Sang Pangeran

Sang Pangeran
194. Aslan marah


__ADS_3

Cyntia mengupload foto nikahan Kia, dirinya dan Manda. Di situ juga tertulis tanggal nikah mereka. Pertama- tama, taktik Cyntia dia ingin memberitahu ke followersya kalau sahabatnya itu menikah dengan Aslan setelah Aslan bercerai, bukan menjadi simpanan seperti yang diberitakan. Cyntia juga membuat caption pernyataan tentang dirinya. 


“Happy wedding sayangkuh. Aku tahu, cepat atau lambat cinta datang  tak pernah salah alamat. Gue tau perjuangan lo mengalah, menjadi single parent dan berjuang seorang diri. Dan lo cukup buktiin ke gue, kalau lo pantes dipilih. Karena cinta tidak pernah bisa direbut. Atau melukai... love you, Kia. Ibunya Pangeran”. 


Sayangnya hanya dalm waktu beberapa jam dan tidak lebih dari 1x 24 jam, Cyntia diserbu netizen, seperti perkiraan Kia. Cyntia akan dianggap sebagai kubu pelakor. 


Siang ini pun Cyntia langsung di undang teman artisnya yang mempunyai akun podcast. Mereka menunggu Cyntia untuk klarifikasi dan menceritakan apa yang mereka tahu tentang rival si Paulina artis kelas tinggi itu. 


*** 


Part sore kemarin setelah Kia dan Cyntia pulang dari menemui Dokter Lena. 


“Aku nggak tanggung jawab ya Cynt kalau ini ngaruh ke kerjaan dan karir kamu. Aku udah ingetin kan? Aku bukan artis, terserah mereka mau hujat aku, yang terpenting aku, bang Aslan dan Pangeran bahagia!” jawab Kia memperingati Cyntia membaca komentar pedas warga internet yang meyerbu Cyntia sore kemarin. 


Kia dan Cyntia kembali pulang ke rumah Kia karena Kia ingat meninggalkan Pangeran dalam keadaan tidur. 


“Kia, lo itu terlalu baper dan khawatiran tauk. Ini itu taktik... buat mancing pembaca menyorot ke gue. Setelah ini, baru gue giring mereka buat melek bukti lagi! waktunya tuh kita gempur si Paul!” jawab Cyntia berani.


“Aku cuma nggak mau lo keseret- seret ke masalahku. Gue sayang sama lo!” 


“Dan gue lebih sayang sama lo Ki. Lo ingat kan kata gue. Gue akan perjuangin lo buat bahagia, sebagai bayaran lo udah nampung gue!” jawab Cyntia. Mereka berdua memang sering bertengkar tapi sweet. 


“Kan udah dibilang, kita impas, kamu juga udah nolongin aku dulu!” jawab Kia lagi. 


“Lo terjebak dan ketemu Aslan itu karena salah gue. Harusnya dulu gue bisa pinjamin uang ke bokap nyokap gue atau jual perhiasan gue buat bantu lo lawan Jeje, tapi gue buat Lo jatuh ke kamar itu. Jadi gue juga ngrasa bertanggung jawab buat bersihin nama Lo. Gue tau lo. Gue nggak mungkin diam aja lo dihujat!” jawab Cyntia. 


“Hhhh, oke terserah!” jawab Kia menghela nafas dan meraih segelas air putih di depanya. 


Saat mereka terdiam, suara dering ponsel terdengar. Mereka kemudian saling pandang dan memeriksa ponsel masing- masing. Baik ponsel Cyntia atau Kia tidak ada panggilan masuk, tapi dering telpon terus berbunyi. Kia kemudian menyibakan sofa bantalnya. Ternyata ponsel Aslan tertinggal di bawah bantal sofa. 


Kia pun mengangkat telepon itu yang ternyata panggilan dari Tuti asisten rumah tangga Paul. 

__ADS_1


“Kita ke rumah Paul sekarang!” tutur Kia panik. 


“What? Ngapain?” pekik Cyntia merasa Kia gila. 


“Alena!” jawab Kia langsung menghabiskan minumnya dan mengambil tasnya lalu bangun ingin segera sampai ke rumah Paul.  


“Eh jelasin dulu, ngapain ke kandang macan!” seru Cyntia. 


“Gue harus tolong Alena, lo mau ikut ayok, nggak sini aja!” jawab Kia. 


“Ikut dong, gue gatel lama nggak berantem ma orang!” jawab Cyntia dikira akan bertemu Paul.


Kia kemudian berpamitan pada Mbok Mina, jika Pangeran bangun dari tidurnya suruh jelaskan ayahnya bekerja dan ibunya ada urusan bersama tantenya. Kia juga berbicara lembut ke Mbok Mina untuk bantu temani Pangeran dulu. 


Mereka berdua melesat ke rumah Paul dan betapa kagetnya mereka melihat Alena. Kia langsung mendekap Alena yang tampak hipotermi, wajahnya pucat dingin. 


Melihat kenyataan itu. Otak Cyntia langsung bekerja, salah memang, tapi Cyntia tidak peduli. Cyntia malah sibuk mendokumentasikan Kia dan memvideo cerita asisten rumah tangga Paulina. Bagi Cyntia ini bukti mahal, yang bisa selamatkan Kia dan dirinya. 


“Ibu pergi, sama pacarnya Nyonya sudah dihubungi tapi tidak terhubung!” jawab Nony. 


“Cyntiaaa! Ayo ke rumah sakit,sempet ya pegang hape!” omel Kia teriak menggendong Alena. 


Cyntia kemudian pamit dan menyusul Kia. Mereka kemudian ke rumah sakit terdekat. Semalaman ini pun Kia dengan sabar dan penuh perhatian menunggu Alena di rumah sakit. Sementara anak kandungnya dia titipkan padaorang rumah, ada Cyntia,Fatimah, Radit, Mbak Narti dan Mbok Mina. Mbak Narti juga jadi diundur pindah ke apartemenya. 


**** 


Di rumah sakit. 


Setelah melalui perdebatan dan pertengkaran panjang suami istri yang belum resepsi dan punya buku nikah itu akhirnya kompak menunggu Alena di rumah sakit. 


Aslan tampak berbaring di sofa panjang yang disediakan rumah sakit itu sebagaai tempat penunggu pasien, karena Kia memburu cepat, Kia memilih rumah sakit seadanya yang penting Alena selamat meski fasilitasnya tak semewah mau Aslan. 

__ADS_1


Adzan subuh berkumandang, langkah para suster mengerjakan tugas membagikan injeksi pagi hari dan memeriksa botol infus terdengar membangunkan Kia. Kia duduk di bangku memegang tangan Alena seakan Alena anak kandungnya. Semalaman Alena masih menggigil dan mengigau memanggil, Mommynya. 


Alena tampak sangat lemah, selang infus tampak terpasang di lengan kecilnya. Kanul oksigen juga terpasang di hidungnya. Untung Kia segera datang, jadi perdarahan Alena segera berhenti. 


Kia tidak tega anak sekecil itu harus merasakan sakit yang begitu mengerikan. Kia sendiri tidak bisa menebak dan membayangkan apa yang Alena alami sehingga terjadi seperti ini. 


Yang Kia tahu, merasakan kehikangan ibu dan ayahnya,padahal Kia sudah akhil baligh, itu sangat menyakitkan. 7 tahun mendidik Ipang yang selalu bertanya siapa dan apa itu ayah, itu sangat berat bagi Kia. Apalaagi, keadaan Alenaa sekarang setelah tahu orang yang dia panggil Daddy bukan ayahnya, dia juga meninggalkan Alena, pasti Alena bingung dan terkena guncangan. 


Lebih dari yang Kia perkirakan, apa ini? Alena juga megalami luka fisik. Kia pun semakin iba, dan ingin mengobati semua luka Alena. 


“Baang!” panggil Kia lembut mendekati suaminya. Kia membelai wajah Aslan yang tampan kemudian membangunkanya. 


“Emm,” Aslan tebangun merasakan ada tangan halus yang menyusuri kepala dan mukanya. Reflek tanga Aslan langsung memegang tangan Kia. 


“Bangun, udah subuh!” 


“Emm!” jawab Aslan membuka mata. 


“Bangun udah subuh, udah iqomah tuh masjid rumah sakit!” ucap Kia lembut. 


Aslan kemudian melepaskan tangan Kia menyibakan selimutnya dan duduk mengumpulkan kesadaran. Aslan kemudian melirik ke Alena. 


“Apa sudah baikan dia?” tanya Aslan. “Apa kamu semalam tidur?” 


“Kia tidur Bang. Alena udah nggak menggigil kok!” 


“Awas kaalau kamu bohong. Abang nggak mau kamu sakit kelelahan karena nungguin dia. Kamu bukan ibunya!” ucap Aslan lagi masih tidak suka Kia mengurus Alena. 


“Abang jangan keras ngomongnya, nanti Alena terbangun!” tegur Kia. 


“Ya pokoknya abang nggk mau kamu ngorbanin diri kamu begini. Ibunya harusnya yang tanggung jawab urusin dia. Kalau sampai terbuktiada tindak kekerasan, Paul juga harus dilaporkan ke polisi!”omel Aslan lagi masih tetap emosi. 

__ADS_1


“Abang ih, pagi pagi baru bangun juga. Udah sanaa gera sholat!” tutur Kia mengingatkan suaminya. 


__ADS_2