Sang Pangeran

Sang Pangeran
21. Perempuan Baik2


__ADS_3

Seperti anak asrama yang mengantri mandi. Meski dengan tubuh kedinginan karena bajunya basah terkena air hujan, Kia setia menunggu Aslan di depan kamar mandi.


Kia bersandar di dinding sambil mendekap tubuhnya. Jarinya megang handuk dan baju ganti.


Karena tidak kunjung mengganti pakaian Kia mulai merasa pusing. Kia pun memejamkan mata dan meletakan kepalanya di tembok.


"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Aslan memegang kening Kia. Aslan melihat Kia begitu lemah bersender dibtembok.


Spontan Kia menepis tangan Aslan.


"Aku baik-baik saja, singkirkan tanganmu Tuan!"


"Kau tampak demam!" ucap Aslan nekat masih mau memastikan tubuh Kia dengan meraih pipinya lembut.


"Jangan sentuh saya. Saya baik-baik saja. Anda bilang hanya buang hajat kan? Pintu keluar di sebelah sana!" ucap Kia tegas menunjuk ke arah ruang tamu dan pintu keluar.


Kia mengusir Aslan agar segera meninggalkan rumahnya.


"Ya, baiklah terima kasih" jawab Aslan pasrah, karena janjinya memang hanya numpang kamar mandi.


Aslan dan Kia menyadari di antara mereka ada sekat yang membatasi. Meski ada Ipang sebagai penghubung, tapi tetap saja mereka bukan siapa-siapa.


Kia kemudian segera masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya. Mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian tidur yang hangat.


Kia memang merasa kedinginan dan pening di kepalanya. Tapi buatnya itu bukan sesuatu yang besar.


Menjadi single parents, membuat Kia kuat. Kia mampu menghadapi segala hal sulit dalam hidupnya sendirian. Tinggal Kia tidur dan minum obat pasti akan sembuh.


Kia keluar dari kamar mandi, meletakan handuk pada tempatnya kemudian mengunci pintu. Alhamdulillah listrik sudah menyala. Kia pun memadamkan lilin.


"Kau! Kenapa masih di sini?" tanya Kia kaget melihat Aslan masih duduk di teras rumahnya. Aslan tampak santai memandangi tanaman hias yang tertata rapi di teras.


"Aku khawatir padamu, kau baik-baik saja kan?" tanya Aslan lembut.


"Hoh, tidak bisa percaya! Tuan Aslan yang terhormat, anda tidak perlu khawatir terhadapku. Ingat Tuan Aslan! Di rumah ada istri yang menunggumu! Pulanglah!" jawab Kia tegas. Kia tau Aslan pria beristri.


Aslan menundukan kepalanya dan melihat jam di tanganya.


"Bagaimana kau bisa berkata begitu? Memang kau tau istriku?" jawab Aslan menanyai Kia.


"Ck. Aku memang tidak tau istri Anda. Tapi tolonglah, ini sudah malam, saya tidak menerima tamu malam- malam, pergilah, jangan sampai saya bersikap kasar. Apa mau saya teriak minta tolong agar anda pergi?"


"Baiklah, aku pulang. Tapi aku akan kesini lagi besok. Kita harus mendiskusikan tentang anak kita?" tutur Aslan lagi.


"Diskusi? Nggak, nggak! Anda tidak usah kesini lagi. Sudah sana pergi! Saya bisa mengurus Ipang sendiri!" ucap Kia tegas.

__ADS_1


Lalu Kia masuk dan menutup pintu kontrakanya kasar.


Aslan menatap pintu yang ditutup paksa itu dengan getir. Aslan mengerti sikap Kia. Aslan memang pria beristri.


Meski sikap Kia kasar, tapi Aslan justru senang, sikap Kia menunjukan kalau Kia perempuan baik-baik.


Tidak ada sikap Kia yang menunjukan dia seperti perempuan bayaran. Bahkan Kia sangat menjaga diri.


"Mungkin dia sudah berhenti, atau memang dia bukan perempuan seperti itu? Aku tau, aku yang pertama membobol benteng pertahananmu Kia" batin Aslan sambil tersenyum sendiri melajukan mobilnya.


****


Kia menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Menyandarkan tubuhnya, menghela nafasnya pelan.


"Ternyata dia memang sangat kaya, ayah Ipang pemilik Nareswara Grup. Apa yang harus aku lakukan?"


"Apa dia akan mengambil Ipang?"


Kia meneteskan airmatanya menyadari ayah Ipang adalah orang yang sangat berkuasa. Kia sempat bertanya ke Putri tentang aset-aset Nareswara Grup.


Seharusnya Ipang bahagia jika mereka bersama. Tapi itu sesuatu yang tidak mungkin Kia gapai.


Kia tahu diri, siapalah Kia. Aslan juga sudah beristri. Sebagai perempuan, Kia tidak mau merusak rumah tangga orang. Kia bukan pelakor.


"Maafkan ibu Nak"


****


Aslan melajukan mobilnya kencang, menembus jalanan yang mulai lengang. Jarum jam menunjukan pukul 10 malam. Aslan memilih pulang ke rumah barunya bersama istri dan anaknya.


Rumah baru yang dibeli 1 bulan belakangan berdasarkan keputusan Aslan. Sebelumnya Aslan tinggal di Istana Utama keluarga Nareswara.


Di dalam istana itu tinggal 3 keluarga. Ayah dan Ibu Tiri Aslan, Aslan dan keluarganya, ditambah orang tua Daffa.


Ayah Aslan bernama Agung Nareswara, dia memang ingin kedua anaknya tetap tinggal bersama, agar Tuan Agung menikmati hari tua bersama cucu-cucunya.


Sayangnya, Nyonya Wina, ibu tiri Aslan terlalu ikut campur terhadap rumah tangga anaknya. Jadi Aslan berontak dan keluar dari rumah besar itu. Aslan ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.


Aslan membeli rumah di kawasan perumahan elit, meski mewah dan besar, tapi tak sebesar rumah utama. Aslan membeli rumah dua lantai dengan gaya modern, minimalis tetapi tetap elegan.


"Thin thin... " Aslan membunyikan klaksonya menyapa satpam yang menyambut kepulanganya.


Setelah mamarkirkan mobil, Aslan langsung masuk ke rumahnya. Rumah besar Aslan yang tampak lengang, sepi dan terasa kosong.


Tidak ada sambutan senyum hangat dari istri cantiknya, apalagi uluran tangan halus sebagai bakti istri pada suami. Sama sekali tidak ada.

__ADS_1


Bayangan suami pulang mendapatkan sambutan kerinduan dari istrinya, itu hanya ada dalam dongeng saja buat Aslan.


Entah kemana peran jantung rumah tangga yang seharusnya Aslan punya itu. Aslan sendiri tidak memikirkanya, karena baginya rumah tangganya memang sudah pincang sejak awal.


Bahkan Aslan merasa, pernikahan Aslan tidak pernah terjadi, hanya formalitas yang ingin segera dia akhiri.


Yang setia membukakan pintu adalah Mbok Mina, perempuan paruh baya yang tanganya mulai mengkeriput. Perempuan yang sudah merawat Aslan sedari kecil. Perempuan yang kasih sayangya melebihi Nyonya Wina.


Mbok Mina tinggal bersama pembantu lain.Tapi hanya Mbok Mina yang setia menunggu Aslan pulang, baru mengunci pintu. Sementara pembantu lain sudah beristirahat di kamarnya.


"Selamat malam Tuan" sapa Mbok Mina.


"Malam, Mbok! Paul belum pulang?" tanya Aslan.


"Belum Tuan" jawab Mbok Mina menunduk.


"Heh?" Aslan bergumam sendiri sambil tersenyum getir dan menggulung lidahnya kesal.


"Jadi ini alasan dia mengirim Alena ke audisi itu?" gumam Aslan geram ke Paul.


Sebenarnya Aslan tidak setuju Paul mendaftarkan Alena ikut audisi. Menurut Aslan, tanpa mengikuti audisi, jika ingin berkarir, Aslan bisa langsung mengorbitkan sendiri Alena.


Alena juga sudah bergelimangan harta. Buat Aslan, audisi itu lebih tepat untuk anak-anak pelosok yang bakatnya terpendam dan layak dikembangkan. Bukan untuk orang yang sudah mapan seperti mereka.


Tapi Paul keras kepala. Paul beralasan dia merasa perlu membuktikan, kalau anaknya memang berbakat. Anaknya pantas diakui karena kualitasnya tidak karena mendompleng nama papa mamanya.


"Apa saya perlu menyiapkan jahe hangat Tuan?" tanya Mbok Mina ke Aslan.


"Tidak perlu Mbok, saya mau langsung tidur" jawab Aslan bijak.


"Baik Tuan!"


"Jangan lupa kunci pintunya!" perintah Aslan ke Bu Mina.


"Tapi Tuan. Nyonya Paul belum pulang Tuan!"


"Jangan membantah Mbok. Si Mbok nggak usah pedulikan dia. Dia belum tentu pulang, Mbok sudah tua, istirahatlah" tutur Aslan sopan dan menghormati pengasuhnya.


"Baik Tuan" jawab Mbok Mina.


Lalu Aslan segera naik ke lantai dua. Memasuki tempat istirahatnya. Setelah mengganti pakaian dan membersihkan diri Aslan merebahkan dirinya di ranjang.


Aslan menoleh ke sisinya, tidak ada orang. Hanya ada guling yang terbalut kain mahal berwarna kecoklatan.


"Kia... Kia, kamu galak sekali, sampai ketemu besok Kia" batin Aslan tiba-tiba sambil tersenyum.

__ADS_1


Yang datang dibenaknya bukan Paul istrinya, tapi perempuan cantik yang baru dia antar.


__ADS_2