Sang Pangeran

Sang Pangeran
202. Tak sesubur Kia


__ADS_3

Aslan pergi ke rumah mantan istri di atas kertasnya itu. Dia ingin memastikan sendiri apa yang terjadi. Dia pun menanyai Asisten Rumah Tangga Paulina.


"Dimana Nyonya kalian?" tanya Aslan.


"Nyonya pergi Tuan."


"Pergi?" tanya Aslan lagi.


"Ya Tuan."


"Sejak kapan? Dengan siapa?" tanya Aslan lagi.


"Sejak hari kemarin dengan teman prianya Tuan!" jawab ART Paulina.


Aslan kemudian mengeratkan rahangnya.


"Ceritakan apa yang terjadi pada Alena!" ucap Aslan kali ini Aslan sedikit mirip dengan sesosok ayah yang tanggung jawab dan menyayangi Alena.


Pembantu pun menjelaskan, setelah Non Alena diantar Kia dan Aslan kemarin Alena bermain sendirian di dekat kolam. Setelah itu ibunya pulang, tapi saat Alena masuk ke kamar ibunya, dia hanya sebentar dan keluar lagi,lalu datang teman ibunya. Alena marah dan mengamuk, setelah itu Alena dihajar Paulina.


"Haishh.... apa kalian punya bukti tindakan Paul?" tanya Aslan.


"Tidak Tuan!" jawab Pembantu


Aslan kemudian ingat, dulu kan Aslan sudah memasang cctv di beberapa tempat di rumahnya itu.Aslan kemudian masuk ke ruang kerjanya tempat dia dulu menghabiskan waktu di rumah itu.


"Dia masih saja tidak berubah, bahkan terhadap anak kandungnya sendiri begitu? Aku akan gugat hak asuh anak. Biarkan Alena bersamaku atau bersama ayah kandungnya," batin Aslan setelah memeriksa cctv.


Tidak dipungkiri, rumah Paulina dulu rumah Aslan juga, jadi Aslan tau semua seluk beluk rumah Paulina. Meskipun tak menunjukan peristiwa utuh saat di kamar, tapi ada potongan rekaman Paulina menyeret Alena ke kamar mandi dan pergi.


Aslan pun berniat mengajukan gugatan hak asuh Alena agar jatuh ke tanganya. Meskipun dia bukan anak kandungnya, tapi di atas akta kelahiran Alena anak dari pernikahan Paulina dan Aslan.


"Kia pasti setuju kan?" batin Aslan. Lalu tiba- tiba Aslan jadi ingat istrinya dan ingin cepat bertemu. Kia pasti akan luluh mendengar niat Aslan.


"Kita pulang, Pak!" tutur Aslan mengajak Pak Tomo pulang.


"Siap Tuan!" jawab Pak Tomo.


*****


Setelah makan siang. Kia menemani putranya bermain.


Kia juga mulai mengumpulkan alat- alat sekolah yang nanti akan Ipang perlukan. Menata kamar Pangeran agar ada meja belajarnya.


"Bu...!"tanya Pangeran

__ADS_1


"Iya Sayang!" jawab Kia.


"Kemarin Kak Alena tidur di kamar Ipang ya?"jawab Pangeran


"Iya kenapa? Kan waktu itu Pangeran tidur sama ayah ibu? Kalau di atas kasian Kak Alena, Sayang kan di atas adanya Om Radit.Om Radit kan laki- laki! Kamar tamu ada Ummi Fatimah!" jawab Kia menjelaskan.


Pangeran memanggil Fatimah Ummi, karena Fatimahlah yang membantu Kia mengasuh Pangeran saat tinggal di yayasan Srikandi punya orang tua Radit.


"Ipang nggak apa- apa Bu. Kamar ini, buat Kak Alena juga nggak apa-apa, Pangeran kan anak laki- laki Pangeran berani tidur di atas!" ucap Pangeran baik.


Kia yang mendengarnya pun menoleh haru ke anaknya. Entah menurun dari siapa?Pangeran mempunyai hati sebaik itu.


"Benarkah?" tanya Kia.


"Di atas kan kamarnya luas- luas Bu. Banyak juga.Pangeran bisa lihat pemandangan yang banyak!"jawab Pangeran.


Kia kemudian meletakan hiasan miniatur bola ke meja Ipang. Kia mendekat ke Pangeran yang sedang duduk di ranjangnya.


Kia mengelus kepala Pangeran lembut.


"Sebelum Ibu pindah ke sini. Ayahmu yang sudah siapkan kamar ini untuk kamu. Kalau mau pindah kamar tunggu Ayah pulang ya. Satu lagi, Alena kan anak Tante Paulina.Kak Alena ke sini hanya sesekali waktu, tidak tinggal di sini seterusnya!" tutur Kia memberitahu.


"Tapi Pangeran temukan ini, Bu!" ucap Pangeran menunjukan sebuah surat yang ditulis Alena.


Entah kenapa setiap Kia mengetahui tentang isi hati Alena, Kia selalu menangis. Kia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di situasi rumit yang Alena rasakan.


"Hhhh...." Kia menghela nafasnya dan mengusap air matanya lalu melipat tulisan lagu Alena. Ayah kandung Alena yang dulu seorang vokalis band ternyata menurun pada putrinya itu. Masih usia 6 tahun pun Alena sudah pandai menyusun kata.


"Ibu menangis? Ibu sedih ya? Pangeran dan Kak Alena mempunyai satu ayah, tapi ibu kami berbeda? Seperti Nabi Ibrahim yang mempunyai dua istri dan, seperti nabi Ishak dan Ismail ya Bu? Mereka bisa tinggal bersama dan bahagia!" tanya Pangeran polos. Pangeran kan hanya menyambungkan apa yang dia baca dengan kehidupan yang dia terka dan temui.


Kia pun tersenyum. Sayangnya perumpaan mereka berbeda. Jika Nabi Ibrahim menikah dengan keduanya secara baik- baik, dan keduanya anak kandung, kalau Alena dan Pangeran kan berbeda cerita. Aslan juga sudah bercerai dari Paulina, Alena juga bukan anak kandung Aslan.


"Kelak kamu akan mengerti Sayang. Nabi Ishak dan Nabi Ismail memqng punya ayah yang sama, tapi berbeda keaadan dengan kamu dan Alena. Ayahmu berbeda dengan Nabi Ibrahim, Tante Paulina dan ayah sudah berpisah! Kita tidak sama!" jawab Kia.


"Oh gitu?"


"Sudah jangan dipikirkan! Kamu belum tidur siang kan? Tidur ya!" tutur Kia lembut.


"Ya Bu. Pangeran cuci tangan dan cuci kaki dulu!" jawab Pangeran patuh dan membereskan mainananya.


Setelah itu Kia pun menidurkan Pangeran dengan lembut ikut berbaring di sampingnya, membelai Pangeran dengan penuh syukur. Setelah Pangeran tidur Kia ke kamar mandi.


"Aku benar- benar sudah bersih! Huuft!" gumam Kia dheg-dhegan.


Kia kira Kia akan bersih setelah nikah KUA dan resepsi, jadi Kia setuju dengan permintaan Aslan sesudah bersih.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Kenapa aku jadi dheg- dhegan begini sih?Aku diam saja, aja kali ya... nggak usah bilang- bilang Bang Aslan, tapi kasian Bang Aslan!" gumam Kia lagi mengingat dari kemarin suaminya harus selalu membuang produksi cairan ajaibnya tidak pada tempatnya. Bahkan hanya menggunakan tangan, pasti sangat tidak enak.Katanya lagi selama 7 tahun hanya dengan mimpi dan mengingat Kia. Malang sekali nasib Aslan.


"Apa akan sesakit waktu itu?" gumam Kia mengingat dulu Aslan melakukanya dengan kasar, tanpa cinta, tanpa pemanasan dan tanpa jeda.


Kia kemudian menghubungi Cyntia dan bertanya.


"What? Kamu Aslan belum melakukan itu lagi?" tanya Cyntia di tempat yang jauh di sana kaget dan heran.


"Haishh. Gue dapet! Apa akan sangat sakit lagi?" tanya Kia.


"Lah kalian selama menikah tidur bareng terus ngapain aja?" tanya Cyntia malah ngeledek Kia.


"Isshh. Berisik!"


"Ya elah lo lucu banget sih, Ki... udah ada Pangeran juga. Lo juga udah akrab kan sama si dianya. Santai ajalah! Masa subur otewe adiknya Pangeran ga!" gurau Cyntia di tempatnya yang ternyata di lokasi syuting iklan.


"Aku tanya serius, sakit lagi nggak?"


"Nggak! Yang ada kamu ketagihan nanti. Dulu kamu sakit karena kalian nggak saling cinta! Selow aja! Udah ya. Gue mau tak nih! Lucu deh kamu!" ucap Cyntia tertawa menutup ponselnya.


Setelah tertawa dan menutup ponselnya Cyntia kemudian terdiam. Cyntia menelan ludahnya dheg-dhegan.


Cyntia yang tadi membercandai Kia bakalan langsung tek dung langsung ingat dirinya. Cyntia kan beberapa hari lalu juga belasan 10 harian yang lalu baru selesai mens. Saat malam itu bersama Rendra adalah hari ke 12 nya.


"Oh my God!" Gue kan juga nggak minum pil.


"Hoh! Bagaimana ini?" batin Cyntia, tapi kan Cyntia menikah dengan Niko Darmawan 2 tahun juga tak kunjung hamil.


"Tidak aku pasti tidak akan hamil! Aku tak sesubur Kia, kalau aku hamil seharusnya aku hamil sejak dulu!" batin Cyntia menepis kekhawatiranya sendiri.


Cyntia kemudian melanjutkan pekerjaanya.


****


Yang nungguin buka puasanya Aslan sabar dulu ya. Author nunggu mood dulu nulisnya hahaha. Susah menyusun katanya.


Oh iyaaa...


Makasih ya yg udh mau baca Kia. Makasih juga yang mau mampir ke karya temen2 author. Kalau mampir ke sana kasih kabar ya. Aku akan bawa nupel lain lagi...


rutin 2/3 hari sekali.


Karena kita sesama author harus saling bantu.


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2