Sang Pangeran

Sang Pangeran
46. Rumah


__ADS_3

****


Ditemani lampu temaram di sudut kamar. Diiringi melodi lagu sendu, semakin menambah kompak menghanyutkan rasa. Seorang perempuan cantik dengan rambut panjang cantik itu duduk memeluk kedua lututnya.


"Kemana sebenarnya suamiku pergi?" batin Cyntia melirik foto pernikahanya.


Ponsel Cyntia kemudian berdering. Cyntia melirik ke layar ponselnya, bukan suaminya. Cyntia kemudian membiarkanya berhenti, tanpa mengangkatnya.


Setelah ponsel tidak berdering lagi pemberitahuan pesan masuk kemudian berbunyi. Barulah Cyntia membukanya.


Cyn, Mama tunggu di acara pengajian 4 bulanan Dita ya, sama suamimu diajak.


Ternyata itu pesan dari Mamah Cyntia sepupu, Cyntia yang baru menikah beberapa bulan sudah hamil. Cyntia menelan ludahnya, ada kepahitan di sana.


Sebagai saudara, seharusnya Cyntia segera bangun. Memakai baju pengajian bergabung bersama orang tua dan sanak saudaranya. Tapi Cyntia memilih menyendiri di dalam kamar dengan kehampaanya.


Cyntia tidak tahu menjerit dan mengadu pada siapa. Cyntia menyadari ada yang pincang dalam rumah tangganya.


Sebenarnya tanpa diingatkan mamahnya, Cyntia ingat undangan Dita. Bahkan sehari ini Cyntia sudah berpuluh-puluh kali mengubungi suaminya agar pulang dan datang menghadiri acara pengajian 4 bulanan sepupunya itu.


"Apa aku datang sendiri aja?"


"Tidak, pertanyaan kapan aku hamil saja cukup merepotkan, bagaimana nanti aku menjawab ditanyai kemana Niko dan kenapa nggak ikut"


"Ah sudahlah aku tidur saja"


Cyntia bermonolog sendiri. Perkumpulan keluarga menjadi momok yang menyeramkan buat Cyntia. Karena suaminya tak kunjung pulang, Cyntia memilih tidur dan tidak datang ke acara saudaranya.


****


Hotel Bintang Lima.


Di kamar executive suite, sepasang pasangan haram itu tampak bersantai. Masih di atas kasur busa yang empuk, di atas paha kekar dan berotot Nicho, Paul menyandarkan kepalanya manja.


Dengan tatapan puas akan hasratnya, Nicho membelai rambut Paul yang terurai berantakan. Buah yang ranum tampak menyembul keluar karena Paul hanya mengenakan underwear.


"Apa kau mau lagi?" tanya Paul genit merasakan ada benda tumpul mengeras.


"Sebelum pulang, sekali lagi yah" jawab Nico penuh hasrat.


Paul kemudian memiringkan kepalanya. Tanpa jijik dan justru menikmatinya diraihnya benda tumpul yang berdiri kaku itu. Bagaikan paddle pop rasa banana, Paul memasukanya pada mulutnya yang berbisa dan kotor itu.


"Aaakh, Baby" desah Nicho keenakan.


Dengan senyum lincahnya Paul terus memanjakan junior kecil Nicho. Tidak puas hanya dengan mulut Paul, Nicho meminta Paul duduk, dilahap habis bibir Paul, kemudian turun ke bawah.


Tanpa melewatkan seinci pun, Nicho menyesap dan menciumi leher dan buah ranum Paul. Paul menggeliat kegelian, lalu mereka berlanjut ke dalam penyatuan setan itu. Kamar suite executive itu kemudian penuh dengan ******* laknat dan panas.


"Aaaakh" kedua manusia tanpa tahu malu itu selesai dalam penyatuanya dan saling melepaskan.


"Gue nggak pake pengaman, lo kb kan?" tanya Nicho saat melepaskan tembakanya.


"Gue KB. Tapi emang kenapa kalau gue hamil?" tanya Paul masih dengan tubuh toplesnya dan terlentang lemas.


"Lo yakin mau hamil lagi?" tanya Nicho beranjak dan duduk mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Lo janji kan sama gue, selepas gue cerai sama Aslan lo nikahin gue?" tanya Paul penuh harap ikut bangun dan duduk.


"Anak gue baru setahun Baby" jawab Nicho ucap Nicho membelai rambut perempuan cantik itu.


"Terus sampai kapan Nicho kita akan seperti ini?"


"Bertahanlah dengan Aslanmu itu, gue nggak bisa cerain istriku, Baby" jawab Nicho licik.


"Hah" Paul hanya mendengus kesal.


"Cup, jangan cemberut gitu, ayo berkemas, gue nggak mau istriku curiga" jawab Nicho lagi dengan senyum palsunya memegang pipi mulus Paul.


Lalu mereka berdua bangun, memebersihkan diri mereka dan segera pulang ke rumah masing- masing.


****


"Bangun Jagoan. Kita udah sampai" tutur Aslan membangunkan Ipang.


Ipang menggeliat dan membuka matanya malas. Sopir kemudian turun membukakan pintu mobil Aslan.


Kia, Rendra, Aslan dan Ipang turun. Mereka kemudian hendak berjalan masuk ke teras rumah.


Tepat di depan mata Kia. Sebuah rumah gaya minimalis elegan dengan cat putih. Tidak terlalu besar tapi terlihat kalau ini rumah mewah.


"Huuft" Kia menghela nafasnya geram.


Lalu memicingkan matanya menatap Aslan yang tampak berjalan menggendong Ipang.


"Tunggu!" panggil Kia ke Aslan agar berhenti berjalan.


"Ipang, sini sama Ibu" ucap Kia membentangkan tanganya mengajak Ipang bersamanya.


Dengan muka bantal dan mata sayu Ipang menoleh ke ibunya dan mencondongkan badanya hendak meraih tangan ibunya. Tapi Aslan langsung membelokkan gendonganya sehingga badan Ipang menjauh.


"Hiiiih, apa sih!" gerutu Kia ke Aslan kesal. Aslan selalu mendominasi Ipang dan tidak membiarkan Kia menyentuhnya.


Aslan tersenyum puas melihat Kia marah-marah terus. Menurut Aslan Kia sangat imut dan menggemaskan saat marah. Seperti bahan mainan yang seru.


"Cemburu banget sih. Kamu sudah bersama Ipang sejak malam itu sampai Ipang sebesar ini. Aku hanya ingin bersamanya seharian, pelit amat" jawab Aslan santai ke Kia. "Ipang sama ayah ya!" ucap Aslan lembut ke Ipang.


Ipang yg masih ngantuk dan setengah sadar jadi bingung. Akhirnya Ipang tetap menyandarkan kepalanya di dada Aslan. Aslan pun mendekap erat dalam gendonganya.


"Haish. Serahkan Ipang ke saya. Sudah cukup hentikan ke gilaanmu Tuan Aslan!" omel Kia lagi.


Lalu tanganya berusaha meraih paksa Ipang. Aslan sendiri tidak tinggal diam menghindari Kia. Lalu mereka berig justru tampak seperi keluarga yang bercanda berebut menggendong bayinya.


Rendra dan sopir melihat pemandangan itu dengan geli. Kemudian Rendra berniat untuk pamit saja.


"Tuan, Nyonya saya pamit" ucap Rendra.


Aslan dan Kia berhenti ribut sejenak melihat ke Rendra mengangguk.


"Tom, antar Rendra ke apartemenya" ucap Aslan menyuruh sopirnya.


"Baik Tuan" jawab Tomo. Lalu anak buah Aslan itu pergi.

__ADS_1


Kini tinggal Kia, Aslan dan Ipang. Ipang malah tertawa di putar-putar Aslan karena menghindari Kia.


"Ayo masuk!" ajak Aslan tenang.


Kia tau mereka tiba di rumah Aslan. Dan menurut Kia ini sangat gila. Menurut Kia Aslan benar-benar tidak memakai otaknya untuk berfikir lurus.


Bagaimana bisa lelaki beristri pulang membawa anak dari perempuan lain, dan bersama si perempuan itu. Padahal status mereka belum menikah. Kia tidak terima itu.


"Tolong jangan gila. Dan jangan ajak saya ke dalam kegilaanmu, Tuan Aslan" ucap Kia marah.


"Ibu... " panggil Ipang mulai takut lagi Kia marah-marah.


"Ipang turun, dan ikut ibu"


"Kenapa sih kamu. Dia butuh istirahat, katanya kamu khawatir akan kesehatanya, sudah ayo masuk!"


"Ck" Kia berdecak dan menarik baju Aslan lalu meraih Ipang.


"Sinih" ucap Kia


"Jangan" jawab Aslan.


"Sinih" ucap Kia lagi.


"Ibuuu" Ipang akhirnya menangis bingung mau memilih siapa.


"Ipang ini bukan rumah kita. Ayo ikut ibu, kita tidak seharusnya menginap di sini" tutur Kia lembut.


Sebenarnya Ipang sudah mencondongkan tubuhnya mau ke Kia. Tapi Aslan menahanya.


"Nggak, jagoan. Ini rumah ayah, rumah Ipang juga. Malam ini kita tidur di sini ya!" ucap Aslan menenangkan Ipang.


"Wuoooh, h. h. h" Kia benar-benar habis kesabaranya dan tidak mengerti jalan pikiran Aslan.


"Ck. ck. Berhentilah marah-marah Kia.. Kamu mau kemana, uang saja kau tidak bawa. Malam-malam begini bahaya buat kalian" ucap Aslan tenang dan malah mengatai Kia.


Kia menelan ludahnya baru ingat, dia kan dikerjai Aslan untuk sampai ke situ. Kia memang tidak membawa apapun. Ah tapi kan Kia membawa ponsel dan bisa minta tolong ke Cyntia.


"Kemanapun saya pergi itu urusanku. Kamu pikir aku mau tidur di rumah ini hah! Kau gila ya? Apa kata istrimu nanti jika aku tidur di sini?" jawab Kia marah lagi tidak mau terlihat lemah.


"Oh itu, istriku tidak ada di rumah, sudahlah ayo masuk!" jawab Aslan tenang.


"Nggak! Serahkan Ipang ke saya" jawab Kia mengajak ribut lagi.


Mendengar keributan, Bu Mina membuka pintu rumah. Dan memergoki posisi Kia dan Aslan berhadapan saat Kia memegang Ipang dan Aslan mempertahankanya.


"Tuan?" tanya Bu Mina bingung.


Kia malu dan melepaskan Ipang ke Aslan lagi. Kia terdiam menunduk. Memikirkan alasan apa yang akan dia jawab kalau orang lain tanya siapa Kia.


"Bu, siapkan air hangat dan makanan untuk Nyonya ini!" tutur Aslan memerintah Bu Mina lalu berlenggang menggengdong Ipang.


"Ba baik Tuan" jawab Bu Mina, lalu Bu Mina menatap Kia bingung. Bu Mina dan Kia saling pandang. Mereka tampak canggung..


"Mari Nyonya silahkan masuk" ucap Bu Siti.

__ADS_1


Meski Kia tidak mau masuk, karena keramahan Bu Siti, Kia mengikuti Bu Siti.


__ADS_2