
Daffa menggenggam jemari tangan besar milik sahabat Daddy dan Uncle-nya itu. Meski terlihat dingin dan galak, Daffa tidak takut Rendra. Di beberapa acara keluarga, Rendra selalu hadir, Daffa cukup mengenal Rendra.
Awalnya rasanya terlihat kaku dan aneh, seorang Rendra meggandeng anak kecil, tapi rupanya mereka cukup bersinergi dan tampak luwes.
Belum ada 10 langkah, seseorang memanggil Daffa.
“Daffa!” panggil Manda dari arah belakang. Rendra dan Daffa mengehentikan langkah dan menoleh.
“Mommy!” jawab Daffa dengan mata berbinar, dari tadi Daffa dicueki Mommynya, dibiarkan bersama Pangeran dan karyawan ITV.
Manda pun berjalan sedikit tergesa menghampiri putranya. Daffa dan Rendra pun saling melepaskan tanganya. Daffa menghampiri mommynya.
“Syukurlah kamu bersama Uncle Rendra, Mommy kira kamu masih di dalam, Sayang!” ucap Manda meraih Daffa dan mengelus kepalanya.
“Ankel Aslan suruh kita pulang, Mom, jadi Daffa ikut Ankel Rendra!” jawab Daffa.
“Kamu nggak nakal kan sama Ankel?” tanya Manda tersenyum.
“No! Daffa bersama Pangeran!” jawab Daffa.
Manda pun tersenyum dan mengucapkan kata good sebagai penghargaan pada putranya.
“Thanks ya Ndra, udah jagain Daffa, maaf ngrepostin, abis Daffa nggak mau kalau dijaga pengasuhnya!” ucap Manda berterimakasih pada Rendra yang berdiri di hadapanya.
“Nggak apa- apa, Daffa anak yang menyenangkan kok!” jawab Rendra.
“Hehehe, by the way, kamu udah cocok lho bawa anak! Segera punya ya!” tutur Manda malah membully Rendra.
“Haish!” Rendra pun hanya mendesis dengan tatapan kesalnya.
“Aku tidak bercanda, Kak Aslan kan sudah ada Kak Kia, giliranmu, mulai pikirkan masa depanmu!” ucap Manda lagi.
“Hmmm!” Rendra tidak menanggapi ucapan Manda.
“Ngomong- ngomong udah malam, driverku sudah menunggu, kita cabut dulu ya!” ucap Manda berpamitan.
“Oke!” jawab Rendra
“Yuk, Nak!” ajaak Manda ke Daffa
Mereka kemudian berjalan ke lobby. Benar saja mobil mewah berwarna hitam mengkilat dengan pria bersegaram rapih sudah bersiap membukakan pintu untuk Daffa dan Manda.
Kebetulan larut malam penonton juga sudah sepi. Mereka bisa berjalan santai tanpa harus berdesakan atau penjagaan seperti beberapa waktu lalu.
Rendra berjalan sendirian dengan langkah tegapnya. Langit malam begitu pekat menghitam tanpa bintang, sepertinya akan hujan.
Rendra menatap langit sekilas, seakan mereka bisa bicara, sudahi aktivitas hari ini, mari pejamkan mata dan istirahatkan tubuhmu wahai para manusia. Rendra pun melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya, berniat pulang.
“Thit thiit!” Rendra menyalakan remot mobil membukanya dan masuk. Di saat yang bersamaan Rendra mendengar seseorang berbincang. Di balik mobil besar yang terparkir di samping mobilnya.
“Tante Ipang ngantuk!” keluh Ipang lemah.
“Tante gendong yah! Sini!” jawab seorang perempuan mengulurkan tanganya dan mengangkat anak usia 6 tahun itu ke gendonganya.
“Ibu, sama Ayah kok lama?” keluh Ipang lagi. Tanpa canggung Ipang menyandarkan kepalanya ke Cyntia.
“Kita tunggu ya anak cakep, tidurlah!” jawab Cyntia mengeratkan dekapanyan dan membirkan Ipang nyaman bersandar.
“Mobil, temen lo yang mana Cyn?” tanya Shela malas. Mereka berusaha memencet remote kunci tapi belum ada yang nyala, harusnya kan udah langsung konek dari jauh.
“Apa bukan di parkir di sini ya?” gumam Cyntia.
"Hemm!" Shela manyun.
“Ipang Sayang, Tante nggak hafal mobil ayah Ipang, Ipang tahu nggak?” tanya Cyntia ke Ipang, tapi rupanya Ipang sudah sangat ngantuk dan tidak butuh waktu lama terlelap.
“Dia tidur, Cyn!” ucap Shela.
“Ya udah tunggu di lobyy aja ya. Gue mau duduk, pegel nih lama- lama. Pangeran udah gede!” keluh Cyntia.
“Hemmm, gue ngantuk banget juga. Ke mobil gue aja yuk!” ajak Shela.
“Tunggu Kia bentar! Tuh depan lobby ada soffa ke sana yuk!” jawab Cyntia.
“Cynt gue beneran ngantuk, lo minta anter temen lo ya!” ucap Shela.
“Ya elah, bentar doang, Sistah! Rumah Kia dan apartemen gue kan berlawanan!” jawab Cyntia menawar.
“Apartemen gue juga nggak sejalan sama apartemen lo. Lebih jauh malah! Kayaknya mau hujan deh, gue cabut duluan ya!” ucap Shela lagi tetep ingin pergi.
"Shel!"
“Lo kan udah jagain anaknya, minta anter temen lo aja!” ucap Shela tetap ingin pergi.
“Ah lo nggak setia kawan, manager durhaka lo ya!”
__ADS_1
“Tapi lo cinta kan sama gue? Dah, gue cabut! Gue mau tidur!” jawab Shela melengos tanpa rasa bersalah ninggalin Cyntia dan berjalan ke mobilnya.
“Ishh, ck! Dasar Lo, manusia absurd!” omel Cyntia ke teman gendutnya itu, tapi Shela berlenggang mengangkat tangaya ke atas dan melambaikan tangan meski tak menatap Cyntia.
"Dasarr... awas lo nggak gue traktir!" cibir Cyntia kesal.
Cyntia mengangkat dan mengeratkan dekapan tanganya agar Ipang tidak melorot. Rupanya Ipang cukup berat, meski ada rasa nyaman dan hangat saat seseorang bersandar padanya, tapi tangan Cyntia tidak mau berbohong.
Menopang dan menggendong anak dengan berat 22 kg tanpa selendang, ternyata cukup membuat tangan mulus dan lentik Cyntia kaku dan mulai kesemutan.
“Hhhh!” Cyntia menghela nafas kesal ke Shela si manager durhakanya itu.
Cyntia kemudian berjalan, hendak duduk di sofa depan lobby.
“Ayah dan ibumu lagi ngapain sih, Nak?” gumam Cyntia dalam hati.
“Jangan bilang mereka di dalam lagi bertengkar atau bermesraan, awas aja lo Ki, gue bejek- bejek lo, dasar orang tua nggak bertanggung jawab!” gerutu Cyntia lagi sambil mengintip lorong studio dari balik dinding kaca, belum juga nampak batang hidung teman rasa saudaranya itu.
Cyntia pun duduk di sofa sambil mengelus kepala Ipang pelan. Suara nafas Pangeran yang halus terdengar menenangkan. Cyntia kemudian menatap ponakan gantengnya itu.
Sesaat ada getaran yang merayap ke tubuh Cyntia yang mengguncang batinnya. Usia Cyntia lebih tua dari Kia.
Andai saja kisah cinta Cyntia dan hidupnya normal seperti layaknya perempuan di usianya, seharusnya Cyntia juga sudah menggendong anaknya sendiri. Tidak sebesar Ipang, setidaknya umur 3 tahun atau 3 tahun.
Pasti menyenangkan, menikah mempunyai suami yang mencintainya. Menjadi seorang ibu. Mempunyai anak yang lucu dan menggemaskan. Semua itu hanya menjadi mimpi.
Nyatanya Cyntia yang mempunyai fisik hampir sempurna bak bidadari, kini menjadi seorang janda, terasingkan dari keluarganya. Bahkan selama menjalani kehidupan rumah tangganya, acapkali menerima kekerasan fisik. Cyntia tak ubahnya seperti budak, laki- laki kaya yang mempunyai kelainan mental.
Tanpa Cyntia sadari, pelupuk mata Cyntia tergenang oleh air.
“Hah!” air mata itu tumpah dan Cyntia menghela nafas mencoba menahanya.
Di saat yang bersamaan, tanpa Cyntia sadari di depanya berdiri sessosok laki- laki yang menatapnya dengan tatapan dingin mengejek. Laki- laki itu ternyata sejak dari parkiran menguping dan memperhatikanya.
“Serahkan Pangeran padaku!” ucap laki- laki itu dengan raut emosi.
“Ish!” Cyntia mendesis tidak suka dengan tatapan Rendra.
“Payah Lo!” cibir Rendra.
“Woah!” pekik Cyntia, mata yang tadi sembab seketika membulat sempurna. “Apa kamu bilang?”
“Kalau kau keberatan, nggak usah sok baik dan nangis gitu, serahkan Pangeran padaku! Biar aku saja yang menggendongnya!” omel Rendra mengira Cyntia menangis karena kesal harus menjaga Pangeran sendirian.
“Plak! Ih! Jangan!” omel Cyntia menampik tangan Rendra keras. Rendra tambah kesal dibuatnya.
“Perempuan kecentilan sepertimu, aku tau tidak ada ketulusan di hatimu, nggak usah sok baik! Biar Pangeran aku yang urus!” ucap Rendra lagi mengomel.
Cyntia benar- benar dibuat kesal oleh omongan Rendra. Emosi Cyntia memuncak sampai kepala yang tadinya layu diserang rasa kantuk dan lelah kini panas mendidih.
Cyntia ingin menonjok mulut Rendra tapi tanganya sedang menopang Pangeran. Cyntia pun mengeratkan rahangnya kencang. Lalu Cyntia menggerakan heels yang menempel di kakinya, diangkat sedikit dan dihentakan keran ke sepatu Rendra.
“Auuh! Shi**!" Pekik Rendra kesakitan dan menatap Cyntia tidak percaya.
“Jangan berisik, bodoh! Lo bisa membangunkan Pangeran, pergi lo!” usir Cyntia dengan mata mendelik tanpa ampun meski laki- laki di depanya mengaduh kesakitan.
“Selain kecentilan dan murahan lo emang perempuan gila ya!” ejek Rendra lagi.
“Terserah! Lo mau bilang gue apa! Pergi nggak lo!” jawab Cyntia dengan tatapan bencinya.
“Gue nggak mau ponakan gue, deket- deket sama perempuan sinting kaya Lo! Berikan Pangeran padaku!” ucap Rendra mengulurkan tangnya sok- sokan mau menggendong Ipang yang tampak sudah sangat lelap dan bersandar nyaman di dada empuk Cyntia.
“Dan gue juga nggak akan biarin ponakan gue deket- deket sama pria bodoh, nggak jelas dan syaraf kaya Lo!” jawab Cyntia membalas.
“Wahh kurang ajar! Dia ponakanku!” jawab Rendra mulai terpancing, karena dihina Cyntia.
Padahal dari awal Rendra duluan yang selalu memulai merendahkan Cyntia. Entah kenapa, saat bicara dengan Cyntia, emosi Rendra meluap- luap tidak disadari apa sebabnya.
“Enak aja! Dia ponakanku!” jawab Cyntia mendekap Pangeran kencang.
“Hish, gue tau lo nggak ikhlas jagain dia , nggak usah sok lo, biarkan Pangeran bersamaku!” jawab Rendra lagi.
“Sok tau banget sih lo, dasar orang nggak jelas, nggak tau apa- apa juga sok nuduh! Gue sayang ya, sama Pangeran!” jawab Cyntia tidak terima.
Demi kebahagiaan Pangeran dan ibunya, Cyntia siap pasang badan dan melakukan apa saja, bisa- bisanya Rendra menuduhnya nggak ikhlas gitu aja.
“Lo pikir gue nggak tau. Gue perhatiin lo. Gue lihat kok lo nangis, gue denger juga lo ngegerutu, tante macam apa Lo!” ejek Rendra lagi.
“Hoh! Kamu menguntitku?” jawab Cyntia menyerang balik Rendra karena waktu itu mengatai dirinya penguntit.
“Najis!” jawab Rendra.
“Buktinya!” jawab Cyntia lagi merasa menang.
Saat Rendra hendak menjawab lagi, terdengar langkah sepatu mendekat ke arahnya. Rendra dan Cyntia terdiam, menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
Terlihat Kia menggandeng Alena. Aslan di belakangnya, satu tangan menjinjing tas perempuan Kia, satu tangan membawa koper Pangeran. Di belakang Aslan, dua pegwai Paul berjalan mengekor membawa koper Alena.
“Alena!” pekik Cyntia lirih.
Kenapa Kia menggandeng Alena? Cyntia kan tahu, Alena anak nakal yang hampir selalu memusuhi Pangeran. Kenapa terlihat begitu manis bersama Kia.
Dua orang pegawai Paul terlihat memberikan hormat dan berpamitan pada Kia dan Aslan. Kia pun menjawabnya dengan ramah. Mereka berpisah, dua pegawai Paul menjauh, Kia dan Aslan mendekat ke Cyntia dan Rendra.
Melihat putra semata wayangnya tidur di pangkuan sahabat rasa kakaknya, Kia menyunggingkan senyum cantik penuh dengan kelegaan.
Cyntia menelan ludahnya menatap aneh ke Kia dan Alena. Alena berjalan menunduk dengan sangat manis, wajah centil dan nakal yang selama ini membungkusnya hilang. Alena benar- benar nampak seperti anak kecil pada umumnya dengan satu tangan dalam genggaman Kia.
“Maaf nunggu lama, ya?” tanya Kia ramah setelah ada di dekat Rendra dan Cyntia.
Rendra berdiri dalam ekspresi datarnya dan diam seperti patung hanya menunduk. Cyntia yang merasa aneh dengan Kia pun menjawab.
“Lumayan! Kok Alena ada sama kalian sih?” tanya Cyntia.
Kia tersenyum dan menoleh ke Alena. Alena masih terus menunduk. Lalu melirik ke Aslan yang diam membuang muka. “Dasar Aslan” batin Kia, seharusnya alasanya kan wajar Alena ikut Daddynya.
“Iya.” Kia hanya mengangguk penuh arti dan menyimpan cerita. Kia kemudian menatap Alena.
“Alena kenalkan ini Tante Cyntia, dia tantenya Pangeran, tante Alena juga, ucapin salam dan kenalan ya sama Tante Cyntia!” tutur Kia lembut ke Alena mengajarkan sopan santun.
Alena mengangkat wajahnya menatap Cyntia yang menggendong Pangeran.
“Hai Tante Cyntia!” ucap Alena dengan suara polosnya menyapa Cyntia sesuai permintaan Kia.
Kia tersenyum lega. Cyntia pun terpaksa tersenyum membalas sapaan Alena dan kembali menatap Kia dengan tanda tanya.
“Makasih ya, kalian udah nungguin Pangeran. Biarkan ayahnya yang gendong!” ucap Kia ramah sambil melirik ke Aslan.
Aslan yang sudah membawa koper dan Tas Kia langsung mendelik dan menelan ludahnya.
“Yang, Abang udah bawa tas kamu dan koper Pangeran juga!” jawab Aslan dengan wajah tersiksanya memohon belas kasihan Kia.
Seorang Aslan, setinggi apapun jabatan di luar, ternyata takhluknya dengan Kia, dan kini wibawanya hilang, bahkan seperti Mbak di rumahnya.
“Pangeran, anak siapa sih?” jawab Kia cemberut.
Rendra yang daritadi membeku, jadi terkekeh mendengarnya. Rendra mengangkat tangan menutup mulutnya menahan tawa. Entahlah kalau jadi suami akan seperti apa Rendra. Melihat itu Aslan pun kesal.
“Ren!” panggil Aslan.
“Ha... Ya!” jawab Rendra menghentikan tawanya.
“Bawakan tas dan koper Pangeran!” ucap Aslan kembali mengalihkan tugasnya ke Rendra.
“Ish!” Desis Kia, suaminya mah gitu sukanya repotin orang.
“Ya!” jawab Rendra patuh, Rendra kan tidak bisa berkata tidak pada Aslan.
Aslan kemudian menerima Pangeran dari uluran Cyntia. Mereka bergegas ke mobil Aslan. Betapa terperangahnya Cyntia, ternyata mobil Aslan sudah terparkir di depan lobby. Cyntia malah berjalan jauh, pusing mencari di parkiran, dan heranya Rendra diam saja. "Haish" desis Cyntia merasa bodoh.
“Mana kuncinya!” tanya Rendra ke Cyntia.
Cyntia menyerahkannya tanpa kata, mereka kan musuhan. Rendra pun membuka bagasi dan menata koper Pangeran.
Kia dan Aslan masuk ke mobil, selayaknya pasangan dengan dua anak. Kia menyuruh Alena duduk di belakang, menutup pintu rapat. Kia memposisikan diri menerima Pangeran. Aslan menyerahkan Pangeran agar tidur di pangkuanya.
Heranya mereka sibuk sendiri tanpa menoleh dan peduli ke Cyntia, bahkan Aslan sudah menyalakan mesin mobil.
“Makasih ya!” tutur Kia tanpa dosa ke Cyntia dari jendela mobil. Cyntia pun melotot karena hampir ditinggal.
“Woy tunggu gue! Buka pintunya. Gue belum masuk!” ucap Cyntia.
Kia terdiam dan melirik ke Aslan.
“Lo nggak bawa mobil?” tanya Kia,
"Gue tadi dijemput Shela, Shela udah pulang!” jawab Cyntia.
“Kalian satu apartemen kan?” tanya Aslan ke Rendra yang masih berdiri di belakang Cyntia.
“Iya!” jawab Cyntia getir.
“Ya udah sih, kalian pulang bareng! Ngapain ikut kita! Kita kan berlawanan arah!” jawab Kia.
“No!” jawab Cyntia dan Rendra bersamaan.
Tiba- tiba terdengar suara petir.
“Nggak usah ribet! Tinggal pulang! Bentar lagi hujan!” jawab Aslan masa bodoh dan melajukan mobilnya cuek.
“Daah!” Kia justru tersenyum melambaikan tangan ke Cyntia.
__ADS_1