
Aslan menutup ponselnya setelah selesai bicara dengan pengacaranya. Aslan tidak mendekati Kia, justru ke ruang ganti mencari pakaianya yang sudah Mbok Mina bereskan.
Jika kemarin ditaruh di kamar Ipang karena awal ikut peraturan Kia. Sekarang, Aslan tidak peduli perjanjianya. Aslan minta ke Mbok Mina menata bajunya di kamar Kia.
Kia terus melanjutkan menonton videonya tanpa Aslan. Nafas Kia memburu, Kia tidak menyangka, Bapak Kia kenal dengan orang tua Aslan.
Iya Kia ingat dan yakin, itu wajah bapaknya. Kia kecil suka menulis dan membaca, karena Bapaknya sering memberinya hadiah buku. Bapaknya yang menanamkan Kia untuk suka membaca dan menulis.
“Bapak!” ucap Kia lagi masih tidak percaya. Kia menangi sendirian tanpa Aslan tau.
“Sayang, Abang ke kantor baru Abang ya!” ucap Aslan sambil merapihkan rambutnya, tidak menoleh Kia.
Kia yang sedang syok tidak menggubris perkataan Aslan. Kia menggigit jarinya dan meneteskan air mata. Berbagai pertanyaan muncul di kelapa Kia.
Jadi ayah Kia itu kenal dengan ayah suaminya di masalalu? Apa hubungannya? Apa ayah Kia terlibat? Atau sebaliknya? Apa kebakaran di kantor Aslan yang menewaskan ayahnya juga sebuah rencana?
“Sayang!” panggil Aslan lagi ke Kia, karena Kia tidak menyahut.
Kia tetap belum menjawab dan tidak mendengar panggilan Aslan.
"Sayang!" panggil Aslan lagi dan mendekat. Aslan mendengar Kia menangis.
“Sayang kamu kenapa?” tanya Aslan kaget.
“Hei kamu kenapa?” tanya Aslan lagi memegang dagu Kia lembut.
“Abang!” panggil Kia, air matanya menetes lagi.
“Kamu kenapa?” taya Aslan sambil menyeka air mata Kia.
Kia tetap diam.
“Jangan nangis dong!” ucap Aslan lagi sambil memeluk Kia. "Cup... cup.. " ucap Aslan membelai rambut Kia.
“Abang pergi sebentar aja. Abang akan copy file ini untuk diolah pengacara biar kita bisa adukan si tua bangka itu! Abis itu Abang pulang lagi, jangan nangi ya!” tutur Aslan memberitahu.
Aslan mengira Kia bermanja karena tadi Aslan mencumbunya hanya sebentar dan seakan mempermainkan Kia.
Setelah Kia reda menangis, Kia melepaskan pelukan suaminya.
“Supir ayah Abang, itu Bapak!” ucap Kia lirih dan terbata.
“Apa?” pekik Aslan kaget.
“Iyah. Supir Pak Surya itu bapak Kia, Bang!” ucap Kia lagi sambil terisak.
“Pak Tiko?” tanya Aslan memperjelas.
__ADS_1
“Hendro Kartiko!” jawab Kia memberitahu, menegaskan ke Aslan kalau Kia kenal dan tau nama panjangnya. Supir Pak Surya ayah Kia.
“Jadi pegawai yang di pertahankan ibu Abang dan meninggal di kebakaran itu ayah mertua?” tanya Aslan lagi.
Kia mengangguk tidak mengeluarkan suara tapi mengeluarkan air matanya lebih deras. Kia menggigit bibirnya menahan sedih.
“Hah!” Aslan menghela nafasnya.
Aslan menggulung telapak tanganya dan memukul- mukulkan ke mulutnya sebagai ungkapan kegalauannya. Aslan ingat pesan ibunya saat kecil.
"Pak Tiko orang baik! Saat Aslan dewasa nanti, temui Pak Tiko ya, jangan jauh dari Pak Tiko ya!"
Aslan ingat pesa ibunya itu dulu. Tapi Aslan masih kecil dan belum paham apa maksudnya.
Kenyataan macam apalagi ini? Jadi ayah Kia adalah kaki tangan Bu Andini. Pak Tiko sempat resign tapi dicari Bu Andini untuk tetap bekerja dan dipindahkan di bagian lain tanpa sepengetahuan Tuan Agung.
Saat Bu Andini meninggal, Aslan yang melindungi Pak Tiko dan menyuruh ya menjadi OB, karena ingat pesan ibunya. Pak Tiko memang selalu baik ke Aslan.
"Pasti ayah mertua tau sesuatu!" batin Aslan.
Kia menunduk dan masih terus menangis. Kia masih ingat semua meski dulu masih belia. Bapak Kia sangat bijak dan penyayang. Kia selalu dimanjakan Bapaknya itu. Bahkan sampai Kia SMP, bapak Kia tidak canggung memeluk Kia dan menciumnya.
Hidup Kia dahulu bahagia, Kia merasa menjadi anak paling beruntung karena ayahnya begitu menyayanginya, selalu mengajarkan Kia untuk tidak takut bermimpi. Mengajarkan Kia untuk menjadi diri sendiri dan bekerja keras. Pak Tiko adalah ayah yang berjuang keras untuk anaknya.
Tau dulu Kia suka menulis dan membaca, Pak Tiko juga yang berjanji akan mewujudkan keinginan Kia, menyekolahkan Kia setinggi mungkin. Pak Tiko yang selalu menanamkan kepercayaan ke Kia kalau Kia pasti bisa.
“Bapak yakin anak bapak nanti akan menjadi penulis terkenal. Mana bapak baca tulisan kamu hari ini? Jangan lelah nulis ya!” itu kata yang Pak Tiko ucapkan tiap Kia mengeluh.
“Kamu ingin beli , apa? Alhamdulilah bapak hari ini gajian! Kiara ingin beli apa? Hah? Ini bapak kasih uang, yang ini ditabung ya. Yaang ini untuk saku sekolah!”
Wajah Pak Tiko tiap abis gajian pun datang dengan jelas ke ingatan Kia. Semua ingatan Kia hadir. Meski sederhana, kehidupan Kia yang dulu hangat dan penuh semangat. Sayangnya semua itu pergi.
Kebahagiaan Kia hilang seketika dan berubah seratus delapan puluh derajat setelah kejadian nahas siang itu.
Saat itu, Kia masih duduk mendengarkan ceramah gurunya di depan kelas. Tetangga Kia menjemput Kia, dan membawanya ke rumah sakit.
“Kenapa ke rumah sakit, Paman?” tanya Kia saat itu kebingungan.
Paman Kia diam seribu bahasa. Kia berjalan dengan langkah berat dan tatapan kosong tidak tahu arah dan tujuan. Di ujung lorong, Kia melihat Kak Danu. Kia menjadi gemetaran melihatnya.
“Ada apa Kak?” tanya Kia bingung.
Danu langsung memeluk Kia erat.
“Bapak Kii, bapak!” ucap Danu terisak saat itu. Itu satu kalinya Kia melihat kakaknya menangis.
Kia sangat ingat hari terburuk itu, hari yang menjadi ujung pangkal perubahan hidup Kia. Danu kemudian memberitahu bapak Kia tidak meninggal.
__ADS_1
Kia ikut menangis sejadi- jadinya, padahal hari itu Kia berjanji akan menunjukan cerpen Kia yang menang lomba pada bapaknya. Sayangnya bapaknya tidak akan baca lagi karya Kia. Bahkan dari pihak rumah sakit tidak memperbolehkan Kia melihat jasad bapaknya. Kata dokter Jasad korban sudah tak berbentuk dan gosong.
Satu- satunya orang yang selalu mendorong Kia untuk menulis saat itu pergi untuk selamanya. Semangat Kia yang menggebu ingin menunjukan keberhasilanya hilang seketika. Majalah di tas Kia yang memuat cerpenya seakan tak berharga lagi, bapaknya tidak bisa melihatnya lagi.
“Bapaak!” gumam Kia.
Ingatan Kia di hari itu datang semua. Ya, Kia ingat saat itu ada banyak orang lain yang sama putus asanya dengan Kia. Kia juga ingat, di dekat pintu jenazah itu ada anak kecil yang polos dan memegang boneka sendirian. Rambutnya di kepang dua sangat manis.
“Jadi gadis itu Kikan?” gumam Kia lagi.
Kia ingat juga, ada segerombolan pria berdasi yang berjalan tanpa menoleh. Kia ingat wajah- wajah yang menurut Kia saat itu pembunuh ayahnya karena membiarkan kantornya kebakaran. Di antara rombongan orang itu, Kia ingat ada satu laki- laki termuda yang menatapnya, mungkin itu Aslan.
Kia tidak pernah mengira akan sampai dengan hari ini. Hidup Kia setelah orang tuanya meninggal berubah drastis. Perusahaan ayah Kia memang memberikan asuransi yang lumayan, tapi Kia jadi ikut dengan Danu yang menikah dengan Ranti.
Ibu Kia meninggal lebih dulu karena penyakitnya. Hidup Kia yang manis berubah menjadi kehidupan yang memprihatinkan. Ipar Kia jauh dari perkiraan Kia. Orang yang selalu mendukung Kia seperti ayahnya sudah pergi. Sehingga hidup Kia hancur.
“Kejutan apa ini?” batin Kia lagi, karena akhirnya Kia dipertemukan dengan Aslan dalam pernikahan.
“Maafin Abang, Sayang, maafin Abang!” ucap Aslan kemudian membuyarkan lamunan Kia.
Kia menyeka air matanya dan membawa lamunanya ke kehidupan sekarang.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan Bang. Semua bukan salah Abang kan?"
"Seandainya Abang tahu dari dulu dan temuin kamu dari dulu!"
"Jangan mengandai- andai. Sekarang adalah sekarang. Kia ingin tahu, kenapadi kantor Abang hari itu terjadi keecelakaan?” tanya Kia tiba-tiba.
Aslan ikut terdiam.
“Apa bapakmu pernah ceritakan sesuatu? Atau ada yang mencurigakan sebelum kejadian itu?” tanya Aslan.
Kia diam mengingat.
“Ada Bang”
“Apa?”
“Bapak sering megigau! Kia pernah juga denger bapak bicara di telepon dengan bosnya. Malam itu bapak membawa sekotak berkas dan barang, Bapak selalu menyimpanya dengan rapih, katanya itu amanah yang harus disampaikan dan dijaga untuk seseorang"
"Dimana kotak itu?"
"Diserahkan ke Pak Sentot. Dia sahabat Bapak!"
"Kamu tahu rumahnya?"
"Tau Abang!"
__ADS_1
"Kita kesana sekarang?"
"Oke!"