
"aKau lihat mereka kan Cyn? Mereka selalu semau mereka” tanya Kia benar- benar merasa dikerjai Aslan dan Rendra.
Tapi sayangnya malah Cyntia menertawai Kia.
“Yang harusnya dilihat itu kamu! Lihatlah dirimu!” jawab Cyntia malah mojokin Kia.
“Gue?” tanya Kia tertuduh dan tidak terima.
“Ya! Menikahlah denganya!” ucap Cyntia lagi bangun dan mengambil kunci rumah Kia.
“Mboaah! Ck” Kia terbengong kesal menatap Cyntia berdiri, sementara Kia masih duduk.
Ada apa dengan semua orang, kenapa semua menyalahkan Kia.
“Lo mau kemana?” tanya Kia mengejar Cyntia.
“Ke rumah lo lah!” jawab Cyntia enteng.
“Lo kan punya rumah juga, sini kuncinya!” ucap Kia tidak terima dengan sikap Cyntia dan merebut kunci yang diberikan Rendra.
“Bukanya lo mau nolak pemberian bapaknya anak Lo? Ya udah gue aja yang bawa. Gue penasaran kek mana rumahnya!” ucap Cyntia tidak mau menyerahkan kuncinya.
Tapi sebenarnya dibalik sikap urakan Cyntia itu, Cyntia memendam luka. Cyntia takut pulang ke rumahnya. Jadi saat tau Kia bakal punya tempat tinggal, kesempatan Cyntia bisa lari dari suaminya.
“Siapa bilang gue nolak, gue mau kok. Ini kan emang ada di perjanjian kontrak kerja gue! Sini kuncinya!” ucap Kia galak.
“He... yaya syukurlah kalau lo nggak nolak“ Cyntia nyengir dan akhirnya menyerahkan kuncinya, lalu mereka berdua berjalan memasuki sebuah komplek perumahan tidak jauh dari jalan raya.
Aslan memang mencari perumahan di pinggiran kota yang masih Asri. Tidak terlalu ramai, tapi akses transportasi mudah.
Begitu masuk Cyntia langsung tanggap. Kalau perumahan yang mereka masuki, merupakan komplek perumahan elit. Ini bukan komplek perumahan mess atau inventaris. Sementara Kia mencari nomor rumahnya.
“Nomor 5, ini Ki!” seru Cyntia lebih dulu melihat nomor rumah yang ditunjukan Rendra.
Lalu mereka berjalan ke arah rumah itu. Rumah itu berada di tengah. Sehingga akses bersosialisasi mudah. Mata mereka terbelalak melihat rumah di depanya.
Di depan mereka berdiri sebuah bangunan rumah gaya minimalis modern dua lantai dengan cat putih cerah, dipadu tiang- tiang berwarna coklat, dan hiasan modern yang tampak estetik.
Parkiranya juga luas dan cantik, di taman minimalisnua ada kolam kecil dan beberapa tanaman hias.
Cyntia tampak memandangi Kia dari atas sampai bawah. Dan tersenyum. Sementara Kia salah tingkah masih tertegun, rumah yang ada di hadapanya lebih besar dan lebih bagus dari rumah Paul.
Bahkan yang ada di depanya tampak lebih hidup dan segar. Kia menelan ludahnya, benarkah ini rumah tempatnya tinggal nanti.
“Lo yakin ini rumah iventaris?” sindir Cyntia ingin menyadarkan Kia, Aslan sungguh mencintai Kia.
“Bukan! Ya gue tau mungkin cuma gue kali yang dikasih iventaris ini, meskipun begitu, tapi kan ada perjanjianya, jadi gue anggap ini resmi bukan karena modus” ucap Kia membela diri.
Lalu Kia melangkah dan membuka pintu dengan kunci yang dia pegang.
Ceklek
Benar memang itu rumahnya. Kia berhasil membuka pintu rumah itu. Mereka tidak salah alamat.
__ADS_1
Dan yang membuat Kia tercengang, saat mereka masuk dan memandang sekeliling, di sudut ruang tamu, di atas nakas dekat dengan lampu hias ada foto Ipang saat kecil.
“Wuaaah, dapat darimana dia foto ini?” gumam Kia mengambil foto anaknya.
Lalu Kia duduk, menatap sejenak dan meletakanya lagi. Sementara Cyntia dengan percaya diri berjalan maju menuju ke ruang tengah. Semua tampak rapih, dapur, taman belakang juga, semua bersih. Sepertk sudah disiapkan dengan matang.
“Ini kapan kalian foto Ki? Ck lo muna banget sih?” seru Cyntia di ruang tengah. Cyntia menilai ternyata Kia sudah melewatkan kebersamaan beberapa kali.
Lalu Kia buru- buru masuk. Kia terbengong melihat foto besar menggantung di tembok di atas televisi menghadap sofa. Itu foto Kia saat mereka datang ke ulang tahun Aslan di rooptoof restoran mewah waktu itu.
Foto itu foto candid saat Kia makan bersama. Ipang di tengah mereka berdua.
“Siapa yang memfotonya?” gumam Kia berjalan memperhatikan gambar dirinya lagi.
Di dalam foto itu mereka tampak seperti keluarga utuh, Ipang tampak sangat bahagia. Aslan terlihat menatap Kia penuh cinta, dan Kia tersenyum dengan manis.
Kia benar- benar tidak tahu siapa yang mengambil gambarnya kala itu. Yang pasti di antara, Rendra, Mami Asha, Satya dan Manda.
“Menikahlah denganya, demi anakmu” tutur Cyntia pelan mengusap bahu Kia yang tampak terbengong.
“Dia suami orang Cyn” jawab Kia lirih.
“Kalau dia jomblo, kamu mau kan?”
“Hhh sudahlah jangan bahas dia, yang terpenting sekarang Ipang” jawab Kia mengalihkan pembicaraan.
Lalu mereka masuk ke kamar mereka. Kamar yang terlihat rapih dan nyaman. Dengan style anak laki- laki dengan beberapa boneka bola. Sekali lagi Kia terhenyak, foto Ipang yang berada di kampungnya ternyata di boyong Aslan. Termasuk piala- piala Ipang.
“Dia lelaki terkeren yang pernah aku temui Kia” ucap Cyntia tulus memuji Aslan. Kia hanya diam tidak menanggapi fokus ke beberaa barang punya Ipang.
Lalu Kia berganti berjalan ke kamar di sebelahnya. Kamar itu lebih besar, deainya polos dan elegan. Rupanya itu kamar utama. Di atas kasur rupanya ada benda milik Kia. Tas yang kia tinggalkan di kota Y. Dan di bawahnya ada pesan memonya.
Sekali ini saja
Beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap Pangeran
Ini semua untuk Pangeran
Rumah ini kubeli atas nama Pangeran, kau tidak bisa menolaknya.
Tinggalah dengan nyaman
Kalau kau tak mau menerimaku, mulai sekarang aku akan berdamai denganmu sebagai ayah Pangeran.
Aslan
Kia menelan ludahnya membaca memo dari Aslan. Dan di bawah tas Kia terdapat beberapa sertifikat rumah dan tanah. Semua tertulis atas nama Pangeran Nareswara.
Kia mengela nafasnya menatap Cyntia.
“Kapan dia menyiapkanya? Kita kan baru bertemu?” tanya Kia lagi.
“Kamu bukan orang kaya, otakmu tidak akan sampai memikirkan apa yang orang kaya bisa lakukan!” jawab Cyntia.
__ADS_1
“Hemmm, baiklah karena untuk Ipang aku terima” jawab Kia mulai luluh.
Siapapun orangnya jika diperlakukan seperti Kia juga pasti luluh, entah kenapa kali ini Kia merasa Aslan sungguh tulus. Kia merasa Aslan seperti benar- benar melakukannya tanpa pamrih demi menjadi seorang ayah yang baik.
“Gue tidur di sini ya!” tutur Cyntia.
Seketika Kia nyengir.
“Satu malam, biar impas lo kan ngusir gue gitu” jawab Kia sekarang bercanda lagi.
“Ish dasar kamu tuh! Kali ini tampung gue yah!”
“Lo apaan sih? Lo kan punya rumah punya suami?” jawab Kia.
“Ehm” Cyntia menunduk dan diam, ekspresi wajahnya langsung berubah.
“Lo kenapa? Iya boleh, lo boleh nginep sini kapan aja!” jawab Kia.
“Gue takut ketemu suami gue lagi” celetuk Cyntia dengan wajah serius.
“Hoh?” Kia terbengong lalu duduk menatap Cyntia intens.
“Lo ada masalah? Lo baik_ baik aja kan?” tanya Kia merasa Cyntia mengalami sesuatu.
Cyntia lalu membuka lengan bajunya. Dengan langkan pelan menunjukan ke Kia. Ada goresan luka di lenganya, lalu Cyntia membuka bajunya ada bekas pukulan di punggung dan perutnya.
“Cyntia ini apa?” tanya Kia syok.
“Kalau sekertaris bapak anak lo ngga dateng, mungkin gue wajah gue udah nggak berbentuk Ki!” ucap Cyntia dengan mata nanar.
“Lo memendan semua ini? Sejak kapan” tanya Kia simpati dan peduli.
“Di tahun kedua pernikahan gue Ki, anter gue ke pengadilan agama besok ya!” ucap Cyntia meneteskan air mata.
“Apa keluarga lo tau?”
“Keluarga gue nggak peduli Ki? Gue mau cerai, gue mau kerja, gue mau hidup sendiri, gue nunggu waktu dimana gue bisa dapet uang sendiri, dan di saat itu pula gue harus pergi dari laki- laki itu” tutur Cyntia mencurahkan penderitaanya selama ini.
Lalu kia memeluk Cnyntia erat.
Ternyata selama ini Cyntia puluhan kali melaar pekerjaan dan ikut casting. Tapi tidak pernah lolos dan dihalangi oleh suaminya. Cyntia terjebak dalam pernikahan dengan suami psikopat.
“Sekarang gue pegang uang dan punya tempat tinggal. Tinggalah di sini! Oke?” tutur Kia
Cyntia mengangguk.
Lalu Kia berdiri berniat membersihkan dirinya dan saat membuka lemari, ternya Aslan membawa baju- baju Kia masih utuh dengan kopernya. Dan di gantungan lemari Aslan sudah menyediakan tunik- tunik modern tapi syar’i, tidak lupa ada beberapa lingeri.
Meski tidak mengakui, Kia terharu dengan yang Aslan lakukan. Sejenak Kia membolak balikan beberapa pakaian tidur yang seksi itu dan tersenyumgeli.
“Kenapa dia membeli pakaian seperti ini? Ish?”
Malam itu untuk pertama kalinya Kia bersama Cyntia menempati rumah barunya. Sepanjang malam Cyntia membaca naskah pekerjaanya dan latian berakting dengan Kia. Mereka berdua tampak sangat bahagia dan
__ADS_1