
Sesuai dengan rencana yang disusun sebelumnya. Besok pagi, adalah pengesahan dan resepsi pernikahan Aslan dan Kia. Tidak peduli bagaiamana gosip yang beredar di masyarakat dan tentang penyelidikan Tuan Alex, Aslan, keluarganya, koleganya tetap akan menggelar resepsi di pulau D.
“Ummi Fatimah!” panggil Ipang saat Radit dan Fatimah kembali ke rumah Kia setelah hari kemarin bersilaturrahim ke rumah saudara Radit.
“Hai, Sayang...!” jawab Fatimah mendekat dan memeluk Ipang.
Kia yang tadi bersama Ipang mendandani dan memakaikan lotion hanya bisa tersenyum melihat anak nya dekat dan lengket dengan sahabat yang dulu mengurusinya selama di kota Y.
“Aku kira, Ummi pulang!”
“Nggak dong Sayang, kan Ummi mau lihat pernikahan kedua Ibu dan Ayah Pangeran. Ummi sudah tidak sabar melihat Ibu mu didandani seperti ratu!” jawab Fatimah bahagia.
“Iya, Pangeran juga, ayo Bu! Kita segera berangkat!” ucap Pangeran merengek.
“Pesawatnya masih nanti, Nak! Kita tunggu Ayah, Ayah sedang jemput nenek sama Tante kamu!” jawab Kia memberitahu.
“Nenek?” tanya Pangeran berfikir.
“Iya nenek kamu!” jawab Kia tersenyum.
“Apa nenek sihir yang waktu itu usir ibu?” ceplos Pangeran mengingat Nyonya Wina.
Radit dan Fatimah yang belum tahu banyak tentang latar belakang Aslan saling tatap kemudian menatap Kia tak nyaman. Apa Kia yang terlihat hidupnya sempurna pernah merasakan diusir. Fatimah pun jadi kepo dan teringat gosip di instagram yang dia baca.
“Bukan, Sayang! Tapi ini Nenek baik, Namanya Nenek Umma Arini sama Tante Kikan, Abang Rafli kan juga belum datang!” jawab Kia lagi.
“Oh iya! Pangeran kangen adik Rafli! Apa Daffa juga ikut, Bu?” jawab Pangeran bahagia.
“Kalau itu Ibu kurang tahu, kakek Agung kan masih di rumah sakit, kamu telpon Daffa sendiri saja sana!” ucap Kia ramah.
“Baik Bu!” Pangeran kemudian berlari mengambil ponselnya.
Saat Pangeran pergi, Fatimah kemudian bertanya siapa nama- nama orang yang Pangeran sebutkan. Kia pun menceritakan satu persatu masalahnya termasuk apa yang sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial.
“Aku percaya sama kamu Ki, kamu bukan perempuan seperti yang dituduhkan Nyonya Paulina, aku juga nggak terima kamu dikatain perebut suami orang dan incar harta orang!” ucap Fatimah membela Kia.
“Makasih! Kamu lihat sendiri kan? Ayah Pangeran yang jemput aku meski aku berusaha pergi!” jawab Kia.
“Aku siap jadi saksi untuk speak up di media kok, selama ini kamu yang berusaha pergi dari Ayah Pangeran, kalian hidup berdua berjuang dengan segala cacian, bukan kamu yang membuat Aslan menceraikan Paulina!” jawab Fatimah. Fatimah pun berniat memberikan statement dan klarifikasi juga sebagai saksi Kia selama ini tak pernah menjadi simpanan atau menggerogoti harta Aslan seperti yang dituduhkan.
“Makasih, Fat!” jawab Kia terharu,tanpa Kia membela diri satu persatu sahabatnya yang suka rela membelanya.
Radit yang tadinya naksir Kia, setelah mendengar cerita Kia pun jadi merasa lebih ikhlas melepas Kia. Kia berhak bahagia dan kumpul bersama ayah Pangeran.
“Jadi kamu sudah bertemu dengan keluargamu?” tanya Fatimah lagi.
“Sudah” jawab Kia mengangguk.
“Bagaiamana kamu bisa memaafkan mereka setelah apa yang mereka lakukan Kia? Kamu masih mau berkeluarga dengan orang yang sudah membuangmu?” tanya Fatimah iba. Fatimah tahu betul bagaimana kepedihan Kia dulu saat diusir keluarganya.
“Walau bagaimanapun mereka tetap keluargaku Fatimah! Sama seperti kamu. Kalau aku tidak menganggapnya, itu berarti aku sama jahatnya dengan Iparku. Aku adalah ibunya Pangeran, kasih contoh yang baik untuk anakku. Aku juga yakin karma berlaku, kakakku sudah cukup banyak mendapatkan itu tanpa aku membalasnya. Tuhan yang mengadilinya,"
"Hidupku sekarang sudah bahagia, sangat! Yang terpenting buatku adalah Pangeran. Memberikan hak bahagia untuknya bisa berkumpul dan bersama ayahnya, begitu juga Bang Aslan yang selama ini merindukan anaknya. Prioritasku sekarang adalah mereka, tidak ada hal lain yang perlu ku fikirkan Fatimah, jadi tidak ada alasan untuk aku tidak memaafkan kakakku! Biar semua jadi masalalu.” jawab Kia panjang.
Di saat Fatimah tanya ternyata Dhanu dan Ranti sudah di depan pintu. Mereka mendengar semuanya.
__ADS_1
Danu yang menggendong Rafli dan Ranti yang membawa tas jadi terdiam malu dan terharu mendengarnya.
“Kau dengar itu? Jangan sekali- kali kau berniat jahat dan membuat Kia susah lagi Ranti! Tuhan yang akan hukum kita. Sudah cukup Tuhan ambil anak kita. Sekarang waktunya kita perbaiki semuanya!"” bisik Dhanu geram ke Ranti yang sepanjang malam sudah ngomel meracuni Dhanu menjadi benalu untuk Kia.
“Ya, A’!” jawab Ranti tidak bisa berkutik.
Setelah Kia dan Ranti terdengar membahas hal lain mereka kemudian baru masuk agar Kia tak tahu kalau mereka sudah menguping.
Fatimah dan keluarga Kia kini saling bertemu dan kenalan. Fatimah sebenarna sedikit geram melihat Ranti. Akhirnya Fatimah bertemu dengan orang yang dulu membuang Kia.
“Wajahnya terlihat benar- benar menyebalkan!” batin Fatimah mengatai Ranti.
Sementara Dhanu langsung bersikap sangat baik ke Radit dan Fatimah, mengetahui merekalah yang menampung dan mengurusi adiknya, saat dirinya sebagai kakak malah mengusirnya.
Demi Kia, Fatimah dan Radit tetap berusaha akrab dan menjalin persaudaraan terhadap Dhanu, sebagai sesama keluarga Kia, keluarga kandung dan keluarga karena pertemuan takdir.
Tidak berselag lama, Aslan tiba membawa koper disusul perempuan cantik yang sudah masuk usia senja bersama gadis remaja. Dia adalah Umma Arini dan Kikan.
Kini rumah Aslan sngat ramai, mereka hendak pergi ke bandara bersama. Pangeran pun sangat gembira dan langsung bermain bersama Rafli. Daffa sendiri akan berangkat menyusul berbeda pesawat dengan rombongan Aslan.
Semua keluarga bersalam- salaman saling berkenalan. Di saat mereka saling ngobrol, Aslan dan Kia kemudian teringat Alena.
“Abang bilang, mau bawa Alena, Bang? Alena sudah baikan kan?” tanya Kia berbisik menarik Aslan menyingkir dari keramaian.
“Abang tadi ke rumah sakit. Alena tampak diam dan murung. Dia ketakutan melihat Abang! Abang tidak berani mengajaknya.” jawab Aslan menunduk, sangat payah.
Aslan sekarang menyadari perlakuan ke Alena jahat Alena sampai jadi takut ke Aslan.
“Hoh! Ck!" decak Kia mengatai dan mengejek Aslan, bisa- bisanya Kia mencintai laki- laki sepayah Aslan.
“Hemm! Sayangnga Abanh buat kamu semua!” jawab Aslan masih sempat merayu.
“Ingat dia anak Abang, meski bukan kandung! Masih ada 2 jam lagi, ayo antar Kia ke rumah sakit!” ucap Kia nekat ingin bawa Alena.
“Yakin mau ninggalin tamu- tamu?” tanya Aslan melirik ke ruang tengah dimana keluarganya sedang bercengkerama.
“Yakin, Bang! Pangeran juga bahagia bareng Rafli kok. Abang serius mau gugat hak asuh Alena kan? Abang serius kan mau jadi ayahnya Alena?"
"Jika itu buat kamu bahagia, Abang akan lakukan apapun!" jawab Aslan bucin.
"Ya udah. Alena harus ikut kita! Ayo kita jemput!” tutur Kia lagi.
“Ok!” jawab Aslan.
“Yuk!” ajak Kia beraangkat menjemput Alena.
Mereka berdua pun berpamitan ingin pergi ke suatu tempat.
Alena sebenarnya sudah sembuh, tinggal penyembuhan mental dan sedikit luka luar akibat pecahan kaca. Hanya saja karena Paul sibuk mengurus Nyonya Jessy, Paulina menitipkan Alena pada baby sisternya dan masih di rumah sakit.
Mereka pun sampai ke rumah sakit.
Saat Aslan dan Kia sampai di rumah sakit, ternyata Paulina sedang menjemput Alena agar pulang. Di dalam ruang perawatan Alena ternyata sedang terjadi Insiden.
Paulina yang pusing karena kehamilanya , ditambah pusing mengurus masalah ayahya di penjara dan ibunya di rumah sakit, belum lagi nama dirinya yang mulai tercemar dan diserbu netizen. Paulina jadi labil dan melampiaskan emosinya lagi ke Alena.
__ADS_1
Alena yang marah ke Paulina, mendiamkan Paulina dan menjauhi Paulina tidak mau diajak pulang, bahkan enggan disentuh Paulina.
“Whats wrong with you Alena. Ini Mommy, Mommy mu!” ucap Paul kasar tersinggung terhadap sikap Alena.
Alena tetap diam di atas ranjang rumah sakit menggelengkan kepala, padahal infusnya sudah dilepas. Alena masih ingat betul semua perlakuan Paulina. Alena pun jadi trauma.
“Cepat!” ucap Paul kasar menarik tangan Alena dan menarik kasar semakin membuat Alena takut.
“No! Alena mau di sini saja bersama peraawat! Mommy bukan Mommy Alena. You are monster!” ucap Alena, saking takut dan marahnya ke ibunya. Alena tidak mau dikurung di kamar mandi lagi.
“Woah? What are you say?” pekik Paulina marah dikatai Monter.
Alena diam saja.
"Katakan sekali lagi, dasar anak tidak berguna!" pekik Paulina kasar, hampir menampar Alena.
“Stop it!” pekik Kia langsung menyerobot masuk.
Di saat sepeti itu Aslan pun langsung menyalakan ponselnya dan merekam kekerasan Paul agar bisa dijadikan bukti di pengadilan nanti.
Alena yang sudah jinak dengan Kia langsung berlari mendekat ke Kia.
“Tante!” lirih Alena senang merasa mendapat perlindungan.
Kia pun langsung merangkul Alena dengan penuh kehangatan.
Melihat anaknya dekat dengan musuhnya, Paulina semakin frustasi dan kebakaran jenggot.
“Kurang ajar, kau racuni apa anakku sehingga dia mau bersamamu!” pekik Paulina dengan tatapan bengisnya.
“Aku akan gugat hak asuh Alena, Paulina!” ucap Aslan mendekat langsung mengutarakan niat serangannya. Kia tidak menjawab dan fokus membelai Alena agar tidak ketakutan dan merasa tenang.
“Woah? Itu tidak akan perna terjadi! Dia anakku! Kemari Alena!” jawab Paul menarik tangan Alena berusaha merebut Alena dari pelukan Kia. Sayangnya Alena memeluk Kia erat, seakan Kia ibunya dan Paulina orang jahat, padahal sebaliknya, Paulina ibunya dan dulu selalu meracuni Alena kalau Kia jahat.
“Lihatlah, anakmu lebih nyaman bersama istriku! Kau sendiri kan yang menyerahkan dan menginginkan Alena menjadi anakku? Kamu yang berkoar- koar dan berusaha membuat orang agar mengakui Alena anakku. Aku akan kabulkan mau mu itu!” jawab Aslan tersenyum licik.
“Alena anakku, bukan anak kalian! Tidak akan kuserahkan Alena pada kalian!” jawab Paul emosi.
“Seharusnya begitu, tapi terlalu sayang jika Alena menjadi korban kegilaanmu, urus dulu masalahmu, dan fokus ke kehamilanmu. Kau bisa temui Alena kapan saja. Sekarang biarkan Alena sembuh bersama kami!” jawab Aslan lagi dengan nada lebih rendah karena sadar mereka di rumah sakit.
Kia dan Alena memilih diam membiarkan Aslan dan Paul yang bernegosiasi sebagai mantan suami istri. Sayangnya meski Aslan bicara baik- baik. Paul tetap emosi dan marah, bahkan mau kasar merebut Alena.
"No! Alena milikku! Dia anakku!" pekik Paulin keras mau merebut Alena
Aslan pun maju dan mengkode Kia agar segera pergi.
Kia dan Alena pun buru- buru pergi dari Ruang itu sementara Aslan menghalangi Paulina.
Setelah Kia dan Alena pergi, Aslan menghempaskan Paulina kasar.
“Sampai bertemu di pengadilan, Paulina!” ucap Aslan dingin.
****
Kakak biar author semangat selalu tinggalin like dan komen yaa.
__ADS_1
Hihihi, makasih.