Sang Pangeran

Sang Pangeran
157. Bapak.


__ADS_3

Mendapat bogeman dari Rendra, Will terhuyung dan mulutnya langsung berdarah. Rendra dan Aslan kan hidup sehat, no alkohol, dan rutin olahraga jadi bogemanya sangat mantap. Apalagi Aslan yang suka olahraga boxing.


“Rendra stop!” teriak Meta spontan.


Meta mendekat ke Rendra dan memeluknya. Meta berpikir bisa menenangkan pacarnya itu.


"Tenang Ren biar aku jelaskan!" ucap Meta.


Di luar perkiraan Meta, Rendra menatap Meta sinis tanpa berkata apapun. Rendra menghempaskan Meta dengan kasar sampai Meta terjatuh. 


“Rendra!” pekik Meta ketakutan. 


Melihat hal itu Will emosi. Will maju dan berniat membalas. Will memebrikan bogeman ke Rendra. Rendra menangkis dengan sempurna. Will tidak menyerah dia berusaha  memukul Rendra, sampai berhasil. Mereka akhirnya saling tonjok dan terjadi perkelahian sengit. Pegawai toko sampai menjerit dan memanggil satpam. 


Dalam perkelahian itu, Rendra menang, meski pipi Rendra memar. Semenyatara Will parah dia bukan hanya memar, tapi berdarah. Melihat hal itu, Meta yang takut pada Rendra lebih memilih menolong Will. 


"Will, are you okay!" tanya Meta panik dan memegang pipi Will yang lebam.


Rendra melihatnya dengan jelas. Dirinya diacuhkan.


Hati Rendra semakin ngilu, sakit, seperti tercabik- cabik kuku yang panjang dan runcing, seperti tersayat sembilu yang tajam. Tanganya yang kini pegal dan pipinya yang merah ternyata belum bisa mengobatinya. Hatinya tetap sakit. 


Satpam datang dan melerai. 


“Jangan berkelahi di ruangan kami, atau silahkan ikut kami ke kantor!” ucap satpam. 


“Saya akan pergi!” jawab Rendra tidak mau patuh dan meladeni satpam. 


Rendra mengambil ponselnya tidak mau berkata apapun pada Meta dan Will. Melihatnya saja Rendra sangat sakit. Rendra pergi dari ruangan itu.


Sesampainya di parkiran. Rendra membanting pintu mobilnya sangat keras. Di dalam mobil Rendra membanting setir dan menundukan mukanya. Rendra menangis. 


Rendra sama seperti Aslan, susah jatuh cinta, tapi sekalinya menjatuhkan pilihan dia akan memberikan hatinya, seutuhnya. Rendra berteriak meluapkan emosinya.


"Aaarrrghh!"


Cinta Rendra yang tulus, pengorbabanan yang besar, dibalas dengan penghianatan. Rendra yang sudah menyiapkan kado mahal sebagai kejutan malah dihadapkan dengan kenyataan yang pedih. 


“Dasar binal!” umpatnya merasa sangat kecewa.


Rendra bukan orang yang kuper dalam dunia media sosial seperti Aslan. Keseringan diperintah Aslan untuk mematai seseorang, membuat Rendra lebih tau dunia di luar kantor. Rendra tidak seperti Aslan hanya tau dari apa yang anak buahnya laporkan. Rendra juga tau siapa Will. Will adalah seorang cassanova, bahkan Nareswara dan ITV pernah memakai jasa Will. 


Rendra sangat tahu bagaiamana Metta. Jika dengan Rendra, Meta begitu agresif dan berani memainkan burung Rendra yang masih ori, apalagi terhadap Will. Pasti Will sudah mencicipi Meta.


Jika di depan umum saja berani mesra- mesraan dan peluk- pelukan, apalagi jika di kamar dan tak ada orang. Bayangan Rendra berkelana kemana- mana, dan itu memang kenyataanya. Rendra seketika jadi jijik dengan Meta.


Rendra merasa sangat pusing dan sesak. Tas mahal di sampingnya seperti mengejek Rendra. Mengejek perjuangan Rendea yang berbalas dengan penghianatan.

__ADS_1


Tas itu dia banting ke jok belakang dengan kasar oleh Rendra. Melihatnya membuatnya sangat sakit. Rendra berniat membakarnya saja nanti, beserta barang- barang Meta sekalian. Sekarang, Rendra ingin menyembuhkan pusingnya dulu.


Rendra kemudian menyalakan mesin mobilnya kencang menuju ke sebuar bar. Rendra ingin minum- minuman keras. Rendra pikir itu akan membuatnya senang.


Rendra hampir tidak punya teman dekat selain Aslan dan Satya. Satya mngurus Papanya di rumah sakit. Aslan setau Rendra baru akan kembali besok pagi. Yang ada di otak Rendra, teman Rendra adalah bar.


*****


Di rumah Aslan


“Abang mau nambah? Kia ambilkan ya!” tutur Kia pelan melihat nasi Aslan habis. 


“Nggak usah, Sayang! Ini udah cukup kok!” jawab Aslan. 


“Oke!” jawab Kia. 


Kia kemudian menuangkan air putih ke gelas, untuk suaminya.


"Minumnya, Bang!" ucap Kia.


Kia semakin menyesuaikan diri dengan peranya sebagai istri. Kenyataan masalalu Aslan, dan masalah ejekan Jeje membuat Kia semakin bertambah simpati dan cintanya ke Aslan. Itu sebabnya, Kia cepat tanggap menyediakan badan sebagai istri yang baik tanpa melawan dan gengsi lagi. 


“Makasih, Sayang!” ucap Aslan mengambil air minum dan menghabiskannya. 


Kia meletakan kedua tanganya di meja dan menatap suaminya hangat sambil tersenyum. Ditatap seperti membuat Aslan selalu semangat dan ingin selalu di dekat Kia. 


“Udah, katanya kamu mau liat videonya. Yuk!” ajak Aslan ke Kia.


“Oke! Kia bereskan ini dulu ya!” jawab Kia. 


Kia mengambil piring dan gelas Aslan, mengambil bekas makanya sendiri dan membersihkan meja. Setelah itu membawanya ke tempat mencuci piring. 


Kia sebenarnya ingin mencuci piring, karena Kia pikir hanya dua piring dan dua gelas kan ringan. Saat Kia mengambil spon berisi sabun , Aslan mendekat.


Aslan menelusurkan tanganya ke kedua sisi pinggang Kia yang seksi. Malam itu Kia mengenakan pakaian tidur, berupa dres satin yang pendek. Tangan Aslan melilit tubuh Kia hangat. 


“Biar, Mbak Narti atau Mbok Mina yang cuci, Sayang!” bisik Aslan di telinga Kia membuat Kia sedikit kegelian, tapi enak. 


“Tanggung, Bang! Cuma dikit kok!” jawab Kia sedikit memiringkan kepalanya reflek sebagai respon tubuh karena geli. 


Aslan tidak menjawab lagi, tapi meraih spons itu, merebutnya dan meletakan di tempatnya. 


“Kalau nggak nurut, Abang gendong nih!” ucap Aslan mengancam. 


“Yaya!” jawab Kia patuh dan meninggalkan cucian piringnya. 


Mereka berdua kemudian masuk ke kamar. 

__ADS_1


“Kamu cantik banget, Sayang!” bisik Aslan lembut ke Kia sambil memeluk dan mencium kepalanya.  


Setelah kenyang, melihat istrinya yang seksi dan wangi, membuat kesedihan Aslan tersamarkan. 


“Hmmm. Kia emang cantik dari lahir kan? Mana videonya?” jawab Kia santai tidak menyadari suaminya diserang gair*ah yang kembali menyala. 


Aslan memeluk sambil tanganya bergerak menyusuri baju Kia. 


Kia menepis tangan Aslan dan duduk menghindari Aslan. Kia menyalakan I-Pad suaminya.


“Abang mau bentar yah!” bisik Aslan di luar dugaan Kia.


Kia tersentak dan kaget. 


“Mau apa, Bang? Abang nggak jadi ketemu pengacara Abang?” tanya Kia mengingatkan. 


“Jadi!” jawab Aslan. 


“Mau ketemu jam berapa emang Bang?” tanya Kia lagi. 


Karena Kia malah bertanya terus, Aslan tidak sabar. Aslan membalikan badan Kia yang duduk menghadap I-pad hendak melihat video menjadi menghadap ke Aslan. Kia diam, karena bingung. Suaminya suka berubah- ubah moodnya. 


Aslan tidak meminta ijin dan langsung menurunkan tali dres piyama Kia ke bawah. 


“Abaang” pekik Kia gelagapan.


Meski Aslan sudah bukan pertama membukanya, tapi Kia tetap masih kaget dan belum terbiasa jika Aslan melakukanya tergesa begitu. 


Aslan langsung menundukan badanya, dan seperti Ipang saat kecil. Aslan ingin memenuhi has*atnya, melengkapi menu makan malamnya , menjadi empat sehat lima sempurna, karena Kia hanya memberinya air putih. 


“Abang!” desah Kia lagi memegang kursi saat merasakan sensasi rasa yang membuatnya melayang. 


Aslan dan Ipang ternyata berbeda. Jika Ipang waktu kecil dulu membuat Kia terkadang merasa sakit dan lecet, bahkan Kia pernah mastitis karena Kia belum pengalaman. Aslan tidak membuat Kia sakit, justru sebaliknya. 


Di saat, Kia hampir di bawa ke surga oleh Aslan, ponsel Aslan berdering. Aslan segera melepaskan mulutnya. 


“Cepat bersih ya!” bisik Aslan ke Kia meninggalkan Kia begitu saja tanpa merapihkanya lagi. Aslan mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari pengacaranya. 


“Ish!” Kia hanya mendesis dan membetulkan tali pembungkus harta berharganya, kemudian menaikan dressnya lagi. 


"Bersih apanya?" batin Kia.


Kia membuka I-pad Aslan sendiri tanpa menunggu diberi tahu. Kia langsung mencari ke galeri video, karena Aslan sudah cerita lebih dulu. Kia tidak begitu kaget saat melihat video pertama karena Aslan sudah lebih dulu memberitahu isinya.


Saat melihat video kedua, mata Kia terbelalak. Kia mempaus video itu. Kia memperbesar gambar laki- laki yang berjalan bersama Tuan Agung. 


“Bapak!” 

__ADS_1


__ADS_2