
Rendra terus berusaha berkonsentrasi menatap jalan yang kini di warnai rintikan hujan. Tanganya memegang stir mengendalikan agar mobilnya tak tergelincir ke sembarang arah. Lama mereka terjebak dalam situasi yang mencekam karena saling diam.
Cyntia merapatkan jas Rendra dan menatap keluar jendela. Cyntia diam menikmati tetesan air dari langit yang selalu menjadi lagu kesukaanya. Ya suara hujan bagi Cyntia menciptakan melodi sendiri yang bisa menyihirnya masuk ke dunia yang tidak bisa kenali, yang pasti jika itu datang seperti menenggelamkan perasaan Cyntia kerasa nyaman, tenang dan ingin tidur.
Sayangnya, hujan bagi Rendra justru meresahkan. Suara gemericiknya dan hawa dingin yang tercipta justru membangunkan sesuatu yang tidur di bawah sana di pangkal pahanya.
Semakin Rendra diam dan menahanya, si dia justru semakin berani menampakan keberadaanya yang ingin diperhatikan. Apalagi kalau tidak ada sesuatu yang mengalihkan. Dia seperti berontak tidak terima diacuhkan. Sungguh sangat menyiksa Rendra.
“Shi..t! kenapa gue jadi gini sih, oh God, jangan sampai gue ngelakuin kesalahan yang sama!” batin Rendra kesal, karena si Dianya mulai menghadirkan rasa yang mulai berkembang dan hampir melumpuhkan kesadaran Rendra.
Rendra melirik ke samping, Cyntia masih terus enggan menatapnya dan memilih menyandarkan kepalanya menikmati hujan.
Kalau diam- diaman terus, Rendra bisa khilaf. Satu tangan Rendra mengusap tengkuknya mengusir rasa yang kurang ajar datang tidak tahu aturan.
Rendra berfikir bagaimana caranya agar si dia berhenti meronta ingin diperhatikan dan diberikan haknya. Satu- satunya cara membuat otaknya teralihkan dengan mengobrol dan membuat suasananya tidak canggung.
Rendra pun merangkai kata mencari pembahasan yang tepat untuk bisa membuat Cyntia mau berbicara denganya.
Rendra ingin ngobrol baik-baik tapi rasanya aneh sekali dan tidak tahu kata apa yang tepat untuk memulainya. Rendra dan Cyntia kan terbiasa saling merendahkan dan menghina.
“Ehm!” Rendra berdehem memulai.
Cyntia masih diam.
“Apa kau tak mau mengucapkan terima kasih padaku?” tanya Rendra.
Cyntia kemudian menoleh.
“Ya terima kasih!” jawab Cyntia.
“Lain kali nggak usah jaim makanya, kalau mau numpang- numpang aja nggak usah gengsi, nggak usah sok jual mahal gitu! Jadi basah gini kan?” ucap Rendra mulai ngawur.
Bagi Rendra yang penting ngobrol dan membuat pikiranya teralihkan agar si dianya tidak memberontak membesar.
“Berisik banget sih, cerewet!” jawab Cyntia singkat tapi ketus dan langsung menatikan Rendra.
“Ehm!” Rendra berdehem lagi mulai kehabisan bahan kata, karena respon Cyntia sulit dilanjutkan. Rendra berfikir mencari bahan perkataan lagi.
“Emang kalau aku nggak balik, kamu tadi mau kemana?” tanya Rendra lagi.
Cyntia diam dan menatap jengkel ke Rendra, nggak penting banget kan pertanyaan Rendra itu.
“Kamu itu niat nggak sih nolongin? Kamu nyesel nolongin aku?” jawab Cyntia balas bertanya.
__ADS_1
“Ya... bukan gitu maksudnya!” jawab Rendra lagi plintat plintut. Saat Cyntia ketus dan marah membuat Rendra kehabisan kata, tapi jadi tantangan juga buat Rendra ingin mematahkan Cyntia juga.
“Kalau nggak ikhlas, turunin aku di perempatan depan nanti!” jawab Cyntia lagi.
"Yakin mau turun di situ?” tanya Rendra tidak habis pikir kalau Cyntia masih punya keeberanian untuk turun di tengah hujan.
“Yakin lah!” jawab Cyntia percaya diri.
“Ini malam lho! Banyak bener nyali nya? Nggak takut apa?!” tanya Rendra menguji.
Tapi sebenarnya Rendra hanya ingin berkata, jangan turun. Udah kita pulang bareng aja, Rendra tanya-tanya kan ingin ada bahan pembicaraan aja. Asik aja berdebat dengan Cyntia.
“Lha emang kenapa mesthi takut?” jawab Cyntia menantang Rendra dengan serius.
Rendra terdiam. Kali ini Cyntia sungguh terpancing. Perempatan depan yang Cyntia maksud adalah perempatan yang dekat dengan swalayan dan ada warung makan yang buka khusus dini hari. Di situ biasanya banyak tukang ojek. Tapi kasak kusuk di situ juga ada warung remang- remang. Pikiran Rendra jadi geser lagi.
“Oh iya, aku lupa kamu kan dulu mantan pekerja malam ya? Jangan- jangan kamu mau kerja di situ juga? Apa bayaran jadi pemain film masih kurang?” ceplos Rendra nglantur dan nyakitin hati Cyntia lagi.
Cyntia tentu saja tersinggung dan mendelikan matanya menatap ke Rendra.
“Apa kamu bilang? Aku mantan apa? Aku kerja di situ? Jaga ya mulutnya!” tanya Cyntia berani.
“Ehm.... ehm...!” Rendra gelagapan wajah Cyntia benar- benar merah menyala, Rendra kemudian membetulkan duduknya dan menatap ciut ke Cyntia. Tapi ada sensasi tersendiri bagi Rendra menghadapi Cyntia yang begitu.
“Ya kali, bener kan kataku? Terus ngapain mau berhenti di situ? Jam segini lagi!” ucap Rendra lagi.
“Eh kurang ajar lo ya! Berhenti di perempatan bukan berarti aku tuh mau masuk ke warung. Di situ kan emang tempat pangkalan dapetin kendaraan!” jawab Cyntia lagi semakin naik pitam.
“Kurang ajar gimana sih? Pertanyaanku benar kan? Jam segini udah nggak ada kendaraan umum lewat. Udah ngaku aja!” tanya Rendra lagi mengejek. Pokoknya Rendra kecanduan memaki Cyntia.
Cyntia hanya bisa menelan ludahnya. Rasanya ingin bunuh saja si Rendra itu. Tapi Cyntia sadar sekarang berada di mobil berdua, tidak ada gunanya melawan, Cyntia tidak cukup banyak tenaga melawan.
Cyntia memilih tidak membalas, dan menjaga kewarasan otaknya. Dan cling. otak Cyntia langsung bekerja begitu melihat kabel charger menggelantung tersambung ke stop kontak di mobil Rendra. Cyntia langsung menyambungkan dan menyalakan ponselnya tanpa ijin ke Rendra.
Rendra menjadi keki sendiri, karena pancinganya menyakiti Cyntia tidak dibalasnya. Padahal kan Rendra menunggu Cyntia emosi lagi.
“Gue nggak nyangka ya, ada perempuan macam kamu!” pancing Rendra lagi ingin terus membully Cyntia dan melampiaskan kekesalanya.
“Hhhh” Cyntia menghela nafasnya malas menanggapi Rendra. Menanggapinya hanya akan membuat Cyntia kehilangan kesadaran. Cyntia memilih menggerakan tanganya mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Karena dicueki lagi, Rendra pun semakin menggila lagi ingin menyakiti hati Cyntia lagi. Rendra melirik ke bangku di belakangnya, dia ingat masih ada tas yang kemarin dia beli. Rendra kepikiran memberikan pada Cyntia, tapi bingung bagaiamana memberikanya.
"Kalau boleh tau, berapa bayaranmu bekerja sebagai penyedia jasa itu?" tanya Rendra.
__ADS_1
"What! Kamu tanya apa! Penyedia jasa itu apa?"
"Kamu dulu jadi sugar Dady kan!"
Cyntia mengeraskan rahangnya ingin teriak. Rendra benar-benar menghinanya sejadi-jadinya.
"Turunin aku nggak!" bentak Cyntia karena mereka sudah melewati perempatan itu. Meski Cyntia dulu hanya sekedar menemami om-om, tapi Cyntia rasa percuma mengelak.
Tapi sayangnya Rendra tidak terpengaruh sedikitpun. Rendra masih terus menginjak pedal gas dan melanjutkan membully Cyntia.
“Apa memang seprofesional itu kamu melakukan pekerjaanmu. Mudah banget sih kamu langsung berpaling dari aku dan kecentilan ke laki- laki jadi- jadian itu?” ucap Rendra mengeluarkan kalimat yang tidak masuk akal dan benar- benar sudah termakan emosi cemburu yang tidak Rendra sadari.
“Woah!” Cyntia yang mendengarnya pun tidak habis fikir ternyata tingkat keparahan gilanya Rendra sangat tinggi.
“Pekerjaanku? Berpaling darimu? Laki- laki jadi-jadian? Bisa dipertegas apa maksudnya?” tanya Cyntia.
“Bukankah selama ini, kamu mengejarku dan mengidolakanku, lalu setelah kamu berhasil tidur denganku, begitu mudahnya kamu centil- centil ke boy band itu? Memang kamu tidak mengingkan sesuatu yang lain apa dariku? Apa karena tak membayarmu jadi kamu mengejar laki-laki lain? Padahal aku ingin memberimu sesuatu lho!” ucap Rendra lagi semakin termakan oleh cemburunya sendiri.
Mendengarnya Cyntia jadi ikutan gila sendiri. Cyntia ingin memukul habis laki- laki di sampingnya itu, tapi dia sekarang ada di mobil.
“Bukanya kamu yang bilang lupakan semuanya? Hah! Catet ya! Aku tidak sudi menerima apapun dari kamu! Tidur denganmu itu kesalahan karena kamu yang memperkosaku! Seharusnya aku menuntutmu! Dan grup e** bukan laki- laki jadi- jadian, mereka itu keren, mereka mempunyai talenta dan karya yang luar biasa! Dan apa? Berpaling darimu? Nggak usah ke Gr_an, siapa juga mengidolakanmu! Iyuh, najis!” jawab Cyntia emosi.
Cyntia benar- benar tidak mengira ada orang segila Rendra, atau mungkin memang kelainan jiwa pikir Cyntia. Dan bisa- bisanya Cyntia tidur denganya, Cyntia jadi bergidik ngeri sendiri.
“Perkosa bagaimana? Bukankan itu memang pekerjaanmu! Kamu kan menjebakku, kamu kan yang ingin itu?” jawab Rendra lagi masih on percaya diri dan menghina Cyntia.
“Turunkan aku di depan situ! Atau aku sungguhan akan laporkan kamu ke polisi dengan rekaman cctv yang ada. Kamu sudah melakukan tindak pemerkosaan, kamu akan dipenjara!” jawab Cyntia merasa malas meladeni Rendra. Dengan kecerdasanya Cyntia ingin mengerjai Rendra, Rendra kan mabuk. Salah siapa Rendra terus memojokanya.
Rendra menghentikan mobilnya seketika itu. Membuat Cyntia kaget dan kepalanya hampir membentur mobil.
“Sungguh aku yang memperkosamu?” tanya Rendra dengan wajah serius dan tatapan elangnya, bahkan mata Rendra kini memerah.
Rendra yang daritadi berperang melawan rasa yang campur aduk dan membuatnya gila jadi terpancing lagi. Rendra juga tidak bodoh, karena siang itu Rendra mengkroscek pihak apartemen, dan kenyataanya mereka berdua memang sama-sama terpancing.
Cyntia gelagapan ditatap seperti itu. Rasanya ingin menghilang saja daripada menghadapi orang gila seperti Rendra.
Rendra sendiri tidak bisa menguasai dirinya. Rendra tidak sadar dirinya sebenarnya cemburu. Rendra juga marah tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkan dan menjelaskanya.
Meski diam, tangan Cyntia bergerak. Tangan Cyntia membuka kunci pintu mobil dan langsung keluar.
“Dasar laki- laki gila!” ucap Cyntia sambil kabur.
Saat menghidupkan ponselnya tadi ternyata Cyntia menghubungi temannya yang sedang berada di sekitar situ. Cyntia pun lari dan temanya itu sudah ada di depan Cyntia.
__ADS_1
Rendra yang melihatnya pun dibuat semakin dongkol. Rendra terjebak dalam rasa kacaunya sendiri, bahkan rasa dongkol dan kacaunya melebihi rasa sakitnya saat meihat Meta bersama laki- laki lain.
"Haish kenapa aku jadi bodoh begini karenanya?" umpat Rendra hanya bisa melihat Cyntia berlari dan dijemput temanya.