
Cyntia yang tadinya dheg- dhegan malu dan ingin menghindar kini keberanianya muncul kembali. Cyntia menatap Rendra dengan tatapan kesalnya. Bisa- bisanya Rendra menuduh Cyntia menyabotase kegiatanya dengan menaruh kamera di kamarnya, yang saraf itu Rendra apa Cyntia? Nggak ada guna banget.
“Kamu bahkan tau, kapan aku aka keluar dari apartemen? Menguntitku sampai sejauh ini? Darimana kamu tau kalau aku akan keluar? Kamu pasti mengawasiku kan? Gila ya kamu!” ucap Rendra lagi menegakkan dasinya sok ganteng memfitnah Cyntia.
“Aih!” Cyntia menggaruk pelipisnya dan mengepalkan tanganya geram.
“Yang gila itu anda, Tuan Rendra. Perasaan pakai jam tangan mahal. Buat pajangan doang? Sayang amat!” ejek Cyntia melirik ke jam tangan Rendra yang cyntia tahu harganya ratusan juta.
“Kau menaruh kamera pengintai di jamku?” tanya Rendra malah terlihat bodoh memeriksa jam tanganya.
“Astaga! Selain gila, kepedean, anda juga bodoh ternyata ya? Amit – amit!” ejek Cyntia lagi.
“Wuah, kau! Sudah terbukti mengejarku, mencuri ciuman dariku. Masih sempat mengataiku amit – amit. Ck ck!” jawab Rendra.
“Hhhh!” Cyntia menghela nafas, dan sama- sama berdecak kemudian menatap Rendra lagi.
“Tuan Rendra, saya itu perempuan karir!” tutur Cyntia percaya diri. “Lihat jam tangan mahal anda baik- baik, jangan cuma buat pajangan! Sekarang itu jam waktunya berangkat kerja, wajarlah kita keluar di jam yang sama. Ish dasar!” cibir Cyntia mengejek Rendra memberikan alasan.
Rendra diam tidak berkutik. Cyntia menatap sinis dan berlenggang pergi. Saat berjalan tubuhnya yang tinggi semampai meliuk- liuk dengan indah.
Meskipun malas, karena Rendra juga harus memeriksa pekerjaan di kantor barunya, Rendra juga harus pergi dan menyusul Cyntia. Endinrgnya mereka berdua kembali masuk ke lift yang sama. Mereka saling diam dan canggung.
Karena telepon Rendra tidak diangkat Meta, Rendra jadi mengingat Meta. Rendra menyesal tidak menuruti permintaan Meta padahal tabungan Rendra kan masih banyak. Saking cintanya Rendra pada Meta, Rendra berniat membelikan apa yang Meta mau, dan karena ingin membuat Cyntia kesal, mengira Cyntia akan cemburu, Rendra mau memanasi Cyntia.
“Ehm!” Rendra berdehem mengambil ancang- ancang mau bicara.
Cyntia yang dongkol berdiri tegak tidak mau menoleh.
“Kalau boleh tau, outlet tas hermes itu di sebelah mana ya?” tanya Rendra.
“Punya hape kan? Ada google map kan? Cari aja sendiri!” jawab Cyntia ketus.
“Gue mau kasih hadiah kejutan buat pacar gue. Apa kamu tau tas model keluaran terbaru yang gimana?” tanya Rendra lagi, berniat pamer ke Cyntia.
Cyntia menelan ludahnya benar- benar kesal ke Rendra.
“Maaf ya, saya bukan pegawai toko tas, jadi saya nggak tau. Kalau emang mau tanya buka aja katalognya, tanya sama pelayanya!” jawab Cyntia lagi.
“Galak banget? Kamu cemburu ya? Kasian deh nggak ada yang beliin!” ejek Rendra lagi seperti anak kecil.
“Haah!” Cyntia kehabisan kata- kata menghadapi Rendra yang kepercayaan dirinya menembus langit.
“Maaf ya. Tuan Rendra yang terhormat, bukan level saya dibelikan orang lain apalagi harus jual diri dan meminta belas kasih orang lain. Saya bisa beli sendiri dengan uang saya!” jawab Cyntia meninggi.
“Masa?” jawab Rendra mengejek.
Rendra kan tau masalalu Cyntia yang pernah jadi sugar Baby, meskipun seringnya Cyntia hanya menemani om- om bermain golf. Rendra juga tau Cyntia mengalami kegagalan rumah tangga karena menemui suami yang psycopath. Rendra mengira Cyntia pasti ingin juga diberi hadiah mahal dari orang yang mencintainya.
“Anda melecehkan saya?” tanya Cyntia geram.
“Emang dari Om yang mana yang akan kasih uang ke kamu?” ejek Rendra lagi dengan jahatnya.
Rendra sangat ingin membuat Cyntia kesal karena bagi Rendra Cyntia adalah perempuan gila, penguntit dan pengagumnya yang membuat Meta marah.
“Kurang ajar ya. Saya bekerja halal dengan ilmu dan keterampilan saya. Enak aja dari Om- om!” jawab Cyntia lagi merasa sangat terhina.
“Masa?” tanya Rendra meledek.
“Isssh!” Cyntia mendesis ingin mencakar Rendra. Cyntia mengangkat tangan ingin menampar Rendra.
Di saat yang bersamaan pintu lift terbuka. Cyntia menarik tanganya lagi, dengan langkah cepat Cyntia pergi meninggalkan Rendra.
Latar belakang Cyntia kan memang orang kaya. Hanya saja orang tuanya tidak harmonis sehingga Cyntia dulu jadi sugar Baby. Itu pun Meta tidak lama terjerumus di lembah itu. Cyntia juga hanya menenmani Om- om main golf. Buat Cyntia uang bukan sesuatu yang sulit didapatkan.
Semenjak main di serial drama produksi Satya dan Manda, Cyntia mulai dikenal banyak rumah produksi dan jejaring artis. Mereka mengakui kemampuan Cyntia dalam berakting. Bahkan serial drama pendek yang dibintangi Cyntia juga mendapat rating tertinggi.
Belum tuntas program acara bersama Satya, tawaran main film dan sinetron untuk Cyntia mengantri. Cyntia kini juga mempunyai manager sendiri, dia adalam Shella.
Pagi ini Cyntia ada janji dengan salah satu sutradara legendaris senior Satya. Sutradara itu ingin Cyntia main di film layar lebar yang akan digarapnya. Cyntia dan Shella menyambut baik, dan rencananya mereka akan bertemu di salah satu kafe yang letaknya satu kawasan dengan hotel berbintang lima.
****
Di salah satu hotel bintang lima.
Meta keluar dari kamar mandi menggulung rambut pirangnya dengan handuk seusai mengakhiri pergulatan panas paginya bersama Will.
Pelayan hotel kemudian masuk. Mereka menyajijakn menu sarapan mewah pesanan Will.
“Hay Baby...!” sapa Will ke Meta.
“Mana ponselmu! Hapus nggak!” bentak Meta.
__ADS_1
“Ayolah Meta, nggak usah emosi dan galak begitu, kau sekarang jadi milikku! Duduklah kita sarapan bersama, mau kusuapin!” tawar Will santai.
“Hapus dulu!” jawab Meta lagi. Meta tau, Will hanya ingin memuaskan nafsu sesaatnya. Will berprinsip tidak akan menikah.
“Aku akan menghapusnya, tapi tinggalah bersamaku di apartemenku. Di hari ketuju kamu tinggal kamu boleh menghapusnya sendiri!” jawab Will pandai.
“Lo sakit ya bener- bener deh! Gue bukan bonekamu!” bentak Meta lagi.
Will tertawa puas.
“Cup!” Will justru bangun dan memeluk Meta dari belakang dan menciumnya.
“Aku sudah siapkan baju untukmu, pakailah, aku akan manjakan kamu hari ini! Jadilah gadis yang patuh!” ucap Will lagi.
Meta tidak berkutik, akhirnya Meta yang pada dasarnya materialistik dan sudah terlanjur dua kali bergulat dengan Will ikut apa mau Will.
Meta juga tidak menyiakan kesempatan, toh Meta sudah memberikan harta berharganya. Meta minta dibelikan perhiasan mahal, baju dan tas sesuai dengan keinginanya. Hari itu setelah sarapan dan berdandan Meta dan Will menghabiskan waktu berkencan. Meta berniat membeli tas itu sore nanti sebelum datang ke acara parti Stevan, teman Meta.
****
Di Kota Y.
Sebelum Aslan berangkat ke kota Y, Aslan sudah mengkoordinasi temannya untuk membantu mengurus berkas Kia. Jadi saat tiba di kota Y, Aslan dan Kia hanya tinggal membubuhkan tanda tangan dan semua sudah beres.
“Thanks Bro!” ucap Aslan kepada temanya.
“Sama- sama, sakinah mawadah warrohmah ya. Kado gue nyusul! Sory nggak bisa dateng!” ucap sahabat Aslan
“Bantuan lo juga udah jadi kado buat gue kok!” jawab Aslan menepuk lengan sahabatnya.
“Ayo mampir!” ajak sahabat Aslan.
“Sory agenda gue masih banyak!” jawab Aslan, padahal Aslan hanya ingin berduaan dengan Kia.
Sahabat Aslan mengangguk dan menunjukan sopir dan mobil yang sahabat Aslan sediakan buat mereka.
“Gue sengaja kok nggak bawa mobil, istri gue pengen berduaan!” jawab Aslan ngeles.
Padahal temanya menawarkan dengan sukarela. Menyediakan kendaraan lengkap sopir dan tour guidenya.
“Kalau gitu bawa aja mobilnya, biar nanti anak buah gue yang ambil di bandara!” ucap sahabat Aslan tetap ingin bantu Aslan.
“Beneran nih?” tanya Aslan tidak enak nolak terus.
Aslan mengangguk tersenyum dan mengambil kunci mobil. Mereka kemudian melirik Kia yang tampak sedang memberi makan pada kucing liar yang terlihat lapar di dekat kantor urusan agama itu.
“Gue yakin, istri lo yang sekarang perempuan yang tepat buat lo! Lo pasti bahagia bersamanya!” ucap sahabat Aslan tulus mendoakan Kia dan Aslan.
Sahabat Aslan dan semua orang tahu, istri pertama Aslan adalah Paulina, tapi hanya sahabat Aslan yang tahu kalau Paulina dan Aslan tak seindah di layar kaca.
“Makasih ya!” jawab Aslan senang dan bangga. Kia memang bidadari impian Aslan.
“Ya udah gue cabut, Bro!”
“Yok!”
“Salam pamit buat istri lo!”
“Ok!” Aslan mengangguk membiarkan sahabatnya pergi.
Aslan berjalan ke Kia membawa berkas pernikahan mereka. Kini mereka hanya tinggal menunggu wakti indah mereka tiba.
“Kamu suka kucing?” tanya Aslan ke Kia.
Kia yang tadinya jongkok, sedikit kaget suaminya sudah di belakangnya. Kia langsung mendongakan kepala dan berdiri.
“Kia kasian sama mereka, Bang!” jawab Kia menunjuk kucing liar yang tampak kurus. Kia tadi sempat membeli ayam diberikanya ayam kriuk itu untuk kucing.
“Kalau kamu suka kucing, nanti Abang belikan yang bagus!” jawab Aslan mengira Kia hoby kucing.
“Nggak usah, Kia emang suka binatang, tapi Kia nggak telaten ngerawatnya, Kia kasian aja sama mereka makanya Kia kasih makan!” jawab Kia.
“Ya udah nggak usah beli. Besok rawat anak sendiri aja, kita buat yang banyak ya!” jawab Aslan bercanda.
“Hmmm!” Kia berdehem manyun. Apa hubunganya anak dan kucing.
“Temen Abang udah pulang?” tanya Kia mengedarkan pandangan mencari teman Aslan.
“Udah! Yuk kita pulang juga ke rumahmu, kamu mau temuin temenmu kan?” tanya Aslan
“Huum, tapi Fatimah di rumah nanti sore katanya" ucap Kia memberitahu.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa kita istirahat dulu di rumah!" jawab Aslan.
"Oh ya Bang. Kia juga pengen ajak Fatimah ka acara Ipang Bang. Fatimah kan yang udah dampingi Ipang audisi!” tutur Kia memberitahu Aslan lagi.
“Benarkah?”
“Huum!” jawab Kia mengangguk.
“Ya. Nanti Abang pesankan tiket!” jawab Aslan menuruti mau Kia.
“Naik kereta aja ya!” pinta Kia.
“Oke, apapun mau kamu, Abang ikut aja!” jawab Aslan mengangguk tersenyum dan mengusap kepala Kia penuh dengan sayang.
"Makasih ya Bang!"
“Yuk!” ajak Aslan menggandeng tangan Kia.
Mereka pun masuk ke mobil. Mereka tidak naik bentor atau angkutan umum lagi, tapi tetap saja, jika dulu Aslan memakai mobil mewah dan didampingi sopir, kini Aslan mengendarai mobilnya sendiri.
Setelah beberapa menit mereka sampai di rumah kecil Kia. Kia kaget, karena meski sudah berbulan- bulan ditinggal, rumahnya tetap bersih. Ternyata Aslan sudah membayar seeorang untuk merawat dan menjaga rumah Kia.
“Kok bersih ya Bang?”
“Kamu suka?” tanya Aslan merangkul Kia dan menatapnya dengan penuh cinta.
“Abang yang buat bersih begini?” tanya Kia.
Aslan mengangguk tersenyum. “Kamu ingat sopir Abang yang waktu itu?” tanya Aslan.
“Ingat!” jawab Kia mengangguk.
“Abang minta tolong ke dia! Dia yang atur semuanya!”
"Abang gaji dia?"
"Huum!"
“Oooh, makasih ya Bang!” jawab Kia tersenyum.
“Mau, Abang gedein rumah ini?” tanya Aslan
“Nggak. Kita hibahkan buat yayasan Srikandi aja Bang! Nggak apa-apak kan? Siapa tahu bermanfaat” jawab Kia.
“Oke...nggak apa- apa, ini kan rumah kamu! Terserah kamu! Kita masih punya Umma dan Kikan!” jawab Aslan.
Kalau mereka pulang kampung mereka bisa pulang ke rumah Umma, toh kampung Kia kan bukan di situ. Kia kan asli orang Ibukota.
“Makasih ya Bang!” ucap Kia menatap suaminya dan tersenyum haru, suaminya ternyata sangat memanjakan Kia.
“Abang minta imbalan ya!” bisik Aslan.
“Imbalan?” tanya Kia polos.
Aslan melepaskan tangan yang merangkul Kia. Tangan Aslan berpindah ke dagu Kia, diangkatnya dagu Kia sedikit dan Aslan mendaratkan bibirnya ke bibir Kia. Kia menerima ciuman hangat dari suaminya itu. Menikmati setiap gerakan lembut Aslan yang mengantarkan Kia pada kenikmatan yang tidak bisa Kia jelaskan.
Saat suasananya menjadi sedikit panas, Aslan melepaskan pagutan bibirnya dan tersenyum.
“Sekarang udah pintar ya kamu!” ucap Aslan meledek Kia. Kia sudah bisa mengatur nafas saat berciuman, Kia juga bisa membalas Aslan dengan lidahnya.
Kia menunduk malu dan mengelap bibirnya yang basah karena suaminya itu.
“Ke kamar yuk!” ajak Aslan dengan suaranya yang serak menahan sesuatu.
“Kia masih belum bersih Bang!” jawab Kia polos.
Kia tau saat berciuman dan tubuhnya merapat dengan suaminya, adik keecil Aslan bangun dan menampakan dirinya. Kia bisa menebak Aslan pasti minta sesuatu.
“Abang pengen liat kamar kamu aja!” ucap Aslan beralasan.
Kia tidak menjawab, karena Kia yakin ada maksud lain dari permintaan Aslan. Tidak menunggu jawaban Kia, Aslan langsung menggendong Kia paksa dan masuk ke kamar Kia.
“Abang ihh!” teriak Kia kaget karena Kia tidak siap.
“Senengin Abang bentar sayang. Kamu nggak kasian apa sama dia?" tutur Aslan meminta. Agar Kia mengerti si Dia, yang di bawah.
Kia menelan ludahnya dheg-dhegan.
"Daripada di kamar mandi sendiri kan? Abang kan punya istri. sama kamu aja ya!” ucap Aslan lagi merebahkan Kia di kasurnya.
“Maksudnya apa Bang?” tanya Kia gelagapan.
__ADS_1
“Abang ajari! Nggak masuk nggak!”