, tapi adik dan adik iparnya tampak sangat berharap Aslan ikut.
"Ayo Kak!" ajak Satya.
"Heh!"
"Cepat pakai pakaian yang layak. Kita ke runah sakit sekarang!" tutur Satya lagi menyadarkan Aslan.
Aslan menelan salivanya. Malas sekali rasanya mau menengok orang yang sudah mengusir dan tidak menganggap dirinya anak lagi.
Aslan kemudian menoleh ke Ipang dan Daffa yang tampak bercerita di ruang tengah. Begitu ayahnya menyuruh Daffa tinggal, kedua anak itu langsung masuk ke dalam dan bermain.
__ADS_1
Aslan melihat Ipang sebagai dirinya di masalalu. Aslan tidak mau jika kelak di masa tuanya Ipang tidak peduli denganya jika Ipang tau kesalahan dirinya. Aslan kemudian mengangguk menyetujui permintaan Satya.
"Oke tunggu sebentar!" jawab Aslan dingin.
"Tempatnya masih sama. Papa dirawat di kamar biasa!" ucap Satya memberi tahu ayahnya dirawat di tempat yang sama dengan tempat sebelumnya.
"Ya!" jawab Aslan
"Kita berangkat duluan Kak!" ucap Satya berfikir berangkat dengan mobil sendiri-sendiri.
"Oke!" jawab Aslan.
Satya dan Manda dengan buru-buru berangkat lebih dulu. Aslan masuk ke kamar Ipang mengambil pakaianya, karena Aslan sekarang hanya menggunakan kaos dalam.
Aslan lupa kalau dirinya masih menanggung hadas besar meski belalainya belum sempat masuk. Aslan juga lupa kalau dirinya belum mandi dan sholat dzuhur. Sebelum bertemu Kia, Aslan memang jarang sholat, jadi Aslan meninggalkan kewajibanya begitu saja.
"Ipang Daffa, play calmly, dont't fight, oke?"
"Oke Uncle!" jawab Daffa.
"Ibu kemana Yah?" tanya Ipang.
"Ibu di kamar mandi, sekarang sedang mandi. Pangeran temui ibu saja di kamar!"
"Oke. Ayah mau kemana?" tanya Ipang lagi.
"Ayah harus ke rumah sakit menyusul Dadynya Daffa, Kakek sakit lagi," tutur Aslan menjelaskan ke Ipang.
"Hemmm. Glanpa is sick again, itu sebabnya kita tidak jadi jalan-jalan," ucap Daffa ke Ipang.
"Oh!" jawab Ipang.
Aslan kemudian mengelus kepala anaknya.
"Ya ayah hati-hati! Cepat pulang ya Yah!" tutur Ipang manis ke ayahnya.
Aslan mengangguk tersenyum dan memberikan jempol tanda oke ke putranya. Aslan kemudian pergi dengan mobil mewahnya menembusa jalanan yang dingin karena hari itu hujan.
Ipang dan Daffa kemudian berdua dengan asik. Danu, Ranti dan Rafli masih berkemas di kamar tidak tahu apa-apa.
"Aa gimana sih? Jawab begitu ke suaminya Kia?" omel Ranti ke Danu karena Danu jual mahal ke Aslan.
"Jawab gimana?"
"Bosa basi sedikit kek apa gimana? Biar kita bisa lebih lama tinggal di sini!" omel Ranti lagi.
"Ranti cukup! Biarkan Kia bahagia dengan keluarganya! Kita juga tidak pernah tau apa yang terjadi dengan Kia selama ini. Jaga perasaan Kia!" tutur Danu menasehati Ranti.
Sebenarnya Danu juga merasa tidak nyaman menikahkan adiknya hanya secara Siri. Apalagi Danu tahu kalau Aslan sebelumnya punya istri. Danu bisa mengiira kalau hidup Kia tidaklah mudah.
"Jaga perasaan Kia gimana? Sudah jelas-jelas Kia bahagia dan hidup berkecukupan begini! Seharusnya Kia balas budi ke kita yang sudah merawatnya!" ucap Ranti lagi masih dengan muka tembok.
"Ck.. ck.. " Danu hanya menggelengkan kepala bingung harus berespon apa ke istrinya ini.
"Kemasi barang kita. Dan segera pulang!" ucap Danu tegas.
"Hhhh... Aa ini susah sekali dikasih tau!" gerutu Ranti lagi.
"Kita tidak pernah tau bagaimana Kia dan suaminya menjalani hidupnya selama ini. Kia bertemu dengan ayahnya Pangeran juga baru. Jangan ganggu Kia!"
__ADS_1
"Hhh" Ranti hanya melenguh kesal, lalu mengambil handuk masuk ke kamar mandi.
Danu hanya beristighfar dan menggelengkan kepalanya. Rafli masih duduk bermain sendiri dengan mainan unik di tanganya.
****
Kia mengguyur tubuhnya dengan shower dingin yang Aslan sediakan. Lama Kia membiarkan air dingin itu membasahi tubuhnya, meski begitu Kia masih merasakan aliran panas yang memenuhi dirinya.
Kia menatap seluruh tubuh polosnya di cermin kamar mandi. Dipeluknya badanya sendiri, Kia semakin merinding mengingat semuanya. Kia kemudian menyentuh bagian termahalnya.
"Singa gila itu kembali menyentuhnya," batin Kia memejamkan mata, sentuhan tangan Aslan di benda miliknya itu masih terasa. Sesungguhnya sangat Kia suka, tapi ada bayangan lain yang mengejar sehingga Kia harus menahanya.
"Dia suamiku, dia suamiku, ya dia suamiku!" batin Kia lagi meyakinkan dirinya.
Semuanya nyata, Kia benar-benar sudah menikah dengan Aslan.
"Ini tidak salah bukan?" tanya Kia sendiri mengingat setiap sentuhan yang Aslan berikan. Kia merasa sudah mengingkari janjinya sendiri. Kia sekarang benar-benar sudah jatuh dalam pelukan Aslan.
Itu memang bukan yang pertama untuk mereka berdua. Aslan pernah menjamah Kia, mengoyak dan merenggut bagian tubuh termahal Kia.
Kia sendiri yang dulu mengijinkanya. Membiarkan senjata Aslan masuk ke lubang sucinya, menaburkan benihnya pada Kia, sehingga ada Ipang di antara mereka.
Tapi rasanya sangat berbeda. Walau dari tangan dan tubuh yang sama, status mereka berbeda. Kia yang dulu merasa terkutuk, setiap sentuhan Aslan seperti cambukan yang perih.
Hari ini, Kia seperti tersihir, sentuhan Aslan membuatnya melayang dan terbuai, bahkan Kia menginginkan lebih, dan sampai sekarang rasa itu seperti tetap ada dan terus mengejarnya, meminta Kia agar bisa menyalurkannya.
Di luar kedua hal itu. Ada bayangan yang mengejar Kia dan membuat Kia berperang melawan rasanya sendiri. Bayangan akta Ipang tanpa nama ayah, bayangan Kia yang selalu dijuluki, perempuan simpanan, pela*ur, perempuan ja*ang selalu datang.
Reflek tangan Kia di bawah, menyentuh dan menutup bagian termahalnya seakan Aslan ada di depanya. Kia menutupnya rapat.
"Sadar Kia. Jangan mau! Aku harus dapatkan buku nikah dulu! Jangankan Aslan yang aku belum tahu bagaimana dunianya, orang yang menikah dalam waktu lama bisa ingkar janji! Jangan lemah Kia! Jangan ijinkan Singa Gila itu merenggutnya lagi!"
Kia mengeratkan rahangnya bertekad bulat. Setelah sadar mengingat Kia belum sholat dzuhur. Kia segera menyudahi mandinya, mengambil wudzu dan mengeringkan badanya, dan memakai handuk kimono.
"Abang..." panggil Kia keluar dari kamar mandi mencari suaminya.
"Bang, Mandi Bang. Kita sholat bareng yuk!" ajak Kia berjalan mencari Aslan, tapi panggilanya nihil.
"Bang...!" panggil Kia lagi lebih keras. Tidak ada jawaban dari suaminya itu, tapi justru panggilan kesukaan Kia yang terdengar.
"Ibu... " panggil Ipang mendengar suara Kia.
"Sayangnya ibu? Daffa? Kalian nggak jadi jalan-jalan? Ayah mana?" tanya Kia menghampiri anaknya dan melirik ke ruang tamu tapi tidak ada tanda kehidupan manusia.
"Ayah dan Om Satya pergi!" jawab Ipang
"Pergi?" tanya Kia.
"Granpa sakit, Aunty! Daddy sama Uncle dan Mommy goes to hospital!" jawab Daffa.
"Hospital?" tanya Kia kaget dengan tatapan sendu.
Ipang dan Daffa mengangguk.
"Oh!" jawab Kia mengangguk tanda mengerti.
Mendengar kata sakit dan rumah sakit, hati Kia seperti ditusuk pisau, ngilu. Kenapa harus sakit di saat anaknya berbahagia. Segitu burukah pernikahanya membuat mertuanya sakit? Kia menjadi tertuduh sendiri.
Kia berjalan ke kamarnya hendak sholat dengan langkah gontai.
__ADS_1
Padahal pernikahanya hanyalah pernikahan siri, sangat sederhana yang bahkan Kia tidak menyukainya, kenapa sampai membuat mertuanya sakit.
Sambil memakai mukena. Kia meneteskan air matanya. Kia mengucapkan takbir dan niat sholatnya dengan menangis lagi. Bagaimana nanti Kia akan melangsungkan pernikahan resminya? Bahkan hanya menikah siri saja membuat mertuanya sakit.