Sang Pangeran

Sang Pangeran
61. Bus


__ADS_3

"Darimana saja kamu?” tanya seorang lelaki dengan tubuh tidak terlalu tinggi, tapi tampak angkuh dan galak. 


“Seharusnya aku yang bertanya dari mana kamu? Kamu bahkan tidak mengabariku, pulang sesukamu!” jawab sang istri dari laki- laki tersebut tanpa hormat sedikitpun. 


“Apa ini?” tanya sang suami menunjukan layar ponsel yang berisikan surat kabar.


Di situ terpampang foto sang istri duduk berjajar bersama calon rekan kerjanya membaca beberapa lembar kertas putih yang hanya si pembaca yang tahu isinya. 


“Kenapa? Ada yang salah dengan keputusanku? Kamu mau melarangku? Aku tidak akan lagi patuh terhadapmu! Aku akan kejar impianku” jawab Sang istri lagi menantang.


“Plak...” sebuah tamparan keras mendarat ke pipi mulus sang istri. 


Reflek tangan si wanita memegangnya. Tapi dia tidak menangis, atau mengeluh kesakitan. Dia menatap lelaki di depanya dengan berani dan penuh benci, tidak ada takut, apalgi merasa menyedal karena durhaka, bahkan status suami istri seperti mereka tinggalkan. 


Dan di depan pintu rumah itu, berdiri seorang laki- laki yang tanpa sengaja mendengarnya. Dia menggenggam tanganya geram mendengar lali-laki bersikap kasar.


Laki-laki itu ingin masuk menerobos pintu. Tapi dia sadar, bahkan dia tidak mengenal kedua insan yang sedang berseteru di balik pintu itu, lebih baik dia pergi, tapi kakinya seperti terpaku di situ.


“Kurang ajar kamu ya! Berani sekarang kau padaku!” bentak laki- laki itu lagi. 


“Kenapa tidak? Aku tidak takut lagi terhadapmu, menyesal aku menerima pernikahan ini. Aku akan bekerja lagi aku akan punya uang dan aku tidak akan bergantung padamu. Dan secepatnya aku akan ajukan gugatan cerai” jawab perempuan itu.


“Kamu pikir kamu bisa bekerja tanpa seijinku, jangan mimpi kamu!” 


“Aku akan tunjukan aku bisa tanpa kamu. Ceraikan aku secepatnya!” 


“Jangan harap aku akan menceraikanmu!” ucap laki- laki tadi lalu maju mencengkeram tangan si istri.


Merasa sakit, si istri berusaha menghindar dan memutar tanganya. Tapi sang suami justru semakin kencang mencengkeram dan memilin tangan istri dan berniat menyeret dan membawa masuk sang istri.


“Lepas! Lepaskan!” teriak si perempuan berusaha menghindar.


“Plaak!” si lelaki kembali menampar si istri lagi dengan kejam. Bahkan dia menyeret paksa hendak membawa ke suatu ruangan.


“Toloong... tolong!” teriak si perempuan berusaha melepas jerat suaminya, tanganya terasa sakit. Kepalanya juga pusing karena ditampar dua kali dengan keras.


Perempuan itu sudah  sering diperlakukan seperti itu. Tapi dia bersabar dan berdiam diri, karena lelaki itu sumber penghidupanya dan memberi uang semau perempuan itu.


Jika perempuan itu melawan dia akan bingung bagaimana menghidupi dirinya dan menghadapi keluarganya yang menghujatnya menjadi seorang janda.


“Tidak ada yang bisa menolongmu, akan kurobek pipimu agar kau tidak bisa bekerja, kamu pikir kamu bisa pergi dariku?” ucap si lelaki dengan bengis dan menyeret si perempuan. 


Lelaki yang berdiri di depan pintu itu, nafasnya semakin memburu mendengar teriakan minta tolong. Sekarang rasa penasaran, kasihan dan geram menyelimuti perasaan laki- laki itu membuat dia membulatkan tekad.


Brak. 


Si lelaki itu melewati batasnya, nekad mendobrak pintu dan masuk ke rumah orang tanpa permisi. Meski akalnya mengatakan itu bukan urusanya dan tidak untung untuknya, tapi buatnya, hal yang dia dengar itu mengoyak hati nuraninya sebagai laki- laki. 


“Lepaskan dia!” teriak Rendra. 


“Kau!” ucap Cyntia bahagia dan tidak menyangka.


“Siapa kamu? Berani masuk ke rumahku! Kau jangan ikut campur terhadap hidupku!” jawab suami Cyntia dengan penuh benci. 


Di saat lengah begitu, Cyntia memutar tanganya dan berlari menuju ke Rendra meninggalkan Niko Dermawan suami kayanya, dia seorang pemilik pabrik perhiasan di kota itu. 

__ADS_1


“Aku pacarnya!” jawab Rendra asal mencari alasan agar dia pantas membela Cyntia. 


“Kurang ajar, dia istriku!” jawab suami Cyntia dengan penuh geram. Lalu dengam muka metah padam suami Cyntia maju dan hendak melempar tonjokan ke Rendra.


Tapi dengan kualitas dirinya sebagai tangan kanan bos besar di kota itu, dengan sigap Rendra menangkis tangan suami Cyntia dan justru balik menyerang dengan memilinya. 


“Kau tidak pantas disebut sebagai suami. Menjijikan!” hina Rendra dengan suara rendah tapi tajam. 


“Au.. auu!” suami Cyntia mengerang kesakitan. 


“Hanya segini kemampuanmu? Beraninya sama perempuan! Ck. Memalukan!” ejek Rendra dengan tatapan kemenangan, lalu menendang, mendorong dan melempar suami Cyntia ke lantai, sampai membentur tembok. 


Cyntia memperhatikan adegan itu dengan ekpresi ketakutan, tapi Cyntia memandang kagum ke Rendra. Rendra tampak begitu keren dan gagah. 


Rendra kemudian menggerakan tanganya saling bersentuhan dengan gerakan membersihkan tangan. Ternyata Niko Dermawan sangat payah.


“Apa Nyonya Kia pulang kesini?” tanya Rendra menoleh ke Cyntia.


Cyntia menggelengkan kepalanya masih tertegun.


“Ikut aku!” ucap Rendra lirih mengajak Cyntia istri orang pergi meninggalkan rumah dan suaminya. 


“S*it” umpat suami Cyntia mengerang kesakitan dan merelakan istrinya pergi bersama laki- laki lain. 


Rendra dan Cyntia segera masuk ke mobil Rendra. Rendra melirik sekilas ke perempuan cantik di sampingnya, perempuan cantik yang tempo hari sempat membuatnya terpana. Dan kini duduk di sampingnya tampak sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. 


Rendra diam tidak bisa berkata- berkata. Mau tanya mereka tidak saling mengenal dan berkepentingan. Tidak tanya tapi kasian, merasa sayang, perempuan secantik Cyntia mendapatkan perlakuan sekasar itu dari laki- laki yang seharusnya menyayanginya. 


“Terima kasih sudah menolongku” tutur Cyntia dengan lembut membuka percakapan.


“Oh ya Tuhan, aku belum mengabarinya dan bertanya dia ada dimana? Jangan sampai dia pulang kesini” jawab Cyntia justru terlihat mengkhawatirkan Kia. 


Kia kan belum pernah bertemu dengan suami Cyntia dan belum tahu perangainya. Bisa bahaya kalau Kia pulang ke rumah Cyntia dan bertemu dengan Niko Dermawan. 


“Hubungi dia secepatnya. Dimana dia sekarang? Ada sesuatu yang harus kuberikan padanya!” tutur Rendra memberi perintah.


“Iya” jawab Cyntia mengangguk. Lalu Cntia menelpon Kia. 


****


Di halte bus.


“Haiiishhh kenapa Rendra tidak mengangkat teleponnya sih?” gerutu Aslan kesal. 


Tatapan Aslan masih terus memperhatikan Kia yang masih tampak sangat lucu duduk di hakte seperti sedang kebingungan.


Aslan tidak mau kehilangan jejak Kia, Aslan kemudian menatap ke arah jalan takut- takut tiba- tiba bus datang dan membawa Kia pergi. 


Dan benar saja, samar- samar dari arah depan Aslan, warna merah cirikhas kendaraan umum yang mempunyai halte disitu terlihat. Kia pun terlihat berdiri seperti mau bersiap naik meski bus masih terlihat agak jauh. 


Sontak Aslan membuka pintu mobil dan lari menyebrang jalan menuju ke Kia. Tidak peduli dia dimarahi banyak sopit karena menyebrang dengan sembrono. Aslan erusaha menahan Kia jangan pergi. 


“Kau!” pekik Kia melihat Aslan berlari ke arahnya. 


“Ehm. Jangan pergi!” Aslan berdehem dengan nafas ngosan karena berlari. Dan menahan Kia. Untung Aslan tidak ketabrak bus. 

__ADS_1


Bus tiba di depan mereka tepat setelah Aslan berhasil menyebrang dan menghampiri Kia. Dan Kia melambaikan tangan ke kondektur bus mau naik, Kia juga melangkahkan kakinya mau maju tidak peduli Aslan.


Reflek tangan Aslan meraih dan menahan tangan Kia untuk tidak pergi. Kia melirik ke Aslan dengan kesal, lalu menghempaskanya dan tetap masuk ke Bus.


Karena ditolak, Aslan hanya mendengus kesal, Kia berjalan begitu cepat. Aslan kemudian ikut menyusul masuk, jika menahan Kia dan memaksanya akan memalukan dan jadi tontonan orang.


Kebetulan siang itu bus longgar, hanya ada 4 penumpang yang sudah duduk berpasangan. Mau tidak mau Kia mengambil tempat duduk yang masih kosong dan tidak ada teman di sebelahnya.


Itu artinya Aslan masih bisa menjajariya. Dan benar saja Aslan mengikutinya dan duduk di samping Kia. Mereka kemudian duduk berdampingan di dalam bus.  


“Ishh kenapa dia mengikutiku, apa coba maksudnya, menyebalkan” gerutu Kia merasa risih duduk bersebelahan dengan Aslan. 


Aslan sendiri merasa kikuk, dia kan sudah berjanji mau menjauhi Kia kenapa malah mengikutinya. Mereka saling diam sama- sama gerogi mau memulai pertengkaran tapi di muka umum. 


“Ayo Kia, kamu harus berani, saatnya sekarang meminta pertanggungjawaban padanya untuk biaya hidupmu di sini” di kuping kiri Kia seperti ada yang membisikan sesuatu. 


“Kenapa gue jadi gugup begini sih, siall” batin Aslan duduk di samping Kia merasa payah sebagai lelaki. Kenapa perempuan di sampingnya bisa membuatnya sekaku itu.


“Mau apa kau mengikutiku?” tanya Kia membuka pembicaraan saat Bus sudah berjalan. 


“Kau mau pergi kemana?” tanya Aslan.


Kia diam sejenak. Karena sebenarnya daritadi Kia juga bingung mau pergi kemana? Ke rumah Cyntia lagi, Kia tau Cyntia lelaki bersuami, tidak mungkin Kia jadi benalu. Mau cari kos Kia tidak punya uang.


Sebenarnya niat Kia mau melabrak Aslan dan meminta haknya. Tapi seharian ini Aslan dingin. Dan kenapa di saat Aslan mendekatinya, jantung Kia seperti berdisko, memacu debaran yang tidak bisa dikendalikan dan membuat Kia ngebleng. 


“Aku mau jenguk Ipang!” jawab Kia asal. 


“Jangan buat anak kita manja, dia di sana dilatih mandiri dan belajar, tidak lama kok, besok malam kita bisa mengunjunginya dan sekaligus kasih dukungan untuk penampilan pertamanya, jangan terus mendatanginya” tutur Aslan dengan nada dewasa, seperti suami yang sedang  membahas kebaikan anaknya terhadap istrinya. 


Kia diam lagi, omongan Aslan memang benar, anak- anak peserta lain memang hanya boleh dijenguk seminggu sekali. Tapi Kia selalu nekat mendatangi karantina, bahkan membawa kabur Ipang. 


“Kenapa kau pergi dari rumahku semalam?” tanya Aslan dengan nada lembut. 


“Apa kau marah karena aku pergi?” tanya Kia penasaran dengan sikap Aslan yang tiba- tiba berubah. 


“Apa Paul bersikap kasar padamu?” tanya Aslan tidak memperdulikan pertanyaan Kia. 


“Ehm... tidak!” jawab Kia berbohong.


“Aku minta maaf karena tidak berfikir jauh kau akan bertemu dengannya. Sebentar lagi dia bukan siapa- siapaku” tutur Aslan memberitau dan meminta maaf. 


“Aslan minta maaf, woaah dia minta maaf” batin Kia tertegun dan melirik menatap Aslan. Ternyata Aslan bisa bersikap dan berkata dengan sopan dan baik, saat begini Aslan terlihat keren dan menangkan.


Aslan tampak sangat berbeda. Saat Kia menatap Aslan , Aslan juga sedang menatapnya sehingga mata mereka saling terpaut seperti membuat ikatan yang tidak bisa diartikan. 


“Ehm” Kia berdehem dan memalingkan pandangan. 


Tiba- tiba ponsel Kia berbunyi, ada panggilan dari Cyntia. Kia kemudian mengangkatnya.


****


Terima kasih udah baca karya author.


Buat evaluasi dan semangat author tinggalin koment ya.

__ADS_1


Ingat juga like, favorit dan hadiah biar authir semangat.


__ADS_2