
“Ya, biar nanti Abang urus ya!” ucap Aslan lembut hendak menuruti apa mau istinya.
“Huum!” jawab Kia megangguk manja.
Sekarang Kia tidak menolak dan canggung lagi memeluk Aslan dengan erat. Bahkan tubuh kekar laki-laki itu seperti rumah.
“Ya udah sekarang siap- siap!” ucap Aslan lagi melonggarkan dekapanya.
“Huum!” jawab Kia mengangguk ikut melepaskan pelukanya.
“Abang bantuin ya!” tutur Aslan lembut dengan senyum menggoda Kia.
“Huh?” Kia langsung melotot bangun dari kesedihanya.
“Bantu ngapain, Bang?” tanya Kia menangkap aura nakal dari suaminya.
Aslan tidak menjawab dengan mulutnya, tapi tanganya bergerak. Aslan menundukan kepala melepas peniti di hijab Kia yang sudah berantakan. Dilepasnya pelan kain itu.
Padahal Aslan hanya melepaskan kai penutup kepala Kia yang sudah berantakan, tapi Kia merasa ada desiran hangat yang menjalar di kepalanya. Apalagi mereka berhadapan sangta dekat, hembusan nafas Aslan terasa hangat menyembur ke Kia.
Kia menelan ludahnya, tiba- tiba tubuhnya merinding. Niat Kia tadi yang ingin membatasi diri dari suaminya pergi lagi. Kia pasrah saja terhadap perlakuan Aslan. Kia malah suka dengan perhatian Aslan itu.
Aslan melanjutkan perbuatanya yang berkedok membantu istrinya. Diraihnya resleting gamis Kia. Sret, Aslan berhasil membuka resleting depan gamis Kia.
Kini aset Kia terbuka. Dada Kia dengan kulit putih mulus dan segar itu tampak di depan mata Aslan. Aslan pun membelainya dengan lembut. Sehingga Kia merasa tergelitik seperti ada aliran panas yang menjalar.
“Hanya Abang yang boleh liat ini!” ucap Aslan dengan suara tertahan mengandung has*at yang menggebu. Aslan membuka gamis Kia sambil membelai lengan atas Kia.
Kia hanya diam, tertegun. Kia seperti tersihir ada rasa geli, tapi geli yang menjadi candu ingin diteruskan dan bertambah lebih.
“Hanya Abang yang boleh pegang ini!” ucap Asla lagi, kini tanganya tidak lagi membelai lembut. Tapi berpindah mere*as dengan gemas ke sebuah gunungan yang tertutup kain berwarna merah.
“Aaak! Abang ih, sakit tau!” Kia reflek mengaduh sakit karena Aslan melakukanya tanpa perasaan.
"Iya maaf!" jawab Aslan nyengir.
Aslan merasa benda itu seperti squisy yang tak bersyaraf. Padahal kan benda yang ada di depanya itu bernyawa, ada jaringan otot dan syarafnya. Bahkan bisa mengencang dan mengendur.
Aslan menurunkan kepalanya ingin menyantap squisy yang mirip makanan lezat itu, tapi Kia keburu sadar dan membuang semua rasa yang sempat mendatanginya. Kedua tangan Kia reflek mengatupkan kedua sisi kain gamis yang terpisahkan oleh resleting. Salah siapa Aslan membuyarkan mood Kia, yang tadinya terbuai jadi rasa sakit.
“Abang apaan sih? Katanya pesawat berangkat satu jam lagi!” gerutu Kia sambil menutup dadanya mencegah Aslan menghambur ke tubuhnya.
“Bentar doang, Sayang!” ucap Aslan meminta.
“Nggak! Kia mau siap- siap!” jawab Kia ketus.
“Ish ...pelit amat sama suami sih?”
“Kita jadi mau pergi ngga sih?” tanya Kia lagi merasa suaminya aneh.
Kalau diteruskan kan bisa molor dan memakan waktu yang lama. Kata- kata bentar doang itu hanya rayuan belaka.
“Ya jadilah Sayang!” jawab Aslan.
"Ya udah nggak usah aneh-aneh!"
"Aneh gimana? Itu kan punya Abang!"
“Nggak usah ngelantur! Kia mandi dulu!” jawab Kia bangun dari duduknya.
“Hemm. Jangan lama- lama , mau Abang temenin nggak?” goda Aslan lagi.
__ADS_1
Aslan tau Kia galak dan suka ketus, jadi Aslan tambah suka iseng.
“Apa sih nggak penting!” jawab Kia sambil cemberut.
Kia masuk ke kamar mandi sementara Aslan di luar. Aslan kemudian menggerakan lidahnya berfikir. Wajah Aslan kini menegang mengingat aduan istri cantiknya itu.
“Jeje...” gumam Aslan berfikir.
Aslan kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Rendra.
“Ya Bos!” jawab Rendra.
“Gimana meetingnya? Deal?” tanya Aslan ingin tau perkembangan kemajuan usaha barunya membangun kantor baru.
“Beres Bos! Hari ini langsung dimulai pengerjaanya!” jawab Rendra lagi.
“Gue mau tau informasi tentang pria bernama Jeje!” ucap Aslan memberi perintah.
“Jeje?” tanya Rendra mecoba mengingat. Rendra sudah lupa kejadian yang menimpa Kia malam itu karena sudah cukup lama.
“Pria yang berani kurang ajar pada istriku!” ucap Aslan memberi tahu.
“Oh ya! Yang di stasiun ITV?” tanya Rendra ingat.
“Ya!”
“Gimana Bos, apa yang harus saya lakukan?”
“Lusa bawa dia ke hadapanku!” ucap Aslan memberi tahu.
“Siap Bos!”
“Cari tahu semua akses pekerjaanya!”
“Oke. Kalau ada apa- apa kabari aku!”
“Ya Bos!” jawab Rendra lagi.
Aslan pun segera menutup ponselnya. Mengemasi barang yang akan dibawanya sendiri. Aslan sekarang sudah tidak memakai fasilitas dari Nareswara, jadi Aslan naik pesawat komersil. Meski Aslan bisa meminta tolong orang lain untuk mengurus surat- suratnya, Aslan sengaja ingin mengajak Kia pergi ke suatu tempat.
Setelah beberapa saat Kia keluar dari kamar mandi. Kia sediikit kagum malihat Aslan berkemas bahkan menyiapkan pakaian Kia. Hanya saja menurut Kia Aslan berlebihan.
“Abang kita mau pergi berapa hari sih?” tanya Kia malah mah nyalahin Aslan.
“Dua malam satu hari. Lusa kita udah di sini lagi!” jawab Aslan.
“Ya udah sih nggak usah banyak- banyak bawa bajunya! Secukupnya aja, kan di rumah Kia masih ada baju Bang!” jawab Kia.
“Kamu nggak hargain Abang udah abang tatain begini?” jawab Aslan malah tersinggung. Kia bukanya terima kasih malah marah.
“Bukan gitu, satu baju aja cukup! Kan nanti Kia ganti pakai baju yang di rumah!” jawab Kia lagi.
“Siapa bilang mau pulang ke rumah kamu?”
“Terus kemana?” tanya Kia curiga.
“Udah sih jadi istri latian nggak bawel, ikutin aja suami!” jawab Aslan lagi.
Mendengar ucapan Aslan pikiran kotor Kia datang lagi.
“Kita mau nginep di hotel?” tanya Kia menelisik.
__ADS_1
“Cepat pakai baju! Jangan godain Abang pakai begituan!” jawab Aslan malah berbeda haluan dengan pertanyaan Kia. Kia hanya memakai handuk kimono, hal itu bisa buat fokus Aslan berubah lagi.
“Ingat ya Bang! Kia masih nggak sholat! Mending kita nginep di rumah Kia aja, kalau di hotel nanti Abang tersiksa sendiri lho!” tutur Kia semakin memperjelas kalau pikiran dan otak Kia yang kotor dan kejauhan berfikir.
Mendengar perkataan Kia, Aslan tersenyum.
“Yang tersiksa kamu apa Abang?” tanya Aslan balik.
“Ngapain Kia tersiksa?” jawab Kia.
“Udah cepetan ganti baju, nih pakai ini udah Abang pilihin!” ucap Aslan memberikan stelan tunik panjang dan rok mengalihkan pembicaraan.
“Abang belum jawab ih, tidur di rumah Kia aja ya! Nggak usah di hotel!” ucap Kia lagi.
“Nggak dua duanya”
“Terus dimana dong?”
“Buruan ganti!”
“Ya!” jawab Kia mengambil bajunya dan masuk ke ruang ganti.
“Mau kemana?” tanya Aslan.
“Ganti lah!”
“Sini aja. Ngapain masuk- masuk!” jawab Aslan iseng menyuruh Kia ganti di depanya.
“Ish ...” Kia mendesis malu dan tetap masuk. Meskipun sudah jadi istrinya, dan meski Aslan sudah melihat semuanya tetap saja Kia malu.
Kini Kia sudah cantik dengan penampilanya. Aslan mendorong kopernya dengan sukarela. Jika di kehidupan sebelumnya Aslan selalu hanya tinggal berlenggang dan semua ada yang melayani, kini Aslan justru yang mengalah menyiapkan dan membawakan barang untuk istrinya. Aslan tidak mau istrinya lelah dan kerepotan.
“Mbok ...!”panggil Aslan ke Mbok Mina, tapi tak asa jawaban.
Kia dan Aslan berjalan ke kamar di dekat dapur tempat Mbok Mina dan Mbak Narti menginap. Ternyata Mbak Narti juga sedang berkemas.
“Eh, Tuan Nyonya?” sapa Mbok Mina dan Mbak Narti menyadari kedatangan Aslan dan Kia.
“Mbak Narti kok berkemas? Emang mau kemana?” tanya Kia heran melihat Narti berkemas.
“Saya kan bekerja pada Non Cyntia, Non. Saya harus ikut tinggal Non Cyntia di apartemenya, untuk bantu bersih- bersih di sana!” jawab Mbak Narti.
Kia menoleh ke Aslan. Aslan mengedikkan bahu tidak mau ikut campur, urusan seperti itu biar Kia yang tentukan.
“Aku sama Bang Aslan mau pergi keluar kota dulu. Mbak Narti jangan pergi dulu ya! Kasian Mbok Mina sendiri. Ke apartemen Cyntianya nunggu Pangeran udah pulang!” tutur Kia meminta Mbak Narti tetap tinggal dulu.
“Tapi saya udah janji sama Non Cyntia!” jawab Mbak Narti.
“Udah biar nanti aku yang bilang ke Cyntia.” Jawab Kia.
“Ya Non!”
“Saya mau ke kota Y!” ucap Kia.
“Ya Non!” jawab Mbak Narti
“Mau berapa hari Non?” tanya Mbok Mina.
“Lusa udah balik kok! Kalau ada yang datang dan mencariku, suruh telpon ya Mbok!” ucap Aslan.
“Ya Tuan!” jawab Mbok Mina.
__ADS_1
Aslan dan Kia kemudian bergegas menuju bandara.