Sang Pangeran

Sang Pangeran
229. Cyntia Tergeletak Di kamar mandi


__ADS_3

"Non Kia" pekik Mbak Narti menyambut kedatangan Kia.


"Assalamu'alaikum...pagi Mbaak. Cyntia di rumah?" tanya Kia ramah.


"Walaikum salam. Ada Non, ayo masuk. Non sama siapa?" tanya Mbak Narto tengok kanan kiri.


"Sama ayahnya anak- anak terus sama Umma. Mereke ke apartemen Rendra!" jawab Kia.


"Hehehe enak ya Den Rendra sama Neng Cyntia tetanggaan deketan gini!" tutur Mbak Narti spontan, tidak tahu majikan mereka ada hubungan.


"Panggilin Cyntianya Mbak!" tutur Kia.


"Non masuk aja ke kamarnya. Ada di kamar kok!" jawab Mbak Narti lagi.


"Oh... oke!" jawab Kia, mengangguk dan berjalan.


Sejak resepsi dan pernikahan resminya berlangsung, Kia fokus menjadi ibu dari dua anaknya. Mendampingi anak- anak belajar tidak jarang ikut membuatkan masakan.


Sementara Cyntia sibuk dengan karirnya. Sudah berminggu-minggu kedua sahabat yang dulu tinggal satu kamar ini saling curhat.


Kia pun tak sabar bertemu sahabatnya. Karena dulu mereka hidup berbagi satu kamar, Kia pun tanpa canggung masuk ke kamar Cyntia tanpa permisi.


"Cyyyn!" panggil Kia membuka pintu kamar Cyntia.


"Hmmm!" Kia mendengus karena tidak ada jawaban.


Kia pun melangkah maju dan memeriksa kamar, kosong tapi di atas kasur ada bungkus paketan terserak. Kia kemudian semakin masuk, mengira Cyntia ada di balkon.


Kia pun ke balkon tapi nihil.

__ADS_1


"Lagi mandi kali ya?" gumam Kia masuk kembali ke kamar.


"Aku tunggu di sini? Apa ke Bang Aslan ya?" gimam Kia berfikir.


Saat Kia maju berjalan melewati kamar mandi Kia melihat pintu terbuka sedikit dan mendengar suara isakan Cyntia.


"Cyntia?" gumam Kia kemudian berjalan cepat ke kamar mandi.


Kia pun terperanjak kaget. Bersandar di dinding kamar mandi, Cyntia tergeletak dengan darah mengalir dari tanganya. Di depan Cyntia tercecer 4 alat test kehamilan.


"Astaghfirulloh.... Cyntiaaa!" teriaj Kia.


"Mbaak Narti toloong!" teriak Kia memanggil Mbak Narti.


"Ya Non ada apa?" tanya Mbak Narti jalan tergopog- gopoh.


"Astagah!" pekik Mbak Narti ikut kaget..


Reflek Kia melepas jilbab scrafnya dan membiatkan rambut panjangnya tergerai dan terbuka. Kia lilitkan ke tangan Cyntia yang berdarah.


*****


Di aoartemen Rendra.


"Astaghfirullohal'adziim" Umma langsung istighfar dan mengelus dada melihat apartemen rasa anaknya itu.


Pantas Kikan kabur pagi- pagi buta. Pasti Kikan sudah banyak menghadapi pertarungan sengit dengan kakaknya


Aslan pun geleng- geleng kepala. Rendra yang dia kenal perfeksionist dan sangat suka kebersihan.Kenapa apartemenya berantakan. Rendra pun terkapar di sofa dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Tolong jangan ceramahi aku? Badanku kacau sekali!" gerutu Rendra sudah tahu duluan kalau para keluarganya datang pasti akan menceramahinya.


Belum Aslan dan Umma menjawab, Rendra tiba- tiba mual dan berhasrat muntah. Rendra kemudianberlari ke kamar mandi.


Aslan dan Umma hanya mengelus dada. Di saat yang bersamaan bel apartemen berbunyi. Aslan yang mengira istrinya dengan sigap berjalan membukakan pintu.


"Ya, Sayang!" ucap Aslan asal, tapi mendadak menelan ludahnya karena yang datang Mbak Narti.


"Narti ada apa?" tanya Aslan.


"Anu Tuan.Non Cyntia.Non Cyntia tolong Non Cyntia?'"tutur Mbak Narti gelagapan.


"Cyntia kenapa?"


"Ayo cepat!" tutur Mbak Narti


Aslan pun mengikuti Mbak Narti. Betapa terkejutnya Aslan melihat istrinya di kamar mandi memangku Cyntia dan memegang tangan Cynttia.


"Bang Ayo ke rumah sakit! Sekarang!"


"Dia kenapa?"


"Udah nanti aja! Angkat Cyntia cepat!" jawab Kia setengah membentak


"Ranbut kamu hijan kamu. Abang nggak mau orang lain lihat rambut kamu!" tutur Aslan masih sempat menunjukan posesifnya.


"Astaghfirulloh...cepat bawa Cyntia. Kia akan cari hijan ke Mbak Narti!"


Aslah pun mengangkat Cyntia dengan segera dan langsung keluar.

__ADS_1


"Kabari Umma dan Rendra!" teriak Aslan sambil menggendong Cyntia keluar.


__ADS_2