
Kia masuk ke dalam rumah besar itu. Tampak sangat lengang. Hampir seperti tidak pernah ada kehidupan.
Semua barang tertata rapi, beberapa lampu ruangan padam. Hanya ruang tamu yang dinyalakan karena Bu Mina menyadari kedatangan tamu.
"Silahkan duduk Nyonya" sapa Bu Mina bingung. Sebenarnya siapa perempuan berjilbab yang manis dan cantik di depanya ini.
"Terima kasih" jawab Kia melemparkan senyum menghormati penghuni rumah itu. Bu Mina tidak tampak seperti pembantu, tapi lebih mirip ibu kos seperti yang di film-film. Seperti penguasa rumah itu.
"Ya" Bu Mina pun mengangguk.
"Kalau boleh tau kemana singa gi,- empt, ehm maksud saya. Kemana Tuan Aslan membawa anak saya. Kenapa dia berjalan cepat sekali?" tanya Kia ragu dan hampir keceplosan ke Bu Mina.
Saat Kia mogok di depan pintu Aslan mengacuhkan Kia dan segera masuk. Sambil menggendong Ipang. Tidak peduli Ipang memanggil-manggil Kia.
Bu Mina tampak tersenyum tenang, lalu memperhatikan Kia dengan seksama dari bawah sampai ke atas. Ditatap seperti itu, Kia pun canggung dan salah tingkah.
"Bu" panggil Kia ke Bu Mina karena Bu Mina tidak menjawab dan malah senyum-senyum.
"Sepertinya Tuan Aslan ke kamar utama" jawab Bu Mina.
"Hoh? Kamar utama?" tanya Kia syok dan melongo. "Maksudnya kamar Tuan Aslan?"
"Iya Nyonya" jawab Bu Mina.
"Haiishh, dasar singa gila" Kia mengumpat dan menggerutu lagi. Pokoknya Kia dibuat mengumpat terus sepanjang bersama Aslan.
Mendengar Kia mengumpat dan menggerakan bibirnya geram, Bu Mina tersenyum lagi dan memperhatikan Kia dengan seksama, menatap Kia dengan penuh telisik lagi.
"Sepertinya Nyonya Muda ini ada hubungan dengan Tuan Aslan, cantik dan imut" batin Bu Mina.
"Ehm. He.. " Kia nyengir terpaksa ke Bu Mina. Tapi tangan Kia mengepal, malu ketahuan mengumpat.
"Kalau boleh tau kamarnya di sebelah mana ya?" tanya Kia lagi.
"Di lantai dua kamar yang ujung timur" Ucap Bu Mina memberitahu.
"Oke Bu" jawab Kia hendak melangkah menyusul Aslan dan mengambil Ipang. Bu Mina pun diam membiarkan Kia menyusul Aslan.
Tapi tiba-tiba langkah Kia terhenti di depan tangga. Kia tampak menghela nafas kemudian diam berfikir, lalu menoleh ke Bu Mina yang memperhatikan Kia.
Bu Mina ketangkap basah sedang memperhatikan Kia. Lalu mereka saling pandang lagi dengan canggung.
"Boleh saya tanya?" ucap Kia.
"Iya Nyonya"
"Tuan Aslan punya istri kan?" tanya Kia tidak mau gegabah mengejar Aslan.
Kia tau dia sekarang berada dalam perangkap Aslan. Maka dari itu Kia berhenti. Ya kelemahan Kia adalah Ipang itu sebabnya Aslan mengambil Ipang.
Tapi Kia tidak mau bodoh. Meski Kia tidak bisa jauh dari Ipang, tapi Kia tidak mau terus-terusan dikerjai dan diperdaya Aslan.
"Bisa nglunjak dia, dasar Singa Gila. Dia pikir aku bodoh" batin Kia mengubah niatnya. Jangan-jangan seperti waktu di mobil, Aslan memancing Kia masuk ke kamar, lalu Kia dikunci. "Wah bisa gawat"
"Iya" jawab Bu Mina mengangguk.
"Ehm, terus kemana Nyonya rumah ini?" tanya Kia ragu.
"Nyonya Paul pulangnya tidak tentu Nyonya. Biasanya pagi-pagi baru pulang"
"Oh, benarkah begitu?" tanya Kia iba ke Aslan.
"Iya, syutingnya katanya sampai pagi"
"Oh, gitu"
"Apa saya boleh kenal dengan Nyonya cantik? Nyonya cantik ini siapa ya? Terus..." tanya Bu Mina menebak-nebak tapi kepotong Kia.
Apa Kia perempuan simpanan Tuan Aslan? Tapi kok berjilbab. Tapi anak yang di gendong Aslan mirip Aslan saat kecil, Bu Mina kan yang mengasuh Aslan.
"Ehm... he" Kia berdehem nyengir karena mereka belum kenalan dan Kia memotong pertanyaan Bu Mina.
__ADS_1
"Nama saya Kia, Kiara Arsyila. Ibunya Pangeran, anak laki-laki yng dibawa Tuanmu tadi" jawab Kia lagi.
"Oh ya, Nyonya Kia, ibunya anak tadi?" jawab Bu Mina manggut-manggut dengan tatapan membenarkan sesuatu.
"He.. iya" jawab Kia lagi.
Kia merasa Bu Mina mencurigai Kia ada hubungan dengan Aslan.
"Aku nggak boleh biarkan Bibi Tua ini salah mengira, aku bukan pelakor, titik. Yah meskipun aku memang tidur dengannya dan menampung benihnya. Oh ya Tuhan, ampuni hambamu ini" batin Kia.
"Saya, saya bawahan Tuan Aslan" ucap Kia mengatakan sesuatu yang tidak ingin diketahui Bu Mina. Tapi Kia berharap dengan jawabanya itu Bu Mina tidak berfikir jauh.
"Oh iya. Tuan Aslan tampak sangat dekat anak Nyonya? Saya kira..." tanya Bu Mina lagi masih tetap curiga siapa Kia.
"Ehm. Saya haus Bu, boleh saya minta minum" jawab Kia mengalihkan pembicaraan. Kia tersudut tidak ingin ketahuan.
"Oh iya. Tua Aslan kan suruh saya siapkan makan malam dan minuman hangat. Ditunggu ya Nyonya" jawab Bu Mina.
"Iya, Bu, terimakasih" jawab Kia.
Bu Mina kemudian ke dapur mengajak pembantu lain menyiapkan makanan.
Pembantu yang sudah hampir tidur terbangun. Setelah mendengar cerita Bu Mina, Aslan membawa perempuan cantik, mereka penasaran. Mereka mengintip Kia yang tampak bingung dan menelpon seseorang.
"Cantik, kayaknya ramah dan lebih muda" ujar Tuti.
"Iyah, jangan-jangan pacar Tuan Aslan" jawab Susi
"Istri mudanya kali, dia bawa anak, lagi di kamar utama" ucap Tuti lagi.
"Benarkah? Kalau iya aku setuju. Daripada Nyonya Paul. Marah-marah terus" jawab Susi lagi.
"Sudah jangan berisik nanti kedengeran, bisa dimarahi kalian. Kita belum tau pasti dia siapa?" lerai Bu Mina. Kemudian mereka melanjutkan pekerjaanya.
****
Kia tidak jadi ke kamar dan duduk di ruang tamu. Memikirkan sesuatu agar tidak terus diperdaya Aslan dan dituduh menjadi pelakor.
"Ah tapi kalau Ipang benar-benar melupakanku dan lebih menyayangi ayahnya bagaimana? Terus kalau Ipang diasuh dan disiksa perempuan itu gimana?" batin Kia lagi.
"Tidak, tidak! Aku harus ambil Ipang"
"Tapi bagaimana caranya? Masa aku masuk ke kamar. Kalau tiba-tiba istrinya datang gimana? Masuk ke rumah ini saja ini kesalahan"
"Tidak. Kali ini aku harus buktikan ke Singa Gila itu. Biar Ipang yang mencariku. Aku telpon Cyntia saja"
Lalu Kia menelpon Cyntia, memberitahu kalau dirinya sudah di Ibukota lagi.
"What? Gue nggak salah denger?" tanya Cyntia kaget di telepon.
"Jemput gue di rumah Aslan sekarang juga. Sebelum istrinya pulang. Gue nggak punya uang nggak bawa baju juga. Malam ini tolongin gue" bisik Kia menjelaskan ke Cyntia.
"Kok bisa sih?"
"Ceritanya panjang nanti aja. Yang penting sekarang lo jemput gue. Gue nggak mau ketemu istri Aslan di sini. Terserah deh apa yang terjadi nanti, gue yakin Ipang akan cari gue"
"Ya oke, shareloc, secepatnya gue kesitu"
"Ya"
****
Sementara di dalam kamar mewah Aslan, Ipang diturunkan. Aslan sengaja membawa Ipang ke kamar pribadinya. Yang bahkan Paul saja tidak diperbolehkan. Semenjak keluar dari rumah utama keluarga Nareswara, Aslan sudah pisah ranjang.
Ipang turun di ranjang besar Aslan dan menatap sekeliling dengan tatapan kekaguman. Kamar ayahnya 4 kali lebih luas dari kamarnya di kota Y.
"Apa anak ayah suka kamarnya?" tanya Aslan duduk menatap hangat ke Ipang yang tadi sempat menangis memanggil ibunya.
"Suka ayah"
"Malam ini tidur di sini ya!"
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ibu? Kenapa ibu tidak ikut ke sini? Ipang juga mau ibu ayah" ucap Ipang menanyakan ibunya.
"Iya sayangnya Ayah. Ibumu akan tidur di sini juga" jawab Aslan tersenyum. Aslan juga ingin Kia tidur di kamarnya.
"Benarkah? Apakah kita akan seperti Dafa, Mom and Dadynya?" tanya Ipang polos selalu membayangkan apa yang diceritakan Dafa.
Mendengar hal itu Aslan tersenyum merasa punya sekutu.
"Inginya ayah si begitu, malam ini kita tidur bertiga. Tapi sepertinya butuh waktu buat ibumu mau, ayah malam ini tidur di kamar lain saja" jawab Aslan memberi pengertian ke Ipang.
"Hemm, kenapa ibu dan ayah selalu bertengkar? Tidak seperti Mom and Dadynya Daffa?" tanya Ipang lesu dan protes.
"Karena ayah dan ibu terpisah dengan waktu yang lama. Jadi ibumu begitu ke ayah, bantu ayah agar ibumu tidak marah-marah ya"
"Hemm begitu? Ipang akan bantu. Tapi bagaimana caranya agar ayah dan ibu bisa seperti Mom and Dadynya Dafa?" tanya Ipang penuh dengan harapan merasakan seperti yang dirasakan Dafa.
"Ayah dan Ibu harus menikah?"
"Bukankah ayah dan ibu sudah menikah? Kan sudah ada Ipang. Kata kak Fatimah. Kenapa ada bayi dan anak, seperti Ipang itu karena ibu dan ayah menikah, lalu ada bayi? Ipang juga dulu seperti dhedhek bayi kan?" tanya Ipang polos mengira ibu dan ayahnya sudah menikah seperti ayah ibu pada umumnya.
"Ehm" Aslan berdehem malu. Ajaran Fatimah memang benar. Menikah dulu baru ada anak. Tidak seperti mereka.
"Iya Nak. Tapi karena ibu dan ayah terpisah dalam waktu yang lama. Kalau Ipang mau tidur sama ayah dan ibu, kita harus menikah lagi" jawab Aslan memberi pengertian.
"Kalau begitu menikahlah Ayah. Agar ibu tidak marah-marah terus. Dan agar ibu mau tidur bertiga, Ipang mau seperti Dafa"
"Siap Jagoan. Tapi ayah punya tugas untuk anak ayah"
"Tugas Ipang?"
"Iya. Bantu ayah biar ibumu mau menikah dengan ayah"
"Oh itu, oke ayah"
"Toss"
Lalu anak dan ayah itu toss.
"Ya sudah. Kita mandi yuk"
"Baju Ipang gimana Ayah?"
"Pakai baju Daffa, ada kok"
"Oke"
Lalu Aslan mengajak Ipang mandi bersama. Ipang pun sangat bahagia, mereka main di bathub.
****
Bu Mina selesai membuatkan teh hangat. Lalu menghidangkan bersama camilan mendoan panas.
"Silahkan diminum Nyonya" ucap Bu Mina.
"Iya Bu terima kasih" jawab Kia menganggukan kepala.
"Nyonya tidak jadi menyusul ke kamar utama?" tanya Bu Mina hati-hati.
"Ah enggak. Saya nunggu di sini saja. Rasanya tidak pantas saya masuk kesana"
"Oh, begitu?"
"Apa Nyonya akan bermalam di sini?" tanya Bu Mina lagi karena sebelum selesai masak ditelpon Aslan untuk membersihkan ruang tamu.
Belum Kia menjawab seseorang menyahut
"Siapa yang mau menginap Bu?" tanya Paul sudah berdiri dengan pakaian seksinya di belakang Kia dan Bu Mina.
"Nyonya Paul?"
Lalu Kia dan Bu Mina menoleh.
__ADS_1
"Kau!" pekik Paul saat Kia dan Paul saling beradu tatap.