Sang Pangeran

Sang Pangeran
82. Gusti, Alhamdulillah.


__ADS_3

“Thank you Sir” 


“You are welcome”


Di lantai ke 70 gedung sebuah perusahaan internasional di negara maju yang terletak di tepi pantai, Aslan menjabat tangan seseorang pengusaha nomer satu di dunia. Kawan Aslan membawa Aslan menemuinya, agar Aslan mendapatkan investasi untuk usaha barunya. 


Dan setelah Aslan mempresentasikan rencananya pembukaan usahanya. Menjelaskan detail letak geografis di negara Aslan dan penduduknya, pengusaha itu setuju. Dia siap membantu Aslan untuk memuwujudkan impian Aslan, tentu saja dengan beberapa kesepakatan bisnisnya. 


Setelah mendapatkan persetujuan Aslan bernafas lega. Lalu mereka menuju ke sebuah bar terkenal di kota itu.


Apalagi di negara itu terkenal dengan anggur mahalnya. Meski Aslan sudah menjauhi alkohol semenjak bertemu Ipang, tapi untuk memberikan terima kasih pada sahabat non muslimnya itu, Aslan mentraktir anggur mahal ke sahabatnya. 


Kebetulan sahabat Aslan meski tinggal di luar negara Aslan, tetapi orang tua sahabat Aslan itu blasteran, jadi dia bisa berkomunikasi dengan bahasa Aslan. 


“Apa kau yakin dengan pilihanmu?” tanya sahabat Aslan. 


“Kenapa tidak?” jawab Aslan. 


“Semua uangmu kamu habiskan untuk ini, jika usahamu tidak berhasil hidupmu end” ucap teman Aslan. 


“Yang terpenting anakku sudah mempunyai tempat tinggal dan dana pendidikan” jawab Aslan. 


“Bukan kah kau bilang dia bukan anakmu?” tanya teman Aslan. 


Aslan kemudian tersenyum dipandanginya ponsel yang sudah satu minggu ini dia cuekin. Lalu menggeser dan dia lihatkan ponselnya ke sahabatnya itu. 


“Dia anakku” ucap Aslan. 


Lalu sahabat Aslan yang bernama Marchel itu mengambil ponsel Aslan, dipandanginya dengan seksama foto di ponsel Aslan. Marchel mengangkat alisnya dan kemudian menatap Aslan aneh. 


“Apa karena perempuan ini kau menolak tidur dengan perempuan- perempuan yang kusediakan?” tanya Marcel merasa melihat perempuan berhijab aneh dan biasa saja tidak ada menariknya. 


“Woy... sadarlah dari dulu gue emang tipe setia Bro?” jawab Aslan merebut ponselnya. 


“Apa karena mereka juga kamu menolak wine ku? Dan membiarkanku minum sendirian begini?” tanya teman Aslan menunjukan botol wine nya. 


Aslan hanya tersenyum. 


“Sebentar lagi Ha Joon datang, kau tidak minum sendirian” 


“Ahh kau ini, jadi kau meninggalkan perusahaan orang tuamu dan menjadi pria miskin sekaligus menyedihkan seperti sekarang karena perempuan ini?” tanya Marcel lagi. 


Aslan memainkan lidah dengan tampang maskulinya. Matanya masih terpaku pada gambar di layar ponselnya, diusapnya pelan, seperti apapun kata orang tentang Kia, buatnya Kia makhluk Tuhan paling sempurna. Lalu Aslan tersenyum dan menghela nafasnya. 


"Aku akan sukses, dan hidupku akan sangat sempurna saat aku bisa bersama mereka” ucap Aslan lagi. 


"Waah, aku jadi perempuan ini, siapa namanya?"


"Namnya Kiara"


"Oh jadi itu alasan kau menamai perusahaanmu dengan nama Kiara?" tanya Marcel lagi.


"Ya!"

__ADS_1


Aslan hendak mendirikan perusahaan dengan nama Kiara.


“Sejak kapan kau menikah denganya? Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Marcel lagi. 


“Aku belum menikahinya?” 


“What?” tanya Marcel kaget.


Setahu Marcel, perempuan muslim dan berhijab tidak mengenal pergaulan bebas seperti mereka. Kenapa Aslan mempunyai anak dari perempuan berhijab tanpa menikah. 


“Secepatnya aku akan menikahinya” jawab Aslan mantap. 


“Tunggu, tunggu, kamu punya anak tapi belum menikah?” tanya Marcel menegaskan penasaranya. 


“Aku terpisah dari anakku dan ibunya. Bahkan aku nggak tahu kalau aku punya anak darinya. Aku baru bertemu denganya beberapa waktu sebelum aku pergi” jawab Aslan. 


“Ck, ck, ya ya” Marcel hanya mengangguk. Kemudian Marcel menepuk bahu Aslan. 


“Semoga kamu bahagia Bro, berapa uang lo yang tersisa?” tanya sahabat Aslan. 


“Kenapa kamu tanya uangku?” tanya Aslan tersinggung. 


Lalu tema Aslan menjelaskan beberapa hal ke Aslan. Setelah Aslan mendegarkan dan paham Aslan mengangguk. Ternyata teman Aslan sedang mengajak Aslan cara membuat uangnya bisa bermanfaat dengan baik.


Tidak lama teman mereka sesama orang Asia tapi beda negara datang. Akhirnya Marcel mempunyai teman bersulang menikmati minumanya. 


Lalu mereka mengobrol sebentar mengenai beberapa hal dan bisnis mereka. 


“Apa itu artinya lusa gue bisa cabut dari sini?” tanya Aslan kemudian.


“Ya, kau bisa bersenang- senang di sini!” jawab teman Aslan yang satunya. 


“Sory aku harus segera pulang ke negaraku” jawab Aslan. 


“Yaya, itu pasti karena perempuan berkerudung itu kan?” tanya Marcel. 


“Hooh, perempuan berkerudung? Bukankah istri Aslan perempuan seksi itu? Dan bukankah kau tidak mencintainya?” sahut Haa Joon. 


“Bukan dia perempuan yang aku maksud” jawab Marcel. 


Aslan berdiri dari duduknya dan menepuk kedua sahabatnya. 


“Aku harus kembali ke penginapan, besok pagi atau  lusa setelah bertemu dengan Mr. Joseph aku akan terbang ke negaraku!” ucap Aslan. 


“Ah kau ini!” jawab Haa Joon merasa sedih sahabatnya mau pulang. 


“Lo mau ke penginapan? Ngapain?” tanya Marcel.


“Sudah seminggu aku tidak mendengar suaranya” jawab Aslan memberi kode ke sahabatnya. 


Lalu sahabatnya mengangguk dan mempersilahkan Aslan pergi. Sahabat Aslan sesama Tuan Muda yang hidupnya cenderung bebas. Sudah diatur dan tidak memikirkan cinta.


Bahkan bagi teman Aslan usia 30 tahun masih terlalu muda untuk menikah. Mereka menikmati hidupnya untuk bersenang- senang dan mencari uang. 

__ADS_1


Saat melihat Aslan begitu serius mencintai perempuan dan bahkan mempunyai anak mereka sedikit heran. Tapi mereka tetap care dan peduli, mereka tetap membantu Aslan. 


****


Tanpa sopir dan pengawal, Aslan mengendarai mobil yang difasilitasi sahabatnya itu, membelah keramaian jalan negara yang kotanya menghadap ke pantai. Sangat indah dan maju.


Di tanah yang sempit dan menghadap ke laut lepas gedung- gedung tinggi berjajar rapih dan bersih. Tidak seperti di negaranya.


Sebenarnya Aslan menikmati perjalanan bisnis dan belajarnya di negara itu. Hanya saja, ada dua orang nan jauh di sana yang mebuatnya selalu ingin pulang. Andai saja Aslan bisa, Aslan akan membawa dua orang itu menetap dan tinggal di situ. 


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat Aslan sampai ke hotel tempatnya menginap. Hotel mewah yang menghadap ke laut biru. 


Satu bulan terkahir ini laporan dari Rendra semua berjalan baik. Ayah Aslan sudah pulang ke rumah, mulai pandai berkomunikasi, tapi masih harus rutin fisioterapi.


Sementara laporan mengenai Kia dan Ipang, dari Rendra selalu melaporkan hal baik. Kia berubah menjadi keren dan mandiri, berangkat dan pergi bekerja mengendarai mobilnya. Ipang pun terlihat bahagia dan menjadi juara. 


Satu hal yang membuat Aslan risih, jadwal dan tahapan perceraianya jalan di tempat. Sidangnya selalu ditunda dengan berbagai alsan. Dan Aslan juga tidak tahu permasalahan yang terjadi antara Alena dan Ipang. 


“Apa kau merindukanku? Apa kau mencariku?” batin Aslan tersenyum nakal, duduk di sofa sambil melihat laut dan langit yang indah. 


Lalu Aslan memencet tombol panggilan ke nomor yang dia beri nama. “wanitaku”.


****


Di Negara asal Aslan beberapa waktu sebelumnya. 


Memakai fasilitas mobil brio kuning yang diberikan Aslan atas nama Ipang. Kia melesat menembus jalanan ibu kota. Di dadanya tertumpuk asa yang besar. Saat anak disakiti, selembut apapun hati ibu, dia akan berubah menjadi singa betina yang siap menghabisi mangsanya. 


Karena memang asal muasal Kia dari ibu kota. Meski jalanan gedung- gedung dan pephonan banyak berubah. Kia masih hafal rumah Aslan. 


“Ular betina itu tanya dimana Aslan? Berarti Aslan tidak di rumah itu? Kenapa aku berharap aku bertemu denganya di sana?” batin Kia saat berhenti di lampu merah.


Sambil mengetuk- ngetuk stir mobil menunggu lampu hijau, Kia terbayang Aslan. 


“Sebenarnya kemana dia? Dasar tukang ingkar janji. Orang aneh!” batin Kia lagi jengkel. 


Lampu menyala hijau, Kia pun menginjak pedal mobilnya, dan memutar setirnya bersiap melesat melanjutkan perjalananya. Setelah beberapa saat dia sampai di depan pagar rumah mewah yang pernah dia datangi. 


Dengan mengeratkan rahangnya dia turun, membuka pagar rumah itu sendiri, karena pagarnya terbuka, tapi tidak melihat kehidupan di sana, pos satpam kosong, pintu rumah pun tertutup. Sesaat Kia pun putus asa. 


“Huft ngapain gue labrak ke sini ya? Dia pasti nggak di rumah” batin Kia setelah memandangi rumah istri ayah anaknya itu. 


“Tapi siapa tahu dia di dalam, gue harus kasih peringatan ke dia” batin Kia lagi. Kia kemudian masuk ke dalam. 


Tapi rumahnya sangat sepi, dan parkiran mobilnya kosong. Bahkan saat Kia membunyikan bel tidak ada jawabany. 


“Hah sepertinya tidak ada orang” batin Kia. 


Lalu Kia berbalik dan berniat pergi. Saat Kia berjalan ke mobilnya hendak pergi, di hadapan Kia terlihat perempuan paruh baya membawa bak sampah kosong. Wajah dan sorot matanya langsung berbinar saat mereka berdua saling tatap. 


“Gusti, Alhmdulillah, akhirnya Kau kabulkan doaku, Nyonya Kia?” panggil perempuan tua itu bahagia. 


Kia pun mengangguk, kenapa perempuan ini sangan bahagia melihatnya. Bahkan perempuan itu melempar bak sampah di tanganya dan langsung berjalan cepat memeluk Kia tanpa permisi. Kia pun bingung sendiri. 

__ADS_1


"Tolong saya Nyonya, bantu saya. Ada banyak hal yang harus saya katakan” tutur perempuan tua itu. 


__ADS_2