
“The number you’re calling is not active or out of coverage area, please try again in a few minute”
Begitulah jawaban panggilan Aslan, berkali- kali. Sampai kini pria matang berparas tampan ini wajahnya memerah. Mulutnya komat kamit dan bergerak bebas tidak terarah menunjukan kekesalanya.
Rasanya seperti ada sumbatan panas di ubun- ubunya yang mau meledak. Sampai Aslan memukul- mukul ponselnya ke kasur dan ke sofa, karena dia menelpon sambil mondar mandir, dari kamar ke balkon.
Untung ke kasur dan sofa, jadi ponselnya tidak pecah. Sekarang kan uang Aslan sebagian kecil sudah dialokasikan untuk membeli saham temanya sebagai investasi jangka panjang.
Dan sebagian besar lainya untuk buka perusahaan sendiri. Jadi Aslan harus irit dan menekan egonya. Tidak seperti sebelumnya yang masih menjadi pemimpin perusahaan ayahnya yang sudah besar.
“Haishh kenapa nggak diangkat sih!” gerutu Aslan tidak ngaca.
Padahal selama seminggu ini dia juga sibuk dan melupakan ponselnya. Mentang– mentang Rendra memberi laporan semua aman terkendali. Giliran sekarang dia yang kangen anak dan pujaan hatinya dia kebakaran jenggot.
“Anak sama ibu sama aja. Ayo, Nak angkat telpon ayah! Ayah kangen” gerutu Aslan mengacak- acak rambutnya karena frustasi.
Aslan lupa, kalau sekarang jamnya Ipang ada kelas. Ipang meninggalkan ponselnya di kamar jika sedang mengikuti kelas. Dan Kia lupa mencharge ponselnya, dia juga sibuk bersama Mbok Mina, jadi ponsel Kia mati.
Saking kesalnya Aslan melempar ponselnya ke kasur. Ditutupnya pakai bantal. Lalu Aslan mengambil rokoknya yang masih utuh. Akhir- kahir ini dia hanya membawanya tanpa menyentuhnya. Aslan pun merokok di tepi kolam.
“Apa dia tidak merindukanku? Kenapa dia tidak mencariku?” batin Aslan lagi merasa bertepuk sebelah tangan.
Buatnya rindunya sangat menyiksa. Saat Aslan tidak mampu menguraikan rasa sebagai mana mestinya membuatnya ngebleng. Seperti ruang tanpa cahaya, seperti lagu tanpa nada.
Aslan tidak tahu saat Kia menelponya, ponsel Aslan juga mati Kia juga sangat kesal.
“Gue nggak mau tahu, besok gue harus dapetin tanda tangan Mister Joseph dan gue harus pulang. Pangeran pasti merindukanku, aku juga kangen ibunya” batin Aslan menghabiskan rokoknya.
Lalu Aslan kembali ke kamar, mengambil ponselnya. Kali ini Aslan bukan menghubungi Kia tapi menelpon anak buahnya.
“Halo” sapa Aslan dingin.
“Halo Tuan Aslan...” jawab Rendra.
“Gaya lo, gue nggak bisa kasih gaji lo sekarang. Nggak usah panggil gue Tuan. Gimana sidang perceraianya sudah beres?” tanya Aslan lagi.
“Mohon maaf Tuan Bos, hehe, sepertinya ada andil Nyonya Besar dan Tuan Agung, berkas anda hanya disimpan” jawab Rendra karena pengacaranya belum kunjung mendapatkan undangan sidang putusan yang kedua.
“Maksud lo apa?” tanya Aslan emosi.
“Ada hal yang membuat sidangnya diperlambat, dan sepertinya, ada Tuan Agung di balik itu” jawab Rendra melaporkan. Karena Rendra dan pengacara Aslan sempat melihat Paul berbicara dengan salah satu pegawai.
“Haisshh kenapa Si Tian pengacara itu diam aja. Harusnya kan nggak ada gue sidang lebih cepat, berkas gue udah lengkap. Permintaan harta gono gini atau hak asuh Alena gue nggak ada tuntutan” jawab Aslan lagi emosi.
“Sepertinya anda harus pulang dan temui langsung pihak pengadilanya Bos agar sidang keduanya segera dijadwalkan!” jawab Rendra malas membahas masalah pribadi Aslan lewat telepon.
Rendra juga rindu dengan Aslan. Dan yang lebih utama Rendra malas harus selalu melapor kegiatan Kia dikantor dan di rumah.
“Oke, besok gue balik, siapin pesawat!” perintah Aslan berniat menggunakan jet pribadi keluarga Nareswara.
“Sory Bos, kalau mau dijemput pake elangnya Nareswara, harus seijin Tuan Agung, katanya beliau menunggu anda menghubunginya” jawan Rendra lagi.
“Haish. Nenek sihir itu atau bokap gue yang bilang?” tanya Aslan lagi.
Kini Aslan benar-benar seperti anak tiri. Meski Aslan sudah bukan pimpinan lagi seharusnya fasilitas keluarga kan untuk bersama. Tapi rupanya entah Tuan Agung atau Nyonya Wina sengaja memberi pelajaran ke Aslan agar kembali patuh.
“Ya intinya begitu Bos” jawab Rendra.
“Ya udah nggak jadi. Gue bisa sendiri,” jawab Aslan emosi, Aslan memilih memesan tiket pesawat dagang.
“Sory Bos!” ucap Rendra.
“Gue ngerti, gimana istri gue?” tanya Aslan kepedean lagi menganggap Kia istrinya padahal belum menikah sementara Paul yang sudah menikah bukan istrinya.
“Maksudnya Nyonya Kia?” jawab Rendra.
__ADS_1
“Iya"
"Aman Bos”
“Ada laki- laki yang deketin dia lagi nggak?” tanya Aslan.
“Nggak ada, Nyonya Kia pulang pergi kerja selalu sendir dan hanya pergi saat belanja kebutuhan!” jawab Rendra.
Tapi Rendra belum tahu laporan hari ini. Karena dia juga sedang berkencan dengan pacarnya, Mella.
“Oke, anak gue?” tanya Aslan lagi.
“Tuan Muda Pangeran masuk final Bos,”
“Siapa lawannya?”
“Nona Alena”
“Alena?” tanya Aslan kaget kemudian keningnya mengkerut.
“Iya Bos,” jawab Rendra.
“Oke besok malam gue sampai sana. Jemput gue!” jawab Aslan.
"Siap Bos!" jawab Rendra.
Lalu mereka saling menutup telepon.
Aslan kemudian diam. Memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan nanti. Jika dia datang ke acara anaknya. Dia akan datang sebagai ayah siapa?
*****
Dengan membawa hati yang berbunga- bunga. Mbok Siti duduk di samping Kia. Menaiki mobil kecil yang dibelikan Aslan untuk Ipang. Sepanjang jalan tak hentinya Mbok Mina menatap Kia, mengagumi kecantikan dan keramahanya.
Kia pun sesekali tersenyum sendiri malu- malu saat mengingat Aslan. Ada rasa bahagia saat Kia mengetahui kalau Aslan sungguhan bercerai, dan memang di antara mereka ada masalah di luar kehadiran Kia. 2 bulan terakhir ini Kia memang lebih intens berkomunikasi sebagai orang tua Ipang. Meski tetap saja Kia masih gengsi.
Meski cuaca ibu kota terasa terik dan panas, perjalanan Kia tetap terasa menyenangkan, sesuai dengan keadaan hatinya. Dan selain itu kini Kia mendapatkan orang tua. Seorang ibu yang tutur kata dan tatapanya menenangkan.
Kia berhasil melewati jalanan ibu kota yang macet dan padat penduduk. Kia memasuki area perumahan di pinggiran kota, bahkan cenderung mendekati perbatasan dan dekat dengan pegunungan. Mbok Mina pun tampak menikmati keasrian daerah situ.
Kia kemudian menghentikan laju mobilnya, memasuki halaman rumah yang tampak asri dan nyaman.
“Udah sampai Mbok” ucap Kia mematikan mesin mobilnya.
Mbok Mina menatap rumah mewah bergaya minimalis dua lantai yang ada di depanya itu dengan takjup. Sedikit lebih besar dari rumah Paul.
“Den Aslan yang pilih Non?”tanya Mbok Mina masih labil manggil Kia dengan sapaan berubah- ubah. Mau manggil Nyonya tapi Kia terlihat muda.
“He...” jawab Kia nyengir. “Katanya ini buat Pangeran Mbok” jawab Kia lirih.
Sebenarnya Kia juga merasa enggan dan risih menerima pemberian Aslan, mengingat status mereka belum ada ikatan apapun. Tapi Aslan selalu bilang itu inventaris dan itu untuk Pangeran, bukan untuk Kia. Jadi Kia tidak bisa mencegah seorang ayah memberikan sesuatu untuk anaknya.
“Sama aja Non” jawab Mbok Mina.
“He... ya udah turun yuk!” ajak Kia membuka pintu mobil.
“Bukanya gimana Non?” tanya Mbok Mina polos tidak terbiasa naik mobil.
Kia kemudian tersenyum dan membantu Mbok Mina membuka pintu mobilnya. Lalu Kia mengambil tas besar Mbok Mina dan membawakanya.
“Biar Mbok bawa sendiri, Non” tutur Mbok Mina merasa tidak enak. Mbok Mina merasa dirinya kan pelayan. Tapi Kia memperlakukanya seperto orang tua yang terhormat.
“Udah aku aja! Ayo masuk!” jawab Kia. Lalu Kia berjalan dan membuka pintu rumah.
Mereka kemudian masuk. Dan sama seperti Kia yang pertama kali masuk ke rumah itu. Mata Mbok Mina terperangah melihat foto besar di atas televisi yang terbingkai dengan pigura kaca yang elegan.
__ADS_1
Reflek Mbok Mina berhenti menatapnya dengan senyum. Ide Aslan memelet Kia dengan fotonya ternyata tidak buruk. Seakan dengan foto itu Aslan melabeli Kia dan mematenkan, mereka orangtua dan anak yang pas jadi keluarga.
“Mbok” panggil Ki sudah sampai di kamar belakang. Tempatnya di dekat dapur, memang Aslan siapkan jika nanti punya asisten rumah tangga. Tapi Mbok Mina masih berdiri terpaku di ruang TV. Kia pun kembali mencari Mbok Mina.
“Mbok Mina!” panggil Kia.
“Eh, Non” jawab Mbok Mina tersadar.
“Kamar Mbok Mina di situ? Mbok Mina ngapain di sini? Kok malah berhenti?” tanya Kia.
Mbok Mina tidak menjawab malah tersenyum.
“Mbok seneng banget liat foto Den Aslan, Den Pangeran dan Non Kia” jawab Mbok Mina.
“He...” Kia nyengir sambil menggaruk tengkuknya malu. Kia tau maksud Mbok Mina.
“Itu kerjaan Aslan Mbok, aku mau menurunkanya, tapi masangnya ketinggian, besar banget lagi. Entahlah” jawab Kia.
“Nggak usah diturunkan, sudah bisar saja begitu di situ. Malah besok ditambahi di ruang tamu, dengan foto yang pakai jas dan gaun nikahan” jawab Mbok Mina lagi.
“Mbok ah bisa aja, ayo saya tunjukan kamarnya Mbok” jawab Kia tidak menolak dan tidak mengaminkan ucapan Mbok Mina. Kia hanya mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas Aslan lagi.
Lalu mereka masuk ke kamar Mbok Mina. Kamar berukuran 4x4 dan di dalamnya ada dua kasur kecil dan dua lemari kecil.
“Nggak apa- apa tidur di sini ya Mbok, sebenarnya di atas masih ada dua kamar besar, tapi kita nggak pernah ke atas. Di depan juga ada dua kamar lagi, tapi yang satu sama Aslan didesain kamar anak laki- laki, mungkin kalau Ipang pulang untuk kamar Ipang. Yang satunya lagi nggak ada lemarinya” jawab Kia menjelaskan takut Mbok Mina tersinggung. Karena kamar mbok Mina di dekat dapur.
Mbok Mina yang memang pelayan pun tersenyum tau diri.
“Ini sudah lebih dari layak Non. Kalau boleh tau Non tinggal di sini sama siapa?”
“Sama teman Mbok, tapi itu sementara. Dia artis, katanya setelah ini mau syuting di luar negeri. Kemungkinan nanti sama Ipang kalau Ipang pulang, makanya Mbok di sini ya. Temani kita” jawab Kia.
“Jadi Non Kia belum punya pelayan?”
“He...belum Mbok”
“Non Kia masak dan beres- beres rumah sendiri?”
“Iya memang kenapa?” tanya Kia mengangguk.
“Beruntungnya Den Aslan ketemu Non Kia” tutur Mbok Mina sambil memegang lengan Kia. Kia sangat beda sekali dengan Paul yang apa- apa nyuruh.
“Ah Mbok, sukanya berlebihan”
“Ijinkan saya melayani Non Kia ya Non” tutur Mbok Mina.
“Hah? Melayani?”
“Iya, saya jadi pelayan Non Kia” tawar Mbok Mina.
“Mbok memang gaji mbok berapa? Saya takut nggak bisa gaji. Udah tinggal di sini ajaa, jadi neneknya Ipang, pekerjaan rumah kita kerjakan bersama” jawab Kia baik, Kia berniat menolong Mbok Mina bukan mempekerjakanya.
“Nggak usah digaji, Mbok punya tempat tinggal dan bisa makan juga Mbok udah seneng kok!” jawab Mbok Mina sama tulusnya.
Sebenarnya Mbok Mina di kampung juga sudah tidak punya saudaraa. Mbok Mina tidak menikah, jadi tidak punya anak. Saudara Mbok Mina sudah punya keluarga sendiri yang cenderung acuh ke Mbok Mina. Jadi keluarga Mbok Mina ya majikanya.
“Ya udah, terserah Mbok aja. Silahkan istirahat Mbok” tutur Kia berniat pergi dari kamar Mbok Mina.
Saat Kia berjalan keluar kamar, bel pintu berbunyi. Kia pun berjalaan ke depan membukakan pintu. Saat pintu dibuka Kia terdiam.
Kia terpaku dengan tamunya. Tatapan Kia terpaut pada sesosok perempuan di belakang Cyntia. Begitu juga perempuan itu.
“Neng Kia?” pekik Mba Narti.
“Mba Narti?” pekik Kia juga.
__ADS_1
Lalu Kia menatap Cyntia memicingkan mata dengan tanda tanya.
Cyntia pun menatap sahabat dan pembantunya heran. Rupanya Kia kenal dengan perempuan yang melayaninya selama 5 tahun terakhir.