Sang Pangeran

Sang Pangeran
218. Telepon Den Rendra.


__ADS_3

“Abaang... udah ah!” ucap Kia berusaha menyingkap selimutnya dan berusaha bangun. Hanya saja, tangan kekar suaminya masih melilit di perut polosnya yang tertutup selimut itu, mengajak Kia kembali berbaring.


“Bentar lagi, Abang masih mau peluk. Mau apa sih?” tanya Aslan masih malas bangun dan belum mengenakan pakaian apapun. 


“Kia kangen Ipang dan Alena Bang! Kia kepikiran mereka,” jawab Kia bangun mencari ponselnya. 


Sudah 10 hari lebih pasangan pengantin itu hanya menghabiskan waktu cocok tanam di ladang gandum Kia, makan, ibadah, jalan- jalan, belanja dan olahraga.


Kia sebagai seorang ibu tentu saja mulai bosan dan ingin segera pulang menemui anaknya. Berbeda dengan Aslan yang masih ingin terus liburan bahkan mengajak Kia bepindah tempat. Entah tak ada bosanya, seperti anak muda saja.


“Percayalah, anak- anak dalam kedaan baik- baik saja dan sehat!” jawab Aslan ikut bangun dan memeluk Kia dari belakang. 


“Abang, sehat atau nggak sehat, Kia mau ketemu sama mereka, Kia kangen mereka Bang!” rengek Kia meminta.


Sejak hari kedua mereka menghabiskan waktu bulan madu setiap hari Kia merengek minta pulang, tapi Aslan tetap saja tak peduli, hanya bilang iya. Nyatanya Aslan selalu mementingkan kepentingan juniornya ketimbang permintaan istrinya. 


“Masih ada 4 hari lagi, Sayang, sebentar lagi Abang akan sibuk, kita manfaatin waktu libur Abang ya!” jawab Aslan merayu. 


Aslan ingin waktu tujuh tahunya yang terlewat Aslan tebus dengan waktu dua minggu bercumbuu dengan Kia tanpa ada gangguan. 


“Justru itu Bang, 4 hari sisa libur Abang, kita habiskan bareng anak- anak. Biar Alena deket sama Abang, biar Ipang juga seneng ditungguin ayahnya. Pulang hari ini yah!” jawab Kia memaksa, rindu ibu pada anaknya tidak terbendung. 


Aslan hanya diam sambil mentapa istrinya yang sama- sama masih tak memakai pakaian itu. 


“Bang... udahan bulan madunya, ya!” rengek Kia lagi. 


“Kamu beneran nggak suka dengan bulan madu kita? Kamu cinta nggak sih sama Abang?” tanya Aslan ngambek. 


“Abang, bukan nggak suka dan nggak cinta, udah cukup kita jalan- jalanya. Kia nggak bisa jauh- jauh dari Ipang, ada Alena juga! Mereka juga anak kita! Pulang hari ini ya!” jawab Kia masih terus berusaha meminta pulang. 


“Hmmm baiklah!” jawab Asla akhirnya menyerah. 


“Makasih, Abang sayang!” jawab Kia langsung memeluk suamiya. 


Kia tidak jadi mencari ponsel karena hari ini mau pulang saja. Aslan pun mengangguk senyum dan mengelus kepala Kia. 


“Sebelum pulang sekali lagi ya!” bisik Aslan nakal. 


“Hah?” 


“Yah!” 


“Abang minum apa sih? Nggak capek?” tanya Kia heran dan nyalinya menciut tapi tidak bisa melawan. 


***** 

__ADS_1


Di Ibukota. 


Paulina duduk mondar mandir di depan ruang ICU sebuah rumah sakit. 


Flashback.


Hari itu Nyonya Jessy langsung syok begitu mendengar Alena ikut dibawa Aslan dan Kia. 


“Kenapa kamu bisa menyerahkan Alena ke mereka?” pekik Nyonya Jessy malam itu. 


“Alena lebih memilih mereka Mah!” jawab Paul tanpa dosa dan sangat terlihat kalau dia sama sekali bukan Ibu, karena tidak mempertahankan anaknya. 


Mendengar perkataan Paul saat itu Nyonya Jessy langsung pingsan dan dibawa ke ruang ICU. Paulina pun semakin tidak bisa berkutik, dia sibuk menjaga ibunya. Paul kini tidak punya siapa- siapa lagi, ayahnya dipenjara, ibunya di ICU, pacarnya kabur- kaburan dan sedang pusing sendiri. 


Berita di televisi dan internet pun mulai ramai membicarakan kejelekan mereka. Pamor Paul dan Nicholas sekarang hancur.


Sampai- sampai keluarga nicholas sepeti diburu hantu ikut terseret diminta beritanya. Dokter Maghdalena juga positif mengajukan gugatan cerai ke pengadilan terhadap Nicholas. 


3 hari di ICU, Nyonya Jesyy sadar dan dipindah ke ruang rawat biasa. 


“Apa kamu sudah menemukan Alena, dan Pak Sentot?” tanya Nyonya Jessy sesampainya di ruang rawat. 


“Mah... mamah, baru sembuh lho. Fokus ke kesembuhan mamah dulu. Biarkan Alena bahagia bersama Aslan dan Papah!” jawab Paul rasanya sudah hampir menyerah dengan hidupnya. 


Belum Paulina menjawab dengan tangan lemasnya Nyonya Jessy justru menampar Paulina. Paulina pun syok. 


“Mah!” pekik Paulina terluka hatinya mamahnua sembuh'- sembuh dari sadar malah menamparnya.


“Kalau sejak awal kamu tidak melawan papah atau mamah, kalau sejak awal tidak ada Alena, keluarga kita tidak akan berakhir seperti ini!” ucap Nyonya Jessy berteriak mengeluarkan emosi ke Paulina. 


Paulina semakin terluka, batinya, sudah stress, lelah masih dimarahi. 


“Mamah pikir, kenapa Paulina jadi seperti ini Hah?” jawab Paul akhirnya melawan ibunya. 


“Kalau memang papah membunuh ayah Aslan, papah dipenjara, apa itu salah Paulina? Itu perbuatan papa sendiri yang bahkan paulina nggak ngerti, orang tua macam apa kalian!” jawab Paulina lagi sudah semakin geram ke ibunya yang tamak dan jahat. 


“Paulina!”” bentak Nyonya Jessy. 


“Pak Sentot, ada di resepsi Aslan, dia sudah berikan semua bukti kejahatan Papah, suamimu!” ucap Paulina sangat kesal ke ibunya dan menunjukan foto resepsi Aslan yang disebarkan oleh Kikan adik Aslan. Pak Sentot datang ke resepsi Aslan.


Nyonya Jessy melotot meliat foto di hp Paulina. Seketika Nyonya Jesyy terdiam dan tidak bisa berkata apapun, tiba- tiba Nyonya Jessy memegang dadanya dan nafasnya langsung sesak lagi.


Paulina menghadapi situasi ibunya seperti orang gila. Paulina hanya terbengong melihat ibunya sekarat, seperti ada bisikan setan yang menyuruhnya, biarkan saja ibu jahat di depanya itu sekarat dan pergi. tapi tiba- tiba perut Paulina kontraksi.


Paulina kemudian sadar, kelak dia juga akan tua, paulina sudah tidak punya siapapun kecuali anak. Paulina jadi ingat Alena, Alena pasti juga merasakan sakit yang luar biasa karena dia bentak- bentak. Itu sebabnya Alena memilih Kia. 

__ADS_1


Paulina pun segera memencet bel darurat memanggil perawat, Nyonya Jessy pun kembali dibawa ke ruang ICU. 


Bahkan sejak dua hari ini, Paulina membawa Nyonya Jessy ke rumah sakit di luar negeri karena Nyonya Jessy tak kunjung membaik. Paulina sudah sangat jenuh menghadapi masalah di negerinya. 


Paulina memilih meninggalkan ponsel, anak dan dunia keartisanya. Paulina memilih mengasingkan diri di sebuaah rumah sakit terpercaya di negeri seberang. Fokus dengan kehamilanya dan pengobatan ibunya.


“Kenapa gue kepikiran Alena ya?” batin Paulina kemudian jadi teringat Aleba. tidak bisa dipungkiri dia ibu kandung Alena, dia merindukan anaknya.


***** 


Sudah 10 hari Kikan melakukan aksi memata- matai, sayangnya tak membuahkan hasil. Cyntia sangat sibuk bekerja dan kejar tayang syuting.


Rendra pun selalu berangkat pagi pulang sore bberala waktu malam. Rendra mengurusi perusahaan Aslan yang mulai tumbuh. 


“Sudah, kamu jangan terus jadi detektif begitu!” tegur Umma melihat Kikan yang mondar mandir ngedumel ke Umma. 


“Umma... tapi tas mahal itu, sama Kak Rendra masih dipajang di kamarnya. Kak Rendra itu bohong kalau dia punya pacar! Dia jomblo? Untuk siapa coba tasnya?” jawab Kikan sangat berharap penilaianya benar. Rendra ada rasa dengan Cyntia. 


“Mungkin menunggu waktu istimewa untuk memberikanya, sudah jangan ikut campur!”


“Kikan pernah Umma ngecek di hape Kak Rendra, tidak ada chattingan sama pacar! Yang ada malah chattingan sama Kak Cyntia, tapi udah dihapus riwayat isinya apa? Ada beberapa foto Kak Cyntia juga Umma! Sepertinya Kak Rendra pernah buntuti Kak Cyntia gitu!” jawab Kikan lagi berapi- api, sampai pernah memeriksa ponsel Rendra. 


“Astaghfirulloh! Kamu ini, nggak sopan! Bisa- bisanya sampai cek ponsel kakakmu?” 


“He... waktu itu, Kikan pinjam ponsel Kakak, Pas Kak Rendra mau sholat!” jawab Kikan nyengir, Kikan kan memang licik.


“Sudah, jangan sampai Rendra tahu kamu begitu, kalau dia marah, malah diusir kamu dari sini! Umma lega dengan Rendra sekarang, pulang tepat waktu meski malam, yang penting tidak kelayapan, mau sholat lagi dan tidak mabuk! Nanti jodoh akan datang sendiri! Kamu doakan saja!” jawab Umma memberitahu Kikan. 


Tugas Umma kan jadi satpamnya Rendra membenahi hidup Rendra. 


“Ihh Umma, mah gitu! Nggak asik! Selain, benahi hidup Kak Rendra, carikan jodoh juga Umma!” jawab Kikan manyun- manyun. 


Di saat Umma dan Kikan sedang bercakap- cakap bel apartemen berbunyi. Kikan segera membukanya.


Ipang yang baru saja melepas rindu dengan Mbok Mina pulang diantar Mbak Narti. 


“Kok tumben cepet mainya?” tanya Kikan. Biasanya Ipang dan Alena lama bermainnya.


“Anu tolong telponke Den Aslan atau Den Rendra, Non Alena panas tinggi!” ucap Mbak Narti memberitahu. 


“Alena sakit?” tanya Kikan. 


“Iya Tante, telpon ibu agar cepat pulang, Kak Alena sakit!” jawab Ipang mengimbuhi. 


****

__ADS_1


Terima kasih buat yang masih mau baca. Author udh Up ini sejak tgl 30 tapi tertahan direview, sungguh. Makasih yaa yang masih mau baca.


__ADS_2