Sang Pangeran

Sang Pangeran
53. Dijemput


__ADS_3

"Tek tek tek… "


Suara heels di lorong rumah sakit depan ruang tempat Tuan Agung dirawat terdengar menggema. 


"Krek" suara pintu yang selama ini pengunjungnya dibatasi dan diawasi ketat dibuka. 


Karena Tuan Agung sadar dan sudah bisa diajak komunikasi,  pihak rumah sakit menghubungi keluarganya.


Nyonya Wina, ibu tiri Aslan pun tidak menyiakan kesempatan untuk melihat perkembangan suaminya. 


"Nenek sihir?" gumam Aslan mengepalkan tangan. 


Ipang kemudian merapat ke Aslan dan memegang tangan Ayahnya. Ipang menatap Nyonya Wina dengan teliti dari atas sampai bawah.


"Apa itu oma Daffa? Yang kata Daffa hobby ngomel, Ayah?" tanya Ipang lirih ke Ayahnya. Aslan tersenyum keponakanya itu memang sangat iseng.


"Ssst,  anak ayah diam saja. Dia bisa makan manusia, nanti kamu bisa dimakan sama dia" tutur Aslan mengajari sesuatu yang tidak benar ke anaknya. Aslan dan Kia memang sebelas dua belas. Sayangnya Ipang tidak mudah dibodohi kedua orang tuanya.


Nyonya Wina masuk, mendekat ke mereka dan matanya langsung mendelik ke Ipang. 


"Siapa dia?" tanya Nyonya Wina ketus.


"Dia anakku" jawab Aslan mantap. Aslan sudah nekat, dia sudah sangat muak dengan hidup kelamnya selama 7 tahun di bawah ancaman akan kehilangan harta.


"Anak?" tanya Nyonya Wina dengan muka sinisnya. 


"Iya dia anakku, aku punya anak dari perempuan yang kucintai" jawab Aslan lagi seakan menantang Nyonya Wina.


"Jadi Alena punya saudara?" tanya Wina. 


"Anakku hanya dia? Alena bukan anakku" jawab Aslan terus terang. 


Mendengar percakapan anak dan istrinya Tuan Agung berespon. Tanganya memukul-mukul bantal seerti tidak ingin mendengar istri dan anaknya bertengkar. 


Aslan dan Bu Wina kemudian diam, menghentikan percakapanya. Mereka kembali fokus ke Tuan Agung dan berebut memberikan perhatian. 


"Suamiku,  ini aku, istrimu ? Syukurlah kamu sudah kembali sadar,  aku sangat merindukanmu" rayu Nyonya Wina.


"Ehm" Aslan berdehem muak mendengarkan rayuan palsu ibu tirinya itu. Aslan tau, sejak awal niat menikahi ayahnya karena harta saja. Bahkan mungkin sebenarnya Nyonya Wina berharap ayahnya cepat mati dan mendapatkan warisan.


Tuan Agung hanya diam dengan tatapan yang tidak bisa ditebak. 


"Aku tidak menjengukmu karena putramu melarangku sayang" ucap Nyonya Wina lagi. mengadukan Aslan. 


Tuan Agung berespon mengangkat tangan tapi tidak tau apa artinya. Aslan hanya berdecak tidak peduli. Mau menjawab tapi sepertinya sia-sia meladeni nenek tua ini.


Tidak lama dokter yang merawat Tuan Agung datang hendak memberikan penjelasan. 


Aslan dan Nyonya Wina berebut agar bisa masuk ke ruang dokter. Tapi karena selama ini yang merawat Aslan. Aslanlah yang masuk.  Tentu saja Aslan meninggalkan Ipang dan Nyonya Wina. 


"Heh anak kecil! Minggir kamu! Bisa-bisanya anak sepertimu menjadi cucuku. Merepotkan!" bentak Nyonya Wina tiba-tiba galak. 


"Nenek, nenek bawa cermin nggak?" jawab Ipang polos berani. 


Pertanyaan Ipang membuat Nyonya Wina terhenyak dan tersinggung. 


"Untuk apa menanyaiku cermin?"


"Aku mau beritahu sesuatu" jawab Ipang lagi. 


Nyonya Wina terdiam semakin dibuat penasaran dengan Ipang. 


"Nenek mau lihat nggak? Di rambut nenek ada sesuatu?" tanya Ipang lagi dengan muka polosnya


"Di rambutku?" tanya Nyonya Wina dengan ekspresi sangat penasaran


"Iya?" jawab Ipang mengangguk.


"Ehm" Nyonya Wina berdehem tanganya meraba rambut pendeknya yang mulai beruban tapi rapih.

__ADS_1


"Makanya ambil cermin Nek!" ucap Ipang lagi. 


"Hooh,  benarkah ada sesuatu? Apa rambutku berantakan?" tanya Nyonya Wina gelisah lalu merogoh tas mahalnya segera mencari cermin dan kemudian mengaca melihat tatanan rambutnya dengan teliti.


"Heh bocah,  kamu mengerjaiku? Tidak ada yang salah dengan rambutku" omel Nyonya Wina lagi merasa dirinya masih stay cantik dan elegan.


"Hihihi" Ipang malah tertawa.


"Ketawa lagi,  dasar,  siapa ibumu? Bisa-bisanya melahirkan anak senakal kamu?" omel Nyonya Wina sangat tersinggung.


"Apa nenek belum lihat juga?" tanya Ipang.


"Liat apa?"


"Rambut nenek sudah beruban. Katanya kalau sudah beruban itu pengingat kita buat nggak usah galak-galak Nek, karena artinya nenek sudah tua dan bau tanah. Jadi harus baik dan ramah Nek. Hehe" ucap Ipang lagi tidak takut dan malah seneng melihat Nyonya Wina emosi. 


"Sssshhhh. Kurang ajar!" umpat Nyonya Wina gemas menggerakn tanganya ingin menjewer Ipang tapi Ipang menjauh.


Tuan Agung yang mendengar percakapan cucu dan istrinya ikut tersenyum,  terlihat dari sinar mata dan gerak bibirnya. Entahlah bagaimana respon Tuan Agung terhadap Ipang, apa suka atau tidak, semua itu akan terjawab jika dia pulih dari stroke nya.


Tangan Tuan Agung kemudian bergerak ingin meraih Ipang. Ipang pun mendekat.


Kemudian Aslan datang, Aslan heran melihat dari kejauhan Ipang tertawa,  tangan Tuan Agung juga tampak memegang kepala Ipang lembut. 


"Ayah" seru Ipang bahagia melihat ayahnya datang. 


"Ada apa ini? Anak ayah tampak bahagia?" tanya Aslan. 


"Tidak apa-apa" jawab Ipang menyembunyikan keisenganya.


"Jelaskan padaku, kenapa kau tiba-tiba punya anak sebesar dan senakal ini?" tanya Nyonya Wina emosi.


"Apa itu penting buat Anda? Jangan khawatir, anakku tidak akan mengambil apapun yang kamu punya" jawab Aslan bernada ketus. 


Karena Nyonya Wina dan Aslan memang tidak pernah akur. 


"Apa maksudmu bilang begitu? Apa kau lupa kalau kau masih punya Alena dan Paulina? Bisa-bisa kau tiba-tiba membawa anak dari perempuan lain?" omel Nyonya Wina.


"Dengarkan putramu suamiku" adu Nyonya Tuan Agung yang tampak diam mendengarkan.


"Apa kau lupa dengan perjanjian itu? Hah?  Bahkan kau yang membuat ayahmu berbaring begini?  Dan di saat dia baru sehat kau membawanya membuat masalah baru?" omel Nyonya Wina lagi ke Aslan. Menyalahkan seakan Tuan Agung stroke setelah bertengkar dengan Aslan. Karena Aslan meminta cerai dengan Paul dan mengubah perjanjian dengan orang tua Paul.


"Ayah tau semuanya. Ayah akan segera sembuh dan saya tidak takut apapun" jawab Aslan mantap.


"Kau! Melihat ayahmu begini tidak takut?" omel Nyonya Wina.


"Ayah akan segera sembuh. Baiklah saya akan segera pergi. Masih banyak yang harus saya urus" ucap Aslan tidak mau lama-lama bersama ibu tirinya itu. 


"Hoh.  Lihatlah dirimu.  Sombong sekali" gerutu Bu Wina mengatai Aslan. Tapi Aslan tidak bergeming, menepuk ayahnya berpamitan.


"Dada Kakek.  Dada Nenek.  Sampai ketemu lagi" sapa Ipang melambaikan satu tangan saat tangan yang satunya digandeng Aslan. 


Aslan tersenyum melihat putranya. Aslan berjalan sambil berfikir menentukan keputusanya. Aslan masih sangat ingat perjanjian dengan mertua dan orang tuanya saat hendak menikah dulu.  


Tapi entah kenapa,  setelah bertemu Ipang dan Kia, Aslan merasa,  di dunia ini tidak ada yang lebih berharga dari kebahagiaan dan waktu.  Aslan merasakan kehangatan dan kebahagiaan saat bersama Ipang. Ipang harta Aslan yang paling berharga.


Apalagi saat berkunjung ke rumah Kia. Aslan merasakan kedamaian di sana. Meski di rumah kecil dan sederhana,  Aslan merasakan sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. 


Aslan tidak mau terus terpenjara dalam pernikahan palsunya. Dia harus keluar dari jeruji besi yang tak terlihat itu. Tidak peduli bagaimana akhirnya, hari ini Aslan hendak menemui pengacaranya untuk mengajukan gugatan cerai. 


"Ayah setelah ini kita menemui ibu kan?" tanya Ipang mendongakan kepala, kembali merengek tentang ibunya. 


"Bukankah besok anak ayah perform untuk yang pertama kali? Kita harus segera ke tempat karantina Nak!" jawab Aslan.


"Ayah tapi Ipang mau ketemu ibu dulu" 


"Hemm" Aslan berdehem.


Rendra belum mengabari dimana alamat perempuan bernama Cyntia itu. 

__ADS_1


"Ayah. Ipang mau ketemu ibu" rengek Ipang lagi. 


"Iya. Kita ketemu ibu setelah ini" jawab Aslan meyakinkan Ipang. 


Meski dalam hatinya Aslan tidak yakin dimana dia akan menemukan Kia. Tapi Aslan akan berusaha dengan kekuasaanya. Lalu Aslan mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.


****


Sesuai dengan perintah Aslan yang dia tangkap.  Satya, Manda dan pekerja proyek mereka melakukan meeting menetapkan dan mengumumkan hasil audisi. 


Pemain utamanya Cyntia, karena diam-diqm Cybtia ikut audisi. Antagonisnya Paul. Pemeran utama laki-lakinya David, artis pendatang baru yang naik daun.  Lalu Nicholas dan yang lainya sebagai pemeran pembantu. 


Hari itu pun mereka mengirim pesan ke semua peserta audisi untuk datang ke studio. Mereka akan dikasih naskah skenario masing-masing peran agar dipelajari.  Dan hari berikutnya syuting akan segera dimulai. 


**** 


"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" tanya Kia ke Cyntia mendengar pintu rumah Cyntia diketuk. 


"Mungkin suamiku" jawab Cyntia bangun. Membukakan pintu.


"Krek" 


Cyntia membuka pintu rumah dengan malas.  Karena masih pagi dan di dalam rumah,  Cyntia hanya menggunakan hotpen yang sangat seksi sehingga paha ramping dan mulusnya terlihat sempurna. 


Atasanya pun kaos longgar dan tipis, buah ranum Cyntia tampak menonjol dan menantang. Pokoknya baju yang layak dipakai tidur,  rambutnya juga acak-acakan karena memang belum mandi. Tapi Cyntia tetap cantik. 


Dheg


Cyntia menelan ludahnya. Pria berbadan tinggi tegap dengan penampilan rapi berdasi dan berkacamata hitam, berdiri di depanya. Cyntia seperti pernah bertemu tapi lupa.


"Kau siapa?" tanya Cyntia reflek. 


Melihat keseksian Cyntia laki-laki itu tertegun dan menelan ludahnya. Seperti mendapat signal,  makhluk kecil di tengah pangkal kedua paha laki-laki itu tumbuh besar tanpa ada yang melihatnya. Lalu laki-laki itu membuka kaca mata hitamnya. 


"Benar dengan Nyonya Cyntia?" tanya Pria itu dingin.


"Iya benar" jawab Cyntia singkat.


"Apa nyonya Kiara Arsyila ada di sini?" tanya Laki-laki itu to the point.


"Ooh,  Kia?" jawab Cyntia kemudian menghela nafas berdecak dan menebak. "Dia pasti suruhan Aslan"


"Iya. Nyonya Kia. Saya harus bertemu denganya" jawab pria itu lagi.


"Dia tamuku,  untuk apa kau mencarinya?" tanya Cyntia berani. 


"Saya hanya memenuhi tugas saya untuk menjemputnya" jawab laki-laki itu. 


"Jemput?" tanya Cyntia heran


"Iya" jawab Pria itu dingin.


"Hemm, baiklah tunggu sebentar" jawab Cyntia, lalu menutup pintu dan masuk ke rumah memanggil Kia. 


"Suami kamu? Kok nggak masuk?" tanya Kia ke Cyntia.


"Bukan,  suruhan bapaknya anak lo tuh! Dia nyariin kamu. Kek ratu di pilm pilm aja sih lo? Dicariin dijemput segala" ucap Cyntia ngatai Kia.


"Hooh?  Dia bilang mau jemput aku?" tanya Kia kaget. Kurang kerjaan jemput segala. Terus Kia juga heran, ketemu aja, kemanapun Kia pergi. Dasar Aslan.


"Iya buru sana keluar! Ganteng lhoh!" jawab Cyntia mendorong Kia bangun.


"Lo dari tadi gontang ganteng,  Singa gila dibilang ganteng,  ini suruhanya dibilang ganteng juga.  Ingat lo punya suami" ucap Kia mengatai Cyntia.


"Bentar lagi cerai. Catet! Gue calon janda! Sono buru temuin!" jawab Cyntia ngasal.


"Ishh dasar.  Istri aneh! Ada ya orang pengen jadi janda" cibir Kia mengatai Cyntia lagi.


Cyntia kan memang mantan sugar baby jadi kalau ngomong semaunya, otaknya juga rada geser.

__ADS_1


Kia pun keluar membuka pintu dan menemui pria itu. Kia kemudian berdecak dan berkacak pinggang mengenali siapa pria itu. 


__ADS_2