
Tidak mau berkata-kata lagi Kia melirik ponsel yang terlihat menyembul di saku Jeje. Dengan cerdas Kia maju ke depan dan meraih paksa ponsel Jeje. Secara otomatis, Kia menarik tubuh Jeje mendekat, mereka hampir bersentuhan.
Kia memang berhasil mengambil ponsel Jeje, tapi di saat yang bersamaan teman ngeband Jeje melihat adegan itu. Jeje pun tidak menghindar malah terlihat bahagia.
"Jeje? Ibunya Pangeran!" pekik Dina dan Fatur teman Jeje. Mereka kaget melihat Jeje dan Kia terlihat dekat dan akrab.
"Ehm!" Kia langsung pucat dan salah tingkah. Dina dan Fatur pasti salah kira.
"Hai!" jawab Jeje santai dan malah menampakan seakan dirinya memang dekat dengan Kia.
"Kalian sedang apa?" tanya Fatur.
"Nggak apa-apa. Kalian masuklah lebih dulu. Gue ada urusan dengan ibunya Pangeran!" jawab Jeje.
Sementara Kia tetap diam, bingung mau menyangkal atau tidak. Menjelaskan pun hanya akan semakin membuat prasangka.
"Kalian saling kenal?" tanya Dina.
Jeje diam dan tersenyum nakal menatap Kia. Jeje ingin Kia yang menjawab. Kia pun terpojok karena semua mata tertuju padanya. Terpaksa Kia menjawab.
"Iya. Kami dulu satu kampus!" jawab Kia.
"Oh gitu?" jawab Fatur dan Dina mengangguk.
"Ya udah sok dilanjut, kita latian dulu ya!" ucap Dina pamitan sambil melirik Kia aneh.
"Yok!" jawab Jeje.
Dina dan Fatur kemudian masuk ke ruang latian meninggalkan Jeje dan Kia.
"Kalau kamu mau peluk aku? Bilang saja, peluklah aku sesukamu? Perasaanku padamu tidak berubah Kia, kenapa canggung-canggung begitu!" ucap Jeje lagi menggoda Kia.
"Najis ! Jijik! Gue perlu ini!" jawab Kia membawa ponsel Jeje. Kia berbalik membuka pintu mobilnya hendak pergi.
"Eits mau kemana?" tanya Jeje menarik menahan pintu mobil Kia, saat Kia hendak masuk
"Gue nggak ada waktu ngeladenin pria busuk, gila dan nggak tau diri sepertimu! Minggir!" bentak Kia dengan tatapan tajamnya.
"Balikin dulu ponselku!" ucap Jeje.
Kia tidak menjawab tapi langsung membanting ponsel Jeje ke halaman paving Tuan Alvin. Kia juga menginjaknya dengan sekuat tenaga.
"Ambil ponselmu!" ucap Kia puas melihat ponsel Jeje hancur.
"Oh my God Kia. What are you doing?" ucap Jeje dengan wajah pura - pura syok tapi kemudian tertawa.
"Ini belum seberapa! Bahkan uangku belum kau kembalikan!" ucap Kia merasa perbuatannya seharusnya cukup membuat Jeje kesal. Tapi ternyata Jeje tidak kesal.
__ADS_1
Jeje tersenyum, tanganya mengambil satu ponselnya lagi dari saku celananya. Ternyata ponsel Jeje banyak. Yang Kia hancurkan satu ponsel Jeje yang butut. Kia pun jadi semakin geram dan merasa kalah.
"Rekaman percakapanmu dengan Cyntia ada di sini Kia! Satu video ini terunggah ke sosial media. Bukan hanya kamu, tapi karir Pangeran dan Cyntia juga gue pastikan langsung meredup!" ucap Jeje dengan tengilnya lagi mengancam.
Jeje dan Mely benar-benar biadap. Video itu dulu benar-benar menyakiti Kia. Video itu sudah membuat Kia dikeluarkan dari kampus.
Semua teman Kia melabeli Kia dengan perempuan sewaan, bayaran dan sekarang Jeje masih mau menghancurkan anak Kia dengan video itu.
Kia mengeratkan rahangnya sangat marah. Emosi Kia membuncah. Kia ingin merebut ponsel itu, tapi Jeje dengan nakal dan menjijikan memasukan ponsel itu ke saku celana depanya. Jika Kia nekat memaksa mengambilnya Kia akan menyentuh bagian sensitif tubuh dan paha atas Jeje.
Kia menelan ludahnya menahan emosi yang meluap. Kia mau melampiaskan lagi, tapi Kia tidak bisa karena tau posisinya sebagai ibu Pangeran, Kia berada di tempat banyak orang. Jika Kia salah meluapkan, kasian Pangeran.
Saking tidak bisa menahanbemosinya yang keluar air mata Kia. Tangan Kia mengepal geram.
"Hey... kamu menangis! Oh my God. Kia yang cantik jangan nangis dong!" ucap Jeje melihat Kia meneteskan air mata. Tangan Jeje hendak menyentuh pipi Kia, tapi langsung Kia tepis.
"Apa salahku Je. Kenapa kamu terus berbuat jahat padaku? Kenapa kamu nggak mati aja sih!" tanya Kia benar-benar merasa sangat didzolimi Jeje.
Jeje tersenyum lagi mendengar umpatan Kia.
"Kamu tau kan, apa yang aku minta dari dulu. Tidurlah denganku. Kenapa kamu menolakku? Kenapa kamu jual mahal dan sok suci pada ku, padahal kamu mengobral dan pasang tarif untuk orang lain?" jawab Jeje lagi merendahkan Kia.
Tentu saja Kia sangat tersinggung, terhina dan tidak terima.
"Tutup mulut busukmu itumJangan ngimpi kamu bisa menyentuhku. Aku bukan sok suci. Aku memang bukan perempuan seperti itu! Aku punya harga diri!" jawab Kia tegas.
"Oh iya? Berapa harga diri kamu? Kalau kamu bukan perempuan seperti itu lantas kamu perempuan seperti apa? Apa adanya Pangeran bukan bukti dari murahmu, hah? Kamu tetap rendahan Kia!" ucap Jeje lagi.
"Aku seorang istri! Aku istri Aslan Nareswara! Aku bukan perempuan murahan. Pangeran punya ayah dan ibu yang utuh!" jawab Kia kemudian sudah frsutasi.
"Oh iya? Istri apa? Istri simpanan ya? Apa bedanya Ki? Semua orang tau Kia, Tuan Aslan suami Nyonya Paul. Aku menawarkanmu menikah denganku secara terhormat kenapa kamu memilih jadi istri simpanan sih?" ucap Jeje lagi.
"Sok tau kamu. Aku bukan istri simpanan dan aku istri sahnya. Kamu tidak tahu apapun tentang Suamiku. Jadi tutup mulutmu!" jawab Kia lagi berani.
Jeje pun terdiam dan tersekak, mendengar kata Kia sungguhan menjadi istri sah Aslan.
"Berani kamu macam-macam padaku dan anakku. Kamu akan menyesal! Ingat itu!" ucap Kia lagi mengancam.
Lalu Kia menutup pintu mobilnya. Jeje pun pasrah sambil melihat Kia pergi.
Kia kemudian memundurkan mobilnya, pergi dari halaman rumah Tuan Alvin dan langsung pulang ke rumah.
Meski Kia sempat mengancam Jeje. Sebagai perempuan normal, apalagi Kia sedang menstruasi. Kia sangat sensitif dan merasa tersakiti, apalagi sebenarnya pernikahan Kia memang baru pernikahan siri.
Sepanjang jalan Kia pun meneteskan air mata mengingat masalalunya. Kia benci Jeje. Kia benci Melly, Kia juga sakit mengingat perlakuan Ranti. Kia juga sakit mengingat Aslan yang dulu.
Sampai di rumah Kia langsung masuk kamar. Seperti kebiasaanya saat Kia sedih, Kia menangis sendirian di kamar.
__ADS_1
"Aku mau beneran jadi istri Abang yang diakui dan bukan hanya siri!" batin Kia menangis, Kia mau sekarang nikah KUA.
Perkataan dan pengihanaan Jeje membuat Kia tersakiti dan ingin menunjukan kalau Kia bukan perempuan seperti yang dituduhkan. Kia berbaring di kamarnya melampiaskan emosinya, tengkurap dan memeluk bantal.
Di saat yang bersamaan Aslan pulang. Aslan sangat bahagia melihat mobil Kia sudah terparkir, tandanya Kia di rumah. Aslan kan ingin menyampaikan berita bahagia.
Saking bahagianya Aslan tidak mengucapkan salam. Aslan langsung masuk dan ingin tunjukan sesuatu yang sangat berharga untuk Aslan. Akta perceraian.
Aslan langsung masuk ke kamar Kia, karena kata Mbok Mina yang Aslan temui di halaman. Kia di kamar. Aslan tercengang melihat istrinya nangis sesenggukan.
"Sayang ..." panggil Aslan.
Mendengar kedatangan suaminya Kia buru-buru menghapus air matanya. Kia tidak mau terlihat jelek di hadapan Aslan.
"Abang!" jawab Kia lirih.
"Sayang. Tunggu-tunggu, kamu kenapa?" tanya Aslan meraih dagu Kia dan memperhatikan mata Kia yang sembab.
"Kamu menangis?" tanya Aslan lembut.
Kia tidak menjawab menangis atau tidak, tapi malah menepis tangan Aslan dan menanyai Aslan.
"Abang katanya kerja dan urus masalah mantan istri Abang, kok Abang pulang?"
"Jawab dulu. Kamu nangis, heh?"
"Kalau iya kenapa?" tanya Kia menundukan kepala.
Meski bukan jawaban ya, tapi Aslan yakin dan tau kalau istrinya memang habis menangis. Aslan kemudian menggeser tubuhnya mendekati Kia dan berniat memeluk Kia.
Sayangnya pelukan Aslan Kia tolak. Kia mau benar-benar jadi perempuan yang berarti buat Aslan yaitu dengan jadi istri sah dan satu-satunya. Agar jika ada yang menghinanya Kia punya bukti.
"Jangan sentuh Kia, Bang!" ucap Kia memegang tangan Aslan mencegah merengkuhnya.
"Kenapa?" tanya Aslah tersinggung.
Dari kemarin kan Kia kasih ijin Aslan menyentuhnya bahkan lebih dan banyak sekali lebihnya, sampai kemana- mana. Tapi kenapa sekarang hanya berniat memeluk saja, Kia tolak.
"Abang mulai malam ini tidur di kamar atas aja!" ucap Kia lagi.
"Hey, kamu kenapa sih?" tanya Aslan lagi.
"Bang. Kan perjanjian awal kita gitu Bang! Abang nikahin Kia biar Abang bisa pulang ke rumah tanpa takut Dosa. Abang janji nggak nuntut Kia. Abang janji kan mau urus nikah KUA secepatnya baru kita tidur sekamar! Kia mau kita pisahan dulu sampai buku nikah kita ada titik." ucap Kia menggebu-gebu.
"Iya, Sayang iya! Abang Janji kita urus secepatnya. Nih Abang baru mau kasih tau kamu, urusan Abang dengan Paul sudah selesai. Abang resmi bercerai dari Pual. Ini demi kita. Setelah ini secepatnya Abang ajuin nikah kita!" ucap Aslah mengeluarkan Akta cerainya.
Kia diam dan mengambil akta cerai Aslan. Kia membacanya dengan seksama.
__ADS_1