
Apartemen Rendra.
Rendra bangun pagi- pagi lebih pagi dari biasanya. Jika biasanya pukul 7 Rendra berangkat, hari ini pukul 06.00 Rendra sudah rapih dengan kemeja dan celana kainya mlipis dan rapihnya, tidak lupa minyak wangi.
Hanya saja, Rendra tidak langsung berangkat ke kantor. Rendra membuka pintunya sedikit. Rendra stand by duduk di balik pintu menggeser bangkunya. Rendra sesekali melihat jam tangan dan ponselnya. Memastikan betul seseorang melewati pintu apartemenya itu.
“Apa perkataan gue beneran nyakitin dia? Dia kan juga sering nyakitin gue! Kenapa dia menangis?” batin Rendra lagi.
Semalam, Cyntia memang tidak seperti biasanya. Rendra melihat dengan mata telanjangnya, saat Cyntia membuka pintu dan mengatainya, air mata Cyntia menetes. Perasaan Rendra yang sebelumnya merasa senang dan bahagia membully Cyntia berubah jadi rasa bersalah.
Cyntia juga berlari menerjang hujan. Saat Rendra berusaha menyusul Cyntia, dari simpang jalan keluar mobil yang ternyata mobil teman Cyntia. Awalnya Rendra juga masih berfikir itu teman tidur Cyntia.
Rendra sempat berfikir tidak mau peduli, tapi hati Rendra tetap penasaran
Rendra kemudian memelankan laju mobilnya dan berniat membuntuti alias menguntit kemana mobil Cyntia pergi.
Mobil Cyntia sempat berbelok ke sebuah rumah, tapi Cyntia tidak turun, yang turun seorang laki- laki dan perempuan, entah siapa tidak tahu. Laki- laki itu tampak memayungi si perempuan, mencium keningnya dan membiarkan si perempuan masuk ke rumah bagus. Lalu si laki- laki kembali ke mobil mengantar Cyntia.
Rendra mengambil kesimpulan mereka teman Cyntia. Mereka melajukan mobilnya ke sebuah Bar. Di situ Rendra kembali membulatkan pandangan buruk ke Cyntia. Pasti Cyntia akan minum- minum seperti dirinya tempo hari, malah sambil dugem.
Rendra berniat membalikan mobilnya dan pergi. tapi saat Rendra hendak putar balik, Rendra melihat Cyntia tidak masuk. Cyntia hanya menunggu di luar dengan tatapan kosong dan si teman laki- lakinya itu masuk.
Pandangan Rendra kemudian berubah lagi, dan menghentikan mobilnya penasaran.
Benar ternyata, si laki- laki itu hanya masuk sebentar. Mereka ke bar ternyata karena ada perlu dengan seseorang lalu mereka pergi.
Rendra kembali membuntuti mereka dan melihat dari kejauhan. Mobil Cyntia dan temannya itu kembali berhenti di depan sebuah pertokoan, tepatnya toko elektronik yang sudah tutup.
Karena dari jauh, Rendra tidak melihat jelas apa yang ada di situ. Rendra hanya melihat Cyntia turun sendirian memakai payung. Berhenti sebentar, setelah itu membawa sesuatu dan masuk ke mobil lagi.
Mobil itu hanya berhenti sebentar, karena di situ ternyata ada pedagang kaki lima, tepatnya penjual jagung rebus. Penjual itu masih tetap berjualan karena jualanya masih banyak, padahal itu sudah dini hari dan hujan deras.
Ya. Rendra melihatnya sendiri, Cyntia turun dan memborong jagung itu. Rendra pun lebih penasaran lagi akan dikemanakan jagung- jagung itu.
Rendra mengikutinya lagi. Mobil yang dinaiki Cyntia ternyata mengaraah ke apartemenya.
“Oh makanan kesukaanya jagung rebus ternyata!” batin Rendra tersenyum asal menyimpulkan lagi.
__ADS_1
Saat Rendra fokus menyetir, dia pun memelankan jalanya lagi agar tidak ketahuan membuntuti mobil Cyntia. Karena mobil Cyntia berhenti.
"Gawat apa gue ketahuan buntuti dia?" batin Rendra gelisah.
Dan sayangnya mobil teman Cyntia balik lagi saat Cyntia turun, mobil itu balik arah dengan cepat. Sementara Cyntia tampak berhenti depan sebuah rumah sederhana. Kebetulan hujan sudah reda.
Rendra sendiri tidak pernah memperhatikan di dekat apartemen ternyata ada rumah kecil, yang terhimpit gedung lain, tepatnya di belakang gedung sebuah bank swasta.
Rumah kecil itu ternyata ternyata kos-kosan anak-anak petugas kebersihan di apartemen, terlihat dari plang di depaan rumah bertuliskan Terima Kos.
Rendra memajukan mobilnya mendekat dan mengintip dari kaca mobil. Rendra melihat perempuan hamil keluar dari rumah itu.
Rendra mengenali wajah perempuan itu. Dia adalah perempuan yang setiap hari Rendra temui saat berangkat kerja, perempuan itu berseragam OB dan selalu mengangkut sampah di lobby appartemen.
“Makasih Mbak Cyntia, makasih banget. Anak- anak pasti suka!” samar- samar Rendra mendengar percakapan Cyntia dan orang itu.
“Ya, Bu, semoga suka! Kalau udah mau lahiran kabari saya ya!” jawab Cyntia.
“Iya siap Mbak!” jawab perempuan itu lagi.
“Ya, hati- hati Mbak!” jawab perempuan itu.
Cyntia pun tampak membalikan badan, Rendra langsung tancap gas maju agar tidak ketahuan dan langsung ke parkiran. Rendra masih terus mengintai dari Spion mobil.
Cyntia tampak berjalan sendirian di dini hari itu masuk ke apartemen. Tidak ada tampang takut di wajah Cyntia. Cyntia berjalan tegap dan terlihat jelas dirinya adalah perempuan tangguh yang terbiasa bekerja keras.
Di saat itu juga, dengan pikiran sadarnya, Rendra mengakui Cyntia begitu cantik dan anggun. Bahkan dibalik kata pedasnya Cyntia mempunyai hati seindah berlian.
Rendra kemudian membuka kembali rekaman cctv yang kemarin dia minta dari pihak apartemen.
Saat Cyntia menuduhnya pemerkosa, Rendra memang dengan sigap mencari tahu kebenaranya. Di situ Rendra melihat dirinya sendiri memang sangat payah.
Rendra mabuk. Cyntia dengan ekspresi terpaksa membantu Rendea tetap bisa masuk ke apartemen. Jika tidak ada Cyntia Rendra tertidur di mobil atau parkiran.
Rendra sadar dirinya berat. Telihat sesekali Cyntia terlihat menghela nafas keberatan memapah Rendra yang berjalan sempoyonyan ke segala arah. Meskipun beberapa kali Cyntia juga terlihat mengumpati dan menghina Rendra. Rendra berbadan seperti raksasa dan buta hijau. Rendra juga sempat muntah dan di dekat lift. Cyntia pun menerima dan membersihkanya.
__ADS_1
Cyntia juga terlihat beberapa kali seperti menahan sesuatu dari dalam tubuhnya dan kegerahan. Selebihnya mereka terlihat ciuman, dan memang sangat terlihat, di lift itu, Rendra yang memulainya lebih dulu, meskipun Cyntia tidak ada penolakan dan menerima.
****
“Apa gue emang harus minta maaf ke dia yah?” batin Rendra malam itu sambil melirik tas yang dia beli tempo hari.
“Tas ini kan mahal mungkin dia akan memaafkanku!” batin Rendra berfikir simple mengira Cyntia seperti Meta.
Pagi itupun Rendra berniat menunggu Cyntia keluar apartemen. Rendra ingin menemui Cyntia dan meminta maaf.
Sayangnya sudah 2 jam Rendra menunggu dan mengintip di balik pintu, Rendra tidak kunjung mendengar atau melihat pintu apartemen Cyntia terbuka.
“Apa dia masih tidur?” batin Rendra menebak.
“Artis itu kerjanya jam berapa sih?” batin Rendra lagi berfikir.
“Apa aku datangi saja!” batin Rendra lagi ingin menyambangi apartemen Cyntia.
“Ah, aku tidak mau dia memakiku lagi, tidak, tidak aku tidak mau merendahkan diriku!” batin Rendra memutuskan untuk berangkat kerja saja.
Rendra kemudian meletakan tas mahal itu ke nakasnya lagi. Malam kemarin Rendra sangat emosi rasanya mau musnahkan saja tas itu, tapi siang harinya saat dia sadar Rendra fikir sayang aja dibuang, mending dijual lagi, kan ada sertifikat aslinya.
Belum sempat dijual lagi, malam kemarin Rendra berubah pikiran, dia berfikir ingin memberikanya pada Cyntia. Tapi Cyntia malah marah- marah.
Rendra pun memutuskan pergi karena sudah cukup lama menunggu. Rendra pergi ke rumah Aslan. Hari ini agendanya adalah mempertemukan Kia dengan istri Nicholas.
****
Di dalam apartemen Cyntia.
“Pergi juga dia!” gumam Cyntia.
Sama seperti Rendra, Cyntia juga tidak berani membuka pintu dan menunggu Rendra pergi lebih dulu. Cyntia takut berpapasan dengan Rendra dan menyakiti hatinya lagi.
Cyntia juga ingat, saat Rendra melakukan hubungan itu bukan namanya yang Rendra sebut, tapi nama Meta.
Meski Cyntia tidak mencintai Rendra dan tau Rendra mabuk, tetap saja itu sangat menyakiti hati Cyntia. Rendra melakukan itu dengan Cyntia, tapi otak Rendra mengingat Meta.
__ADS_1
Cyntia pun merutuki dirinya sendiri. Kenapa malam itu dia bisa tidak menolak.
“Gue harus temui Ben lagi, kemana Jeje? Kenapa dia menghilang?” batin Cyntia.