
Hari itu cuaca agak mendung. Setelah pertengkaran sengit semalam, Paul ingin mengadu pacarnya si Nicho.
Tidak menanyakan bagaimana dan dimana keberadaan Aslan, setelah rapih berdandan Paul pergi meninggalkan rumah. Untung Ipang dan Aslan pergi pagi-pagi jadi tidak bertemu Paul.
Seperti biasa, mereka berdua bertemu di tempat yang sepi dari media. Kafe khusus kepunyaan teman baik Nicho. Mereka berdua sama-sama publik figur jadi tak ingin membuat cemar nama mereka.
"Aslan berani membawa perempuan itu ke rumah" curhat Paul ke Nicho.
Sementara Nicho hanya tersenyum penuh arti. Entah senyum menertawai nasib Paul atau bagaimana hanya Nicho yang tahu.
"Apa lo cemburu Aslan mencintai perempuan lain?" tanya Nicho.
"Sayang apa yang kau katakan. Aku mencintaimu untuk apa aku cemburu"jawab Paul sewot dikatai cemburu.
"Ya sudah tidak usah diambil pusing, biarkan saja" ucap Nicho.
"Aku tidak siap jika dia benar-benar menceraikan aku. Kalau Aslan menceraikan aku. Apa kau mau menikah denganku?" tanya Paul.
"Kemon Baby berfikirlah dengan jernih. Kalau kamu bercerai dan kita nikah, tamatlah riwayat karirku. Aku punya anak dan istri. Lena istriku tidak akan terima jika aku ceraikan dia. Dia akan buat namamu jadi jelek, bukankah kita sepakat biar seperti ini saja hubungan kita" tutur Nicho menolak menikahi Paul.
"Jadi maksudmu, kau tidak mau menikahiku? Iya? Aku tidak percaya kau mengatakan hal ini" tanya Paul tersinggung.
"No. no. bukan begitu baby. Kamu tau kan? I love you, i love you so much, dan seterusnya begitu. Tapi bukankah posisimu di sisi Aslan itu menguntungkan. Bukankah kau harus dapatkan uang saham itu dulu?" ucap Nicho lagi merayu Paul.
"Warisan itu bisa cair kalau mertuaku meninggal dan tidak mengubah surat perjanjian pernikahan kami. Kalau mertuaku belum meninggal semua bisa diubah dan dibatalkan. Aku menunggu orang tua itu meninggal" jawab Paul.
"Bukankah dia sedang koma?"
"Iya. Mertuaku juga yang kujadikan senjata agar Aslan tunduk padaku. Aslan tidaj berani menetangku jika menyangkut Ayahnya. Tapi sekarang ayahnya benar-benar sakit. Jadi aku tidak punya senjata untuk mengancam"
"Tapi kan kamu akan dapat warisan"
"Aslan merawat ayahnya seorang diri. Hanya dia yang tahu perkembangan ayahnya saja. Kami hanya diijinkan menjenguk dari kaca. Satu-satunya jalan mertuaku perempuan"
"Ya sudah. Kamu masih pegang kartu Aslan kan?"
"Tidak, dia mulai nekat dan tidak peduli dengan ancamanku. Aku ingin hidup bersamamu jika waktu cerai itu tiba" ucap Paul lagi.
"Iya Sayang kita akan bersama. Tapi kita harus rencanakan sesuatu. Jangan mau diceraikan Aslan jika mertuamu belum meninggal, atau buat mertuamu meninggal saja. Setelah ini kita akan menikah" rayu Nicho dengan senyum palsunya.
"Sungguh? Apa kau sungguh akan menceraikan Lena istrimu?" tanya Paul.
"Aku akan ceraikan dia. Tapi tidak sekarang, kita harus jaga reputasi kita. Selama ini citra keluargaku keluarga harmonis. Kita harus pikirkan hal itu juga" jawab Nicho ngambang.
__ADS_1
"Hmmmm.... " jawab Paul berfikir sebenarnya Nicho sungguh mencintai Paul atau hanya bermain-main saja. Kata-katanya mulai berbolak balik.
Di saat mereka terdiam. Ponsel Paul berdering tanda pesan masuk. Paul pun segera membukanya.
"S*it" umpat Paul dengan mata melotot saat membacanya.
"Whats hapen Baby?"
"Gue jadi pemeran antagonis, bukan yang utama. Apa Satya meremehkan kemampuanku?" umpat Paul kesal. Nicho justru tersenyum.
"Kemon Baby. Yang penting kita bisa syuting bareng. Tak usah risau akan peranmu. Ingat tujuan kita. Ayo kita ke studio sekarang" ajak Nicho
"Oke!" jawab Paul.
Lalu mereka dengan menggunakan mobilnya masing-masing menuju ke studio. Hendak melakukan brieving untuk para pemeran di proyek drama Satya.
Jika datang ke pertemuan umum Paul dan Nicho tidak pernah menunjukan kebersamaanya. Mereka sangat pandai menyembunyikan hubungan mereka.
Bahkan keluarga Nicho sering mendapatkan iklan keluarga harmonis. Apalagi dengan basic istri Nicho yang seorang dokter dan berjilbab. Begitu juga Paul dan Aslan, mereka menjadi ikon artis terkaya dan adem tanpa gosip.
****
"Apa kamu bilang? Dia menolak datang kesini?" tanya Aslan emosi dan mengeratkan rahangnya. Aslan melirik Ipang di sudut ruangan sedang fokus membaca buku.
"Iya Tuan. Nyonya Kia akan datang sendiri ke kafe Galaxy"
"Apa dia tidak rindu anaknya? Cara apalagi yang bisa kubuat agar dia mau menemuiku dan menikah denganku" gumam Aslan.
"Hemm ceraikan Nyonya Paul secepatnya. Jaga jarak dan bersikap selow terhadapnya Tuan. Kalau bisa tunjukan kejelekan Paul padanya, Nyonya Kia akan bisa bersimpati pada Tuan Aslan" tutur Rendra menasehati.
"Sebanyak itu? Kalau keburu ada pria yang mendekatinya dan menikahinya bagaimna? Jika dia menikah dengan orang lain. Baik Ipang dan Kia akan pergi dariku" jawab Aslan khawatir.
Rendra pun menepuk jidatnya. Dasar Aslan bodoh. Di dunia ini tidak ada yang instan. Mi aja yang jelas namanya mi instan ada prosesnya. Masa mau mengambil hati dan menikahi perempuan semudah itu. Rendra aja yang bertahun-tahun mengejar perempuan belum juga nikah.
"Semakin anda mengejar dan mengekangnya. Semakin Nyonya Kia pergi. Dan mungkin dia juga akan membatasi anda menemui Tuan Muda Pangeran" tutur Rendra menasehati lagi.
"Pangeran ada bersamaku. Tidak ada yang bisa mengambilnya"
"Ck. Tuan Aslan yang terhormat. Tapi bukankah anda sendiri yang cerita. Tuan Muda Pangeran tidurpun mengigau ibunya. Bangun tidur menanyakan ibunya. Dan sampai sekarang dia patuh karena anda berkata padanya sedang menunggu ibunya?" ucap Rendra lagi geraam.
Pagi-pagi di saat Rendra sedang santui sudah diusik Aslan. Diburu-buru harus mencari rumah Cyntia. Aslan kebingungan karena Pangeran rewel dan menangis mencari ibunya.
"Hemmm" jawab Aslan merasa kalah. "Baiklah aku akan menjaga jarak denganya dan bersikap jual mahal, itu keahlianku. Liat saja. Dia akan mencariku" ucap Aslan percaya diri.
__ADS_1
"Semoga berhasil Tuan" jawab Rendra.
"Kalau begitu. Awasi dia jangan sampai ada pria yang mendekatinya. Ingat dia miliku" ucap Aslan lagi asal ngomong.
"Milik apaan. Kenalan aja baru. Selama ini juga ditinggal, dasar" batin Rendra kesal ke Aslan.
"Ya Boos" jawab Rendra.
"Tapi siapa yang harus mengawasinya. Nyonya Kia perempuan berani bebas dan bernyawa. Jika bertemu dan mengobrol dengannya susah bagaimana bisa mengawalnya dan mencampuri urusan pribadinya" jawab Rendra lagi.
"Kau dekati temanya itu. Siapa? Cyntia apa siapa itu" ucap Aslan memberi ide.
"Saya? Dekati Nyonya Cyntia?" tanya Rendra dengan mata melotot.
"Iya" jawab Aslan mengangguk.
"Dia perempuan bersuami Tuan" jawab Rendra lagi.
Tapi kemudian di otak Rendra datang bayangan Cyntia dengan bibir se*sualnya, rambutnya yang tergerai indah dan paha mulusnya. "Ehm" Rendra berdehem tidak nyaman membayangkan tugasnya.
"Memang siapa yang menyuruhmu menikahinya. Dekati dia baik-baik terseraah bagaimana caranya. Yang penting buat dia selalu melapor kalau ada pria yang mendekati Kia" ucap Aslan lagi.
"Ya Bos!" jawab Rendra lemas.
Aslan memang selalu out of the box tapi ngawur. Meski terbayang menyenangkan. Tapi mendekati Cyntia yang notabenya perempuan bersuami bukan perkara mudah.
Rendra lebih suka diberi tugas melakukan negosiasi mendapatkan kontrak iklan dari pengusaha dari pada harus begini. Tapi kalau menolak pasti ancamanya pecat dan potong gaji.
"Ya sudah kalau begitu. Suruh pengacaraku datang ke kafe galaxy juga" ucap Aslan lagi.
"Baik Bos" jawab Rendra.
Dari belakang Ipang yang sudah selesai membaca buku dongeng datang.
"Ayah mana ibu? Katanya ibu mau ke sini?" tanya Ipang mulai merajuk mencari ibunya.
"Ehm" Rendra berdehem seakan mau menertawai Aslan. "Syukurin lo, dipikir gampang ngerawat dan nahan anak tanpa ibunya"
Meski Ipang sudah tidak butuh menyusu, tetap saja Ipang anak kecil yang butuh ibunya.
"Iya Nak. Ibu sedang salam perjalanan ke sini, sabar ya!"
"Ayah tidak bohong kan?"
__ADS_1
"Tidak Nak" jawab Aslan.