
Kikan berjalan dengan muka polosnya sambil mengucir rambutnya ke teras dimana Umma dan saudaranya itu bercengkerama. Kia segera mengusap air matanya dan menoleh ke Kikan. Kikan sedikit heran suasanya terlihat tegang.
“Makanlah dulu!” ucap Aslan ke Kikan. Saat itu hanya Aslan yang bertahan belum lolos air matanya.
Kikan kemudian memperhatikan wajah keluarganya satu- satu.
“Umma sama Kak Kia kenapa?” tanya Kikan polos.
“Sudah sana makan dulu!” ucap Aslan lagi.
Kikan mengangguk, tapi matanya masih mencoba menelisik dan memendam tanya ada apa dengan Ummanya itu. Merasa masih anak kecil dan sebagai anak yang tau tata krama, Kikan tidak melanjutkan pertanyaanya.
“Ya udah Kikan nyemil dulu aja, kalau mau makan panggil Kikan di kamar ya Kak!” jawab Kikan mengalah.
“Siip!” jawab Aslan.
Karena terjeda Kikan, kesedihan dan larutnya perasaan Kia dan Umma di kehidupan masalalu buyar. Mereka kembali sadar ke pemikiran rasional dan menyadari kenyataan sekarang.
“Lanjut Umma!” ucap Aslan.
“Abang..” ucap Kia lembut mencubit suaminya
Aslan menoleh ke Kia,
“Barangkali Umma mau sarapan dulu? Sarapan dulu aja Umma!” tutur Kia lembut dan pengertian.
“Kalian mau ziarah dan mau ke kabupaten Y kaan?” tanya Umma.
“Iya Umma!” jawab Kia. Aslan juga ikut mengangguk.
“Kalian libur berapa hari?”tanya Umma lagi.
“Kita sama- sama sedang nganggur Umma!” jawab Kia merendah.
Umma tersenyum mendengar kata nganggur.
“Berarti setelah dari kota Y mau balik ke sini?” tanya Umma.
“Tidak Umma, anak kami besok akan tampil terakhir, dia butuh kami untuk mendukungnya!” jawab Kia mengingat lusa penampilan final Ipang.
Aslan juga berdehem, besok pagi kan Aslan ada agenda memberi pelajaran ke Jeje. Aslan ingin menemui tikus kecil yang berani menyentuh dan membuat istrinya menangis.
“Jadi kalian akan langsung pulang setelah ini?” tanya Umma lagi.
“Maaf Umma, sebenarnya Kia betah dan ingin berlama di sini, tapi bukan sekarang!” jawab Kia lembut.
“Nanti, kalau kita udah resespsi dan nikah resmi Umma, kita nginep yang lama di sini sekalian ajak Pangeran!” tutur Aslan lagi.
“Nama anak kalian Pangeran?” tanya Umma.
“Iya Umma!” jawab Kia.
__ADS_1
“Sudah cukup? Atau masih ada yang ingin kalian tanyakan lagi?” tutur Umma memberi kesempatan Kia.
“Masih Umma, masih banyak!” jawab Kia bersemangat tapi sudah tidak menangis lagi.
“Jangan nangis!” ucap Aslan meledek dan menyindir, padahal dirinya juga menangis.
“Lanjutin Umma!” tutur Kia meminta.
“Tadi sampai mana? Apa yang ingin kalian tahu?”
“Setelah kepergian ayah mertua? Ibu mertua tinggal dimana? Dengan siapa? Kenapa Ibu mertua bisa menikah dengan Tuan Agung? Lalu bagaimana nasib kakek? Bagaimana Ibu mertua meninggal?” tanya Kia sangat kritis dan bersemangat.
“Sayang banyak banget sih tanyanya!” tutur Aslan menegur Kia, padahal Aslan juga ingin tau dan malah lebih dulu mencari tahu.
“Umma akan jawab, tapi setahu Umma ya. Selebihnya tugas kalian yang cari tahu sendiri!” tutur Umma kemudian.
“Iya Umma!” jawab Kia bersemangat mendengarkan lanjutan cerita Umma.
“Makan dulu aja, yuk! Kasian Kikan! Lapar dia!” ucap Aslan mematahkan semangat Kia. Aslan mengurungkan niatnya setelah mendengar pertanyaan Kia yang banyak.
“Abang! Tadi kan Abang yang bilang lanjut!” bantah Kia. Orang Kia juga udah tanya ke Umma dan Umma mau lanjut cerita aja.
“Jam berapa sekarang?” tanya Umma.
“Masih jam 7 umma!” jawab Kia.
“Ya udah sarapan dulu!” jawab Umma.
Umma Arini mengangguk. Mereka kemudian masuk ke dalam menuju ke dapur.
"Kikan, ayo sarapan!" tutur Umma mengajak Kikan sarapan.
"Ya Umma!" jawab Kikan, keluar dari kamar.
Sebenarnya Kia dan Umma, masih ingin duduk dan bercerita. Bagi Kia rasa laparnya hilang, karena rasa penasaran Kia lebih besar. Entah kenapa malah Kia yang ngotot ingin tahu.
Aslan bukan takut dengan Tuan Agung atau tidak penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Dada Aslan sekarang berkecamuk. Pertanyaan Aslan lebih banyak dari Kia. Hati kecil Aslan mengatakan kematian ayah dan ibunya tidak wajar. Memory-memory masa kecilnya datang. Aslan butuh waktu menjeda itu semua.
Di sisi lain Aslan juga berpikir, walau bagaimanapun, Tuan Agung adalah ayah dari Satya. Aslan menyayangi Satya, Aslan tidak ingin hubungan dengan adiknya itu rusak. Aslan juga tidak ingin Kia jadi terbayangi ketakutan masa depan setelah mengetahui kenyataan tentang keluarganya.
Dalam diamnya Aslan menimbang. Apa perlu Aslan terus melanjutkan memecahkan teka-teki itu. Aslan berfikir apapun kenyataan di masalalu tentang kematian ayahnya tidak akan mengubah apa yang ada sekarang.
Ayah dan Ibu Aslan tidak akan kembali. Tuan Agung juga sudah tua dan sakit-sakitan. Hubungan Aslan dan Satya juga baik. Aslan juga mempunyai masa depan, lebih mandiri dan gagah.
Dunia Aslan sekarang adalah masa tua bersama Kia, membesarkan Ipang dengan penuh cinta dan memberinya adik kecil yang manis.
Tapi sifat Kia tidak mudah dipatahkan. Kia pasti akan mengejar Umma seperti harimau betina yang kelaparan. Dia akan terus berjuang dan meraung menakutkan, sampai menemukan mangsa dan kenyang. Aslan tidak berdaya melawan istrinya itu.
Solusi Aslan meredam otaknya yang mendidih dan hatinya yang bergemuruh adalah dengan menjeda waktu. Aslan memilih mengisi bahan bakar, karena menangis dan emosi jufa butuh energi.
Aslan berjalan dengan tatapan kosong sampai tidak sadar Aslan menabrak vas berisi tombak kayu, sebagai hiasan peninggalan kakek Aslan yang terpajang di dekat ruang makan.
__ADS_1
"Auw!" pekik Aslan. Vas itu terjatuh.
"Ck" Kia berdecak. "Kalau jalan jangan ngelamun ya Bang!" ucap Kia melihat tombak-tombak kayu itu jatuh.
"Ya maaf!" jawab Aslan
Lalu mereka berdua, merapihkan vas yang jatuh dan tercecer itu.
"Klintiiing!"
Tiba-tiba ada benda kecil yang tergelincir ikut jatuh dari vas itu. Kia pun mengambilnya. Umma, Aslan dan Kia ikut melihatnya.
Kia memegangi benda itu dan menatap suaminya.
"Apa itu, Sayang?" tanya Aslan.
Kia memegangi benda kecil yang berdebu itu.
"Cantik banget, Bang. Ini liontin!" ucap Kia menunjukan liontin bulat yang mengembung. Seperti liontin yang mahal dan bisa dibuka. Kia mau membuka isinya, tapi ada sedikit karat dan kotoran sehingga susah dibuka.
Umma kemudian mendekat dan ikut memeriksa apa yang ada di Kia.
"Astaghfirulloh, pertanda apa ini? Simpanlah! Ini punya ibumu yang dia cari selama ini. Ini rejekimu, Nduk! Umma ikut bingung Kak Andini waktu itu ribut nyari liontinya" tutur Umma menatap Aslan dan Kia.
"Hooh!" Kia terbengong hampir tak percaya.
Selama itu, selama 30 tahun lebih benda kecil ini tersemat di dalam vas hias. Kenapa bisa keluar dan tergelincir sekarang?
"Ya Umma!" jawab Kia mengangguk.
"Ya udah ayo sarapan. Nanti Umma jawab pertanyaan kalian!" tutur Umma.
Mereka kemudian mengambil kursi masing-masing. Aslan sebagai keluarga laki-laki Aslan duduk di tengah. Umma dan Kikan ada di sisi kanan, Kia di sisi kiri.
Pagi itu, Kikan dibantu Kia menyediakan tumis daun kol segar. Sederhana tapi enak. Meski masakan semalam, Kikan juga masih menyajikan brongkos ati ampela kesukaan Umma, tidak lupa ada kerupuk.
Mereka kemudian makan bersama dengan nikmat. Setelah selesai makan Kia bersemangat membereskan piring dan ingin segera melanjutkan cerita bersama Umma.
"Kikan bantu ya Kak!" ucap Kikan.
Sementara ponsel Aslan berdering. Rupanya laporan dari Rendra, mengenai identitas Jeje. Aslan menyunggingkan senyum dan membalas pesan Rendra.
"Siip, atur saja!"
****
Makasih udah baca.
Kisah dari Umma part 3 Insya nanti malam dini hari kalau nggal besok pagi2.
Maaf ya, alurnya emang begini. He..
__ADS_1
Semoga tetep terhibur yaa.