Sang Pangeran

Sang Pangeran
80. Tuduhan


__ADS_3

Sebagai seorang ibu, prioritas Kia adalah anaknya. Dia adalah hidupnya. Anak yang dia kandung selama sembilan bulan dengan perjuangan dan air mata. Tidak ada yang boleh menyakitinya.


Jika orang menyakiti Kia, dengan apapun Kia masih bisa melawanya. Tapi kini Ipang yang disakiti, Ipang sampai menayakan sesuatu yang nggak seharusnya didengar oleh anak seusianya. Siapapun yang mengatakanya, Kia tidak akan diam saja. 


Jika Kia dicubit, Kia hanya akan merasakan satu kali cubitan. Tapi jika Ipang yang dicubit, Kia merasakan sepuluh kali cubitan. Belum tahu orang itu, mengusik Kia sama saja mengusik orang gila yang tertidur.


“Ini pasti kerjaan si ular itu!” gumam Kia. 


“Emang siapa lagi yang tahu tentang kalian kalau bukan dia!” jawab Cyntia. 


“Aku akan labrak dia!” ucap Kia matanya berkeliling dan hendak mencari si perempuan ular itu. Kia menggenggam tanganya mau nekat marah-marah dan memakinya.


“Nggak sekarang!" cegah Cyntia menarik tangan Kia.


"Lepas nggak. Gue mau beri perhitungan ke dia. Gue jambak dia sekalian!" ucap Kia lagi.


"Ki lo jangan bodoh!"seru Cyntia setengah membentak.


"Dia kurang ajar Cyn!"


"Gue tau. Tapi sadar kita sekarang dimana? Banyak mata, yang ada itu menyusahkan kalian. Pikirkan Ipang dan hidupmu. Sekarang yang penting bagaimana memberi pengertian ke Ipang agar tidak memikirkan kata- kata itu!” tutur Cyntia menasehati. 


Kia kemudian diam. Menelan ludahnya, menghela nafas pelan memikirkan perkataan Cyntia. Iya kalau dia ngamuk dan memberi keributan, apa yang akan terjadi pada Ipang? Akan lebih dibully.


"Are you oke? Lo ngerti kan?" tanya Kia.


“Oke gue ngerti. Makasih ya!” jawab Kia akhirnya menurut.


“Udah sekarang kita pulang, besok kita temui Ipang!” ajak Cyntia tenang.


“Iyah!” jawab Kia mengangguk. 


Lalu mereka berdua pulang ke rumah Kia. Sepanjang perjalana Kia diam, rasanya dunia gelap segelap langit yang tidak mendapat pantulan sinar matahari. Nafsunya untuk bicara pun hilang. 


Kia memandangi pnselnya, sudah seminggu Aslan susah dihubungi, padahal biasanya dia selalu absen keadaan anaknya. Bahkan berdasar penuturan Ipang, ayahnya janji segera menemuinya. Tapi bukanya datang malah menghilang. 


“Kamu kemana Aslan, bagaimana aku jelaskan pertanyaan anak kita? Jelaskan padaku apa yang terjadi antara kamu dan istrimu?” batin Kia memikirkan Aslan. 


Sesampainya di rumah Kia langsung bersih- bersih, mandi dan sholat isya setelah itu tidur. Tapi meski mata Kia terpejam Kia masih terus terjaga. Pikiranya masih tertuju pada dua laki- laki yang jauh darinya. 


Kia merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera memeluk Ipang, memberi tahunya bahwa dirinya bukan seperti yang dituduhkan.


Sebejat apapun orang tua yang melahirkan anak. Setiap anak terlahir dalam keadaan suci dan fitrah. Yang berdosa yang salah yang berhak mendapatkan hukuman adalah orang tuanya bukan anaknya.


Anak tidak tahu menahu, mereka tidak punya dosa. Dan mau menjadi apa anak itu, itupun tergantung orang tua mendidik dan menyirami otak dan hatinya. 


Kalaupun hukuman dunia dan moril sebagai ibu yang salah karena salah langkah. Kia sudah mendapatkanya berkali- kali lipat. Kia sudah di keluarkan dari kampusnya, diusir keluarganya, dicemooh setiap hari oleh orang- orang, belum lagi menjadi single parens mulai dari hamil sampai sekarang. 


Kia berharap cukup sampai di situ saja. Cukup Kia yang mendapatkan semua hukuman itu. Dan buat Ipang, Kia berharap hidupnya bahagia, jangan ada yang menyakitinya. Apalagi melabelinya dengan label yang menyakitkan.

__ADS_1


“Hhh” Kia menghela nafasnya tidak bisa tidur.


Padahal Cyntia sudah sampai ke negeri awan terdengar dari ******* nafas dan mulutnya yang melongo. 


Kia kemudian keluar kamar dan mengambil air minum. Lalu Kia duduk di sofa depan ruang tv, yang otomatis melihat foto Aslan. 


“Pria macam apa kamu sebenarnya? Apa maksudmu membuatku merasa berharga tapi kamu hilang entah kemana?” gumam Kia tersenyum kecut sendiri memandang foto ayah dari anaknya itu. 


“Ah aku tahu dia pasti sangat frustasi karena istrinya selingkuh. Tapi dia kan juga selingkuh denganku. Hidupmu membuatku pusing! Aku harus bagaimana?” gumam Kia lagi. 


"Hubungan yang seperti apa yang seharusnya terjadi. Aku berusaha menjaga, tapi tetap saja. Hal yang aku takutkan dan hindari terjadi juga? Aku tidak mencegahnya. Aku harus hadapi"


“Aku harus temui perempuan ular itu!” batin Kia lagi. 


Lalu Kia meneguk air putihnya banyak- banyak. Setelah merasa perutnya penuh, Kia menyandarkan badanya di sofa dan Kia tertidur di sofa. 


****


Pagi harinya Cyntia bangun duluan. Cyntia kira Kia sudah bangun untuk masak dan bersih- bersih. Setelah membasuh muka Cyntia bangun dan keluar. Betapa kagetnya Cntia melihat Kia tertidur dengan posisi duduk di sofa. 


“Ya ampun Kia. Lo tidur di sini? Bangun geh!” tutur Cyntia membangunkan Kia. 


Kia pun bangun, lalu Kia segera mengambil air wudzu membersihkan muka, sholat. 


“Gue harus ke asrama sekarang juga Cyn!” ucap Kia cemas


“Sepagi ini?” tanya Cyntia merasa Kia terbawa emosi. 


“Emang dibolehin ya?” 


“Gue nggak peduli. Toh Cuma tinggal Ipang dan Alena yang ada di sana. Pasti bolehlah!” jawab Kia. 


“Oke, gue harus ambil mobil gue dan urus surat- surat gue di rumah gue. Maaf ya gue nggak neminin! Gue juga ada syuting” tutur Cyntia 


“Nggak apa-apa, santai aja, gue bisa sendiri, toh gue udah punya Sim dan bisa nyetir, he..” jawab Kia sekarang percaya diri.


“Abis dari Ipang lo mau langsung pulang kan?” tanya Cyntia. 


“Entahlah. Gue pengen datengin rumah si ular betina itu?” jawab Kia menggebu- gebu. 


“Ngapain?” 


“Ini pasti kerjaan dia. Nggak ada orang lain yang berani ngata- ngatain anak gue begitu. Dia pengecut tau berani ngata- ngatain anak gue"


"Hemmm" Cyntia hanya mendengar kan Kia yang terlihat sedang membara dengan omelanya.


"Lo pikir coba? Bisa-bisanya dia nyerang anak kecil? Kenapa ke anak kecil? Gue udah cukup baik ya nggak terima lamaran Aslan. Dikasih hati, gue jaga perasaan dan kasian ke dia, dia malah musuhin aku. Dia pikir aku takut. Awas aja!” omel Kia lagi semakin menggebu- gebu. 


Kia mau melawan Paul, dan sekarang Kia yakin Paul perempuan jahat yang tidak perlu dipikirkan perasaanya gimana, karena ternyata Paul sendiri juga selingkuh. 

__ADS_1


“Hemmm ya terserah lo deh. Tapi lo dateng kesana bukan mau nglebrak istri tua dan ngancem mau ambil suamiya kaya di sinetron ikan terbang itu kan?”


“Nggak lah. Gue mah nggak peduli suaminya, gue mau kasih tau dia, buat jaga mulutnya. Kalau dia sampai nyakitin anak gue lagi. Gue nggak segan- segan buat balik serang dia, dan jangan salahin gue juga kalau gue akan ujudin apa yang dia tuduhkan. Baru tau rasa dia nanti!” 


“What? Maksud lo?” tanya Cyntia. 


“Ehm” Kia salah tingkah karena tanpa Kia sengaja maksud Kia adalah, kalau Paul terus memusuhinya dan memfitnah Kia, Kia akan benar- benar mengambil Aslan. 


“Emang yang Paul tuduhkan apa?” tanya Cyntia menggoda pura- pura tidak ngeh. 


“Ehm. Nggak apa-apa. Udah ah gue mau mandi!” jawab Kia tersipu dan pergi menghindar dari Cyntia.


Lalu Cyntia tertawa. Semakin hari Kia semakin ada kemajuan. Sepertinya bibit-bibit perasaan di hati Kia tumbuh semakin subur.


“Susah amat siiih tinggal bilang, iya gue emang mau jadi istri keduanya, udah tendang aja itu si Paul” teriak Cyntia membercandai Kia.


Tapi Kia sudah masuk ke kamar mandi dan tidak mendengarkan. 


Setelah dandan mereka berdua bersiap pergi sesuai dengan tujuanya masing- masing. Kia ke asrama dan Cyntia ke rumah lamanya.


Cyntia bertekad harus selesaikan urusan dirinya dan suaminya. Secepatnya Cntya juga harus beritahu keluarganya tentang urusan perceraianya. 


**** 


“Ibu...” panggil Ipang saat diberitahu petugas asrama ibunya datang.


Asrama sekarang sepi karena peserta bintang kecil tinggal dua orang. Satpam dan pegawai asrama pun membebaskan Kia masuk.


“Iya Sayang, sini peluk ibu!” jawab Kia merentangkan tanganya menerima hamburan pelukan Ipang. 


“Ipang udah sarapan?” tanya Kia menuntun Ipang untuk duduk di bangku. 


“Sudah Bu” jawab Ipang tapi justru menundukan wajahnya sedih. 


“Sayang?” tanya Kia mengangkat dagu Ipang dan memeriksa apakah benar anaknya cemberut. Ipang pun menoleh ke ibunya dengan tatapan sayu. 


“Are you okay? Apa makanan di asrama kurang enak?” tanya Kia lembut. 


“Makanan di sini semua enak Bu” jawab Ipang lagi, tapi masih dengan tatapan sedih.


“Terus kenapa kamu cemberut dan bersedih? Anak ibu makan banyak kaan?” tanya Kia lagi.


Tiba- tiba Ipang tidak menjawab dan langsung memeluk ibunya. Di dalam pelukan Kia, Ipang tidak bisa menyembunyikan kesedihanya. 


Kia yakin sekali Ipang sedang terisak dan menangis. Meski Ipang anak laki- laki, Kia tau betul anaknya dalam beberapa hal sensitif.


Apalagi Kia menyadari sejak dari hamil muda Kia sering menangis, masa kecil Ipang juga banyak hal berat yang menghampiri mereka. 


“Menangislah Nak, katakan pada ibu ada apa?” tanya Kia mengelus rambut Ipang. Tapi Ipang belum menjawab dan masih terisak.

__ADS_1


“Sabar ya, kompetisi menyanyinya tinggal satu minggu lagi, setelah itu Ipang pulang, dan kita akan tinggal bersama seterusnya. Kita akan tinggal di rumah yang dibelikan ayahmu. Kamu belum lihat kan, rumah yang ayah belikan?” tanya Kia pelan. 


Lalu dengan segera Ipang mendongakan kepala menatap ibunya.


__ADS_2